
"Jika memang pergi adalah kebahagiaanmu, maka aku akan pamit. Jangan cari aku. Namun, tunggulah di tempat biasa kita bertemu."
-Han-
***
Menangis adalah satu hal yang bisa aku lakukan. Sungguh. Apakah ini jawaban dari dedoa yang sering aku panjatkan?
Begitu kejam cara dunia mengungkapkan segala hal yang selalu aku impikan. Aku ingin marah. Namun, entah kepada siapa marah ini akan bermuara.
Tangisku semakin terisak dalam. Bayangan masa depan yang begitu cerah ternyata hanya khayalan. Dan saat ini aku tak mampu untuk mewujudkan kembali. Sayapku telah patah, dan yang mematahkannya adalah orang yang begitu aku cintai.
Istirahatlah hati. Sudah lama sekali kamu berlari untuk mengejar suatu hal yang tak pernah pasti. Istirahatlah! Tubuhku pun rasanya lelah sekali.
***
Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan aku baru saja terbangun dari tidur yang cukup melelahkan. Aku segera ke kamar mandi. Membasuh muka agar tidak terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.
Setelah mencuci muka, aku duduk di meja belajar menatap layar laptop yang menampilkan data internship dengan nanar. Sejak kemarin aku belum memutuskan ke mana aku akan melanjutkan masa belajarku, sebelum benar-benar menjadi dokter dan mendapat izin praktek.
Dengan gemetar, aku menscrol pilihan wahana internship lalu menekan kursor dan yang menjadi tempat pilihanku adalah ...
Biarlah aku pergi jauh. Mengobati luka yang mulai terasa perihnya. Aku percaya Tuhan tak pernah tidur dan akan menyembuhkan luka ketika aku ikhlas menerimanya.
Setelah selesai mengirim data kepada universitas tempatku belajar, aku segera mengemasi beberapa barang yang akan aku bawa. Ya, aku memutuskan untuk berangkat besok pagi.
Bukankah lebih cepat itu lebih baik?
Jika dia menyuruhku pergi, maka aku harus sadar diri. Biarlah semua ini menjadi kenangan yang akan terasa sulit untuk aku lupakan. Segalanya harus berakhir hari ini.
***
"Kamu beneran mau tinggalin mama lagi, Rhy?" tanya Mama ketika melihat satu koper ukuran sedang yang aku bawa dari kamar.
"Iya, Ma. Maafin Rhyani, ya. Rhyani janji setelah selesai internship, pasti akan cari kerja di rumah sakit terdekat aja." ucapku lalu duduk di hadapan mama dan papa.
"Tapi ..., "
"Sudah, Ma." ucapan Mama terhenti ketika Papa memotongnya.
Aku tahu wajah mereka begitu gelisah dan khawatir atas keputusanku saat ini.
"Pergilah, Nak. Jaga diri baik-baik. Ingat! Jauh dari Mama dan Papa jangan biarkan dirimu jauh dari Allah." Papa memberikan pesan yang membuatku terisak pelan.
Aku segera memeluk mereka. Satu tahun ke depan aku harus merasakan kembali hidup jauh dari orang tua. Setelah dua tahun menjalani masa koas, kini aku harus kembali berpisah hingga satu tahun lamanya.
Cukup sulit. Tetapi, semua ini sudah menjadi bagian masa depanku menjadi seorang Dokter yang aku impikan.
Setelah acara berpelukan erat itu selesai, Mama dan Papa segera mengantarkan aku ke bandara. Hari ini aku bukan berpisah dengan mereka saja, tapi kepada hatiku yang pernah terluka.
Sampai di bandara, mama masih menggenggam tanganku. Mungkin mama masih berat melepas putri semata wayangnya kembali jauh di perantauan.
Maafkan aku, Ma. Semoga luka ini segera pulih dan secepatnya aku akan kembali.
Suara panggilan penerbangan menuju tempat yang akan aku tuju sudah menggema. Aku segera melepas genggaman tangan Mama dan kembali memeluknya erat.
"Hati-hati ya, Rhy, " ucap Mama sambil terisak pelan.
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab sedikit pun. Lalu aku segera memeluk Papa yang terlihat tegar, tapi kenyataannya menyimpan banyak kecewa yang tak pernah terungkap.
"Jaga diri kamu! Nanti Mama dan Papa akan sering mengunjungi kamu di sana."
Aku kembali mengangguk. Rasanya lidahku benar-benar kelu untuk berbicara.
Aku segera menarik koper, lalu berjalan pelan. Sesekali aku menoleh ke arah mereka. Meyakinkan diri sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
\*\*\*\*
Malik Rabbani Nazzam.
"Malik," suara Umi dari ambang pintu berhasil membuyarkan semua lamunan saya siang ini. Saya segera menoleh lalu beliau duduk di hadapan saya.
"Kamu mikirin Nak Rhyani?" tanyanya dengan suara yang begitu hati-hati sekali.
"Tidak." jawab saya cepat.
"Mungkin orang lain bisa kamu bohongi, Lik. Tapi, tidak dengan umi-mu."
Sampai di sini saya kalah telak. Saya memang tidak bisa berbohong kepada beliau.
Saya terdiam. Tidak tahu harus berbicara apa. Rasanya mulut pun tak mampu untuk berucap.
"Lik, cinta itu fitrah. Umi tau, kamu masih merasakan sakit hati ketika salah mencintai. Nak, setiap masa lalu itu punya pelajaran tersendiri untuk kita. Lalu tidak ada yang salah jika kamu merasakan cinta itu hadir kembali." ujar umi sambil menatap lekat wajah saya.
"Memang tidak ada yang salah, Umi. Hanya saja Malik takut kisah yang sama terulang kembali."
Umi menghela napas, "Lik. Nak Rhyani menjadi wanita kedua yang menangis saat kamu koma. Kamu tau, Nak? Dia begitu telaten mengurus kamu. Meski Umi tau, dia bukan dokter yang bertugas menangani kamu."
Ingatan saya kembali pasca kecelakaan itu. Ya, umi memang sudah menceritakan ada seorang wanita yang menangis melihat saya terkapar dan tak berdaya.
Wanita yang membuat hati saya kembali berwarna. Tetapi, semua itu musnah ketika saya tahu, Hanif seseorang yang begitu saya hindari dalam hidup ini harus berada pada cerita yang sama.
Saya takut kisah kelam itu kembali. Hati yang saya obati sendiri harus kembali terluka karena cerita yang sama. Maka yang saya lakukan adalah mengikhlaskan dia sebelum semua kesakitan itu kembali terjadi.
Meski kenyataannya berat sekali. Namun, semua itu tetap saya lakukan. Semuanya telah saya pasrahkan kepada Allah sang Pemilik cinta yang sesungguhnya.
"Lik," panggil umi pelan ketika melihat saya hanya terdiam.
"Iya, Umi."
"Umi sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di masa lalu. Umi mohon, buka pintu hati kamu. Jangan sia-siakan seseorang yang benar-benar mencintai kamu."
saya menghela napas panjang. Rasa sesak kembali menyapa. Apa saya harus terluka kembali? Padahal mengobati semuanya itu butuh waktu lama sekali.
Segala ketakutan itu muncul. Dan saya takut ketika harus kehilangan kembali.
"Kamu cinta Rhyani?"
Pertanyaan umi yang begitu menyentuh relung hati saya membuat saya kembali terkisap.
"Malik nggak tau, Umi. Rasanya perasaan itu sudah lama membeku. Dan sangat tabu sekali untuk merasakan semua hal itu."
"Kamu tidak ingin membuka hati kamu?"
"Bukan tidak ingin, Umi. Mungkin memang belum saatnya. Doakan Malik, ya. Agar bisa melewati semua ini."
"Pasti, Nak. Umi selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak umi."
Setelah memberikan beberapa pesan kehidupan, umi pamit dari hadapan saya. Menyisakan saya kembali bersama rasa bersalah yang menggerogoti hati.
Apa saya salah telah melepas dirinya?
Mengapa tiba-tiba dada saya sesak ketika mengingat dirinya?
Lalu apa yang harus saya lakukan?
Allah, kumohon jangan biarkan saya terjatuh dalam jurang cinta semu.