
Malik Rabbani Nazzam
Lima bulan sebelumnya ...
Masih menikmati kesendirian bersama dedoa yang tak pernah putus dilatunkan, saya menarik napas pelan, memberikan kesegaran kepada paru-paru yang entah mengapa akhir-akhir ini sering merasakan sesak tak terkendali.
Mungkin inilah yang di maksud penyesalan selalu berada diakhir, bukan diawal. Ahk, ya, apa saat ini saya sedang mengeluh? Semoga saja tidak.
Angin kembali berhembus, menyibak anak rambut yang masih basah karena air wudu Lantas saya hanya bergeming menatap jutaan bintang di langit.
Orion bintang yang paling terang, mampu membuat mata saya tak pernah lelah untuk memandangnya dari jarak jutaan mil di tempat saya berpijak.
Ada sebuah rasa baru yang menyapa relung hati saya. Rasa rindu atau apalah itu, saya pun tidak tahu. Saya hanya merasa akhir-akhir ini dada sering bergemuruh hebat ketika umi menyebut satu nama.
Sebuah nama dalam cerita yang berakhir sama. Sama-sama harus saya lupakan, sebelum memilikinya. Ketika hati kosong, lalu ia datang memberi warna kehidupan yang masih naif untuk saya terima. Ternyata benar, saya bisa jadi bodoh juga.
"Malik," Terdengar suara dari dalam rumah, saya yang sedari tadi sibuk berdiam diri pun segera masuk ke dalam.
"Iya, Umi."
"Masih betah di luar?" tanya Umi yang kini sedang duduk di ruang tengah, ditemani dua gelas wedang jahe yang masih mengepulkan asap.
"Umi kenapa belum tidur?" Alih-alih menjawab, saya malah balik bertanya kepada wanita yang berhasil mendidik saya dengan penuh cinta.
"Nggak tau. Mungkin umi sedang kangen sama bapakmu. Jadi, tidak bisa tidur. Sini, temani umi, Lik!"
Saya langsung duduk di hadapan beliau. Menatap lekat wajah cantiknya yang tak muda lagi.
"Lik,"
"Hmm ...."
"Kamu tidak ingin menikah?"
Mungkin jika dihitung sudah hampir jutaan kali umi bertanya seperti itu. Pertanyaan yang sama, tapi saya sendiri belum mendapat jawabannya.
"Umur manusia tidak ada yang tau, Lik. Bisa jadi malam ini kita masih bisa ngobrol seperti sekarang, setelah pagi datang, Allah akan memisahkan kita."
Saya terdiam. Tidak sedikit pun berniat untuk memotong ucapan beliau.
"Umi bukannya takut akan kematian, yang umi takutkan tidak bisa melihatmu menikah dan hidup bahagia dengan wanita yang kamu cintai."
Jika saja, malam ini hujan deras, saya ingin sekali berteriak untuk mengatakan kepada dunia bahwa hati saya pun menginginkannya.
"Malik," panggil umi pelan, setelah meneguk sedikit wedang jahe yang begitu hangat.
"Doakan Malik, umi." Hanya kata itu yang meluncur bebas dari mulut saya. Setelahnya hening. Saya dan umi sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Umi boleh minta sesuatu sama kamu, Lik?"
"Umi mau apa?" tanya saya.
"Tolong tanyakan hatimu, apa benar tidak ada satu perasaan pun pada Dokter Rhyani?" ucap umi pelan, tapi mampu membuat saya menatapnya tak percaya.
"Maksud, Umi?"
"Orang lain, mungkin bisa kamu bohongi dengan sandiwaramu yang menyembunyikan perasaan. Tapi tidak dengan umi, Nak."
"Mi, mungkin Rhyani itu bukan jodoh Malik. Dia hanya seseorang yang datang lalu pergi lagi."
"Bukankah kamu yang memintanya untuk pergi?" Sebuah pertanyaan yang berhasil menohok saya. Rasanya lidah saya kelu untuk menjawabnya.
Saya terdiam cukup lama. Rasanya seperti mendapat sebuah tamparan yang tak kasat mata.
"Umi," panggil saya pelan.
"Umi sudah ridha, Nak. Sangat ridha. Mulailah hidup yang baru. Masa lalu cukup kamu ingat, jangan jadikan hambatan untuk melangkah."
Saya mengangguk, lalu meneguk wedang jahe yang memberikan aroma khas dan kehangatan pada tubuh saya.
Mungkin malam ini saya akan bergadang lagi. Melantunkan doa lebih banyak kepada sang Maha Cinta agar bisa memberikan jalan terbaik untuk saya. Jika memang sudah saatnya, maka malam ini saya akan membiarkan hati untuk menerima kisah baru dari orang baru. Semoga sakit itu segera berlalu.
***
Siang ini, saya memberanikan diri datang ke rumah Pak Catur seorang diri. Ada sesuatu yang perlu saya luruskan. Dan saya pun ingin mendapat jawabannya.
Saya mengucapkan salam ketika pintu terbuka oleh asisten rumah dan segera menyuruh saya untuk masuk.
"Ditunggu aja, Mas. Saya mau panggil Bapak dan ibu di halaman belakang." ucap wanita paruh baya, lalu ia pamit undur diri.
Saya duduk tidak tenang di sofa mewah ini. Perasaan saya sudah campur aduk, entah seperti apa saya menjabarkannya yang jelas, saya deg-degan sekali.
"Loh, kamu ..., " suara Pak Catur berhasil membuat saya tersentak kaget, lalu saya berdiri dan menyalami beliau serta istrinya.
"Ada perlu apa?" tanya Pak Catur.
Baru saja saya ingin bicara, istri beliau sudah memberikan sebuah informasi yang membuat saya mematung kembali.
"Rhyani tidak ada di rumah. Dia sedang internship di Riau."
"Kapan dia pulang, Bu?" tanya saya memberanikan diri.
Pak Catur tersenyum, "masih lama. Satu tahun dia di sana."
Penyesalan demi penyesalan muncul dalam benak saya. Oh, Allah semoga kesempatan itu masih ada.
"Jadi, ada perlu apa kamu ke sini?"
Saya menarik napas sebentar, lalu menatap lekat wajah kedua orang tua yang jika Allah mengizinkan akan menjadi pelabuhan terakhir tempat saya melabuhkan cinta. "Sa–ya, ingin ..., "
"Sebelum kamu mengutarakan maksud dan tujuan kamu datang ke sini, saya ingin memberitahu satu hal kepada kamu ..., " Pak Catur menjeda ucapannya, "awalnya Rhyani memang sudah saya jodohkan. Tapi semua itu sudah dibatalkan kedua belah pihak."
Ada kelegaan yang berhasil menghampiri hati saya saat ini. Saya bersyukur, ternyata kesempatan itu masih ada.
"Jadi, sekarang kamu mau apa ke sini?" Pertanyaan yang sama pun terlontar dari mulut istri Pak Catur.
"Kedatangan saya ke sini, memang ingin tahu segala hal yang tidak saya ketahui. Dan setelah mendapat jawaban dari bapak dan ibu ...," Saya menarik napas pelan, "saya ingin meminta izin untuk melamar anak bapak dan ibu."
Ah, rasanya ... Seperti remaja yang baru saja menyatakan pernyataannya kepada sang pujaan. Sayang, pujaan saya tidak ada di sini.
Pak Catur dan istrinya saling menatap, lalu tersenyum ke arah saya. "Tapi anak saya sedang di sebrang pulau, loh. Jaraknya jutaan mil dari sini."
"Seberapa jauh pun jaraknya jika bapak dan ibu ridha, lalu Allah mengizinkan, saya akan segera menemuinya." ucap saya lantang.
"Bagus. Itu yang mau saya dengar dari kamu. Saya izinkan, saya juga merestui. Anak saya pergi jauh juga gara-gara kamu. Jadi, jemput dia kembali."
Ucapan terakhir yang terlontar dari mulut pak Catur tidak saya hiraukan. Karena terlalu banyak kupu-kupu yang bertebaran saat ini.
"Insya Allah, Pak, Bu. Saya akan menjemput Rhyani kembali."
Semoga tidak ada halangan ketika saya akan menemuinya. Menyatakan cinta yang sebenarnya, lalu menggandeng tangannya menuju ridha Allah SWT.