
Aku pernah membaca sebuah filosofi kehidupan katanya, 'belajarlah mencintai diri sendiri, sebelum mencintai orang lain' terkadang aku berpikir, selama ini saja aku belum mampu mencintai diriku sendiri, masih sering menyakitinya dengan perasaan halu bin tidak masuk akal. Lalu apa aku bisa mencintai orang lain?
Semoga saja Tuhan memberikan sebuah hidayah untuk hatiku saat ini.
Dua bulan tidak pulang ke rumah, membuat rinduku kepada Mama dan Papa semakin membuncah. Menuntut ilmu jauh dari keluarga, makan hanya menu andalan para Koas -mie rebus plus telur dengan cabai rawit yang menggugah selera-, lalu tidur harus berbagi kamar dengan yang lainya, sehingga ketika hari libur tiba aku akan bergegas pulang, menjadi anak Mama tulen seutuhnya. Menikmati kebersamaan bersama keluarga.
Arghh.. Aku rindu. Mobil Honda jazz merah yang sedang kukemudikan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya Bogor. Sebuah lagu dari mendiang Glenn fredly mengalun merdu dari play musik mobilku.
Hampir tiga jam berkendara, kini mobilku telah memasuki gerbang perumahan Vimala Hills tempatku tinggal. Udara sejuk sudah menyapa, ketika kaca mobil kubuka. Aroma khas pegunungan semakin membuat rinduku tak tertahan.
Ada sebuah kejutan besar yang diberikan Mama dan Papa ketika aku menginjakkan kaki di rumah. Jika saja kepulanganku saat ini hanya untuk berdebat tentang perjodohan, maka aku lebih baik tidak pulang, makan mie instan pakai telur untuk beberapa bulan ke depan, dan rela berbagi kamar dengan Ratih hingga masa koas selesai.
"Pokoknya aku nggak mau, Pa!" pungkasku, setelah beberapa kali papa menyakinkan aku perihal perjodohan ini.
"Dengerkan papa, Rhyani! Papa kenal betul dengan Om Ridwan ini, beliau teman baik Papa semasa kuliah dulu,"
"Pa, yang temenan itu kan papa sama Om Ridwan, kenapa aku yang harus menikah dengan anaknya? Aku nggak mau, Pa! Ini sudah bukan zaman perang yang menjodohkan anak cucu mereka."
"Rhyani, " panggil mama lembut.
"Aku nggak kenal sama orangnya, Ma. Gimana kalo dia jahat, tukang mabuk, tukang pukul, bisa KDRT nanti. Aku nggak mau!"
"Setidaknya kamu berkenalan dulu, Nak. Dia tidak mungkin mabuk-mabukan karena dia Dokter juga."
Oh, Allah...
"Rhyani tetap tidak mau."
"Apa kamu sudah punya pacar? Atau calon yang bisa dikenalkan kepada kami?" tanya papa.
Aku terdiam. Calonnya memang belum ada, Pa, tapi sekarang sedang ada seseorang yang aku suka.
"Kalau memang belum punya calon, apa salahnya kamu menerima perjodohan ini?"
"Tetap salah, Ma. Aku tidak kenal orangnya, tidak tau siapa namanya."
"Kalian bisa berkenalan bakda asar nanti?"
Wait, Maksud papa apa?
"Sebentar, Pa. Maksud Papa apa? Berkenalan? bakda asar!?"
"Iya, nanti sore akan ada pertemuan dua keluarga untuk membahas perjodohan kalian." jelas papa dengan penuh penekanan.
"Papa merasa lagi menjual aku nggak, sih?" geramku.
"Kamu ini ngomong apa, Rhyani?" tanya Mama.
"Atau papa punya hutang? sama siapa, Pa? Berapa hutang Papa? sampai tega melakukan semua ini sama aku!?"
"Rhyani, jaga ucapan kamu!" suara papa meninggi. "Dengarkan Papa, Nak! semua ini papa lakukan untuk kebaikan kamu."
Kebaikan apa, Pa? Papa sadar nggak sih? Kalau semua ini bisa menyakiti perasaan aku.
"Nak ...," panggil Mama sambil mengusap bahuku pelan. "Rhyani, tau kan Ridho Allah itu ada pada orang tua?"
Aku menatap mama dengan tatapan tidak percaya. Jika selama ini mama selalu menjadi penengah di antara perdebatanku dengan papa, tapi kali ini mama dan papa malah kompak beradu argumen denganku.
"Mama dan papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Insya Allah kami Ridho dengan laki-laki yang kelak jika kalian berjodoh, bisa membawa kamu menuju bahtera rumah tangga yang di dalamnya ada Ridho Allah, sayang."
"Yang harus kamu tau, mama dan papa tidak menjual kamu. Tidak punya hutang apa pun itu, tapi sekali lagi, Nak. Ini untuk kebaikan kamu."
Aku mengalah, tidak ada gunanya berdebat dengan kedua orang tuaku. Hanya air mata yang mengalir di pipi yang mampu mewakili semua perasaan yang sedang berkecamuk di dalam hati.
Aku lelah, setelah menyetir berjam-jam lalu sampai ke rumah mendapat kejutan besar yang berhasil membuatku hilang kendali. Aku ingin marah. Allah.. Rasanya lelah sekali.
Tiba di kamar, pandanganku menatap nanar sebuah taman di lantai bawah. Angin menerpaku dengan kesejukannya, membelai anak rambutku, seakan sedang menghibur hatiku ini. Teringat akan sesuatu, aku mengambil ponsel di dalam tas, lalu mencari sesuatu di tempat bertanya paling mutakhir di dunia. Aku mengklik salah satu blog yang menampilkan namanya.
Malik Rabbani Nazzam, seorang pengusaha muda sukses di bidang pertanian. Laki-laki kelahiran Bogor ini telah menyelesaikan S2-nya di Institut Pertanian Bogor. Kini ia telah sukses membuka lahan pertanian dengan tajuk THE BLUE VEGETABLE PARK, yang letaknya 500 meter dari pusat kota Bogor............
Sebuah foto muncul, menampilkan seseorang yang sedang tersenyum, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Di dalam foto itu dia memakai kaos hitam berkerah, lalu celana jeans hitam dan sandal gunung. Dia juga memakai topi yang diarahkan ke belakang. Terlihat lebih tampan dari terakhir yang kulihat.
Tanpa permisi, aku langsung mengambil foto tersebut, tidak peduli dengan hak cipta pemiliknya, aku hanya ingin tiap detik punya waktu untuk memandang wajah teduh itu.
Sebuah nama-nama baik bagi Allah, Al Malik yang artinya yang Maha Merajai. Begitu pun dengan Malik-ku yang kini telah merajai perasaan di relung hatiku. Aku tidak tahu, apakah Allah mengizinkan semuanya, atau hanya akan menjadi doa di sepertiga malam saja. Pintaku hanya satu, Allah tolong kabulkan setiap doaku yang memanggil namanya dalam kalbu.
****
Semburat jingga telah menyapa, mengikis waktu yang kian menipis. Aku berdiam diri menatap pantulan wajah di cermin, masih tidak percaya akan semua yang terjadi saat ini. Kutarik napas pelan, menyalurkan oksigen agar masuk bebas ke dalam rongga dada yang kian terasa sesak.
Azan asar telah berkumandang beberapa jam yang lalu. Namun, seseorang yang sedang ditunggu mama dan papa belum memunculkan dirinya sama sekali. Hingga suara salam dari lantai bawah, berhasil membuat detak jantungku lebih cepat dari biasanya. Suara Mama dan Papa yang begitu bahagia terdengar hingga lantai dua, kamarku.
Kutekan dadaku pelan, berharap sesuatu yang ada di dalam sana mengerti bahwa semua akan baik-baik saja. Sabar, Rhy. Benar kata mama, Ridha Allah ada pada ridha orang tua. Jika saat ini kamu mengikuti semua keinginannya maka kamu akan menjadi anak yang solehah. Semua kata-kata itu aku rapalkan dalam hati, memberi semangat pada diri sendiri.
"Rhyani," panggil mama ketika memasuki kamarku. Aku hanya menoleh tanpa menjawab panggilannya. "Ayo, ke bawah, Nak!"
Aku mengangguk lalu mengikuti Mama dari belakang. Hingga sampai di lantai dasar, mataku menemukan seorang laki-laki yang kini mengenakan baju batik warna maroon, yang sedang duduk di antara kedua orang tuanya. Dia mendongakkan kepalanya, ketika Mama menyuruhku duduk.
"Mas Hanif." lirihku pelan.
"Loh, jadi kamu sudah kenal, Nak,
Dan sudah panggil Mas seperti itu!?"
"Maaf, Om, Tante. Sebenarnya Rhyani ini junior saya di rumah sakit." Mas Hanif mengeluarkan suaranya.
"Ya ampun. Allah sudah atur jalannya ya, Jeng!" kata Tante Maria—Ibunya Mas Hanif.
"Wah, iya, ya jeng." sahut Mama.
Kekehan ringan juga terdengar dari papa dan Ayahnya Mas Hanif. Hanya aku yang berdiam tanpa tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa meremas dress warna maroon yang kini kukenakan.
"Hanif, kamu mau bicara sendiri atau diwakili?" Om Ridwan bertanya kepada Mas Hanif. Laki-laki paruh baya yang masih bertubuh tegap ini menatap putra di sampingnya.
"Diwakili aja, Yah."
"Wah, tidak gentlemen kamu, Nif!" papa berseru, terlihat sangat bahagia sekali dan membuat semua orang yang berada di ruangan ini tertawa.
Aku masih berdiam diri. Menyimak ucapan-ucapan mereka yang berasa mulai menggerogoti hatiku.
"Rhyani," panggil Om Ridwan, sambil menatap diriku.
"Iya, Om."
"Yah... " suara Mas Hanif menginterupsi.
"Apa sih, Nif? Tadi kamu bilang minta diwakili, ya jangan ganggu Ayah ngomong dong!"
Suara tawa itu kembali terdengar di ruangan.
"Jadi, Rhyani, kedatangan Om dan keluarga ke sini, mau melamar kamu untuk Hanif. Ya, kalau bisa sih langsung menikah, tidak usah menunggu terlalu lama." jelas Om Ridwan.
Allah, bisakah Engkau membuatku hilang dari ruangan ini. Rasa muak menjalar di hatiku. Aku tidak mungkin menerima lamaran dan perjodohan ini. Namun, untuk menolak pun aku tak mampu, karena melihat Papa dan Mama begitu bahagia di atas semua ini.
Tunjukkan kuasa Engkau, Allah.
"Yah, jangan buru-buru nikah, Hanif dan Rhyani saat ini masih sekolah. Kasian Rhyani juga nanti sekolahnya bisa terganggu." kata Mas Hanif.
Untuk saat ini aku setuju dengan ucapannya. Namun, aku tak mampu melontarkan sepatah kata pun di hadapan mereka.
"Loh, jadi maunya kamu itu gimana, Nif?" tanya papa. Sepertinya papa ingin sekali melihatku menikah dengan calon suami pilihannya.
Pa, jika saja hatiku belum dicuri seseorang, mungkin saat ini aku sedang terbang dan berbunga-bunga. Melihat sosok Most wanted di tempatku belajar, datang ke rumah bersama orang tuanya untuk melamarku.
Katanya laki-laki yang baik itu bukan yang mengajak pacaran, tapi yang datang ke rumah untuk mengajak menikah.
Kenyataannya semua itu terjadi sebelum aku mengenal seseorang yang kini diam-diam telah menyita hati dan pikiranku. Seorang laki-laki yang begitu aku kagumi karena sifat menyebalkannya ketika pertama kali bertemu. Laki-laki yang memiliki suara merdu, yang telah berhasil menerobos masuk ke dalam hatiku.
"Jadi, bagaimana Rhyani, apa pertunangan ini diterima?" tanya papa, membuyarkan semua lamunanku.
"Apa, Pa? Si—apa yang mau tunangan?" Aku gugup sekali ketika mendapat pertanyaan dari papa.
Mata papa berkedip ke arahku, secara tidak langsung itu kode dari papa karena sedari tadi aku sibuk melamun.
Kupejamkan mata, membayangkan kembali semua hal tentang Dokter Hanif, tapi yang aku dapatkan hanya lintasan bayang-bayang Akang Nasyid yang menyebalkan.
"Rhy... " panggil Mama pelan.
"Maaf Om, Tante. Mungkin Rhyani butuh waktu untuk semuanya. Saya juga sadar semua ini terlalu mendadak. Jadi saya bisa mengerti keadaan saat ini," kata Mas Hanif sambil terus menatapku. "Rhy, cincinnya disimpan saja dulu, nanti kalau sudah siap, kita bisa melanjutkan semuanya." sambungnya.
Aku melihat kotak buludru berwarna putih di atas meja, sebuah cincin pertunangan bermata berlian sebesar biji kedelai itu begitu mengkilau memancarkan sinarnya yang terkena cahaya jingga dari jendela.
"Tunggu dulu, Nak Hanif. Rhyani ini hanya syok saja, pasti dia menerima pertunangan ini. Bukan begitu, Rhy?" tanya papa lagi yang kali ini sambil meremas tanganku di bawah meja.
Aku diam.
"Katanya, diamnya wanita itu pertanda, iya." Ibu Mas Hanif menimpali.
"Hahahha ... Iya. Benar itu, Jeng. Mungkin Rhyani ini masih malu, wong yang datang ke rumah itu seniornya," Mama berdecak gemas sekali, tapi yang terlihat olehku adalah sorot mata tidak nyaman karena sikapku hari ini.
"Biar, mama yang pakaikan cincin ini ke jari manis kamu, Rhy."
"Eh, jangan, Jeng! Harusnya saya dong yang menyematkan cincin itu ke tangan calon menantu saya," Ibu Maria menyela ucapan Mama.
"Oh, iya, Jeng. Silakan!"
Kurang dari dua detik, cincin berlian itu sudah melingkar di jari manis tangan kiriku. Seperti ada ratusan beban yang kubawa karena memakai cincin itu. Ada rasa bersalah kepada mereka yang hadir, khususnya untuk Mas Hanif dan hatiku sendiri.
Aku tidak bisa menolak takdir yang diberikan Tuhan untukku, tapi andaikan aku boleh meminta, Tuhan, tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
Aku izin mengundurkan diri dari semua orang yang hadir di ruang tamu. Aku butuh pasokan oksigen untuk jantung dan paru-paruku. Semuanya terasa menyesakkan, bahkan untuk bernapas pun sulit sekali.
Semburat cahaya jingga semakin terang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Terpaan angin kembali memainkan anak rambutku, aku memejamkan mata sejenak, menikmati belaian lembutnya.
"Rhy,"
Aku menoleh ketika suara Mas Hanif memanggiku. Saat ini kami berada di teras depan, menikmati udara sore hari dari pegunungan dan sebuah perasaan yang tidak bisa aku katakan.
"Maaf ya!"
"Untuk apa, Mas?"
"Semua ini pasti bikin kamu syok banget,"
"Tentu. Saya malah sampai minum analgesik untuk meredakan sakit kepala."
Dia terkekeh pelan mendengar ucapanku. "Aku takut banget kamu mendadak bisu karena perjodohan ini," katanya sambil menatap sebuah air mancur buatan di depan rumah.
Asal kamu tahu, Mas. Bukan hanya mulutku yang mendadak bisu, hati dan otakku pun kehilangan fungsinya.
"Iya, itu juga yang saya takutkan."
"Kamu marah, Rhy?"
"Tidak. Hanya masih tidak percaya."
"Hahahaha ... Iya tentu. Aku juga tidak percaya akan semua ini. Awalnya aku Juga syok, ketika Ayah sama ibu mengatakan akan ke tempat tinggalku untuk melamar seorang gadis. Kamu tau tidak, Rhy?" Mas Hanif menatapku dengan sebuah senyuman yang jika saja belum ada nama di hatiku, mungkin aku sudah meleleh mendapat senyum itu.
"Saat Ayah dan ibu menyodorkan sebuah foto gadis yang akan mereka lamar, jantungku mendadak berhenti. Bagaimana mungkin di foto itu kamu. Seorang Rhyani Mahira Wijaya, Dokter Koas yang selalu menjadi As-Opku. Demi Allah, Rhyani. Rasanya doa-doa yang selalu aku panjatkan secepat itu dikabulkan Tuhan."
Aku menatap laki-laki bermata sipit ini dengan tatapan tidak percaya. Terlalu mudah untuk sebuah perasaan, sedangkan hatiku menyebut nama lain, bukan nama dirinya.
"Kamu tau, Mas. Ada yang terjadi di dalam hidupku Dan kamu tidak tau itu."
Semua kata-kata itu hanya terucap di dalam hati. Aku tidak berani mengatakannya. Aku bingung harus memulai semua ini darimana. Allah, Engkau yang Maha segalanya. Kumohon tetapkan hatiku tetap dalam keistiqomahan menyebut satu nama yang aku titipkan kepada-Mu.
"Rhy.. Kamu tidak usah kaku ketika kita di rumah sakit nanti! Anggap saja aku tidak pernah datang ke rumah untuk melamarmu. Biarkan kita menjadi rahasia kita, sampai kamu siap untuk segalanya."
Aku terdiam. Semua ucapan itu tertahankan di dalam rongga mulut, tak bisa terurai meski hati ingin sekali menjerit, bahwa aku tidak bisa menerima perjodohan dan pertunangan ini, apalagi sampai menikah. Tidak. Aku tidak bisa.
"Aku akan setia menunggu kamu, Rhy. Jadi saat ini fokuslah dalam belajar, tidak usah memikirkan semuanya ini."
Aku mengangguk.
Tentu aku tidak akan memikirkan semuanya, karena saat ini hanya satu yang aku pikirkan, hanya dirinya.
Menjelang magrib, Mas Hanif dan keluarganya pamit undur diri. Aku langsung pergi ke kamar, membanting pintu dengan kasar, semua amarahku sudah tidak bisa tertahan lagi. Tidak peduli dengan teriakan papa, aku hanya ingin sendiri.
***
Malam pekat tanpa bintang menjadi temanku dalam sunyi. Sepi datang menghampiri dengan rasa rindu kepada sang pemilik hati.
Kupandang sebuah foto yang tadi siang kuambil tanpa izin. Senyumnya masih terpatri dalam ingatan. Cinta adalah sebuah perasaan alami yang diciptakan Tuhan untuk hamba-Nya. Mencintai adalah sebuah keharusan yang diperintahkan langsung oleh-Nya.
Cinta dan mencintai tanpa sebuah alasan adalah suatu hal yang harus diperjuangkan. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, setidaknya yang bisa aku lakukan hanya berdoa, semoga Allah membalikan keadaan yang semestinya.