Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
15. Pulang


Malik Rabbani Nazzam


Seminggu sudah saya berteman dengan bau desinfektan rumah sakit. Obat-obatan yang tiap hari harus diminum. Bubur tanpa rasa menjadi makanan pengganjal perut. Saya rindu rumah.


Umi tiap hari datang ke rumah sakit. Terkadang beliau bergantian dengan Zenal atau Uwa husein. Rasanya ingin cepat pulang. Rindu rumah. Rindu masakan Umi tapi ada rasa ingin tinggal lebih lama karena ada Dokter yang hampir tiap hari melihat keadaan saya.


Umi bilang, Dokter cantik itu ikut mengoperasi saya. Hampir setiap waktu dia hadir untuk mengecek kondisi pasca operasi.


Saya masih ingat tentang kecelakaan yang hampir membuat nyawa menghilang. Namun, Qodarullah saya masih diberi kesempatan hidup oleh Allah swt. Hanya ada cidera kepala, gegar otak cukup serius yang membuat saya tidur panjang selama dua hari.


Dari tidur panjang itu saya masih bisa merasakan tangisan Umi dan Malikha. Doa-doa yang tak pernah putus dari mereka, dan satu sentuhan lembut yang berhasil membuat mata saya terbuka. Kata Umi, seorang Dokter menangis tersedu-sedu ketika saya belum sadar juga.


Dokter yang dirindukan. Saya rindu dengannya. Menepis semua kenangan saat pertama bertemu dulu, atau beberapa kejadian yang membuat hati saya dibuat tak karuan olehnya.


"Malik ...." suara dari wanita yang begitu saya cinta terdengar merdu ketika masuk ruang rawat inap ini.


"Umi sudah menelpon Zenal untuk menjemput kepulangan kamu." kata Umi ketika beliau menghampiri saya di ranjang.


"Iya, Umi." jawab saya singkat.


"Semua data juga sudah Umi isi. Tinggal menunggu Dokter atau perawat melepas infus dan memeriksa keadaan kamu sebelum pulang."


Saya mengangguk. Lalu terdengar pintu dibuka kembali, kini memunculkan siluet seseorang yang sedari tadi berlarian dipikiran saya.


"Selamat pagi," sapanya.


"Pagi, Dok. Alhamdulillah Dokter sudah dateng. Anak saya sudah ingin cepat-cepat pulang nih, Dok." ucap Umi sambil melirik saya.


Dia tersenyum, "sabar ya, Bu. Kita tunggu Profesor Ali datang. Nanti beliau yang akan memeriksa keadaan pasien. Oh iya, Bu. Terima kasih untuk hadiahnya. Saya suka."


"Hadiah apa, Dok?" tanya Umi.


Dia melirik saya dengan tatapan penuh tanya. Secepat mungkin saya menghindar dari tatapannya. Menutup mata dengan lengan kiri. Seolah tidak tau apa-apa tentang hadiah itu.


"Hadiah untuk saya. Katanya dari Ibu,"


"Malik ...." panggil Umi.


"Hmm," saya jadi bingung sendiri ingin menjawab apa.


Sepertinya Umi mengerti akan situasi yang kini menerpaku. Setelah tidak mendapat jawaban apapun dari saya, Umi memberikan jawaban yang membuat hati saya berdesir mendengarnya.


"Jadi Dokter sudah menerima hadiahnya?"


"Sudah, Bu. Terima kasih." jawabnya lembut.


"Panggil Umi aja, Dok. Sebenarnya hadiah itu bukan dari Umi, tapi dari anak Umi."


"Hah, serius, Bu? Eh ... Umi?"


"Iya, Umi serius, Dok!"


"Panggil Rhyani aja, Umi. Jangan Dok!


Saya belum menjadi Dokter sepenuhnya."


"Wah, semoga cepat kelar masa belajarnya ya, Nak Rhyani."


"Iya, Aaamin, Umi."


"Jadi, Nak Rhyani suka hadiahnya?"


"Suka, Um."


"Alhamdulillah. Nanti mukenanya menyusul ya, sebagai mahar pernikahan."


Saya tersedak ludah sendiri ketika Umi mengatakan hal seperti itu. Allah, rasanya .... Ingin pura-pura pingsan saja.


"Minum dulu, Lik!" kata Umi sambil menyodorkan segelas air putih ke hadapan saya.


Saya melihat Dokter cantik itu tersipu malu. Mengarahkan pandangannya ke arah sinar matahari pagi yang mulai masuk ke dalam ruangan ini.


Suasana semakin canggung, ketika Umi izin keluar. Entah beliau beneran pergi mengurus suatu hal, atau memang sengaja memberi waktu saya hanya berdua dengan gadis yang pipinya bersemu merah.


"Kenapa harus berbohong!? Gengsi ya mau kasih hadiah langsung?"


"Bukan gengsi, saya tidak bisa memberi kejutan romantis."


"Jadi harus banget bawa nama Umi gitu?"


"Iyalah. Pasti langsung diterima kalo Umi yang kasih hadiahnya. Coba kalo saya? Kamu pasti berpikir, saya itu tukang merayu. Iya, kan?"


"Ya nggak gitu juga, ihk. Bodo deh terserah kamu aja, yang penting saya suka hadiahnya." ucapnya sambil menunduk.


Saya menjadi gemas sekali dengan calon Dokter muda yang satu ini. Namun, ada hati kecil yang masih memberontak ketika tahu, Hanif kenal dan dekat dengan dirinya. Saya takut kejadian kelam itu terulang kembali.


"Jangan kangen saya, ya!" kata saya memecah keheningan.


"Kalo kangen, tinggal datang ke The Blue. Pasti ketemu."


Saya terkekeh pelan mendengar jawabannya, "saya nggak akan ada di sana dalam kondisi seperti ini."


"Berarti aku bisa langsung datang ke rumah kamu."


"Memangnya tau?" tanya saya.


"Tau lah. Cuma ada satu rumah di taman itu. Udah pasti itu rumah kamu." ucapnya penuh keyakinan.


"Hahahaha .... Kamu penguntit, ya?"


"Apa pun aku lakukan, demi---"


"Demi apa?" tanya saya, ketika ucapannya terpotong begitu saja.


"Ya, demi apa aja lah,"


Saya kembali terkekeh. Kenapa gadis yang satu ini sangat imut sekali? Persis Malikha jika sedang merajuk.


Saya tidak pernah tahu ini perasaan apa, rasanya saya nyaman jika ada di dekatnya. Dia juga terlihat seperti itu. Gadis yang tak pernah bisa menyembunyikan perasaanya. Tapi, masih ada keraguan di hati kecil saya. Ini tentang masa lalu yang selalu datang menghantui.


Rhyani Mahira Wijaya, sebuah nama yang sekarang mulai saya sebut dalam doa. Entah akan berujung apa, semoga Allah meridhoinya. Hanya itu saja. Biarkan semua ini mengalir dengan semestinya. Saya takut jika terlalu mencintai akan berakhir seperti kisah mimpi buruk yang terus datang menghampiri.


Di dalam diri ini, Allah berikan hati yang lapang agar kelak sakit hati saya tidak larut dalam sakitnya. Tapi mencoba bangkit dan mengobati setiap luka. Saya belajar dari setiap kenangan yang telah menghampiri. Menggerogoti hati dengan penuh penyesalan. Saya tidak mau semua itu terulang kembali.


Rhyani masih setia menemani Umi mengemasi beberapa barang untuk dibawa pulang. Saya jadi bingung sendiri harus memulai obrolan dari mana. Ada desiran yang menyejukkan ketika ia tersenyum dan tertawa saat berbicara dengan Umi. Semoga ini pertanda baik dari Allah untuk hati saya.


Setelah semua selesai, seorang Dokter masuk ke ruangan untuk memeriksa keadaan terakhir sebelum saya pulang. Alhamdulillah semua sudah stabil. Saya hanya perlu kontrol minggu depan. Dokter tersebut tersenyum saat melihat Rhyani masih berada di ruangan saya. Mungkin ini hanya perasaan saya saja, atau memang Dokter yang bernama Ali Sujana itu sedang menyembunyikan sesuatu dengan Rhyani. Biarlah. Itu bukan urusan saya.


Zenal masuk ke ruangan, dan segera membawa satu tas ukuran sedang yang berisi perlengkapan saya selama dirawat di rumah sakit. Lalu kami segera keluar dari ruangan yang pernah menjadi saksi antara hidup dan mati saya saat itu.


Saat kami sedang berjalan di koridor, terdengar suara yang memanggil Rhyani, lalu laki-laki itu segera menarik tangan Rhyani. Saya tertegun ketika melihatnya. Bahkan Umi dan Zenal cukup terkejut memandang gadis yang kini sedang meronta minta dilepaskan tangannya.


"Lik, kamu---"


"Malik tidak apa-apa, Umi." kata saya pelan, memotong ucapan Umi yang sepertinya khwatir dengan keadaan saya saat ini.


"Ayo, Lik. Geura balik!" titah Zenal


[Ayo ,Lik. Cepat pulang!]


Saya mengangguk. Lalu menggandeng tangan Umi. Meringankan segala keterkejutannya atas insiden ini.


Saya tidak bisa berjanji kepada hati dan Rhyani. Jika Allah meridhoi mungkin hati tahu kemana tempatnya pulang. Sekarang hanya bisa pasrah dan berserah diri, semoga ada satu harapan yang bertuliskan nama Rhyani di lauhul mahfudz untuk saya.


Pulang, Lik. Istirahat di rumah. Sudah saatnya hati juga istirahat menerima kenyataan yang Allah gariskan.