Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
12. Sebuah Jawaban


                  Alifha Risjad


Malam ini aku punya janji untuk bertemu Mas Hanif kembali. Meski hatiku masih terasa sakit, atas penolakan permintaan maafku oleh Malik. Jadi seperti ini rasanya. Aku bisa merasakan kesakitan Malik saat dulu. Maafkan aku Malik. Sungguh aku menyesal telah menyakitimu sedalam itu.


Aku masih mematut diri di depan cermin, melihat kembali penampilanku malam ini. Dress selutut berwarna navi dengan berkerah Sabrina menjadi pakaian pilihanku malam ini. Kujepit rambutku ke sisi kanan agar terlihat lebih manis.


Kuambil high heels berwarna putih tulang di rak sepatu, lalu segera memakainya. Aku kembali melihat diriku di depan cermin. Akankah semua berakhir sama?  Wajah di depan cermin yang sedang aku pandangi ini, adalah wajah yang pernah menyakiti banyak orang. Aku tidak pernah melupakan setiap kesakitan yang mereka rasakan.


Sebuah lipstik berwarna merah muda berhasil menghiasi bibirku. Aku ingin penampilan yang sempurna malam ini. Aku sudah lama tidak berjumpa dengan Mas Hanif. Tampil cantik dan menawan adalah hal yang selalu aku lakukan jika bertemu dengannya.


Hanif-ku laki-laki yang sangat aku cintai dari dulu. Jika Tuhan mengizinkan aku ingin bahagia bersamanya.


Sebuah mobil SUV hitam mulai memasuki halaman rumah. Aku sudah menunggunya di teras depan. Tanpa mempersilakan Mas Hanif masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, aku langsung membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya.


"Ibu dan Ayah kamu ke mana?" tanya Mas Hanif.


"Ibu dan Ayah sedang ke luar kota. Aku sendiri di rumah. Makanya kita langsung berangkat aja, Mas!"


"Baiklah."


Mobil kembali keluar gerbang halaman rumahku. Kami akan ke tempat yang dulu selalu kami kunjungi. Tempat favorit melepas rindu.


Kini mobil Mas Hanif sudah terparkir di area restoran Bintang lima yang cukup terkenal di kota ini. Mas Hanif membukakan pintu mobil, lalu meraih tanganku untuk digandengnya.


Ah, aku rindu sekali moment seperti ini. Moment yang tak pernah aku dapatkan ketika bersama Malik dulu. Aku tersenyum melihat raut bahagia yang terpancar dari wajah tampan Mas Hanif.


Sebuah meja sudah dipesan khusus olehnya. Meja yang tak pernah berubah. Malam ini, lilin-lilin bertebaran di atas rumput sintetis. Pemandangan kota dari atas gedung begitu Indah ketika malam hari. Ya, meja yang telah dipesan khusus oleh Mas Hanif berada di lantai paling atas gedung ini.


Aroma klasik dari bunga Mawar begitu menyeruak di rongga hidung. Mas Hanif menggenggam jemariku, lalu mempersilakan aku duduk di kursi yang dari dulu menjadi favorit kami.


"Mas nggak akan pernah lupa akan semua ini," kata Mas Hanif pelan.


"Hmm ... "


"Fha ..."


Aku menoleh ketika tangan Mas Hanif merapikan anak rambutku yang terbawa angin, "kenapa, Mas?"


"Mas kangen banget sama kamu,"


"Aku juga."


Lalu tangan Mas Hanif kembali membawaku ke dalam pelukkannya. Aku rindu segalanya tentang diri Mas Hanif. Pelukkan kami sudah tidak sekaku saat pertama kali bertemu. Aku lebih merasakan kenyamanan yang dulu pernah hilang. Angin malam seakan membuat pelukan kami semakin erat.


Mas Hanif kembali mencium keningku lembut. Aku memejamkan mata merasakan segala Cinta dan kasih sayangnya untukku. Aku Cinta kamu, Mas. Maafkan segala keegoisanku dulu.


Mas Hanif melepaskan pelukan kami. Dia menatapku dengan intens sekali, "Malam ini kamu cantik banget, sih!"


Aku tersenyum.


"Terimakasih, Mas."


"Fha ..."


"Hmm ...  Kenapa, Mas?"


"Ada yang mau Mas bicarakan sama kamu,"


"Apa?"


Mas Hanif terlihat ragu ketika ingin mengatakan sesuatu hal kepadaku. Aku terus menunggunya sambil membaringkan kepalaku di bahunya.


"Sebenarnya ...."


Dia menggigit bibirnya, dan aku mulai merasakan atmosfer yang menyesakkan dari diri Mas Hanif.


kutatap wajahnya dengan lekat, lalu tanganku meraih kedua pipinya. Dia sangat tampan malam ini, semua tentang dirinya tidak ada yang berubah dari ingatanku.


"Ada apa?" tanyaku pelan. Tanganku belum terlepas dari pipinya.


"Sebenarnya .... Mas sudah dijodohkan,"


Angin kembali berhembus. Dinginnya mulai menusuk pori-pori. Atmosfer yang tadinya hanya menyesakkan Mas Hanif kini menghampiriku. Aku masih tidak melepas tanganku dari pipinya. Membiarkan sentuhan ini menjadi penenang di kala gundah hati yang dirasakan Mas Hanif.


"Siapa?" tanyaku.


Aku sudah menyiapkan diri ketika hal ini akan terjadi. Aku meninggalkannya bukan sehari atau dua hari tapi sudah lima tahun. Maka wajar saja jika orangtuanya akan segera menjodohkan Mas Hanif dengan wanita lain.


Mas Hanif merogoh saku blazers hitamnya, mengeluarkan ponsel lalu menyerahkannya kepadaku.


"Namanya Rhyani,"


Aku melihat sebuah foto gadis yang memakai jas kedokteran sedang tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku snelli. Bisa kutaksir usianya baru 20-an. Dia sangat cantik. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai.


"Dia juniorku di rumah sakit." ucap Mas Hanif, sambil memandang kosong ke depan.


"Ayah menjodohkan kami. Bahkan pertunangan resmi akan segera diadakan setelah Rhyani selesai masa Koas,"


Seperti ada yang menyentuh relung hatiku saat ini. Aku tidak ingin menangis. Rasanya tidak pantas menangisi ini semua. Aku kembali menatap wajah sendunya, lalu tersenyum sambil mengusap lembut bahu Mas Hanif. "Aku sudah menyiapkan hati untuk hal ini, Mas."


"Tapi Mas yang belum siap, Fha."


"Kenapa, Mas?"


"Mas belum bisa menerima saat Ayah menjodohkan kami. Sebisa mungkin Mas belajar untuk bisa menerima semuanya. Mas meyakinkan diri bahwa memang Rhyani jodoh Mas. Tapi kenyataannya semua itu luntur ketika kamu hadir di sisi Mas lagi,"


"Mas Cinta sama Rhyani?" tanyaku.


"Mas menyukainya. Hanya sebatas itu."


"Lalu bagaimana dengan perasaan Rhyani?"


"Mas tidak tahu. Rhyani perempuan yang sulit ditebak perasaannya,"


"Mas .... Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mulailah lembaran hidup baru dengan wanita yang sudah dipilihkan Ayah dan Ibu. Mas tidak perlu memikirkan perasaanku lagi."


"Fha... " panggil Mas Hanif.


"Aku ikhlas, Mas."


Dan malam ini kami hanya bisa saling berpelukan melepas semua beban yang selama ini kami pendam. Saling menguatkan hati masing-masing atas takdir yang telah Tuhan berikan.


Aku menyerah. Jika kenyataannya hati Mas Hanif sedang belajar mencintai wanita lain. Aku juga bahagia, akhirnya harapan baru itu ada dalam hidupnya. Kini yang aku pikirkan hanya Malik. Laki-laki yang telah banyak aku torehkan rasa sakit. Malik laki-laki hebat yang pernah aku temui.


Rasanya tugasku selesai ketika mendengar Mas Hanif akan segera bertunangan. Aku bahagia. Sungguh.


Maka sekarang tinggal kebahagiaan Malik yang harus aku kembalikan. Aku tidak ingin dia terlalu lama menyimpan semua luka. Aku ingin melihat Malik bahagia juga.


Meski ada sesak yang menjalar di hatiku, tapi aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku saat ini.


"Kita pulang, yuk!" ajakku pelan.


"Kamu mau pulang?"


"Iya. Besok Mas Hanif harus kerja lagi 'kan?"


"Kamu beneran tidak apa-apa, Fha?"


Aku tersenyum.


"Mas, dari awal aku sudah menyiapkan hal ini. Jadi aku tidak kaget ketika Mas Hanif mengatakan sudah dijodohkan. Aku ingin melihat Mas bahagia."


"Kita pulang sekarang!"


Aku mengangguk. Lalu tangan Mas Hanif meraih tanganku. Kami bergandengan tangan menuju mobil di parkiran. Mungkin ini menjadi hal terakhir yang bisa kami lakukan. Cepat atau lambat Mas Hanif akan pergi bersama kekasih hatinya yang baru. Cintaku memang tidak akan pernah pudar. Aku berharap keikhlasan ini akan selalu membuatnya bahagia.


Malam semakin larut, kuharap kisah ini akan berakhir dengan semestinya. Semoga perempuan pilihan orangtua Mas Hanif bisa memberi kebahagiaan untuknya. Aku titip dia yang kusayang Tuhan. Jaga dirinya. Jaga hatinya. Bahagiakanlah dia dengan cara-Mu.


****


            Rhyani Mahira Wijaya


Jumping. Satu kata yang paling aku hindari. Pekerjaan menuntut mata agar tetap terbuka meski sangat mengantuk. Tapi demi sebuah tanggung jawab. Demi masa depan yang sedang diperjuangkan, aku rela tidak tidur sehari semalam.


Pagi ini mataku masih terbuka, tanganku masih sibuk menulis beberapa rekam medis pasien kecelakaan tadi malam. UGD seperti pasar yang baru dibuka. Para korban tumpah ruah. Aku dan beberapa koas lainya kelimpungan karena banyaknya pasien tadi malam.


Beberapa kali mulutku menguap menahan kantuk yang terus datang.


Dua cup kopi di meja telah aku habiskan. Aku menjatuhkan kepala di meja, rasanya ingin tidur...  Lima menit saja.


"Woy... Bangunnn!"


Satu suara itu berhasil membuatku terlonjak kaget. Ketika aku terbangun dan membuka mata, aku melihat sudah ada wajah Bian yang nyengir tanpa dosa.


"Sialan banget lo, Bi. Ganggu aja!"


"Hahaha.. Ya, lagian lo ngisi rekam medis sambil tidur gitu,"


"Gue ngantuk banget, Bi. Liat nih, kopi aja udah abis dua cup!"


"Sabar! Sebentar lagi jam 8."


Aku hanya mengangguk. Lalu kembali menjatuhkan kepala di meja.


Tepat pukul 7.30 dua orang Koas pagi sudah datang ke ruangan. Semangatku langsung pulih, ketika salah satu dari mereka mengambil alih rekam medis yang belum selesai kutulis.


"Thanks, ya," kataku.


"Iya, sama-sama, Rhy. Udah sana lo ganti baju. Husss.. Pulang sana!!!"


"Siap."


Aku langsung melenggang pergi ke loker untuk berganti baju. Mataku sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka. Rasanya ngantuk luar biasa. Kuambil ransel kecil yang berisi notebook dan beberapa buku jurnal kedokteran, lalu segera pulang ke kost-an. Kasur dan bantal sudah menunggu di sana.


Baru saja aku keluar gerbang rumah sakit, seorang wanita cantik yang sudah aku list sebagai orang yang akan selalu membuat moodku anjlok, kini datang menghampiriku.


"Hay," sapanya.


Aku terkejut atas kehadirannya di hadapanku.


"Apa kamu punya waktu? Ada yang harus aku bicarakan sama kamu,"


"Big No! Gue lagi capek banget hari ini."


Tentu saja semua ucapan itu tidak keluar dari mulutku. Aku hanya terdiam tanpa merespon ucapannya.


"Hey... Kenapa melamun?" tanyanya, sambil melambaikan tangan di depan wajahku.


"Nggak apa-apa. Mau bicara di mana?"


Dia tersenyum. "Di cafe yang ada di sebrang sana, mau?"


"Iya, silakan!"


Kami berdua berjalan beriringan menuju cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Rasa lelah dan Kantukku hilang begitu saja ketika kami telah tiba di cafe.


"Mau pesan apa?" tanyanya, memecah keheningan karena aku hanya berdiam saja.


"Lemon tea,"


Dia tersenyum, lalu menyebutkan pesanan kami kepada pelayan. Aku sudah tidak mau berpikir tentang kesehatan lambungku karena pagi-pagi sudah memesan lemon tea. Rasanya ada sesuatu hal yang akan aku terima setelah pertemuan dengan wanita dari masa lalu Mas Hanif ini.


"Kenalin, aku Alifha," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Aku pun meraih tangan tersebut, "Rhyani."


"Kamu juniornya Mas Hanif?"


"Saya Koas. Junior semua para senior di rumah sakit, bukan Dokter Hanif aja," jelasku.


Dia tersenyum mengangguk.


"Ada perlu apa?" tanyaku.


Aku lelah sekali jika harus meneladani wanita ini. Jika kehadirannya hanya untuk bercerita tentang perasaannya kepada Dokter Hanif akan aku pastikan dia bakal berbicara sendiri tanpa aku tanggapi.


"Saya tau, kamu ini tunangannya Mas Hanif. Makanya saya ingin berbicara dengan kamu. Mungkin memang ini tidak ada kaitannya sama kamu, tapi aku ingin pergi tanpa meninggalkan luka lagi."


"Saya tidak mengerti. Langsung ke intinya aja!" aku berucap dengan nada ringan, tapi syarat sekali bahwa aku tidak suka obrolan yang penuh basa basi.


Ok. Sepertinya dia benar-benar akan bercerita tentang masa lalunya. Baiklah, Rhyani kita dengarkan semua ini dengan baik-baik! Bisa jadi Allah sedang menunjukkan sesuatu kepada kamu.


"Saat itu, seperti kebanyakan pasangan kekasih lainya kami menikmati masa-masa Indah itu dengan penuh kasih dan Cinta. Tapi semua itu hanya sementara, ketika Ayah menjodohkan saya dengan laki-laki bernama Malik."


Sampai di sini ada sesuatu yang menghantam hatiku. Rasanya sesak. Tapi aku harus bisa bersikap biasa saja, bahkan masa bodo. Aku meneguk pelan lemon tea yang sudah tersedia di depanku.


"Ayah ingin aku menikah dengan Malik. Saat itu aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku sangat mencintai Mas Hanif. Tapi aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Akhirnya aku menerima perjodohan itu namun tetap menjalin hubungan dengan Mas Hanif,"


Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Beristighfar penuh di dalam hati.


Mata Alifha terlihat mengembun ketika membayangkan masa lalunya dulu.


"Seiring berjalannya waktu, tanpa aku sadari hatiku sudah jatuh kepada Malik. Laki-laki soleh yang dipilih Ayah, mampu merubah segala pandanganku tentang kehidupan ini. Tanggal pernikahan telah ditentukan. Aku dilanda kebingungan yang lebih hebat. Saat itu apa yang harus aku katakan kepada Mas Hanif?  Aku bingung,"


Aku membuang wajah ke arah lain. Rasanya semakin menyesakkan ketika ia mengatakan akan menikah dengan Malik. Sabar, Rhyani!


"Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku berniat mempertemukan Mas Hanif dan Malik. Ketika pertemuan itu terjadi, aku mengatakan kepada Mas Hanif bahwa aku akan menikah dengan Malik dalam waktu dekat. Aku tidak menyangka jika dari pertemuan itu membuat mereka berkelahi,"


Aku membuang napas kasar. Jadi inilah jawabannya ketika mereka kembali bertemu saat di taman perkebunan dulu. Oh, Allah. Apalagi yang akan Engkau tunjukkan dari wanita ini?


"Rhyani... " panggilnya pelan.


"Apa?"


"Aku akan melepaskan Mas Hanif untuk kamu. Mas Hanif berhak bahagia. Aku sudah ikhlas, Rhy."


"Maksudnya apa? Saya nggak mengerti!"


"Tolong bahagiakan Mas Hanif, aku harus kembali kepada Malik. Aku ingin mengobati luka yang pernah aku torehkan di hatinya. Aku mencintai Malik, aku ingin bahagia bersamanya."


Saat itu juga aku refleks mengambil gelas di atas meja, lalu seluruh isi lemon tea di dalam gelas telah mengguyur wajah cantiknya. Aku sudah tidak tahan lagi mendengarkan seluruh ucapannya itu. Keadaan cafe yang masih sepi membuat adrenalinku untuk berkata kasar keluar juga.


"Dasar tidak waras!" ucapku, dengan nada tinggi. Lalu menatap sengit wajah yang telah basah dengan lemon tea itu, "Dengar ya, Mbak! Dari awal saya tidak pernah menerima perjodohan apalagi pertunangan dengan Dokter Hanif. Jadi Mbak datang ke orang yang salah jika harus menitipkan Mas Hanif. Maaf, hati saya juga bukan tempat penitipan seseorang yang sudah membuat saya kecewa!"


Aku berdiri dari kursi, rasanya ingin sekali menjambak rambutnya, lalu memukul kepalanya agar dia sadar. Sebelum aku pergi dari hadapanya, aku menatap kembali wajah yang masih syok atas perlakuanku saat ini, "satu lagi, Mbak! Saya mencintai Malik. Apa pun akan saya lakukan untuk kebahagiaannya. Jadi Mbak nggak perlu repot-repot untuk kembali ke kehidupannya. Jangan ganggu Malik lagi!"


Aku melenggang pergi dari cafe tersebut. Rasanya....  Benar-benar muak sekali. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu di hadapanku?


Amarahku kian memuncak mengingat semua ucapannya. Tanpa sengaja kakiku menendang sebuah tempat sampah yang berada di depanku.


"Dasar Wanita nggak warassss!!!!" aku berteriak histeris, tidak peduli dengan tatapan orang lain yang menatapku aneh pagi ini.


Aku tiba di kost-an dengan keadaan yang cukup berantakan. Kulempar tas dengan asal, ketika pintu dibuka oleh Ratih.


"Lo kenapa, Rhy?" tanya Ratih.


"Gue boleh minta tolong nggak, Rat?" ucapku. Lalu aku berbaring terlentang di tempat tidur. Rasanya benar-benar melelahkan sekali.


"Apa?"


"Siang ini gue mau pulang ke rumah. Pliss... Jaga malam dulu ya! Gue janji besok pagi udah ada lagi di sini!"


"What .... Nggak salah?"


"Nggak. Ada hal yang harus gue urus, Rat. Plisss bantuiin gue!"


"Gue akan bantu, tapi lo harus cerita masalah yang lo hadapi selama ini, Rhy!" ucap Ratih, ketika dia duduk di sampingku.


"Rat...  Masalah gue rumit banget. Gue juga bingung harus cerita dari mana. Rasanya gue jadi muak banget sama Dokter Hanif."


"Kenapa Dokter Hanif?" tanya Ratih penasaran.


"Dia udah nggak waras, sama kayak pacarnya. Gue baru aja ketemu di cafe yang deket rumah sakit tadi,"


"Seriously? Pacar Dokter Hanif!?"


"Iya, Rat. Ternyata selama ini Dokter Hanif itu punya pacar," kataku, lalu segera mengambil ponsel di dalam tas dan menunjukkan foto dan video mereka saat di rooftop rumah sakit tempo hari.


"OMG.... " Ratih menggelengkan kepalanya, tidak percaya akan apa yang dia lihat saat ini.


"Parah banget ini mah. Gue nggak bakal setuju kalo sampai lo beneran tunangan sama Dokter Hanif,"


"Makanya gue pengin pulang ke rumah buat menyelesaikan ini semua. Plisss.. Mau ya bantu gue, Rat!"


"Ya udah, mending sana lo mandi dulu. Atau kalo bisa lo tidur dulu lah, Rhy!"


"Nggak ada waktu buat tidur, Rat. Gue mau mandi dulu. Makasih ya. Lo memang sahabat gue yang paling baik." ucapku jujur.


"Iya.. Iya... Udah sana mandi!"


Aku langsung bergegas ke kamar mandi. Di bawah guyuran air aku menangis. Aku tidak ingin segala hal yang aku takutkan terjadi. Aku tidak ingin berpisah dengan Malik padahal aku baru saja ingin berjuang untuk bersamanya.


****


Mobil Honda jazz merah yang aku kemudikan melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali aku mengumpat jika ada pengendara yang menyalip mobilku. Rasanya emosiku belum hilang jika mengingat pertemuan dengan wanita tidak waras di cafe tadi.


Ingin sekali aku berteriak lebih kencang di hadapannya tentang semua ucapan konyol yang terlontar dari mulutnya. Kenapa bisa Malik ingin menikahi wanita seperti dirinya? Aku sebagai wanita pun merasa itu sangat aneh. Lalu mengapa kedua laki-laki itu memperebutkannya di masa lalu?


Semoga tidak ada yang geser dari otak Malik. Aku tidak peduli dengan kisah cintanya yang sudah terjalin semenjak di bangku kuliah dengan Dokter Hanif. Kurasa mereka itu sangat serasi. Sama-sama aneh dan tidak waras.


Arrrggghh...  Aku benar-benar muak sekali saat ini.


Beberapa jam berkendara. Berpacu dengan kecepatan tinggi, melawan segala emosi yang meradang di dada. Akhirnya aku tiba di rumah. Aku parkirkan mobil tepat di samping mobil Papa. Aku ingin berteriak saat ini. Namun semua masih aku tahan, ketika langkahku masuk ke dalam rumah.


"Loh... Anak Mama kok tumben pulang?" tanya Mama, ketika melihatku yang hendak naik tangga menuju kamarku di lantai dua.


"Memangnya aku nggak boleh pulang, Ma?"


"Ya boleh lah... Masa anak sendiri dilarang pulang, tapi dalam rangka apa?"


Aku mendengus pelan, "Dalam rangka berdebat dengan Papa dan Mama. Rhyani mau ganti baju dulu!"


Mama terlihat terkejut mendengar ucapanku. Aku sudah tidak menghiraukannya dan bergegas menaiki tangga menuju kamar.


Selesai berganti baju, aku segera turun ke bawah. Kulihat Papa dan Mama sedang duduk santai di ruang keluarga. Waktu yang tepat untuk berdebat.


"Pa ..." panggilku pelan. Aku segera duduk di sofa yang berhadapan dengan Papa. Sebagai anak semata wayang mereka, aku memang dididik dengan penuh kasih sayang. Sikap Papa yang tegas terkadang memanjakan diriku tapi itu berlaku ketika aku berada di rumah. Di luaran didikanku lebih keras oleh pengalaman dan kehidupan orang lain yang aku jadikan titik acuan.


"Kamu kapan pulang?" tanya Papa.


"Baru aja sampai. Ada yang ingin aku bicarakan sama Papa dan Mama,"


Papa menyimpan korannya di meja, lalu menatapku sejenak, "Soal apa? Ini bukan jadwal kamu pulang ke rumah 'kan? Ada Hal penting apa yang membuat anak Rantau Papa sampai pulang kayak gini!"


"Ini soal perjodohan dan pertunangan itu, Pa,"


"Kenapa? Kamu mau mempercepat semuanya?"


Aku mendengus mendengar ucapan Papa. "Rhyani nggak mau, jangan paksa Rhyani untuk menikah dengan laki-laki tidak jelas seperti Dokter Hanif!"


"Maksud kamu apa Rhyani?" tanya Mama.


Aku menyodorkan ponselku ke atas meja. Sebuah video sedang berputar. Volumenya pun aku besarkan agar terdengar oleh Mama dan Papa.


"Ini apa?" tanya Papa, ketika video itu sudah terhenti.


"Pa, selama ini Dokter Hanif sudah punya kekasih. Bahkan hubungan mereka sudah terjalin saat mereka masih kuliah dulu. Itu video pertemuan mereka. Papa bisa melihat sendiri, bagaimana kelakuan calon suami pilihan Papa itu,"


"Rhyani .... " panggil mama pelan. Mama yang sedari tadi duduk di samping Papa, kini berpindah posisi menjadi di sampingku.


"Ma.. Aku nggak mau kalo perjodohan itu tetap dilanjutkan, apalagi kami sampai menikah. Aku nggak mau, Ma!"


Air mataku tumpah seketika. Rasanya... Sulit sekali dijabarkan. Aku melihat Papa yang terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu untuk keputusanku.


"Sssstttt.. Sudah, Nak. Kamu pasti capek, berjam-jam menyetir mobil. Sekarang istirahat dulu ya!"


"Pa...  Apa Papa masih ingin melanjutkan perjodohan ini? Papa nggak memikirkan perasaan Rhyani? Papa mau melihat Rhyani terluka? Jawab aku, Pa!"


"Kita bicarakan nanti. Benar apa kata Mama, pasti kamu capek. Istirahat lah!"


"Pa... Aku hanya punya waktu hari ini aja. Aku harus kembali ke rumah sakit besok pagi. Kalo Papa terus menunda semua ini, aku akan lebih merasakan sakit lagi, Pa."


"Rhyani.... " panggil Papa, sambil terus menatapku dengan lekat.


"Aku tidak berharap orang lain yang mengerti aku, Pa. Cukup Mama dan Papa aja!"


Papa terdiam.


"Pa.. Ma.. Selama ini Rhyani tidak pernah menuntut banyak tentang hal apa pun itu. Tapi kali ini, izinkan Rhyani untuk memilih calon pendamping sendiri. Aku tidak mau dijodohkan dengan Dokter Hanif.


"Kamu sudah punya calon?" tanya Mama.


"Sudah, Ma." kataku dengan lantang.


"Siapa?" Papa menimpali.


"Ada,"


Papa dan Mama saling berpandangan.


"Siapa?" tanya Papa lagi.


"Kalau Papa membatalkan perjodohan konyol ini, aku akan pastikan membawa calonku ke hadapan Papa setelah selesai koas nanti,"


Mama menatapku dengan tatapan tidak percaya, "kamu seyakin itu, Rhy?"


"Iya, Ma."


"Siapa, sih? Papa jadi penasaran."


"Pa, aku pulang ke rumah di sela jadwal jaga malam, bukan untuk bercanda gurau seperti ini. Aku serius, Pa. Aku tidak mau dijodohkan. Aku sudah punya calon sendiri!"


"Ok,"


Aku mengernyit dengan jawaban Papa lalu disusul tawa pelan dari Mama.


"Pa.... Aku nggak lagi bercanda!"


"Iya, Papa tau! Cuma Papa masih bingung aja, siapa sih laki-laki yang udah bikin anak Papa jadi kayak gini?"


"Yang jelas dia pemuda baik-baik. Tidak seperti Dokter Hanif!"


"Sekarang kamu istirahat ya, Rhy! Nanti malam Mama siapkan makanan kesukaan kamu."


"Ma... Aku belum dapat jawaban dari Papa. Bagaimana mungkin aku bisa makan, sedangkan semua masalah aku aja belum dapat titik terang,"


"Jadi kamu maunya bagaimana, Rhy?"


"Aku cuma mau semua itu dibatalkan, Pa. Udah itu aja!"


"Papa akan pikirkan."


"Apa lagi yang Papa pikirkan. Semuanya sudah jelas, Pa!"


"Rhyani. Membatalkan itu tidak semudah yang kamu ucapkan. Papa mengerti perasaan kamu saat ini. Tapi Papa juga harus menghargai perasaan orangtua Hanif."


Seketika aku teringat akan ucapan wanita tadi. Aku tidak ingin menjadi seperti dirinya. Aku tidak mau cerita ini berakhir sama.


"Pa... Papa mau lihat aku bahagia 'kan?"


Papa mengangguk.


"Ma.... " panggilku pelan. Karena sedari tadi Mama hanya terdiam.


"Mama mau yang terbaik untuk kamu, Sayang. Apa pun itu. Siapa pun pilihan kamu. Mau hanya bisa mendoakkan."


"Aku mohon, Pa!"


"Baiklah. Nanti Papa akan menghubungi Om Ridwan."


Untuk pertama kalinya, setelah emosi yang bercampur aduk dengan keadaan. Aku bisa tersenyum. Satu masalah telah selesai. Tinggal menunggu jawaban dari kedua orangtua Dokter Hanif. Aku tidak peduli jika mereka masih tetap ingin aku menikah dengan anaknya. Tinggal satu lagi permasalahan yang aku harus hadapi. Memperkenalkan Malik kepada Mama dan Papa.


Setidaknya malam ini aku bisa beristirahat dengan tenang. Tanpa harus memikirkan perjodohan yang membuat diriku galau tak karuan.


Tuhan, mudahkanlah segala urusanku saat ini.