
Suara gemuruh ombak yang menerjang karang menjadi pembuka, kala mata terbuka.
Terpaan angin laut terasa begitu menyatu dalam hawa sejuk diri yang sedang mengobati luka.
Desiran ombak yang menerjang mata kaki begitu nyata dirasakan. Kuhirup udara dengan rasa syukur kepada Allah, atas nikmat yang telah diberikan hari ini.
Burung camar terbang bebas, bekeliling dengan anggunnya mengepakkan sayap-sayap indahnya.
Perahu para nelayan mulai berdatangan, setelah semalaman menerjang angin laut demi mencari nafkah untuk keluarga.
Saya berdiri pinggir pantai, memandang luasnya pantai Pangandaran yang selalu membuat saya terpukau akan keindahan yang Tuhan ciptakan di dunia.
Pasir-pasir putih memanjakan kaki saya dalam kelembutannya. Aroma khas laut begitu menyeruak masuk ke rongga hidung, memberi sinyal kepada otak bahwa matahari duha telah datang menyapa.
Seperti sebuah kalimat yang tertulis indah oleh Aidh Al Qarni, dalam bukunya beliau mengatakan 'Jangan menunggu datangnya kebahagiaan untuk dapat tersenyum, tapi tersenyumlah agar anda bahagia.'
Duhai Allah, Sebuah ayat dari Al Qur'an menjadi titik tumpu hidup seorang hambaMu saat ini
Allah swt. Berfirman,
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. "
[Ar-Ra'd(13):28]
Maka hanya dengan mengingat-Mu saja sebuah kelegaan begitu terasa, menyentuh kalbu yang rindu akan magfirah dari-Mu.
Saya terus melangkah, berpijak pada pasir-pasir putih sepanjang pantai Pangandaran. Membiarkan kaki melangkah bebas, jika lelah maka akan istirahat sejenak lalu kembali melangkah meski tanpa arah dan tujuan yang belum jelas.
Lima tahun sebuah tragedi yang membuat saya mengenal sakit rasanya terkhianati telah berlalu begitu cepat. Tidak ada rasa apapun selain sebuah luka menganga yang belum sempat terobati sempurna. Saya laki-laki biasa, yang memiliki cinta apa adanya. Tanpa banyak harta yang bisa dibanggakan, hanya sebongkah ilmu yang terukir dalam setiap jejak langkah kehidupan.
Mungkin dari sebagain besar mereka yang mengenal saya, akan paham sebuah perjuangan hati mengikis waktu demi melupakan sebuah kenangan pahit dalam ingatan. Ini bukan soal rasa sakit karena ditinggalkan, tapi lebih dari rasa kecewa ketika orang tua yang merasakan perihnya.
Saya tidak mau mengulang kembali kisah itu. Kisah yang terpatri dalam ingatan, dan sangat tabu untuk dikenang. Biarkan saja cerita itu pergi, hempas bersama bayangan waktu yang menggelap pekat, dan berganti cahaya lilin temaram hingga terang benderang ketika Allah gantikan dengan sebuah cerita penuh kisah kasih kepada-Nya.
Langkah saya terhenti ketika sampai di batu karang yang cukup besar, keindahan laut begitu jelas terekam oleh mata. Angin segar menyapa lewat terpaannya yang memainkan anak rambut dengan lembut.
"Malik."
Saya tersenyum ketika sebuah nama yang terbalut doa dari orang tua itu menggema di sepanjang pantai Pangandaran.
"Eh, urang cari ka pelosok pantai. Taunya maneh di dieu keur galau."
[Eh, saya mencari ke pelosok pantai, taunya kamu ada di sini, sedang galau]
"Galau apa sih, Nal?"
"Terus ngapain di sini?"
"Ya main, lah."
Zenal, sahabat saya yang mengikuti alur hidup saya begitu apik. Tidak heran ketika saya terdampar di sini, dia pun hadir menemani.
"Geus solat duha acan?"
[Sudah solat duha belum?]
"Sudah, Nal"
Zenal mengangguk.
Prinsip hidup saya, carilah sahabat bukan hanya mengingatkan tentang duniawi, tapi yang mampu memegang erat tanganmu hingga ke surga nanti.
"Lik, kita kapan pulang?" tanya Zenal ketika kami duduk di batu karang yang cukup besar ini, pandangan kami sama-sama lurus ke depan menatap deru ombak yang saling berkejaran.
"Kenapa? Udah bosen, ya?"
"Iya, saya bosen liat kamu seperti ini terus. Pulang lah, Lik. Umi dan adikmu sudah menunggu di rumah."
Saya tersenyum mendengar ucapan Zenal. Dua bulan saya minggat dari rumah, kalian mengerti apa itu minggat? Kalau orang Sunda mengartikan minggat itu pergi dari rumah tanpa pamit, tanpa memberi kabar sama sekali. Istilah kerennya kabur dari rumah, tapi minggatnya saya kesini sudah direstui umi, dan didoakan tulus oleh beliau, itulah sebabnya saya betah berlama-lama di kota yang pernah mendapat julukan kota pensiun ini.
Aroma klasiknya, udara sejuknya, dan ramah tamah orang-orang di sekeliling membuat saya semakin terbuai oleh rasa nyaman hingga melupakan kota sendiri. Meninggalkan Umi dan Malikha berdua mengurus lahan peninggalan Bapak dulu. Miris sekali.
"Besok kita pulang."
"Ieu serius, Lik?"
[Ini serius, Lik]
"Ya serius, kalo saya bercanda mungkin besoknya lagi baru pulang."
"Heleeh." Zenal berdecak pelan, yang membuat saya tersenyum lebar.
***
Matahari di ufuk timur telah memancarkan cahaya terang kemerahan, warnanya bak bara api yang menyala. Inilah indahnya pagi hari di pantai Pangandaran, suara deru ombak yang menghantam karang begitu merdu terdengar. Suara kicau burung bagai alunan simfoni yang menenangkan jiwa.
Saya lampirkan tas di belakang punggung, tas biru yang berisi perlengkapan saya selama minggat jauh dari umi dan adik kecil saya. Zenal terlihat sedang memanaskan mesin motor, perjalanan panjang akan kita tempuh, membelah jalur kota Ciamis-Bogor. Menikmati pemandangan khas warga pantai yang sedah bersiap melakukan rutinitas mereka.
Motor J-MX warna hitam milik Zenal sudah siap menempuh perjalanan pulang kali ini. Kurang dari dua bulan saya menghabiskan waktu bersama masyarakat pantai di daerah Pangandaran ini. Rasanya seperti harus berpisah dengan keadaan yang mulai nyaman di relung hati saya.
"Udah siap semua, Lik?" tanya Zenal yang berhasil membuat lamunan saya tentang kota Eksotis ini buyar seketika.
Saya mengangguk, lalu segera mengambil helm di kursi rotan, saya juga sudah memakai bufh dan topi yang sudah saya arahkan ke belakang.
"Umi, Malik pulang." saya membatin sendiri.
Motor J-MX yang dikendarai Zenal mulai meninggalkan tempat penginapan. Di sepanjang jalan saya masih bertemu warga yang cukup saya kenal selama tinggal sementara di sini.
"Jang Malik, pulang.... " teriakan demi teriakan itu terus berdatangan dari Bapak-Bapak pembawa jala penangkap ikan.
"Iya, Pak." saya menjawab sambil tersenyum ramah ke arah mereka. Tentu mereka masih mengenali saya, karena helm belum terpakai di kepala saya.
Motor kami mulai keluar dari gerbang selamat datang Pantai Pangandaran, ada sesuatu yang rasanya hilang terasakan di sanubari saya. Suatu moment dan jejak kenangan yang mungkin tidak akan saya lupakan selama minggat ke kota orang.
Deru mesin motor terus membahana, memecah keheningan di waktu duha. Kilauan sinar matahari mulai menghampiri mata, kacamata hitam yang sedari tadi saya pegang kini sudah bertengger manis, helm sudah terpakai sempurna. Dengan mengucap bismillah di dalam hati, saya pulang kembali ke kota tercinta. Bogor yang menyimpan banyak luka dan air mata.
Hampir separuh perjalanan, Zenal menghentikan laju motornya di sebuah kedai peristirahatan di kota Banjar.
"Lik, laper. Makan dulu ya!"
"Siap."
Kami memasuki restoran lesehan.
Aku dan Zenal memesan satu porsi tauge goreng khas Bogor dengan citarasa Kota Banjar. Dua gelas teh hangat dan dua gelas kopi hitam pekat, dengan sedikit gula rendah kalori. Kami sangat menikmati makan siang kali ini. Suasana kota Banjar yang masih sejuk, udara pegunungan yang terasa dingin meski matahari mulai beranjak tinggi.
Azan zuhur sudah berkumadang, setelah makan siang saya dan Zenal memutuskan untuk solat terlebih dahulu, motor kami telah terparkir di salah satu masjid. Kami pun bergegas solat berjamaah.
****
Tiba di daerah Nagrek sudah sore hari, kami memutuskan untuk istirahat kembali. Secara tidak sadar perjalanan pulang kembali ke kota tercinta mengajarkan saya arti sebuah istirahat setelah lari dari bayang-bayang kelam. Masa lalu bukan sekedar membawa saya kepada titik terendah tapi secara bersamaan mampu membuat seorang Malik hidup kembali, meski tak sama semoga lebih baik lagi.
Selesai istirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali. Saya yang kini mengambil alih untuk mengemudikan motor J-MX milik Zenal. Kembali membelah jalan raya dengan arus kendaraan yang mulai padat. Semoga tidak terlalu malam untuk tiba di rumah tercinta.
Aroma laksa, asinan Bogor telah merasuki indra penciuman. Suara-suara khas pedagang asongan di pinggir jalan menjadi pertanda kami akan segera tiba. Udara sejuk yang kian mengikis akibat polusi kendaraan tak bisa terhindarkan. Bogor-ku sudah menjelma menjadi sebuah kota besar, setelah kutinggalkan dua bulan lamanya. Aku tertawa pelan di dalam hati, jika Bogor saja sudah berubah bagaimana dengan umi dan Malikha?
Gapura besar bertuliskan 'BOGOR KOTA BERIMAN' telah saya lewati, tinggal beberapa ratus kilometer lagi, sampai ke rumah yang sangat saya rindukan.
Tepat pukul sepuluh malam, motor J-MX itu telah terparkir sempurna di depan rumah sederhana berwarna biru muda. Saya melihat seorang wanita cantik di usia senjanya sedang tersenyum haru ke arah saya. Ketika helm terbuka sempurna dan penutup wajah telah saya lepaskan, gadis mungil berjilbab kuning langsung berlalari dan memeluk saya dengan erat.
"A Malik.... " suara khasnya menggema di tengah malam yang gelap gulita tanpa bintang yang menerangi. Hanya ada cahaya lampu temaram dari teras depan.
"Ini Aa sudah pulang, Dek." kata saya sambil memeluk kembali tubuh mungilnya.
"Malikha, Aa baru sampai, biar istirahat dulu!" suara lembut dari wanita yang masih berdiri di tempatnya berhasil mengurai pelukan saya dan Malikha.
Saya bergegas menghampiri wanita yang begitu saya cintai, butiran air mata mulai mengalir di pipinya. Saya tersenyum lalu memeluknya erat melepas rindu akibat dua bulan terpisah jarak dan waktu. Saya terisak pelan, ketika tangannya, tangan yang telah berhasil mendidik saya hingga detik ini. Tangan yang tak pernah lelah mengadahkan tangan kepada Allah untuk segala kebaikan saya. "Malik pulang, Umi." lirih saya pelan, di sela tangis rindu yang menyerbu.
Umi hanya mengangguk tanpa bersuara. Namun, tangisnya semakin terdengar di telinga.
"Umi, Zenal juga pulang," suara Zenal berhasil membuat umi melepas pelukan anak laki-lakinya.
"Astagfirullah, Umi sampai lupa, Nal. Hayu geura asup, di luar dingin."
[Ayo, segera masuk]
Kami pun bergegas masuk ke dalam rumah minimalis, tempat umi mencurahkan kasih sayangnya kepada saya dan Malikha. Tempat Kenangan terindah ketika Bapak masih ada. Kebersamaan keluarga kecil yang bahagia.
"Mang, bawa oleh-oleh apa?" tanya Malikha.
"Bawa banyak nih, La. Ada dodol Garut, kaos bertuliskan 'I Love You Pangandaran, terus apalagi ya ini .... " Zenal sibuk membongkar dus kecil yang kami bawa dari Pangandaran.
"Ini aja, Mang? Kelomang tidak ada?"
Zenal menepuk keningnya pelan, "Astagfirullah, La. Eta kelomangnya pada transmigrasi ke pantai Gunung kidul."
Malikha mengerucutkan bibirnya yang berhasil membuat saya tertawa. Saya rindu sekali suasana rumah seperti ini. Umi datang ke ruang tengah, membawa nampan yang berisi beberapa gelas wedang jahe buatannya. Aroma dari kepulan asap umbi cilembu, yang saya yakini hasil panen dari lahan membuat tangan saya tergiur untuk mencomotnya.
"Kamu mau makan, Malik?" tanya Umi.
"Masih kenyang, Mi. Nggak tau deh itu si Zenal, mungkin dia mau makan." kata saya sambil melirik ke arah Zenal.
"Mau, Teh. Zenal udah laper banget." jawabnya sambil mengunyah umbi.
Perlu kalian ketahui, Zenal ini bukan sekedar sahabat dan teman saya, tapi dia juga satu-satunya adik dari almarhum bapak dan sekarang tinggal bersama saya dan Umi di rumah ini.
Malam semakin larut, Malikha dan Zenal sudah tertidur pulas di kamarnya. Hanya menyisakan saya dan Umi yang masih melepas rindu dalam keheningan.
"Malik," panggil umi pelan.
"Iya, Umi."
"Jangan pergi jauh-jauh lagi ya, apalagi sampai nggak pulang. Dua bulan itu berat bagi umi, Nak."
Saya tersenyum, "Insya Allah, Umi. Ini yang pertama dan terakhir. Malik nggak akan tinggalin umi dan Malikha lagi."
"Ya sudah, sekarang istirahat sana! Pasti capek banget berjam-jam menempuh perjalanan."
"Siap Komandan."
Saya pun memutuskan masuk ke kamar yang sudah lama saya tinggal pergi. Istirahatlah, semoga semua lelah hari ini terbayar dengan rindu yang terbalas.
****
Suara kokok ayam sudah berbunyi, menyapa pagi dengan semangat baru untuk hidup yang baru. Kewajiban salat fardu telah saya tuntaskan. Kali ini saya tidak ingin melewatkan sejuknya kota kelahiran sendiri. Saya berjalan pelan menelusuri pematang sawah, yang tertanam macam-macam sayuran.
Udara dingin telah menyentuh pori-pori saya hingga ke dasarnya. Namun, tidak membuat langkah saya untuk terhenti meski hanya merapatkan jaket yang saya kenakan.
The Blue Vegetable Prak, menjadi tempat hiburan dalam hidup saya. Lahan seluas 200 Hektare peninggalan bapak ini, telah saya sulap menjadi taman sayur yang cukup untuk menghidupi nafkah warga sekitar. Tidak ada yang berubah dari terakhir saya tinggal pergi, hanya saja sudah ada beberapa sayuran yang telah dipanen.
"Wey, kawan, kapan pulang?" terdengar suara dari arah belakang, saya menoleh dan mendapati Alung, alias Hairul Anwar sedang tersenyum.
"Wey, tadi malam. Gimana kabar sehat?" kata saya sambil menjabat tangannya.
"Sehat, yang nggak sehat itu An-Nazzam. Kehilangan tulang,"
Saya terkekeh pelan, "Bisa aja, Lung. Ini tulangnya udah balik. An-Nazzam sudah bisa berdiri tegak lagi."
"Alhamdulillah. Bagus lah. Berarti kita bisa langsung latihan. Kita terakhir tampil di pernikahan anaknya Pak Danu beberapa bulan lalu. Gue ingetin kalo lo lupa."
"Hahahaha ... Iya. Sok lah. Nanti siang kita latihan."
Kalian sudah tahu Nasyid An-Nazzam? Jika belum mari saya perkenalkan dengan sang keyboardis An-Nazzan ada Hairul Anwar biasa dipanggil Alung. Lalu pemetik gitar ada Zenal si tukang tidur, dan ada Sepian penabuh dram yang mungkin akan tiba sebentar lagi. Saya sendiri dipercaya untuk menjadi Vokalisnya.
Alung benar, An Nazzam terakhir tampil beberapa bulan lalu di acara pernikahan anaknya Pak Danu. Setelah itu kami vacum, lebih tepatnya saya yang tidak bisa diganggu karena padatnya pekerjaan di lahan.
"Gue pulang dulu, Lik. Nanti gue Hubungin lagi buat jam latihan."
"Siap. Bos-ku."
Setelah berjabat tangan kembali, Alung pamit pergi.
Terkadang sebuah waktu akan sangat cepat berlalu ketika kita enggan untuk menghentikannya. Akan terasa lambat, ketika kita mengenangnya. Semua saya rasakan dalam kurun waktu yang cukup lama. Mustahil bisa mengembalikan waktu yang terbuang, saat ini saya hanya ingin fokus untuk mengikuti setiap alurnya.
Langkah saya terhenti ketika melintasi sungai kecil yang airnya cukup mengalir deras. Jika ada satu moment yang tidak bisa saya lupakan, maka moment di sungai inilah yang tidak hilang dari ingatan.
Seperti sebuah kaset yang terulang kembali, saya tersenyum kecil mengingat tragedi sungai ini.
Apa kabar gadis bermata bundar?
Yang badannya kecil tapi mampu meremukkan tulang saya ketika menggendongnya.
Gadis yang sering membuat tensi darah saya meninggi karena ulahnya. Motor saya pun pernah menjadi korbannya.
Jika teringat akan semua itu, hampir membuat saya tidak bisa menahan tawa. Jika saja masih ada kesempatan untuk bertemu, semoga lebih baik dari moment sebelumnya.