Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
24. Sebuah Kota di Kepulauan Riau


"Yang pergi mungkin akan kembali. Namun, takkan bermakna sama lagi."


Han


\*\*\*


Tujuh bulan kemudian ...


Kabupaten Siak di provinsi Riau dengan pusat pemerintahan berada di Siak Sri Inderapura menjadi teman ternyaman setelah masa pelarian dari rumah.


Masih bersama bau khas desinfektan rumah sakit. Berbagai obat dan keluhan pasien menjadi hal yang selalu menemaniku dalam sepi. Hidupku mungkin masih sama hanya saja makna yang tersimpan tak lagi sama.


Bekerja di daerah terpencil. Susahnya komunikasi dengan keluarga. Berbaur dengan masyarakat yang masih melekat acara-acara adat menjadi hiburan tersendiri saat ini. Ya, aku memutuskan untuk internship di kabupaten Siak tepatnya di puskesmas Sungai Apit.


Jauh dari pusat kota. Terhalang jarak dan waktu. Kendala saat berkomunikasi membuatku melupakan sesuatu yang sering mengurai air mata.


Aku menganggap kisah ini telah usai. Dan aku menjadi yang kalah dalam perjuangan ini. Bukan kalah, lebih tepatnya aku yang mengalah. Terlalu rumit jika terus bertahan, sedangkan dia saja tak menginginkan keberadaanku di sampingnya.


Aku kembali memandang indahnya pemandangan jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang begitu indah ketika malam hari. Kilauan cahaya lampu yang terang benderang berhasil membuatku takjub di tempat ini.


Sunyi dan sepi. Itu yang sering aku rasakan ketika rindu mama dan papa di rumah. Memang mereka pernah satu kali berkunjung ke Siak. Namun, aku segera menyuruh mereka untuk tidak mengunjungiku lagi.


Aku takut pertahanan yang aku bangun sendiri akan runtuh jika mengingat semuanya. Aku butuh menenangkan hati yang telah patah dan akan sulit untuk bersemi kembali.


"Rhyani," Aku menoleh dan mendapati Bian sedang membawa dua cup wedang jahe yang masih mengepulkan asap.


"Minum, nih! Nggak lucu kalo seorang dokter sakit juga." ucapnya sambil menyerahkan satu cup wedang ke arahku.


"Makasih, Bi."


"Sama-sama. Lo rindu nggak?" pertanyaan Bian membuatku menatapnya sebentar lalu kembali sibuk memandang ke arah jembatan.


"Rindu mama dan papa itu pasti."


"Ratih sedang apa, ya? Apa dia udah punya pacar baru?"


"Kenapa lo nggak ikut ke Lombok, aja? Malah nyasar ke sini."


"Mungkin kita memang butuh merenung, Rhy. Hubungan kita masih hambar ketika perasaan itu gue utarakan. Terlebih rasanya aneh aja kalo Ratih masih naksir orang." jelasnya sambil memandang getir.


Aku tahu kisah mereka sama rumitnya denganku. Ratih memutuskan untuk internship di Lombok sedangkan Bian terdampar bersamaku.


"Sabar. Kalo jodoh pasti dipersatukan kembali."


"Ahk, ya, kisah lo gimana? Gue dengar sekarang Dokter Hanif jadi Konsulen killer yang dingin tak tersentuh."


"Gue nggak peduli soal itu." ucapku penuh penekanan.


Bian tertawa pelan, "hahaha ... Iya, maaf."


Aku hanya mengangguk. Lalu kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pemikiran masih-masing.


Takdir manusia memang tak pernah kita ketahui. Entah seperti apa pun itu Allah pasti punya rencana yang indah untuk hambanya. Terlepas dari semua rasa patah hati yang berhasil membuatku sadar diri.


Jodoh, maut dan rezeki sudah diatur oleh-Nya. Tugas seorang hamba hanyalah ikhtiar dan berdoa. Selepas itu biarkan Allah yang berkehendak.


Ketika malam semakin larut, aku dan Bian memutuskan untuk pulang ke 'rumah' yang menjadi tempatku dan beberapa teman lainya tinggal sementara waktu.


Rumah ini masih memiliki ciri khas adat orang-orang yang tinggal di kabupaten Siak. Rumah tempat tinggal kami sementara di sini persis rumah singgah Sultan Siak.


Rumah panggung yang berbahan bambu ini menjadi tempat istirahat setelah seharian bekerja. Terdapat lima kamar di sini. Aku sekamar dengan Ayu, dokter muda dari Jawa Timur. Sedangkan empat laki-laki teman seperjuangan mengisi masing-masing kamar yang lainya.


"Rhy, besok tuker jaga dulu, ya!" ucapan Ayu berhasil membuat aktifitasku membersihkan wajah terhenti.


"Lo mau ke mana, Yu?" tanyaku heran.


"Oh, ok kalo begitu, Yu."


"Makasih ya, Rhy."


"Iya. Sama-sama."


Aku melanjutkan aktifitasku yang sempat terhenti, setelah selesai aku langsung membaringkan tubuh di kasur. Rasanya tubuh ini benar-benar butuh istirahat. Ternyata rindu dalam diam hampir menguras habis tenagaku saat ini.


Selamat istirahat untuk tubuhku, semoga esok sudah lebih baik lagi.


***


Malam yang telah larut kini berganti cahaya terang yang menerobos masuk melalui cela-cela jendela. Aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi.


Jadwal libur harus terganti karena Ayu akan menjemput ibunya.


Lelah itu manusiawi. Tak heran jika aku sering mengeluh dalam hati. Namun, semoga lelah itu menjadi Lillah. Ilmuku bermanfaat agar bisa menjadi perantara Tuhan untuk menyembuhkan mereka yang sedang sakit.


Setelah selesai mandi dan berhias diri, aku langsung mengambil snelli yang tergantung dekat meja belajar. Lalu keluar kamar untuk sarapan.


"Lo beneran tukeran jaga sama Ayu?" tanya Hengki, dokter muda asal Bandung ketika melihatku menarik kursi.


"Iya. Ayu mau jemput ibunya." jawabku.


"Perasaan minggu ini lo belum ambil libur, ya? Itu tenaga di forsil amat. Ntar sakit berobat sama gue nggak gratis tauk!" Bian ikut menimpali.


"Gue juga nggak mau berobat sama lo."


Lalu tawa ke empat laki-laki itu menggema di ruang makan.


"Hahaha ... Dasar, Rhyani. Patah hati bisa seekstream itu, ya?"


"Semoga lo merasakan yang lebih parah dari gue." ucapku tajam. Dan berhasil membuat tawa mereka pecah kembali.


"Udah, ahk. Kalian para jomblo nggak usah sibuk ngurusin percintaan orang lain." Haidar menengahi.


"Tau tuh si Hengki sama Bian. Kembar sial mereka." Ilham yang sedari tadi terdiam pun mengeluarkan suara.


Aku tersenyum penuh kemenangan lalu menatap wajah Bian dan Hengki yang terdiam membisu. Ahk, mereka ini ke empat laki-laki jomblo yang selalu sibuk berdebat jika kami sedang berkumpul bersama. Jangan membayangkan hal-hal negatif karena kami berenam tinggal satu rumah. Kami semua sudah seperti keluarga. Saling memberikan support, terlebih untuk diriku yang masih merasakan patah hati.


"Rhy, di depan ada yang cariin lo." ucap Hengki ketika ia tadi pamit membuka pintu.


"Siapa?"


"Nggat tau. Pasien lo kali."


Aku mengernyit. "Gue nggak pernah bikin janji ke rumah."


"Udah sana temuin aja dulu. Orangnya di depan. Gue suruh masuk nggak mau."


Aku berpikir sejenak. Siapa tamu yang ingin menemuiku. Padahal aku tidak punya kolega yang aku kenal di sini.


Dengan langkah pelan aku segera ke depan, langkahku semakin pelan ketika melihat seseorang sedang berdiri membelakangi diriku.


Siluetnya tak asing bagiku, lalu tiba-tiba detak jantungku berdetak kencang. Kutekan dadaku pelan dan ...


Laki-laki yang sedang tersenyum itu ... Berhasil membuatku menggeleng lemah, satu tetes air mata mengalir tanpa permisi. Dia ....


"Apa kabar?" Suaranya memecah keheningan yang tercipta di antara kami berdua.


"Aku ... "


Rasanya lidahku kelu untuk berbicara. Air mata kian merembas deras, lalu aku memutuskan untuk menutup pintu. Menangis tanpa suara rasanya benar-benar menyesakkan.