COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
SENDIRIAN LAGI


Pagi itu seperti biasa aku menjalani aktifitasku di tengah keramaian ibu kota ini aku masih merasakan kesepian di hatiku.


Wajahku yang selalu mendung membuat beberapa orang di kantor sekarang enggan menyapaku,hanya Raya,Fani dan Randy lah yang masih tetap ramah padaku.


Juga Raditya ...


Dia tersenyum sambil melambai ke arah ku sebelum aku duduk di kubikalku dan berlalu begitu saja,membuat Fani,Raya dan Randy tersenyum penuh arti padaku.


"Tuh kan si Boss senyumnya cuma sama Mbak... "


Goda Raya padaku,aku hanya menatapnya tajam membuatnya bungkam.


"Ya Ampun kamu Han...ekspresi kamu bikin Raya takut tau?!"


Kata Randy sambil menyimpan beberapa draf di atas mejaku.


Aku bungkam tak menggubris Fany mendekatiku dengan menggeser kursinya ke arah ku


"Sebulan ini kamu tuh aneh tau gak?!"


memincingkan mata ke arahku


"Kita emang gak tau banyak tentang kamu Han... tapi seenggaknya cerita kalau ada yang mengganjal ..."


Ujar Fanny mulai kesal dengan sikapku yang berubah


"Gak ada yang perlu di ceritain mbak,aku lagi kecapekan aja ...maaf"


Ucapku meminta maaf agar mereka tak menanyakan lagi hal yang tak ingin ku bahas dengan siapapun.


****


Rasanya ada lubang yang menganga di dadaku,rasa sakit itu menyiksaku lebih saat malam menjelang.


Gelapnya malam dan kesunyiannya membuat hatiku terasa sedih,namun sudah tak ada lagi air mata yang mengalir.


Aku mengalihkan kesedihanku dengan menulis novel online kisah cinta yang penuh kebahagiaan,meski aku menulisnya dengan perasaan ini banyak juga yang membacanya.


Perasaan sakit ini bukan hanya menghancurkan senyumku,tapi menghancurkan hubunganku dengan orang - orang di lingkunganku.


Raya,Fanny,Randy akhirnya menjauh dariku.Mereka mungkin enggan bersamaku yang kian hari kian dingin dan memancarkan aura sedih.


Hubungan kami hanya menjadi rekan kerja semata,bahkan aku kerap makan siang sendirian.


Meski berteman dengan Raditya,aku tetap tak ingin terlalu dekat terlebih di kantor.


***


Pada akhirnya,aku hanya sendirian...


Aku harus menerima mungkin inilah takdirku.


Meski terasa kesepian,pada akhirnya aku sudah terbiasa.


Aku kini lebih suka duduk di depan laptopku dalam rumah yang aku sewa sambil menulis novel romantis itu,tak ada emosi di dalamnya aku hanya menulis yang perlu aku tulis.


Seiring dengan pendapatanku dari novel aku memutuskan untuk keluar bekerja,aku hanya ingin hidup sendiri.


Tak lagi ada ambisi atau tujuan,aku hanya butuh makan.


Aku hanya ingin sendirian,tanpa ada yang mengganggu.


Meski pada awalnya Raditya menghalangi namun aku tetap pada keputusanku,aku resign...


Raditya masih menghubungiku lewat chat namun hanyaku balas seperlunya,bagiku berbicara dengan orang lain adalah beban.


Entah sejak kapan,menghadapi orang lain menjadi sesuatu yang mencekikku,aku merasa mereka sedang berbohong dan mengkhianatiku.


Ponselku berdering,rupanya penerbit novel menghubungiku


"Penulis Hana,saya Fian dari perusahaan penerbit X ,kita ingin menemui anda untuk membicarakan penerbitan buku anda"


ucap seseorang di balik telepon


"Kapan?"


Ujarku sedikit tak suka


"Besok di kantor kita jam 10"


suaranya penuh semangat


"Ok"


Aku menutup sambungan telepon tanpa menunggu respon lagi.


Setelah sekian lama ada di rumah ini,dan hanya sesekali pergi ke minimarket.


Aku berusaha menenangkan diri,rasanya asing dan aku benci pergi keluar


Entah apa yang menantiku...


Entah siapa lagi yang akan mengkhianatiku ...