
Nessa masih merenungkan nasibnya. Dia terus memikirkan apa yang harus dilakukan. Dia terus berdoa agar Tuhan menunjukan jalan baginya.
Hingga Nessa akhirnya mengingat pesan mamanya
"Cintailah suami kamu dengan seluruh hati kamu. Bahagiakanlah dia. Jangan pernah biarkan cinta di antara kalian mati begitu saja. Tumbuhkanlah cinta itu agar semakin hari dia semakin berkembang hingga cobaan apapun bisa kalian lewatkan bersama karena kekuatan cinta kalian yang semakin besar"
"Mama.. gimana cinta ini akan semakin besar? Karena pada kenyataannya pernikahan ini bukan karena cinta" Nessa bertanya dalam hatinya
"Apa yang harus aku lakukan?" Nessa semakin bingung
Saat dalam kegalauan tersebut, tiba tiba Nessa seperti mendapatkan sebuah petunjuk.
"Seberapa besar dendam kamu ke aku Nara?" tanya Nessa dalam hatinya
"Oke. Aku akan mengubah dendam itu menjadi cinta. Hingga akhirnya pernikahan ini bukan karena dendam tapi akan berlandaskan cinta yang kuat" Nessa sudah menentukan pilihannya. Dia akan membuat dendam Nara berubah jadi cinta.
Nessa segera menghapus semua air matanya.
Nara sudah kembali segar setelah mandi. Nessa yang melihat Nara sudah selesai mandi segera menyiapkan piyama untuk Nara.
"Pakaian kamu sudah aku siapkan" ucap Nessa
"Aku mandi dulu ya" lanjutnya
Nessa segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi Nessa segera berpakaian dan menuju ke kasur dimana Nara sedang duduk sambil bermain ponsel.
Nessa yang melihat Nara sibuk dengan ponselnya segera mengambil ponsel terswbut dan meletakannya di atas nakas di samping tempat tidur itu.
"Kamu mau ngapain? Kembalii handphone aku" ucap Nara
"Ini hari pertama kita jadi suami istri. Apa kamu tidak ingin mengenal istri kamu?" tanya Nessa
"Kamu apa apan sih. Sini balikin handphone aku"paksa Nara
"Aku gak akan balikin" balas Nessa
"Mau kamu apa? Kamu sudah tau kan pernikahan ini terjadi karena apa?" tanya Nara
"Dan aku mau mulai sekarang aku mau tiap malam kita berbagi dan bercerita. Dimulai dari tidak menggunakan handphone selama berada dalam kamar ini kecuali hal mendesak" lanjut Nessa
"Kamu sudah gila ya" protes Nara
"Sini balikin handphone aku" Nara mulai terlihat emosi
Nara mencoba mengambil ponselnya tapi Nessa tetap berusaha menahannya, hingga akhirnya tubuh Nessa tertindih badan Nara dan kancing baju Nessa terlepas sehingga area dada Nessa langsung terlihat dengan jelas.
Nessa belum menyadari kalau bajunya terbuka.
Mata Nara langsung terpaku melihat belahan dada Nessa yang begitu menggoda. Tiba tiba hasrat lelaki Nara muncul. Nessa mulai sadar kalau Nara sedang memperhatikan dadanya. Nessa segera berusaha menutupinya namun sayang tangannya di tahan Nara. Nessa mencoba mendorong tubuh Nara tapi tenaga Nessa tidak ada apa apanya dibandingkan tubuh Nara yang begitu besar.
"Aku terima syarat kamu untuk tidak menggunakan handphone dalam kamar ini" bisik Nara di telinga Nessa
"Tapi tubuh kamu yang akan menjadi penggantinya" lanjut Nara sambil mencium leher Nessa
"Tapi.." belum sempat Nessa menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah menyatu dengan bibir Nara.
Nara mencium Nessa dengan sangat lembut, hingga tanpa sadar Nessa mulai membalas ciuman itu. Awal ciuman yang lembut kini berubah menjadi semakin agresif. Tangan Nara mulai menjelajahi tubuh Nessa. Semua area sensitif Nessa tak lepas dari belaian Nara. Semula tangan Nara yang bergerak kesana kemari kini berganti dengan bibirnya yang mulai nakal bergerak menuju dada Nessa. Nessa sudah sangat terhanyut dalam belaian Nara. Semakin tubuh Nessa merespon tiap sentuhan Nara, Nara semakin menggila. Nara kini siap untuk bersatu dengan Nessa, namun karena ini yang pertama kali bagi Nessa membuat Nara harus lebih sedikit bersabar.
"Rileks saja sayang, nikmati saja. Akan sedikit terasa sakit di awal" bisik Nara di telinga Nessa sambil terus mencium leher Nessa
Nessa hanya bisa mengangguk.
Nara kembali mencoba untuk menyatukan diri dengan Nessa dan setelah beberapa kali mencoba
"Aww..." Nessa memekik kesakitan
Nara berhasil menyatu dengan Nessa.
Nara kemudian mencium Nessa untuk mengalihkan rasa sakit tersebut.
Lama kelamaan rintihan kesakitan Nessa berubah menjadi desahan kenikmatan. Cukup lama keduanya bergulat di atas kasur hingga akhirnya sampailah mereka di puncak kenikmatan itu. Nara kemudian mencium Nessa sebelum akhirnya mereka tertidur.