Unexpected Wedding

Unexpected Wedding
34. Kehidupan Nessa dan Nara Dimulai


Hari ini Nessa dan Nara hanya di rumah saja. Tetapi Nara tetap sibuk dengan kerjaannya. Dari pagi waktu sarapan Nara sudah disibukkan dengan segala urusan kantornya. Dan sekarang Nara sudah berada di ruangan kerja di rumahnya tetap dengan urusan kantor.


Nessa sendiri sekarang sedang berada.di kamar memikirkan apa yang harus dilakukannya.


"Aku harus menjadi istri yang baik. Aku akan berusaha agar Nara mulai membuka hatinya untuk aku dan pernikahan ini harus tetap.utuh selamanya" pikir Nessa


Setelah cukup lama berpikir, Nessa akhirnya memutuskan untuk menyiapkan makan siang untuk Nara. Nessa segera menuju dapur. Namun sebelumnya dia menyempatkan diri untuk mampir ke ruangan kerja Nara. Saat sudah berada di depan pintu ruang kerja Nara, Nessa menarik napas dalam dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk aja" jawab Nara dari balik pintu


Nessa pun segera membuka pintu dan masuk.


"Mau ngapain kamu" tanya Nara datar


"Maaf, Aku cuma mau nanya kamu mau dimasakin apa untuk makan siang nanti?" ucap Nessa dengan sangat hati hati


"Untuk apa kamu bertanya" tanya Nara lagi


"Aku cuma mau masakin aja buat kamu" jawab Nessa


"Gak perlu. Sudah ada pembantu yang mengurusnya" ucap Nara


"Ya memang sih, tapi aku yang mau siapin buat suami aku" ujar Nessa memberanikan diri


"Kamu gak usah berharap macam macam dari aku" jawab Nara ketus


"Apa salah jika aku cuma mengharapkan cinta dari suami aku sendiri?" tanya Nessa dengan mata yang mulai berkaca kaca


"Jangan harap. Kamu tau sendiri alasan alu nikahin kamu!" Nara mulai tetlihat emosi


"Iya. Aku tau. Tapi apa salah jika aku berusaha mengubah dendam itu jadi cinta" tanya Nessa


"Sudah! Kamu gak usah macam macam. Keluar sana, aku lagi banyak kerjaan" bentak Nara


Air mata Nessa akhirnya jatuh juga. Nara yang melihat hal tersebut pun tidak mempedulikannya.


"Aku bilang keluar sekarang" ulang Nara


Nessa pun akhirnya keluar dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Niat Nessa yang awalnya mau menuju dapur akhirnya tidak terjadi karena Nessa sekarang sedang berlari menuju kamarnya.


"Kenapa semua ini harus terjadi sama aku? Apa yang sudah aku lakukan hingga Tuhan menghukum aku seperti ini" protes Nessa


Sepanjang hari itu Nessa hanya menangis dan mengurung diri dalam kamar. Tiba tiba pintu terdengar ketukan di pintu kamar.


"Nyonya, ini Bibik. Makan siangnya sudah siap Nyonya" kata Bik Iyem


Nessa kemudian membuka pintu


"Bibik siapin makan untuk Tuan saja. Saya lagi gak napsu makan Bik" jawab Nessa lemas


"Nyonya gak apa apa?" Bik Iyem mulai terlihat khawatir


"Saya gak apa apa kok Bik. Cuma lagi gak napsu makan aja" jawab Nessa


"Tapi nyonya kelihatan seperti sedang sakit" kata Bi Iyem


"Saya gak apa apa kok Bik. Benaran" bantah Nessa


"Lebih baik sekarang bibi siapkan makan buat Tuan. Pasti dia sudah sangat lapar" Ujar Nessa kemudian segera menutup kembali pintu kamar.


Bik Iyem kemudian meninggalkan kamar tersebut dan menuju ke ruang kerja Nara.


Setelah mengetuk pintu ruang kerja Nara dan dipersilahkan masuk Bik Iyem pun segera masuk.


"Maaf tuan, makan siangnya sudah siap" kata Bik Iyem


"Baik Bik" jawab Nara


"Panggilkan nyonya biar segera turun dan makan siang" lanjut Nara


"Maaf tuan, nyonya sepertinya lagi tidak enak badan tuan. Tadi sudah sempat bibik panggil tapi katanya lagi tidak napsu makan tuan" jawab Bik Iyem


"Oh gitu. Ya udah bik, sebentar lagi saya ke meja makan" jawan Nara sambil merapikan kerjaannya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Nara langsung menuju ke meja makan untuk makan siang karena perutnya sudah sangat lapar.


Dia tidak mempedulikan Nessa yang juga belum makan. Nara makan dengan sangat lahapnya.