
"Bersiaplah menerima hal yang paling terburuk, maka hadiah bagi anda adalah perasaan yang lebih baik"
As'sadu\-imroatin fil 'Alam
****
Waktu berjalan begitu cepat. Malam telah berganti pagi, dan siang kini telah menyapa. Aku telah menyelesaikan tugas seorang hamba di muka bumi, empat rakaat zuhur sebagai kewajiban rindu kepada Ilahi.
Mungkin dari sebagian makhluk hidup, aku bukanlah seorang yang ahli ibadah, tapi sebisa mungkin aku akan terus beribadah. Mengingat hidup di dunia hanya sementara, ada akhirat yang akan membuat kita kekal di sana.
Kulangkahkan kaki menuju kantin, perut sudah meronta minta diisi, Ratih sudah berteriak minta kumpul makan siang. Aku tiba di kantin dan langsung memesan makanan.
"Lama banget, Rhy!" kata Ratih, ketika aku sudah duduk di depannya. Di samping Ratih pun sudah ada Bian yang sibuk dengan makanannya.
"Lo mau ngomong apa sih, Rat?" tanyaku, sambil mengaduk semangkuk bakso agar tercampur sempurna.
"Ok, begini guys, berhubung minggu besok jadwal kita kompak libur, gue mau ngajakin kalian traveling ke sini," Ratih menyodorkan sebuah brosur travelling ke atas meja, "The Blue Vegetable Park."
"Di mana ini?" tanyaku penasaran dengan tempat traveling yang dipilih Ratih saat ini.
"Di Bogor, Ini tempatnya keren abis, guys. Gue jamin kita nggak bakal nyesel kalo pergi ke sana."
"Lo udah pernah ke sana?" tanya Bian.
"Udah,"
"Kapan?"
"Semalam."
"Hah," aku dan Bian kompak melongo mendengar ucapan Ratih.
"Iya, semalam gue udah meng-googelin tempat ini, gue juga udah liat di youtube."
Bian menepuk keningnya, "begini amat gue punya temen!"
"Heh, serius tau! Pokoknya minggu besok jangan terima jadwal apapun dari siapa pun. Kita harus On The Way ke tempat ini."
Ratih kira rumah sakit ini milik Bapaknya kah? Bisa mengosongkan jadwal sesuai yang kita inginkan. Ya ampun, Rat. Semoga saja bisa seperti itu. Kita juga sudah lama sekali tidak traveling.
Selesai istirahat dan makan siang, kami benar-benar akan merencakan traveling ini. Meski di sekitar Bogor tetap saja aku penasaran dengan taman sayur biru itu. Dari namanya saja sudah aneh, bagaimana tempatnya aku jadi penasaran.
***
Matahari telah kembali ke tempatnya, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Angin sore melambai dengan lembut, menyapu anak rambutku yang tergerai bebas. Ratih dan Bian sedang menyiapkan segala hal untuk traveling kami. Ya, minggu besok kami bertiga akan benar-benar pergi ke tempat wisata itu. Entah siapa yang baik hati mengosongkan jadwal kami. Aku sungguh mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Kotak P3k udah komplit ya?" Ratih menepuk bahu Bian karena kesal dengan Bian yang main games terus, "Heh, lo jangan main game terus dong! Bantuin gue napah, Bi!"
"Bantu apa sayang?"
"Sayang, Bapakmu!"
"Tapi aku sayang kamu juga,"
Ratih mengibaskan tangannya, "bodo amat."
"Berisik banget kalian ini," kataku, ketika menghampiri mereka berdua.
"Tau, nih si Ratih, berisik banget!"
"Heh," Ratih melotot ke arah Bian.
"Sudah deh, Rat. Apalagi yang belum lengkap?"
"Udeh semua." jawabnya ketus.
"Siap meluncur ...." Bian berseru kegirangan.
"Ya udah sekarang kita istirahat dulu, biar besok bisa fit!"
"Ok. Guys. Selamat istirahat." Bian keluar dari kamar kost kami. Aku dan Ratih pun bergegas istirahat.
***
Hari yang kami tunggu pun tiba, aku sudah siap dengan tas yang tidak terlalu besar di punggungku. Hari ini aku memakai celana jeans hitam yang aku padukan dengan kaos putih dan panel kotak-kotak berwarna ungu muda. Sneakers putih membalut sempurna di kakiku. Rambut kuikat satu agar tidak gerah ketika menelusuri taman sayur biru nanti.
Ratih sudah rapi dengan celana jeans dan baju arminya, Lalu Bian datang ke arah kami dengan memakai celana chaki warna krem selutut, kaos warna hijau lumut itu begitu pas dengan badannya.
"Siap, On The Way, guys?"
"Siap ... Meluncur ..." aku berteriak kompak dengan Ratih.
Hari ini kita akan menggunakan mobil Jeep Bian untuk berangkat ke taman sayur biru. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, cukup memakan waktu dua jam, jika tidak macet. Pemandangan asri mulai memanjakan mata kami ketika mulai memasuki gerbang desa Cibereum.
Pohon Akasia begitu indah berjejeran dengan rapi. Bunga-bunga amarilis pun tak kalah cantiknya tumbuh berdampingan. Tiba di gerbang The Blue Vegetable Park, mataku sudah disambut dengan sebuah papan nama yang unik sekali, tumbuhan sayur mayur sudah terlihat begitu menawan. Sungguh aku sudah tidak sabar untuk segera memasuki taman ini.
Pintu gerbang dibuka oleh seorang penjaga, "Wilujeung sumping kasadayana ti The Blue Vegetable Park." kata seorang Bapak penjaga taman. Aku dan kedua sahabatku mengernyit tidak mengerti dengan bahasanya.
"Pak, maaf saya nggak ngerti bahasanya," kata Bian sambil cengengesan.
"Oh, Hampura nya, Maksud Bapak, selamat datang di The Blue Vegetable Park. Selamat menikmati keindahan kebun sayur, boleh petik, boleh bawa pulang, asalkan tidak membuang sampah sembarangan. Tetap jaga kebersihan Taman." kata Bapak tadi dengan tersenyum ramah kapada kami.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mari silakan masuk!"
Mobil Bian sudah terparkir di tempat yang sudah disediakan. And well.. Tempat ini sungguh keren abis. Berbagai macam sayuran ditanam di sini. Ada juga tanaman hidroponik yang terjejer rapi dalam pot. Indah banget.
Lahan seluas 200 Hektar ini sungguh membuatku takjub. Tidak jauh dari tempat kami bediri, ada sebuah gajebo, yang kalau kata si Bapak tadi adalah saung, tempat istirahat para pengunjung. Aku memilih sebuah saung yang cukup besar, karena saung-saung lain sudah terisi penuh.
Aku menikmati keindahan alam ini. Hanya satu yang aku sesalkan, semua sayuran ini berwarna hijau, tidak ada yang berwarna biru seperti namanya.
"Rhy, mau istirahat dulu apa langsung keliling taman?" tanya Ratih.
"Kita keliling aja yuk, Rat! Gue penasaran banget sama taman ini, kali aja bisa nemuin sayuran berwarna birunya,"
Bian tertawa ke arahku, "dasar ... Koas pinter! tapi soal ginian bisa lemot juga!"
"Iya, benar, Bi. Hahaha .... " Ratih menimpali.
"Udah, ayo!" aku jalan mendahului mereka.
Pemandangan ini benar-benar membuatku takjub. Berbagai macam sayuran ditanam di sini. Aku tidak melewatkan sedikit pun untuk memotretnya. Ada rumah kaca yang dipenuhi sayuran sawi hijau dalam bentuk hidroponik, lalu sebuah lahan kangkung yang baru tumbuh, seperti sebuah karpet hijau yang digelar.
Aku, Bian dan Ratih berjalan terpisah. Aku ingin sendiri, menenangkan diri dengan keindahan taman. Sedangkan Bian dan Ratih berjalan berdua, mungkin ada yang ingin Bian sampaikan kepada Ratih, makanya dia mengusirku secara halus.
Langkahku terhenti ketika Sampai di sebuah sungai kecil yang airnya cukup deras, aku berjongkok agar bisa menyentuh air yang bening itu. Air sungai yang dingin dengan pemandangan indah cukup memanjakan mata siapa pun yang melihatnya. Ketika aku hendak berdiri, tiba-tiba saja kakiku kehilangan keseimbangan. Aku terpeleset ke sungai. Air sungai yang tadinya bening berubah menjadi kemerahan. Aku meringis menahan sakit, aku mencoba bangkit berdiri, namun rasa nyeri itu benar-benar tidak bisa kutahan.
"Aww ...."
Aku berhasil mengangkat kakiku dari sungai, sneakers putihku sudah dipenuhi lumpur, dan yang membuatku tercengang sebuah luka di betisku. Celana jeansku robek, luka menganga itu sakit sekali aku rasakan. Kucari kotak P3K yang sudah disiapkan Ratih, ternyata nihil. Sepertinya kotak itu berada di tas miliknya.
Lalu kulihat ponselku yang ternyata sudah mati total, karena tercebur ke sungai tadi. Aku semakin meringis menahan sakit, darah segar terus keluar. Rasanya aku ingin pingsan saja, berjalan pun tidak bisa.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya seseorang yang menghampiriku.
"Sakit." jawabku lemah.
Aku melihat dia sedang mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, yang ternyata sebuah pisau lipat kecil, tidak jauh dari tempatku duduk, ada tunas pohon pisang yang ia tebang. Aku belum bisa melihat seseorang itu karena posisinya masih membelakangiku.
Setelah selesai menebang tunas pisang itu, dia menghampiriku, "Angkat celana jeansnya!" katanya. Wajahnya masih tertutup topi yang ia kenakan.
Aku mencoba mengangkat, tapi ternyata sakitnya luar biasa.
"Nggak bisa," kataku lemah, sambil menahan sakit.
Tanpa pikir panjang, dia langsung merobek bagian celana jeans dengan pisau lipat yang ia pegang. Lalu, mengucurkan air dari tunas pisang tersebut. Rasanya sangat dingin.
"Aww .... " jeritku tertahan.
"Tahan sebentar!" serunya.
Setelah air dari tunas tersebut tidak tersisa lagi, dia langsung menutup lukaku dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari sakunya. Kini sapu tangan berwarna biru itu sudah membalut lukaku dengan sempurna.
"Terima kasih," kataku pelan.
Lalu dia mengangkat wajahnya ke arahku tatapan mataku bertemu iris mata coklat miliknya.
"Akang Nasyid."
Dia menaikkan satu alisnya ke arahku, "kamu ngapain di sini?" tanyanya.
"Sa—ya ...." aku gugup sekali. Sumpah, kenapa hidupku tidak bisa jauh-jauh dari orang ini.
"Bisa jalan nggak?" tanyanya lagi, yang kini telah berdiri.
Aku mencoba untuk bangun, nyatanya sulit. Kakiku tidak bisa menopang tubuhku sendiri. Aku menggeleng lemah, menahan air mata yang sudah mengembun di pelupuk mata.
"Kamu ke sini sama siapa?"
"Teman,"
"Ya sudah, telpon teman kamu itu!"
"Astagfirullah, ponsel saya juga ketinggalan,"
Aku benar-benar ingin menangis saja saat ini. Hingga sebuah tangan itu terulur ke hadapanku. Aku mendongak ke arahnya.
"Saya bantu jalan."
Tanpa pikir panjang aku langsung meraih tangannya, dengan sabar dia memapahku, tapi rasa ngilu di kakiku tidak bisa kutahan.
"Nggak bisa, sakit ...." kataku sambil menangis menahan sakit.
Dia terlihat bimbang, seperti biasanya akan mengalihkan wajahnya dariku. Sesekali dia menarik napasnya pelan. Lalu meliriku yang sudah menangis di sampingnya.
"Lepas tasnya!" katanya lagi. Aku pun langsung melepas tas punggungku, lalu ia yang memakainya.
Tanpa permisi dia langsung menggendongku ala bridal style, "Pegangan!" titahnya.
Tanpa ragu aku pun melingkarkan tanganku di lehernya.
"Ampuni hamba ya Allah." dia berguman pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku tidak bisa menutupi rasa gugupku ketika mendengar dengan jelas detak jantungnya.
Oh, Tuhan sebenarnya ini apa?
Mengapa harus orang ini yang Kau kirim saat aku kesakitan seperti sekarang?
Rasa sakitku berganti dengan rasa canggung, malu dan ada sebuah rasa yang mendobrak bagian terdalam hatiku. Rasa ini? Aku tidak tahu, rasanya aku ....
"Saung kamu di mana?" tanyanya.
Aku mendongak ke arahnya, dia memiliki rahang yang tegas. Hidungnya mancung Ada bulu-bulu halus yang berada di janggutnya.
Apa ini? Stop Rhyani! Jangan berpikir yang tidak-tidak.
"Heh, saungnya yang mana?" tanyanya lagi dengan nada yang membentak.
Aku membenamkan wajah ke dada bidangnya. Demi apa pun, kenapa hati, otakku dan seluruh anggota tubuhku tidak sinkron sekali.
"Saung utama." kataku pelan, persis anak kecil yang sedang ketakutan.
"Kamu berat banget, sih!"
Kali ini aku sukses mencubit lehernya, karena hanya bagian itu yang mampu terjangkau oleh tanganku.
"Apaan, sih? Sakit tau!"
"Jangan resek, ya! bilang aku berat."
"Memang kenyataannya begitu,"
"Bodo amat."
Dan apa ini, aku tidak salah melihatnya tersenyum? Meski senyum itu tipis, tapi mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat lagi. Ada sebuah lesung pipi yang terbit ketika ia tersenyum.
Allah, aku tidak tahu tentang skenario apa yang sedang Kau rajut untukku. Aku hanya ingin meminta kepada-Mu, jangan hapus memori ini dari ingatanku. Sungguh aku ingin memulainya.
"Rhyani ...." suara histeris dari Ratih menggema. "Kenapa bisa kayak gini?" tanyanya lagi.
Akang Nasyid yang belum aku ketahui namanya langsung menurunkan aku di saung.
"Gue jatuh—"
Jatuh cinta
Kata-kata itu hanya tertahan di dalam hatiku.
"OMG ... Kaki lo, Rhy!"
Bian langsung mengambil kotak P3K dari dalam tas, lalu membersihkan lukaku dengan antiseptik, meneteskan betadine pada luka yang sekarang sudah tidak menganga seperti tadi lalu membalutnya dengan perban.
"Lo, harus minum antibiotik, Rhy!"
"Iya," jawabku pelan.
Aku melihat Akang Nasyid sedang menelpon seseorang.
"Mas," panggilku Setelah ia menyelesaikan teleponnya.
Dia menatapku sejenak, "ya,"
"Terima kasih,"
"Sama-sama."
Setelah itu dia pergi lagi, membuat aku, Bian, dan Ratih menatapnya heran.
"Lo tau dia nggak?" tanya Bian.
"Nggak," jawabku. Luka di kakiku sudah tidak sesakit seperti tadi.
"Serius lo nggak tau, Rhy?" kini Ratih menatapku tidak percaya.
"Apaan, sih?"
Ratih menyodorkan kembali brosur taman ini, lalu jari telunjuk yang berhias kutek warna merah itu menunjuk foto seseorang yang sedang tersenyum bersama para pekerja lahan taman ini, "Dia, Malik Rabbani Nazzam, Owner The Blue Vegetable Park."
Aku sukses terkejut dengan semua ini. Akang Nasyid yang menyebalkan itu ternyata ....
Keterkejutanku terhenti ketika seorang ibu paruh baya yang datang bersama seorang pemuda sambil membawa nampan yang berisi makanan. Pemuda itu, pemuda yang tidak asing di ingatanku. Setelah semua kuingat, aku yakin sekali pemuda itu yang menjemput motor Akang Nasyid saat kutabrak dulu.
Allah.. Ini apa?
"Maaf, Bu. Kita nggak pesan makanan," kata Bian.
"Iya, yang pesan itu Nak Malik. Tadi ibu disuruh bawa makanan ke saung utama."
Kami bertiga sukses melongo melihat banyaknya makanan yang disuguhkan di hadapan kami.
"Kata Nak Malik, tadi ada yang terjatuh sampai kakinya terluka,"
Tatapan Bian dan Ratih ke arahku, ibu itu pun mengikutnya. "Kamu, ya?" tanyanya.
"Iya, Bu,"
"Sekarang bagaimana kakinya?"
"Tadi dikasih air dari tunas pisang sama—" aku bingung harus panggil Akang Nasyid itu apa.
"Oh, iya. Itu obat tradisional yang mujarab di sini."
Aku akui itu, luka robek di betisku cukup dalam, aku pastikan jika dijahit akan mendapat tujuh sampai sepuluh jahitan, namun berkat keajaiban Tuhan melalui tangannya Malik, lukaku cukup di perban saja.
"Hayu, Neng, Akang. Sok di dahar ieu kudapannya,"
[Ayo, Neng, Akang. Silakan dimakan ini makanannya]
Kami bertiga saling tatap, tidak mengerti bahasa Ibu ini.
"Terima kasih, Bu." kata Ratih.
"Maaf, Bu. Aku mau tanya,"
"Nanya naon, Neng?
[Tanya apa, Neng?]
"Malik—" aku bingung harus bertanya apa, Bu.
"Oh, Nak Malik? Kenapa dia, Neng?"
"Dia—"
Sumpah aku bingung banget, Bu.
"Dia itu pemilik lahan ini, Neng. Taman yang luasnya ini hampir 200 Hektare. Dulu tidak seperti ini, hanya lahan sayur biasa. Seiring berjalannya waktu, tekhnologi semakin canggih. Ya, jadilah seperti sekarang ini."
"Saung utama ini, tempat istirahat Nak Malik setelah seharian bekerja," jelas si ibu, lalu ia menunjuk sebuah rumah yang tidak jauh dari saung, "Dan yang itu rumahnya Nak Malik."
"Apa ibu orang tuanya Mas Malik?"
"Bukan, Neng. Saya ini pekerja di sini. Suami saya sopir pick up, sering angkut sayur ke kota, dan yang ini putra saya,"
Aku mengangguk mengerti. Dari ibu Susi mengalirlah sebuah cerita yang tak pernah aku tahu, tentang seorang Malik Rabbani Nazzam.
Rasanya aku seperti tertampar sebuah benda yang tak kasat mata. Akang Nasyid yang menyebalkan itu memang penuh tanda tanya, tapi hatinya sebaik yang tidak pernah kukira.
Allah,
Aku tidak tahu ini perasaan apa, yang kurasakan ada getar saat namanya disebutkan. Jika bertemu dengan Dokter Hanif bisa membuat kupu-kupu terbang di hatiku, berbeda dengan saat aku bertemu Akang Nasyid. Seolah dunia berkoordinasi untuk pertemuan kita. Dari pertemuan menyebalkan hingga pertemuan yang sulit aku lupakan.
Sepertinya semesta punya cerita untuk dipersembahkan kepada aku dan Akang Nasyid.
Perasaanku dibuat tak karuan olehnya, hatiku seolah berteriak memanggil namanya dan rasanya otakku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Kamu nyebelin, Malik!