Unexpected Wedding

Unexpected Wedding
01. Desa Yang Tenang


Langit masih terlihat gelap. Mentari pagi belum menunjukan cahaya indahnya. Suara kokok ayam ditemani kicauan burung nan merdu dan gemercik aliran sungai bagaikan suara musik yang mengalun indah menjadikan suasana pagi di desa pinggiran kota ini semakin terasa damai dan tenang. Rutinitas pagi warga desa sudah mulai terasa walau hari masih terasa gelap. Bagi mereka rejeki akan semakin mengalir saat memulai pekerjaan sebelum sang mentari memberikan sinarnya.


Di sebuah rumah yang sederhana, seorang wanita paruh baya sedang membuka jendela rumah, membiarkan semilir angin pagi masuk ke dalam rumah tersebut. Beberapa saat kemudian tampak seorang gadis muncul dengan membawa sebuah sapu lidi menuju halaman rumah itu. Vanessa Sheehan, itulah nama gadis itu.


Nessa adalah gadis berusia 26 tahun, anak kedua dari 3 bersaudara dan sekaligus satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu. Papa Nessa sudah meninggal sejak Nessa berusia 19 tahun. Kakak Nessa sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari desa ini. Adik Nessa saat ini sedang melajutkan kuliahnya di ibukota Propinsi. Sedangkan Nessa sendiri saat ini sedang mengambil cuti kerja beberapa hari untuk mengunjungi mamanya.


"Eca, kalau sudah selesai menyapu langsung mandi dan sarapan dulu, Nak" kata ibu mengingatkan anak gadisnya


"Iya Ma," sahut Nessa


Setelah selesai membersihkan rumah Nessa pun langsung mandi dan sarapan. Sarapan Eca pagi ini adalah cukup sederhana, makanan ala desa yaitu singkong rebus dan segelas teh hangat buatan mama. Selesai sarapan Nessa selalu menyempatkan diri untuk ke makam ayahnya yang kebetulan memang berada di depan rumah mereka. Kebiasaan itu selalu ia lakukan setiap kali ia pulang ke rumah.


"Pa, hari ini hari terakhir Eca di rumah Pa. Besok Eca sudah harus kembali ke kota untuk bekerja. Eca janji akan selalu jadi anak papa yang baik, yang selalu dengar nasehat papa dan mama. Eca minta maaf Pa, belum sempat membahagiakan Papa waktu itu. Tapi Eca janji akan berusaha untuk selalu membahagiakan mama untuk papa. Eca janji akan menjadi anak yg berbakti. Eca yakin papa sekarang sudah bahagia di surga. Doakan Eca selalu ya Pa supaya Eca jadi anak yang kuat, anak yang mandiri dan pastinya selalu bisa membanggakan papa dan mama."ucap Nessa ke makam papanya. Tanpa terasa air mata Nessa sudah menetes di pipinya. Setiap kali ia berada di makam papanya Eca akan selalu teringat semua kenangan manis bersama sang papa. Setelah berdoa sejenak Nessa langsung masuk kembali ke dalam rumah. Dan hari ini pun dilalui Nessa bersama sang mama dengan begitu banyak cerita dan nasihat dari mama untuk Nessa.


Malam harinya sang mama sudah mempersiapkan semua keperluan yang akan dibawa Nessa pulang besok.


"Seperti biasa Ma, sambal teri kacang tanah saja. Itu sudah cukup ko," jawab Nessa. Dia tidak mau merepotkan sang mama.


"Yakin cuma itu saja?" mama kembali bertanya


"Iya Ma, itu sudah lebih dari cukup Ma" sahut Nessa


"Besok kamu berangkat jam berapa?" tanya mama


"Kalau dri tiketnya Cek In jam 11.00 Ma, jadi kemungkinan jam 10.00 baru berangkat ke bandara Ma" jawab Nessa


Setelah selesai menyiapkan semua barang dan oleh-oleh untuk anak gadis satu-satunya. Mama mengajak Nessa untuk beristirahat karena hari sudah malam.