
Setelah berada dalam rumah, Nessa langsung rebahan dan memikirkan nasibnya.
Setelah cukup.lama hanyut dalam pikirannya sendiri, Nessa mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya
"Halo Ma" salam Nessa
"Halo nak, gimana kabarnya? Sehat kan nak?"tanya sang mama
"Nessa sehat Ma. Mama gimana kabarnya?" Nessa bertanya pada mamanya
" Mama sehat sayang" jawab mama Nessa
"Ma, ada yang mau Nessa bicarakan sama mama" ucap Nessa
"Gimana sayang, mau bicara apa?" tanya mama
"Ma. Minggu depan Nessa pulang Ma" ucap Nessa
"Mama senang dengarnya, akhirnya kamu pulang" sambut sang mama dengan bahagia.
"Tapi Ma, Nessa gak datang sendirian. Nessa mau ngenalin ke mama seseorang" Nessa berbicara dengan hati hati
"Mau ngenalin siapa sayang? Teman kamu?" tanya mama
" Bukan Ma. Nessa mau kenalin ke mama calon mantu mama" jawab Nessa
"Apa? Kamu mau bawa calon mantu buat mama?" tanya mama
"Iya Ma." jawab Nessa
" Mama sudah gak sabat pengen liat calon mantu mama jadinya" mamanya sangat bahagia
"Gimana Ma? Apa mama bahagia?" tanya Nessa
"Mama sangat bahagia sayang, akhirnya akan ada yang melindungi dan memperhatikan kamu" jawab mama dengan bahagia
"Ya udah Ma. Nessa mau istirahat dulu. Mama jaga kesehatan ya" kata Nessa mengakhiri percakapan dengan sang mama
Perasaan Nessa gak karuan, antara senang karena mendengar mamanya bahagia atau harus sedih karena ternyata pernikahan ini hanya karena keterpaksaan.
Nessa kemudian bangun dari tidurnya dan mulai membereskan rumah agar tidak terlalu memikirkan hidupnya yang akhir akhir ini agak menyedihkan
Setelah mandi dan keramas. Nessa menjadi lebih segar. Sekarang waktunya bersantai untuk Nessa.
Sambil mendengarkan alunan musik untuk relaksasi Nessa membuat segelas teh hangat untuk dirinya sendiri. Dia benar benar ingin memanjakan dirinya sore ini. Sambil menikmati teh hangat dan beberapa potong cookies, Nessa memandangi bunga bunga yang ada di taman rumahya yang sedang bermekaran.
"Apa aku sudah mengambil keputusan yang benar? Apa memang ini takdirku? Menikah dengan seseorang yang bahkan belum aku kenal. Apakah aku akan bahagia dengan pernikahan yang seperti ini?" Nessa terus memikirkannya
Sementara di rumah Nara.
"Pa.. Ma.. ada yang mau Nara bicarakan" kata Nara ke orangtuanya saat mereka sedang bersantai.
"Ada apa sayang. Kayaknya penting banget" tanya mama Nara dengan lembut
"Ma.. Nara akan menikah" katanya
"Apa? Menikah?" mamanya kaget mendengar perkataan Nara
" Emang kamu punya pacar selama ini?" tanya mama Nara
"Kamu jangan bercanda. Pernikahan itu bukan mainan. Sekali.kamu menikah itu akan tetap selamanya tidak terpisahkan" sambung Papa Nara
"Kamu yakin sayang?" tanya mamanya ragu
"Benar Ma.. Pa.." ucap Nara meyakinkan
" Apa yang membuat kamu berpikiran untuk menikah sekarang" tanya papanya
"Gak ada sih Pa, cuma tiba tiba aja berpikir untuk segera menikah aja Pa" jawab Nara
"Kalau kamu sudah yakin dengan semuanya ya Papa akan mendukung kamu" jawab Papanya
"Kalau gitu, besok mama mau kamu bawa calon mantu mama ke rumah ini. Kita makan malam bersama" ucap Mama Nara
" Baik Ma. Kalau gitu Nara ke kamar dulu" pamit Nara ke orang tuanya
"Iya sayang" jawab mama
Nara segera menuju ke kamarnya. Saat berada di kamar, Nara memikirkan kembali ucapan Papa dan Mamanya. Tapi entah apa yang membuatnya tetap mau menikahi Nessa.
Sebenarnya Nara sudah lupa akan dendamnya pada Nessa, entah sejak kapan dendam itu menghilang. Saat ini yang ada dipikirannya adalah Nessa harus menjadi miliknya.