Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
22. Yang Sebenarnya


Acara yang harusnya berjalan indah dan bahagia harus berakhir dengan air mata yang terus mengalir di pipiku. Berulang kali mama menenangkan keadaan hati yang tak bisa dikatakan baik-baik saja.


Malik benar-benar pergi setelah menitip sebucket bunga mawar biru kepada Ratih. Bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi.


Begitu kejam kenyataan yang harus aku hadapi saat ini. Kilasan tentang sebuah perasaan  yang akan berakhir indah hempas begitu saja ketika ucapan tak terduga yang terlontar dari mulut dokter Hanif.


Aku ingin marah dan menjabak rambutnya. Dia datang seenak hati lalu menyakiti tanpa permisi, dan kini ingin menghancurkan semua mimpi yang sudah aku serahkan kepada Tuhan.


Entah apa yang harus aku lakukan? Untuk bernapas pun sangat tak karuan. Terlalu berat.


Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Mengunci pintu dan mengurung diri kembali. Meratapi semua hal yang terasa sangat menyesakkan.


Kenapa harus seperti ini, sih? Masa belajarku menjadi dokter belum selesai sempurna, tapi masalah berat datang menghampiri. Ini masalah hati.


Aku terisak pelan memandang wajah tampan yang kini kembali menghiasi layar ponselku. Aku masih ingin  menatapnya. Namun, mataku sudah tidak bisa lagi terbuka sempurna. Aku ingin tidur melupakan segala hal yang berhubungan dengan dirinya.


***


"Kamu mau ke mana, Rhy?" tanya Mama ketika melihatku hendak pergi.


"Mau ke suatu tempat, Ma. Rhyani pergi dulu." pamitku lalu mencium tangannya.


Hari ini aku harus mengatakan segala hal yang selama ini telah menyiksa hatiku tanpa ampun. Aku ingin melepas segala beban yang selalu kubawa.


Ini soal hati dan perasaan yang belum terbalas karena aku tidak pernah berani melangkah mengatakan hal yang sebenarnya. Tak apa wanita yang lebih dulu mengungkapkan. Bukankah ibunda Khadijah pun melakukan hal yang sama. Menyatakan cintanya terlebih dahulu kepada Baginda Nabi.


Mobil honda jazz merah yang selalu menemaniku melaju dalam kecepatan tinggi. Aku harus segera sampai ke tempat itu. Hatiku harus bisa mengungkapkan segalanya. Aku tidak ingin ada penyesalan yang selalu menghantui.


Kupandang lekat gerbang selamat datang The Blue, memberikan semangat untuk diri sendiri. Aku harus melangkah. Ya, harus.


Mobilku memasuki parkiran, sebelum benar-benar melangkah ke luar, aku menghirup oksigen dengan pelan. Membiarkan udara masuk ke rongga dada yang mulai merasakan suatu hal yang luar biasa.


Langkahku semakin berat ketika melihat siluet seseorang yang akan aku temui sedang duduk di saung utama. Aku segera menghampirinya dan dia pun menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada dingin. Persis Akang Nasyid yang pertama kali aku temui.


"Aku ingin bicara sama kamu."


"Tentang apa?"


Aku menarik napas pelan, "kenapa kemarin pergi gitu aja?"


"Memangnya kenapa?"


Bahuku bergetar. Ternyata sesulit ini untuk mengungkapkan segalanya.


"Aku menunggu kamu, tau nggak, sih?"


"Nggak tau."


"Maliiikk ...." Aku berteriak histeris. Tidak peduli ketika orang-orang menoleh ke arahku.


Malik terdiam. Ia juga memejamkan matanya lalu kembali menatapku, "kenapa ke sini? Tadi Hanif baru saja menemui saya. Katanya, kalian akan menikah?"


Aku tercengang mendengar ucapannya.


"Jangan temui saya lagi!" ujarnya sambil menatapku tajam.


"Maksud kamu apa?"


"Saya tidak ingin semua itu terulang lagi." ucapnya penuh penekanan.


Sorot matanya terlihat sendu ketika mengucapkan kata-kata yang berhasil membuat diriku membeku.


"Pulang, lah!" serunya.


Aku menggeleng lemah. Air mata menetes begitu saja.


"Kamu nggak mau mendengar apa pun dari—"


"Tidak. Pulang, lah!" Dia mencela ucapanku.


"Dengarkan aku!" suaraku kembali meninggi.


"Perjuangan aku untuk sampai ke titik ini tidak mudah. Apa kamu nggak bisa menghargai semuanya?"


Malik terdiam.


"Kamu tahu? Aku harus menurunkan ego Papa dan mama yang terus menyuruhku untuk menikah dengan Hanif. Lalu Alifa, wanita yang sudah membuat kamu seperti ini datang menemuiku. Apa kamu tahu yang dia katakan kepadaku?"


Kini sorot mata sendu itu kembali menatapku. "Dia bilang apa?"


"Dia bilang, kalau dia masih mencintai kamu."


Malik menghela napas.


"Tapi aku tidak sebodoh itu untuk melepas kamu kembali ke wanita brengsek seperti Alifha." ucapku penuh penekanan.


"Rhyani," panggil Malik pelan. Tatapan matanya menatap lekat wajahku yang mulai sembab, "pulang, lah! Jalani kehidupan kamu. Tidak usah menaruh harapan kepada laki-laki seperti saya."


"Kenapa? Kenapa kamu berucap seperti itu? Apa semuanya belum jelas? Perasaanku? Hatiku? di mana yang tidak kamu tau, Malik?" Cecarku sambil berteriak histeris. Aku benar-benar tidak peduli ketika beberapa pasang mata menatap kami dengan tatapan aneh.


Semua yang telah aku lakukan, ternyata sia-sia. Aku ingin menyerah saja.


"Maafkan aku." lirihnya sambil menunduk dalam.


Aku kembali menggeleng lemah. "Semua yang aku lakukan sia-sia. Kamu ...," Aku menunjuk wajah tampan yang kini sedang berdiri di hadapanku. "Tidak bisa menghargai semuanya. Apa salah, jika aku mencintai kamu? Apa salah jika aku ingin bahagia sama kamu? Katakan, Malik ... Katakan ...."


Rasanya lelah sekali jika harus berteriak seperti saat ini. Air mataku yang kian tumpah, membuat rongga dada semakin sesak. Akan lelah, Tuhan. Tolong peluk aku!


Malik masih terdiam. Matanya memerah entah menahan tangis atau amarah.


"Kamu berhak bahagia, Rhyani. Tapi bukan bersama saya."


Aku kalah telak. Dada kian terasa sesak. Aku menyerah, Tuhan. Tolong ... Selamatkan hatiku dari kekecewaan yang amat dalam.


Aku mengangguk. Menghapus air mata dengan kasar lalu kembali menatap wajahnya yang ternyata ... Ada buliran kristal yang mengembun di pelupuk matanya.


"Terima kasih ...," Suaraku tercekat di tenggorokan. "Aku bahagia. Sungguh. Cuma satu pintaku—" Aku benar-benar tidak sanggup untuk melanjutkan kata-kata. Rasanya ... Sakit sekali.


"Pulang lah! saya selalu berdoa agar kamu bahagia. Terima kasih sudah mencintai saya tanpa sebuah alasan yang saya ketahui."


Kugigit bibirku agar tidak kembali berteriak histeris. Namun, semua itu sia-sia. Isak tangisku kembali pecah. Tuhan ...


"Aku pulang," ucapku dengan nada bergetar dan terisak pelan.


Malik menatapku sendu.


Ya, semuanya telah berakhir sia-sia. Perjuanganku, pengorbananku ternyata memang tak pernah dianggap olehnya. Salahkah aku jika masih berharap kepada laki-laki yang telah memberi warna dalam hidupku?


Mengapa semua harus seperti ini? Tuhan, bolehkah aku marah?


Mengapa Engkau tidak mengabulkan doaku saat ini?


Apa aku harus menutup kisah yang entah kapan semua ini dimulai?


Ada sebagian hatiku yang tak rela. Sebagian jiwaku terbang entah ke mana. Aku lelah dan rasanya ingin menyerah saja.


***


Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali dimaki oleh pengendara lain, tapi semua itu tidak aku hiraukan.


Hatiku hancur ketika menerima kenyataan ini. Apa ini yang dinamakan cinta yang ditolak? Lalu harus bagaimana aku mengobati luka yang mulai terasa perihnya?


Aku tiba di rumah, mataku menatap muak ketika mobil yang sangat aku kenali terparkir sempurna di halaman.


Kulangkahkan kaki dengan penuh benci, ketika membuka pintu dan menemukan dia bersama kedua orang tuanya sedang tertawa bersama kedua orang tuaku.


Cih! Aku benci sekali keadaan seperti ini.


"Kamu sudah pulang?" tanya Mama ketika melihatku hanya berdiam diri di ambang pintu.


"Rhyani, kedatangan Om dan keluarga untuk kembali menyambung tali silaturahmi dan perjodohan kalian." ucap Om Ridwan dengan penuh keyakinan.


Aku tertawa sumbang, dan membuat mereka semua menatapku tidak mengerti.


"Rhy," panggil Mama lalu segera Menghampiriku. "Kamu tidak apa-apa, Nak?"


"Hidupku hancur, Ma," ujarku sambil menatap dokter Hanif dengan tatapan benci yang amat dalam.


"Maksud kamu apa, Nak?" tanya Papa menimpali.


"Rhyani benci. Sangat benci. Jangan pernah hadir dalam hidupku lagi!" aku berteriak histeris di hadapan semuanya. Amarah dan emosiku sudah tidak bisa tertahan lagi.


"Pergiiiii ...." usirku sambil menatap lekat wajah dokter Hanif.


"Rhyani, kamu kenapa?" Mama menenangkan sambil terus mengusap bahuku yang bergetar.


"Aku tidak ingin dijodohkan! Dan tidak akan pernah mau. Jadi, lebih baik Om Ridwan pulang. Bawa anak Om yang brengsek itu dari sini!" ujarku dengan penuh emosi.


Om Ridwan dan tante Maria terlihat syok mendengar ucapanku. Sedangkan dokter Hanif hanya menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Aku muak. Sangat muak. Kuhempaskan tangan mama pelan, lalu segera menaiki tangga menuju kamarku. Mengurung diri kembali, meratapi semua hal yang begitu menyiksa hati.


Aku menyerah!


Cerita indah yang baru saja kurangkai harus hempas bersama bayang semu yang membuatku terpaku.


Aku lelah!


Kuakhiri saja semuanya.


Biarkan hatiku istirahat sejenak setelah melewati hari penuh liku.


Aku tanpamu seperti sebuah kata tanpa makna. Sia-sia.