
**Alifha Risjad**
Pernahkah kau mendengar bahwa sesungguhnya kesedihan itu dapat mengembalikan kenangan di masa lalu? Mungkin dari semua hal yang terjadi dalam hidup, maka masa lalu lah yang akan terus teringat. Entah itu sebuah kenangan manis yang berakhir bahagia atau sebuah luka menganga yang telah ditorehkan oleh seseorang yang begitu kamu Cinta.
Aku pernah merasakan sakitnya saat terpisah dari seseorang yang berarti dalam hidupku. Lalu aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu membimbingku menjadi wanita bukan sekedar cantik saja, tapi wanita yang mampu menjaga akhlaknya.
Sayang, keduanya tidak pernah bisa aku miliki. Aku pergi meninggalkan dia yang mencintaiku demi laki-laki yang aku cintai. Allah Maha Segalanya. Hidupku hancur ketika menghancurkan kehidupan orang lain.
Lima tahun lalu, saat semua terasa indah aku rasakan. Sebuah luka aku berhasil torehkan kepada laki-laki yang dengan segala ketulusannya mencintaiku apa adanya. Mungkin inilah karma kehidupan yang harus aku terima. Benar adanya, hukum alam berlaku. Kepada siapa pun itu. Tidak peduli dia cantik atau jelek. Dia kaya atau miskin. Dia bahagia atau menderita, yang jelas Allah punya cara untuk mengubah segalanya.
Kini setelah bertahun-tahun menghilang tanpa jejak, aku kembali untuk sebuah kehidupan yang pernah aku tinggalkan. Jika saja keadaan masih sama, aku ingin diberi kesempatan satu kali lagi untuk bisa bahagia bersamanya.
Teriknya matahari tidak membuat aku terpaku di dalam rumah. Hari ini aku harus bertemu dengannya. Apa pun reaksinya nanti, semoga dia masih bisa menerima semuanya. Kulirik jam mungil yang melingkar di lengan kananku, pukul sembilan pagi. Masih cukup untuk perjalanan panjang kehidupan yang sempat tertunda.
Hidupku seperti puzzle yang masih berceceran, belum menemukan kepingan selanjutnya. Maka dari itu aku ingin memulainya dari sini. Dari tempat yang akan mempertemukan aku dengannya. Pemilik hatiku.
Setelah turun dari angkutan umum, aku langsung berjalan pelan. Menelusuri jalan kecil yang dipenuhi pohon pucuk merah yang tertata rapi. Bunga bougenvile bermekaran memberi kesan musim semi yang melekat dalam nuansa rindu yang menggebu.
Aroma klasik desinfektan dan obat-obatan menyeruak masuk ke rongga hidung. Membuatku sedikit mabuk akan aroma khas itu. Mobil-mobil putih sang pengantar berjejer rapi menunggu panggilan. Orang-orang terlihat berlalu-lalang, sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing tentang perjuangan yang mereka hadapi.
Hidup selalu kontras akan sebuah giliran. Kini biarlah giliranku untuk menanggung semua beban luka yang masih tersimpan dalam ingatan. Ketika langkahku kian berat, keraguan datang tanpa permisi. Sebuah bayangan sendu kembali berputar. Aku menghentikan langkah sejenak, menarik napas pelan. Lalu kembali melangkah dengan sebuah harapan kata maaf.
Senyumku mengembang saat melihat siluet sesorang yang masih aku ingat betul dalam ingatan. Kulihat dia sedang berbicara serius dengan seorang perempuan yang memakai jas sama seperti dirinya. Ketika pandanganku semakin jelas, mulutku tidak bisa lagi kutahan untuk memanggil namanya. "Mas Hanif.... "
Dia menoleh, lalu tatapan mata kami bertemu. Waktu seolah melambat. Angin segar menyapa lewat cela-cela kaca jendela besar di gedung rumah sakit ini. Ada sorot kerinduan yang masih jelas kulihat dari bola mata indahnya. Satu tetes cairan bening itu lolos ke permukaan. Benarkah dia menangis?
Aku menghampirinya. Melihat setiap jengkal wajah indah yang aku tinggal. Tidak ada yang berubah hanya keadaan yang mungkin sudah tak sama.
"Alifha, " lirihnya.
Aku tersenyum mengangguk.
Seperti mimpi yang menjadi nyata. Khayalan telah berwujud asli. Manik mata ini masih bisa melihatnya berdiri tegak di hadapan tanpa sekat yang memisahkan.
Dia langsung menarik tanganku, meninggalkan seorang perempuan yang masih menatap kami dengan tatapan tidak mengerti.
Aku hanya bisa pasrah mengikutinya ke mana pun ia pergi. Kakiku terus mengiringi langkah jenjangnya menuju sebuah lift. Setelah keluar dari lift, kami menaiki tangga darurat lalu tiba di sebuah rooftop rumah sakit.
Angin segar kembali menyapa. Kini lebih terasa kesegarannya. Tanganku masih digenggam olehnya. Dia menatapku sejenak, lalu menarik tubuhku ke pelukannya. Aku rindu sekali aroma tubuh ini. Aku rindu dada bidang yang selalu membuatku nyaman. Aku rindu rumah tempatku pulang.
Kami hanya berdiam. Merasakan hangatnya pelukan kerinduan. Lima tahun aku meninggalkannya. Sungguh aku pun sangat tersiksa atas semua kesakitan ini.
"K—Kamu ke mana aja?" suaranya terdengar terbata-bata. Menahan isak tangis yang bergelora di dalam dada.
Aku hanya terdiam. Tanpa menjawab pertanyaan Mas Hanif dan aku lebih memilih mempererat pelukannya. Membiarkan air mata tumpah di bajunya. Rasanya ... Cintaku tidak pernah hilang meski terpisah ruang dan waktu cukup lama.
"M—Mas,"
"Ssstt ...," dia menutup bibirku dengan jari telunjuknya, "Jangan bicara apapun yang akan menyakiti hati kamu!"
Aku mengangguk, lalu kembali mempererat pelukan kami.
Biarlah kami seperti ini. Melepas rindu yang tertahan. Lima tahun tak berjumpa. Tanpa komunikasi, tanpa pertemuan dan kini aku hanya ingin merasakan peluk hangat dari Mas Hanif.
Setelah pelukan itu perlahan terurai, Mas Hanif menghapus air mata yang masih tergenang di pelupuk mataku. Dia tersenyum dan tanpa ragu mengecup keningku.
"Jangan pergi lagi, Fha!"
"M—aafin aku, Mas. Selama ini aku sudah banyak menyakiti hati kamu,"
"Nggak, Fha. Cukup kamu ada di sini lagi udah bikin hidupku bahagia kembali. Tolong jangan tinggalin Mas lagi!"
Aku mengangguk, lalu kembali memeluknya.
Tuhan, hanya satu pintaku jangan hilangkan dia dari hidupku lagi. Aku tidak ingin merasakan sakit ketika harus terpisah darinya.
Aku melepas pelukannya. Menatap lekat wajahnya. Rasanya... Seperti ada sesuatu yang tak pernah aku rasakan.. Jari-jemari kami saling bertautan, lalu Mas Hanif membawaku ke sebuah kursi panjang. Kami duduk di sana, pemandangan kota dari atas gedung semakin memperindah pertemuan kami saat ini.
"Kamu sehat?" tanya Mas Hanif.
Kepalaku bersandar di bahunya, menikmati semilir angin dari atas gedung bersama orang terkasih.
"Sehat, Mas. Jiwaku yang hancur,"
"Kita sama-sama hancur. Jadi Mas mohon jangan pergi lagi ya!"
"Maafin aku, Mas."
Mas Hanif kembali mencium keningku. Mengusap rambutku pelan sambil berkata lirih, "Mas udah maafin kamu, sayang. Keadaan yang tidak pernah bisa mengerti cerita kita."
"Mas,"
"Iya."
"Apa kesempatan itu masih ada?"
Mas Hanif terdiam. Lalu kembali mencium keningku.
"Jika tidak ada kesempatan lagi, aku ingin izin untuk pergi. Mungkin tempatku sudah bukan di sini. Aku mencintaimu, Mas. Sangat!"
"Mas juga,"
Sebuah tangan kekar itu kembali membawaku ke dalam pelukannya, membiarkan diriku leluasa berada dalam dekapannya.
Biarlah saat ini dunia hanya milik kita berdua. Tuhan, tolong jangan lepaskan dekapan hangat ini dari tubuhku. Aku hanya ingin bisa lebih lama lagi memeluknya. Aku mencintainya.
"Sekarang kamu tinggal di mana, Fha?" tanya Mas Hanif.
"Masih di rumah yang lama, Mas."
Mas Hanif nampak terkejut mendengar ucapanku, "Jangan bohong, Fha! Selama ini Mas mencari kamu ke rumah tapi nggak pernah ada."
"Maafin aku, Mas."
"Jujur sama Mas, kamu ke mana?"
"Sidney," kataku pelan.
"Sejauh itu? Tanpa memberi kabar sama sekali?"
"Hmm .... "
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi. Sungguh semua itu sangat menyiksa.
"Alifha," panggil Mas Hanif.
"M—Mas ... Cuma itu yang bisa aku lakukan. Aku bingung," ucapku, sambil menunduk dalam.
"Mas mengerti. Sekarang janji ya, jangan pergi lagi!"
Aku mengangguk.
"Mas, harus balik kerja lagi. Kamu masih mau di sini?"
"Iya, Mas. Nggak apa-apa 'kan?"
"Tentu. Mas mau ada operasi. Jaga diri baik-baik ya!"
Aku mengangguk kembali.
Baru saja beberapa langkah Mas Hanif meninggalkanku, dia berbalik badan ke arahku yang masih duduk menikmati keindahan kota.
"Nomor ponsel kamu mana?"
"Masih yang lama, Mas."
"Kamu nggak lagi bohongin Mas lagi 'kan?"
"Nggak, sayang."
"Ya udah, Mas mau balik kerja. Inget ya, Jangan pergi tanpa sepengetahuan Mas!"
"Hmm... " jawabku pelan.
Lalu Mas Hanif benar-benar hilang dari hadapanku.
Tuhan, maafkan aku yang telah menyakiti hati mereka. Kumohon, beri aku kesempatan untuk meminta maaf kepadanya. Melihat mereka bahagia, lalu biarkan aku pergi lagi dari kehidupannya. Hanya itu saja pintaku.
****
"Masa lalu biarlah berlalu. Masa depan masih di tangan Tuhan. Masa sekarang biarkan aku yang menjalani tanpa campur tangan orang lain"
Rhyani Mahira Wijaya
Sebuah perasaan tidak akan pernah bisa dipaksakan meski dengan berbagai cara untuk memulihkannya. Mungkin akan berhasil ketika tangan Tuhan ikut andil urusan hambanya.
Aku bukanlah wanita yang pandai berkata-kata. Bukan pula wanita yang pandai mengungkapkan isi hatinya. Tetapi ketika sebuah hal buruk menimpaku, maka aku akan selalu mengingatnya. Tidak peduli siapa pun mereka yang membuatku merasakan luka, maka aku akan tetap kecewa kepadanya.
Pagi ini, aku sudah rapi dengan dress selutut berwarna mocca. Lalu sebuah high heels wedges warna hitam menjadi pemanis penampilanku saat ini. Rambut hitam panjang sepunggung kubiarkan tergerai bebas, jika ada operasi maka aku akan mengikatnya.
Kuambil snelli kebanggaan kami para calon Dokter muda, yang menggantung di tempat biasa. Ratih dan Bian sudah menunggu di luar. Aku pun bergegas menghampiri mereka.
"Udah rapi, Bu Dokter?" tanya Bian. Dia terlihat sangat tidak nyaman karena menungguku.
"Udah. Yuk, berangkat!"
Aku meraih tangan Ratih agar bisa bergandengan tangan menuju rumah sakit tempat kami menuntut ilmu. Tidak lama lagi, gelar Dokter itu akan tersemat di depan nama kami. Aku sudah tidak sabar untuk segera pergi dari sana. Bukannya aku tidak senang berbaur bersama pasien yang menjadi guru terbesar kami. Tapi sekarang keadaan sudah tak sama. Aku terlalu sesak jika terus berlama-lama di sana.
"Rat, udah ada yang enak buat digandeng, masih aja tangan jomblo yang diraih," Bian berdecak kesal.
"Repot banget lo, Bi. Nggak gue restuin tau rasa, lo!" kataku sengit.
"Iya, Maaf. Ellah gitu aja marah lo mah, Rhy."
"Bodo amat. Mood gue lagi jelek nih. Lagi males diajak bercanda,"
"Udah nggak usah didengerin, Rhy!" Ratih menimpali.
Aku hanya mengangguk, lalu kami kembali berjalan menuju rumah sakit.
Udara pagi masih terasa begitu menyegarkan. Hangatnya sinar matahari memberi semangat pada hati yang kecewa. Tuhan punya cara untuk kita bahagia. Jalani hidup tanpa harus memikirkan orang lain yang pernah membuat kita terluka.
Kami tiba di rumah sakit, lalu segera ke ruangan khusus Koas untuk bertukar shif. Beberapa rekam medis kembali menyapa pagiku saat ini. Aku segera menyelesaikan tugas negara itu, karena siang ini aku akan visit menemani Dokter Indah, Dokter spesialis Anak di rumah sakit ini.
Ketika tanganku sibuk menulis di kertas putih berisi catatan tentang data pasien, tiba-tiba saja Mas Hanif duduk di hadapanku. Aku yang sudah menyiapkan mental akan hal ini, sebisa mungkin bersikap biasa saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita.
"Maafin aku," katanya pelan.
Aku mengangguk. Sungguh. Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan orang ini lagi.
"Rhy, " panggil Mas Hanif
"Hmmm .... "
"Aku minta maaf!"
"Iya."
Mas Hanif menarik pulpenku. Aku terkejut atas perlakuannya saat ini, "Dok, saya lagi kerja. Bisa nggak, sih nggak usah bawa-bawa hal pribadi di rumah sakit!?"
"Aku minta maaf," lirihnya lagi.
"Sudah saya maafkan. Pliss ... Jangan ganggu, saya sibuk!"
Aku mengambil pulpen yang masih berada di tangannya, lalu bergegas pergi dari hadapannya. Tentang perjodohan dan pertunangan itu aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak ingin merasakan luka yang lainya ketika dia telah membuatku kecewa.
Siang mulai menyapa lewat teriknya panas matahari yang kian meninggi. Aku baru saja keluar dari ruang operasi. Mendampingi Dokter Ihlan mengoperasi seorang anak yang terkena usus buntu.
Aku mengambil snelli dan segera memakainya kembali. Sepertinya hari-hariku akan terus dipenuhi oleh orang-orang yang akan membuat moodku anjlok. Jika saja aku tidak memiliki tanggung jawab atas semua masa depanku, mungkin aku lebih memilih pindah ke Mars agar hidupku aman dan nyaman tanpa gangguan laki-laki seperti Mas Hanif.
Baru saja aku berjalan pelan menelusuri koridor rumah sakit, sesekali tersenyum ramah ketika bertemu perawat dan teman sejawat atau para pasien yang masih mengenalku. Sebuah tangan kekar menarik tanganku, pelan. Tapi tetap saja hatiku sangat kesal atas perlakukannya yang selalu seenak hati.
"Ada apa lagi, Dok?" tanyaku berbasa basi. Sejujurnya aku sudah sangat muka sekali.
"Aku mau bicara sama kamu,"
"Ya bicara aja!"
"Nggak di sini, Rhyani."
"Lalu?"
"Ikut aku sebentar!"
"Maaf, Dok. Saya beneran sibuk banget hari ini,"
Dia terdiam.
"Kalo ada hal penting, silakan bicara di sini!"
Belum sempat mulutnya kembali berucap, terdengar sebuah suara perempuan memanggil namanya, "Mas Hanif .... "
Kami berdua refleks menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Aku melihat tatapan Mas Hanif berubah sendu. Ketika seorang wanita cantik berambut hitam sebahu menghampirinya. Bahkan aku bisa melihat pelupuk matanya berair. Siapa perempuan cantik itu?
Jiwa penasaranku mulai menyeruak, berperang melawan logika atau kata hati yang ingin mengikutinya. Seperti ada sesuatu yang terpanggil, aku memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Kulihat lift itu membawa mereka ke lantai paling atas. Dugaanku tidak salah lagi tujuan Mas Hanif pasti rooftop rumah sakit.
Aku menaiki lift yang berbeda, segera kutekan tombol angka lift yang sama. Setelah sampai di koridor yang jarang sekali terjamah oleh banyak orang, karena koridor ini khusus menyimpan alat-alat kesehatan. Aku segera membuka pintu ruang tangga darurat. Untuk sampai ke rooftop kita harus menaiki anak tangga terlebih dahulu.
Mataku membulat sempurna ketika melihat pemandangan yang cukup membuatku.... Menggelengkan kepala. Mereka sedang berpelukan, bahkan sangat erat. Ini apa?
Siapa sebenarnya wanita itu?
Aku lebih tidak percaya ketika Mas Hanif memberikan kecupannya di kening wanita tersebut. Aku bener-bener tidak mengerti akan semua ini. Mereka berpelukan cukup lama, seperti sepasang kekasih yang telah terpisahkan berabad-abad lalu bertemu kembali.
Oh, No! Aku semakin yakin untuk mengakhiri perjodohan tidak berguna ini. Demi sebuah cinta yang sedang aku perjuangkan, aku mengambil gambar mereka berdua dari ponsel yang beberapa hari lalu baru kubeli. Biarkan saja. Ini bukti yang akan kuberikan kepada Papa dan Mama jika masih menuntutku agar menikah dengan Mas Hanif.
Demi apapun aku tidak mau. Aku tidak ingin memulai kisah rumah tangga dengan laki-laki yang sudah memberikan kecupannya kepada wanita lain. Setelah kurasa cukup memata-matai mereka, aku pun segera turun dari rooftop.
Tuhan, Engkau Maha Baik. Terima kasih sudah menujukkan kuasa-Mu hari ini.
***
Langit sore begitu Indah dipandang, ketika warna-warna jingga mulai mendominasi kemegahan alam.
Setelah semua selesai, aku memutuskan untuk pulang lebih awal. Kebetulan sekali Nafis fathner koas yang akan berjaga malam sudah tiba. Aku juga sudah memberikan informasi beberapa hal untuk Nafis.
Kulangkahkan kaki dengan santai, sesekali menyapa orang-orang yang aku temui di koridor. Ratih dan Bian sudah pulang lebih dulu. Mungkin begini nasib jika mempunyai sahabat yang berpacaran, aku seolah tidak ada. Dunia hanya milik mereka berdua.
Sampai di kost-an aku segera berganti baju dan mandi. Sore ini aku ingin ke suatu tempat. Sepertinya ada sebuah pesan rindu yang ingin tersampaikan kepada pemiliknya. Tidak butuh waktu lama, aku sudah menyelesaikan ritual ala cewek versiku. Kali ini aku memakai tunik dress warna abu-abu yang aku padukan dengan slim jeans warna hitam. Rambutku kuikat satu, lalu tidak lupa sneakers putih sebagai pelengkap penampilan sore ini.
"Heh, mau ke mana, lo?" suara Ratih, berhasil menghentikan aktivitasku yang sedang menyemprotkan parfum aroma greentea ke permukaan baju.
"Kepo."
Ratih menatapku dengan tatapan menyelidik, "Mau ke mana Koas Rhyani?"
"Ke mana aja. Asal bisa jauh-jauh dari kalian berdua. Tau nggak? Berasa jadi nyamuk banget gue, kalo lo berdua lagi pacaran."
"Hahahaha... Jadi sekarang mau cari pasangan?"
"Iyalah. Pasangan hidup dunia akhirat," aku mengambil tas selempang yang berisikan dompet dan handphone dari atas kasur, "Gue pergi ya, Mom. Nggak lama, kok. Nanti juga pulang." kataku sambil melambaikan tangan ke arah Ratih.
"Sukses ya, say. Semoga pulang sudah membawa kepastian."
"Hahahaha.. Aamin... " ucapku, sambil membuka pintu mobil yang sudah terparkir di halaman kost ini.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Entah mengapa hatiku sangat bahagia ketika melihat Mas Hanif berpelukan mesra dengan wanita lain. Sepertinya Tuhan memang benar-benar menunjukkan siapa laki-laki itu yang sebenarnya.
Pukul lima sore, mobilku tiba di gapura selamat datang salah satu tempat yang kini menjadi favoritku. Ok. Rhyani. Perjuangan dimulai dari sini. Semoga berhasil dan segera mengakhiri perjodohan konyol ini.
Pintu mobil sudah kubuka, aku kembali memakai tas selempang yang kusimpan di kursi samping. Kututup pintu mobil, lalu aku berjalan pelan menelusuri jalan setapak pematang sawah. Senja di ufuk barat menemani perjalanan berkeliling kebun saat ini. Semoga apa yang aku cari masih berada di sini.
Langkah kakiku terhenti ketika melihat pemandangan yang lagi-lagi membuatku.... Mengusap dada. Menahan mulut untuk tidak ikut berbicara.
Wanita itu ... Wanita yang tadi siang berada dipelukkan Mas Hanif kini sedang berdiri di hadapan Malik dengan tatapan memohon.
Sebenarnya siapa dia?
Mengapa bisa berada di sini?
Aku melangkahkan kaki agar lebih dekat. Tubuhku terhalang sebuah pohon Akasia yang tidak terlalu tinggi, tapi lumayan menjadi tempat bersembunyi sambil mendengarkan percakapan mereka. Biarlah aku menjadi penguntit hari ini. Aku ingin tahu siapa sebenarnya mereka di masa lalu?
"Untuk apa lagi kamu ke sini?" tanya seorang Bapak paruh baya yang berdiri di depan Malik. Malik sendiri terlihat diam saja, pandangannya kosong menatap ke segala arah.
"Wa, aku mau minta maaf," kata wanita itu sambil menangis. Lalu tatapan matanya beralih ke arah Malik, "Malik. Plis ... Maafin aku.. Aku tau.. Aku salah.. Lik."
"Pergi dari sini!!"
Aku terkejut mendengar suara bariton itu. Tuhan, ternyata Malik bisa menyeramkan seperti ini. Aku saja sampai bergidik ngeri mendengarnya. Apa kabar wanita yang tepat berada di depannya?
"Lik ... Aku mohon!"
"Permintaan maafmu tidak akan mengubah keadaan. Tidak bisa menghidupkan Bapak saya lagi. Jadi, pergi dari sini. Saya tidak mau melihat wajah kamu lagi!"
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar hari ini. Seorang Malik yang terlihat cuek bin menyebalkan bisa menjadi monster jika sedang marah. Sungguh!
Malik pergi begitu saja setelah mengeluarkan kata-kata perih menyakitkan kepada wanita tadi, dan wanita itu hanya menangis sambil berteriak memanggil nama Malik.
Aku menggelengkan kepala. Pertanyaan yang sama kembali muncul di benakku. Siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Malik jika dia kekasih Mas Hanif?
Sebenarnya apa yang sedang Tuhan tunjukkan untukku? Mengapa rumit sekali?
Aku memijit keningku yang mulai pusing memikirkan semua ini. Apa sekarang aku sedang bermain puzzle tentang masa lalu mereka? Lalu jawaban apa yang akan aku dapat?
Wanita itu benar-benar membuat moodku semakin anjlok saja.
Aku kembali berjalan menyusuri taman perkebunan yang mulai sepi. Para pengunjung sudah meninggalkan saung. Hanya ada beberapa saja yang masih Setia memandang senja dari taman sayur ini.
Langkahku terhenti tepat di samping kolam ikan buatan yang sungguh indah dipandang. Secepat itu perubahan terjadi, terakhir aku ke tempat ini belum ada kolam ikan di sini. Aku melihat Malik sedang berdiri tidak jauh dari kolam, tatapannya masih kosong menatap hamparan perkebunan di depannya. Dengan niat hati, aku memberanikan diri untuk mendekat ke arahnya.
"Hey," sapaku pelan.
Dia menoleh ke arahku, "kamu sedang apa di sini?" tanyanya. Pandangan matanya masih fokus ke arah perkebunan.
"Lagi galau. Makanya datang ke sini deh,"
"Memangnya ini tempat pembuangan galau?"
Aku terkekeh pelan, "ya, bukan, sih. Cuma nyaman aja kalo udah ke sini."
Dia menatapku sejenak. Lalu kembali memandang hamparan perkebunannya.
"Dasar aneh!"
"Anehnya di mana?" aku mulai memancing obrolan perdana bersamanya. Meski aku tahu keadaan hatinya pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Nggak tau," jawabnya cuek.
Aku menganggukkan kepala.
"Tunangan kamu ke mana?
Kali ini aku tersenyum. Akhirnya dia bertanya dan pertanyaan seperti ini yang aku tunggu. Aku ingin mengklasifikasikan semuanya kepada Malik.
"Tunangan yang mana?"
"Memang kamu punya tunangan berapa?"
Nah, lo Rhyani. Jangan sampai kena skakmat dari Akang Nasyid.
"Nggak ada."
Malik kembali menatapku, "cewek suka gitu, ya?" dia berdecak sendiri.
"Kata teman saya, resiko jadi orang cantik itu banyak. Makanya jangan kaget kalo ada yang mengaku sebagai pacar lah, sebagai tunangan lah, yang nggak wajar itu kalo ada laki-laki sudah mengaku sebagai suami. Itu namanya kurang ajar, harus dikasih lemparan sepatu biar sadar."
"Hahahaha ...." tawa Malik pecah seketika.
Tuhan. Semoga tawa itu akan tetap ada meski hal sulit sedang di hadapinya.
"Kamu bisa selucu itu, ya?" tanya Malik, ketika tawanya sudah mereda.
"Ya bisa lah. Makanya kita berteman yuk! Biar bisa tertawa bareng."
OMG.. Ini aku lagi kerasukan apa sih? Semoga bukan jin yang kecentilan.
Malik kembali menatapku lalu tersenyum tipis dan seperti biasa langsung mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, "Ok. Teman!"
Aku membuang wajah ke arah lain, rasanya ingin melompat ke sawah yang ditumbuhi tanaman padi. Aku ingin mengumpat di balik lumpur untuk menyembunyikan raut wajah bahagiaku saat ini.
"Kamu suka buah semangka?" tanya Malik.
"Suka,"
"Di sana ada kebun semangka yang lagi panen, kamu mau?"
"Mau. "
"Ya udah ayo ke sana!"
Aku mengangguk.
Malik jalan mendahului, sedangkan aku mengikutinya dari belakang.
Ketika kami sudah sampai di perkebunan semangka yang sedang dipanen, mataku menatap takjub begitu melihat buah semangka dengan ukuran cukup besar.
"Ambil aja sesuka kamu!"
"Serius?"
Malik mengangguk.
"Tapi aku nggak bisa membawanya,"
"Nanti saya bantu."
Dengan semangat yang menggebu, aku langsung berlari menuju kebun semangka. Memilih beberapa buah yang akan aku bawa. Nanti di kost-an bisa langsung dieksekusi oleh Ratih. Mungkin akan dibuat jus, atau salad buah lagi. Sisanya akan aku bagikan pada teman-teman koas yang lain. Aku bahagia sekali ketika memikirkan semua itu.
"Bang Malik ... Ini aku udah selesai pilih semangkanya," aku berteriak memanggil Malik yang berdiri tidak jauh dari tempatku memilih buah semangka.
"Abang?" tanya Malik ketika menghampiriku.
"Kenapa? Nggak boleh? Yang lain boleh memanggil kamu Abang,"
"Lucu aja, kalo kamu yang panggil kayak gitu."
"Eh.. Masa, sih?"
Malik tersenyum tipis.
"Segini aja buah semangkanya?"
"Iya. Bisa bantu bawa ke mobil, Bang?"
"Bisa. Atur aja tarifnya ya, Neng!"
"Heh, Nggak gratis?"
"Hahahaha ... Bercanda! Ya udah, ayo! Mobil kamu yang mana?"
Aku pun ikut tertawa mendengar tawanya. Malik segera memasukan empat buah semangka ke dalam keranjang khusus. Kami pun berjalan beriringan menuju mobilku yang terparkir di dekat gerbang.
Setelah sampai di mobil, Malik langsung memasukkan empat buah semangka ukuran besar ke dalam bagasi mobil.
"Kamu Dokter?" tanya Malik, ketika melihat stiker IDI di kaca belakang mobil.
"Calon," ucapku pelan.
"Di Rumah sakit mana?"
"Infra Medika."
"Oh. "
Setelah selesai memasukan semua buah semangka dengan rapi, Malik kembali menutup bagasi mobil. "Sudah selesai," katanya.
"Terima kasih, Bang Malik. Oh, iya boleh minta nomornya?"
Sumpah aku geli sendiri dengan sikapku hari ini. Semoga aku tidak terlalu agresif di depannya. Semua itu bisa membuat nilaiku sebagai cewek anjlok di matanya.
"Untuk apa?"
"Loh, Kita kan teman. Masa teman nggak punya kontaknya. Nggak lucu dong kalo nanti pengin kumpul bareng!"
Cukup Rhyani! Gilanya cukup sampai di sini aja! Aku malu sendiri.
"Mana sini, handphone kamu!"
Aku menyerahkan ponsel ke tangannya. Malik memasukkan beberapa digit nomor ke handphoneku.
Ting...
Satu pesan masuk berbunyi.
"Nih! Udah ada nomornya."
Aku kembali tersenyum.
Oh, Tuhan.. Rasanya.. Aku malu sekali.
"Terima kasih, Bang Malik."
"Sama-sama. Udah sana pulang, nanti kemalaman di jalan!"
"Siap. Kalo mau curhat tinggal chat aja ya! Terkadang aku suka buka biro tempat curhat gitu."
Malik tersenyum sambil mengibaskan tangannya, "cepat pulang. Hati-hati di jalan!"
Aku memasuki mobil dengan hati yang cukup berbunga-bunga. Mobilku mulai melaju meninggalkan parkiran The Blue Vegetable Park. Senyumku tak pernah pudar, meski Malik sudah tidak ada lagi di hadapan.
Plis.. Hatiku jangan baper dulu!