COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
MERELAKAN MASALALU


Entah pesan singkat ke berapa yang ku ketik kepada Min Jun untuk tidak menyuruh sekretaris Kim menjemputku.


Selama bekerja hari ini,dia terus menghujaniku dengan pesan singkat hanya untuk menanyakan kapan aku pulang.


Di awal,aku sudah meminta untuk pulang ke kosanku,dan dari dulu aku selalu terjebak untuk tinggal bersamanya tanpa bisa membantah.


Tapi aku sungguh ingin pulang membawa gambar itu...


Rasanya ingin menangis saat dia terus mengatakan aku harus pulang ke rumahnya,dan berkilah bahwa orang - orangnya akan membereskan barang - barangku.


Ketika akan pulang terbesit sebuah ide cemerlang yang membuatku berbinar.


Aku memandang Raditya yang masih mematung di depan mejanya,entah masih marah atau apa hari itu dia banyak diam.


Setelah mengambil tasku,aku mendekati mejanya.


"Aku pulang duluan ya? ini sudah lewat jam lembur kan?"


ujarku pelan sambil melihatnya yang terdiam dengan wajah seriusnya.


"Pulanglah ... ini sudah malam"


Tak seperti biasanya yang selalu menawarkan tumpangan dia menyuruhku untuk pulang,mungkin ada sesuatu yang ingin dia kerjakan dulu.


Aku menundukan kepala sedikit,dia seakan tak menggubrisku masih mematung menatap layar komputernya.


Ragu ku langkahkan kaki untuk keluar dari ruangannya,saat memegang handle pintu aku berbalik menatap Raditya dan tatapan kami bertemu seakan dia sedang menatapku sedari tadi dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berdehem.


"Sekali lagi aku minta maaf untuk semuanya,dan .... segera pulang ke rumah,istirahatlah wajahmu benar - benar kusut sekarang"


Ujarku agak takut


Sejujurnya,masih ada segan di hatiku saat berbicara pada Raditya walaupun dia selalu protes saat aku bersikap formal padanya.


Dan sedari pagi aku sudah menyadari bahwa dia nampak kelelahan,warna hitam sudah tampak di bawah matanya.


Rasanya sangat bersalah mengetahui dia bekerja keras untuk presentasi ini,sedangkan aku tahu pasti pimpinan Y Company pasti akan menerima kerjasama ini.


"Pulanglah ... ini sudah hampir tengah malam"


Dia tak menggubris saranku


Aku hanya mengangguk dan berlalu dari hadapannya,dengan cepat aku menyambar smartphoneku dan memesan ojek online.


Aku berhasil lepas dari sekretaris Kim dengan mengambil jalan belakang kantorku,selama perjalanan pikiranku penuh dengan ekspresi Raditya yang nampak lelah.


Entah kenapa dia juga nampak marah dan kesal walaupun dia berkata sudah memaafkanku.


Sesampainya di depan kosan sederhanaku aku membuka pintu dan masuk,namun saat akan menutup pintu seseorang menahannya.


Min Jun dengan wajah muramnya sudah setengah masuk ke kosanku,tanpa aba aba dia meringsek masuk dengan mencium bibirku hingga aku tersudut ke dinding.


Aku mendorong tubuhnya dengan susah payah dan melepaskan ciumannya


"Kau mencoba kabur lagi?!"


Ujarnya masih menyudutkanku ke dinding.


Aku mengatur nafasku,aroma mint itu menyebar di penciumanku membuat sensasi segar yang menggoda.


"Aku tidak kabur...."


ucapku di sela - sela nafasku


"Aku hanya ingin mengambil sesuatu"


Aku berusaha mendorong tubuhnya yang seakan membelengguku,namun dia tak bergeming sedikit pun


Min Jun menatapku dengan tatapan sedihnya,membuatku ingin mencubit pipinya.


"Aku bisa mengganti semua barangmu di sini,kenapa kau selalu membuatku sulit bernafas dengan pergi tanpa ijinku?"


syndrom tuan mudanya muncul


Aku menghela nafas,aku tahu dia mungkin masih takut aku pergi jauh tanpa ijin padanya lagi.Tapi aku benar - benar tak bisa memahami kalau dia selalu seenaknya mengganti barang - barangku.


"Tuan muda,ada hal yang tak bisa kau ganti"


Aku mendorong tubuhnya dengan sekali hentakan dan meloloskan diri


Aku berlalu menuju lemariku,mencari lembaran kecil itu.


"Apa itu?"


Min Jun mendekatiku saat aku menemukan gambar USG itu.


"Anakku..."


ujarku lirih


Min Jun meraih gambar itu pelan,dan menatapnya.


raut wajahnya nampak sedih mengusap gambar itu lalu dia menatapku lagi


"Aku tahu ini mungkin masih sulit untukmu,tapi Hana ... perlahan cobalah untuk tidak melihat kebelakang"


pintanya menurunkan gambar itu,yang segera ku raih.


"Apa maksudmu?"


Ujarku dengan nada tajam


"Dia bukan seseorang yang di takdirkan untuk bersama denganmu,kau harus melupakannya agar kau tak melupakan orang - orang disisimu saat ini"


Min Jun nampak berhati - hati mengucapkannya.


Entah mengapa ucapan Min Jun seakan menyuruhku untuk melupakan satu - satunya potongan kecil indah masalaluku.


"Maksudmu aku harus melupakan anak yang pernah ada di rahimku?!"


mempertegas kembali maksud Min Jun.


Min Jun menundukan kepalanya dan melangkah mendekatiku,namun aku mundur beberapa langkah tak ingin dia mendekat.


"Aku tahu ini sulit,tapi perlahan kau pasti bisa melupakan kesedihan ini"


ucap Min jun lembut


"Hentikan! Dia bukan kesedihan untukku,dia karunia bagiku walau hanya sebentar.Aku tak akan melupakannya!"


Aku menatap tajam pada Min Jun.


"Aku pikir kau menerima segalanya,aku pikir kau juga akan menerimanya saat kau bilang kau akan mencintaiku,tapi ternyata aku salah!"


Air mata yang entah kapan mengalir sudah membasahi pipiku.


"Hana ... aku akan menerimanya kalaupun dia sekarang ada bersamamu,tapi dia sudah pergi... kau harus belajar merelakan!"


Min Jun berusaha meyakinkanku,dan berusaha mendekat lagi namun aku memberi aba - aba agar dia tak mendekat,dia menghentikan langkahnya


"Bagi seorang wanita...mengandung seorang anak adalah kebahagiaan,dan walaupun anak itu tak berakhir menjadi bayi yang tumbuh sehat .... anak itu tetap mempunyai tempatnya sendiri"


perkataanku sendiri seakan mencabik hatiku


aku hanya ingin mengenangnya,dan terus merasa bersalah karena tak bisa menjaganya tak peduli seperti apa ayahnya dia adalah anakku.


"Hana ... kau nampaknya salah paham atas ucapanku"


Min Jun meraih tanganku,yang segera ku tepis kasar


"Pergi!aku ingin sendiri"


Aku mengusir Min Jun untuk pertama kalinya,membuatnya sedikit terperangah dengan sikapku.


Dia melangkah gontai meninggalkanku,sesaat dia keluar dari pintu aku menutup dan mengunci pintu rapat - rapat.


Sambil bersandar ke pintu,aku menangis tanpa suara.


Bagaimana seorang yang kucintai bahkan tak menerima sepotong masa laluku yang ingin ku kenang? Hatiku sakit ketika merasa Min Jun tak sepenuhnya menerimaku.


"Hana... aku hanya tak ingin melihatmu bersedih dan menyalahkan diri lagi,aku tak memintamu langsung melupakan semuanya.Aku juga sudah berjanji untuk menghapus setiap kesedihanmu."


Min Jun membuka suara di balik pintu,aku mendengarnya sambil menutup mulutku agar dia tak mendengar isakanku.


Min Jun terdengar menghela nafas panjang


"Maafkan aku,aku terlalu mencintaimu hingga tak sanggup melihatmu sesedih itu.Tapi apakah kau pernah mencintaiku seperti ini? Masalalumu bukan hanya membuatmu bersedih,tapi aku juga merasa tercabik oleh masalalu itu.Aku merasa,kalau saja aku bertemu denganmu lebih dulu mungkin saja kau tak akan mengalamu hal sedih itu.Hana ... cobalah fokus ke depan,cobalah untuk mencintaiku seperti aku mencintaimu"


Ucap Min jun yang segera di susul suara langkahnya yang menjauh.


Pikiranku kacau saat ini,aku tak ingin menyakiti Min Jun dengan cerita masa laluku,dia sudah berusaha menerimaku tapi disisi lain aku tak berniat melupakan anak yang pernah aku kandung.


Malam itu aku menangis di tempat tidur sambil mengusap gambar itu dan membayangkan wajah terluka Min Jun.


"Maafkan ibu... mungkin ibu benar - benar harus merelakanmu agar ibu tak menyakitinya"


ujarku sambil menyelipkan gambar itu di sebuah novel koleksiku dan menyimpannya di meja.


Aku menyadari selama ini aku hanya menerima cinta yang Min Jun berikan tanpa memperlihatkan cintaku padanya.Aku juga sudah menyiksa diriku dengan menyalahkan diri sendiri selama bertahun - tahun tanpa


ku sadari, ternyata aku tak dapat merelakan kepergiannya dengan sikapku itu.


Seperti yang Min Jun ucapkan,mungkin sudah saatnya aku untuk merelakan semua masa laluku dan fokus ke kehidupanku saat ini.


Aku juga ingin bahagia dan membahagiakan orang yang telah memberikanku banyak cinta.


Min Jun maafkan aku yang tak tahu diri ini...


****