
Adakah yang lebih indah dari datangnya seorang laki-laki bersama rombongan untuk melamar. Segala kemungkinan yang dulu aku semogakan akhirnya dikabulkan Tuhan. Bahagia? Tentu saja aku bahagia. Begitu banyak cobaan yang menemani perasaan ini.
Semuanya akan berakhir ketika ia akan datang siang ini. Tidak sendiri, melainkan bersama umi dan keluarga besarnya. Tuhan, terima kasih atas kebahagiaan yang telah Engkau karuniakan untuk kami.
Aku masih sibuk mamatut diri di depan cermin. Masih tidak percaya akan semua yang terjadi hari ini. Laki-laki yang akan datang melamarku adalah laki-laki yang selalu aku titipkan kepada Tuhan.
Kutekan dadaku pelan. Rasanya jantung pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Tuhan, sekali lagi terima kasih atas semua hal yang telah Engkau berikan untukku.
"Rhyani, kamu sudah siap?" Mama masuk ke kamarku dengan suara yang sedikit bergetar.
"Malik dan keluarganya sudah sampai." sambungnya lagi, yang kini sukses membuat tubuhku membeku.
"Beneran, Ma?" tanyaku memastikan.
"Iya, beneran. Ayo, kita ke bawah sekarang!"
Aku mengangguk, lalu berjalan pelan di samping Mama. Ada rasa yang tak bisa aku jabarkan. Ya, rasanya benar-benar tidak karuan. Masih seperti mimpi. Akhirnya kisah ini akan berakhir bahagia.
Kutatap seseorang yang kini sedang menunduk dalam. Laki-laki yang kini mengenakan baju koko warna silver yang senada dengan gamis yang kukenakan saat ini. Lalu di samping laki-laki itu ada wanita yang kelak akan menjadi mama kedua dalam hidupku. Dan seorang gadis cantik yang sedari tadi menatapku dengan tersenyum manis.
Malik datang bersama umi dan adiknya, lalu ada pamannya dan dua orang lagi yang tidak aku kenali. Aku segera duduk di samping papa. Masih terekam jelas ketika dokter Hanif melamarku dulu, namun suasana saat ini lebih romantis dan ... Penuh rona bahagia. Tidak ada perjodohan yang terpaksa, semuanya karena cinta.
Sebelum acara inti dimulai, seorang bapak paruh baya yang menjadi perwakilan keluraga Malik, memulai membuka acara. Beliau memberikan sambutan singkat atas kedatangannya ke rumahku. Lalu bapak tersebut menyuruh Malik untuk mengatakan maksud dan tujuannya saat ini.
"Emm ... Kedatangan saya dan keluarga ke rumah Pak wijaya—" Malik gugup sendiri, ia menundukkan kepalanya sebentar lalu menatap wajah papa kembali. "Saya ingin melamar anak bapak untuk menjadi istri saya." ucapnya mantap.
"Kamu punya apa untuk menikah dengan anak saya?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut papa berhasil membuat para tetamu tercengang. Kutatap wajah papa yang terlihat santai.
Ini maksudnya apa coba?
"Saya tidak punya apa-apa, Pak. Saya hanya memiliki ridha Umi saya dalam hidup ini untuk membahagiakan anak bapak."
Aku terharu ketika mendengar ucapan yang keluar dari laki-laki yang berhasil mencuri hatiku selama ini.
"Apa yang akan kamu berikan kepada anak saya jika nanti kalian menikah, lalu punya anak? Yang saya tau kamu itu cuma seorang petani."
Aku dibuat jengkel dengan pertanyaan papa yang tidak mutu. Kenapa papa merusak suasana seperti ini? Rasanya ingin sekali berteriak histeris, namun semua itu selalu aku urungkan ketika melihat Malik yang begitu mantap memberikan jawaban.
"Nafkah lahir batin sudah pasti saya berikan, Pak. Lalu ilmu yang bermanfaat untuk hidupnya di dunia dan akhirat. Saya tidak bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan untuknya, tapi saya juga tidak akan membuatnya menderita. Saya percaya bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya."
Tuhan, benarkah laki-laki ini calon imanku? Calon ayah dari anak-anakku?
Papa mengangguk, lalu ia melirik ke arahku yang sedang bergetar menahan tangis.
"Rhyani anak tunggal kami. Dia satu-satunya harta berharga dalam hidup kami. Ketika saya melepasnya, maka saya akan ridha dengan jalan yang telah ia pilih. Termasuk memilihmu untuk menjadi suaminya. Satu pinta saya, selama ini kami tidak pernah menyakitinya. Tolong jaga dan bahagiakan anak saya. Jangan biarkan Allah murka lalu surga menjauhinya." Pesan papa dengan suara yang bergetar.
Air mata yang sedari tadi mengembun di pelupuk mata akhirnya tumpah juga. Mama yang berada di sampingku langsung membawa tubuhku yang bergetar ke dalam pelukkannya. Tuhan, apakah ini kebahagiaan yang Engkau janjikan untuk manusia sepertiku?
"Yang akan kamu nikahi itu anak saya. Silakan tanya, apa dia mau nerima kamu atau tidak."
Malik terdiam cukup lama. Sepertinya dia sendiri sedang merangkai kata. Suasana baru begitu meliputi keadaan semua orang yang hadir saat ini. Bahkan uminya Malik pun tak henti-hentinya menitikan air mata.
"Rhyani Mahira Wijaya, maukah kamu menjadi istri saya? Membersamai perjalanan panjang bersama anak-anak nantinya? Bergandengan tangan menuju ridha Allah untuk bahagia di dunia dan akhirat kelak." Kata-kata penuh makna itu keluar dalam satu tarikan napas dari laki-laki yang begitu aku cinta.
"I-ya. Aku mau." jawabku gugup sambil terisak pelan.
"Alhamdulillah .... " Begitu lega terasa ketimat jawaban itu keluar sempurna.
Mama kembali menarikku ke dalam pelukkannya. Kami berdua sama-sama menangis saat ini.
"Jadi, kapan akad nikahnya, Pak Wijaya?" tanya Bapak yang menjadi perwakilan keluarga MAlik.
"Insya Allah, Pak Wijaya. Kami akan mengikuti adat istiadat keluarga besar bapak." jawab umi lembut.
"Baiklah. Tidak perlu menunda waktu lagi. Pernikahan mereka akan dilangsungkan dua minggu lagi." tegas papa.
"Papa, jangan dua minggu lagi. Rhyani belum menyiapkan apa pun." protesku.
"Kamu ingin menyiapkan apa lagi, Rhy?" tanya Mama.
"Ma ... Teman-teman aku banyak yang berada di luar kota. Plis ... Jangan dua minggu lagi." aku merengek seperti anak kecil.
"Kamu ini, disuruh cepat menikah malah minta diundur. Gimana sih, Rhy?" tanya Papa.
"Sebulan lagi aja! Aku sudah menyiapkan tanggal sejak lama."
Umi tersenyum ke arahku, "kapan pun itu insya Allah, umi, Malik dan keluarganya sudah siap, Nak Rhyani."
"Iya, Umi. Rhyani ingin menikah bulan depan. Masih banyak yang harus aku persiapkan."
"Baiklah. Kalo kamu mau seperti itu." Papa mengalah dan aku tersenyum penuh kemenangan.
Semoga Tuhan memudahkan segalanya. Cerita ini akan berakhir indah. Cintaku terbalas dan kami akan menikah. Menjadi dua insan yang berbahagia di dunia dan akhirat.
Kulirik Malik yang masih setia menunduk. Entah apa yang sedang ia pikirkan, aku pun meminta izin untuk berbicara berdua dengannya. Lalu kami keluar mencari angin segar di teras depan , Malik masih berdiam diri tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa?" tanyaku memecah keheningan.
Malik menatapku, "cuma lagi keingat sama bapak. Dulu bapak yang selalu menyuruh saya agar cepat menikah."
"Bapak pasti bahagia karena sebentar lagi kamu akan menikah."
Dia mengangguk lalu tersenyum ke arahku, "jangan pergi lagi."
"Aku nggak akan pergi, kalo kamu tidak menyuruh pergi."
"Maafin saya."
"Maaf diterima."
"Kamu mau mahar apa?"
Duh, ini pertanyaan yang selalu membuatku deg-degan tidak karuan.
"Katanya sebaik-baiknya wanita yang memudahkan maharnya," Aku menjeda ucapanku sebentar, "sebelumnya aku juga sudah menerima sajadah dari kamu. Jadi, aku minta paket komplit, aja."
"Maksudnya seperangkat alat salat?" tanya Malik memastikan.
"Iya, Bang. Tapi sajadahnya tetap yang pertama kamu kasih ke aku."
"Kenapa nggak mau diganti?"
"Karena sajadah itu yang menemani ketika aku rindu sama kamu. Sajadah yang menampung doa-doaku ketika menitip namamu pada sujud panjang."
Malik tersenyum, "insya Allah. Semoga kebahagiaan selalu Allah berikan untuk calon istri saya."
Allah, tiada kuasa yang menandingi kebesaran-Mu. Hatiku menghangat ketika Malik mengucap kata 'calon istri'
Izinkanlah kami bahagia menuju ridha-Mu.