Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
17. Penilaian


Salah satu rumah mewah di kawasan Vimala hills itu tampak sepi. Lampu di ruang tamu sudah dimatikan. Hanya ada cahaya terang dari salah satu kamar di lantai atas.


Wijaya, sang pemilik rumah masih sibuk melihat tablet yang sedang menampilkan pekerjaannya. Berulang kali matanya mengernyit saat melihat beberapa laporan dari karyawannya. Inilah hidupnya, hanya ditemani pekerjaan dan istrinya di rumah. Wijaya memiliki satu orang anak perempuan yang kini sedang belajar menurut ilmu di kota orang. Jauh dari anak satu-satunya terkadang membuat hati Wijaya kalut ketika rindu datang menghampiri.


"Teh-nya diminum, Pa!" Suara sang istri terdengar ketika pintu kamar terbuka.


Wijaya menoleh dan mendapati istrinya yang masih tetap cantik meski usia tak lagi muda.


"Bagaimana dengan Rhyani?" tanya Wijaya. Ia tahu istrinya baru saja menghubungi putri semata wayang yang jauh di perantauan.


"Anak Papa lagi sibuk belajar untuk menghadapi UKDI yang tinggal seminggu lagi. Mama nggak mau ganggu konsentrasi Rhyani kalo bahas masalah perjodohan dia."


Wijaya menghela napas.


"Pa, kita harus bagaimana?" tanya Marlina. Pasalnya bukan hanya Wijaya yang dibuat galau akhir-akhir ini. Dia pun masih bingung dengan jalan pemikiran sang putri.


"Kita harus bertemu Ridwan secepatnya." Ucap Wijaya, sambil menyimpan tabletnya di atas meja.


"Papa yakin?" tanya Marlina.


"Sebenarnya Papa juga bingung, Ma. Tapi mau bagaimana lagi. Kita tahu betul watak anak kita itu seperti apa. Rhyani bukan tipikal anak yang mudah goyah prinsipnya." kata Wijaya sambil menerawang jauh ke masa dulu. Di mana putri kecilnya baru lahir dan kini tidak lama lagi gadis kecil itu akan menerima gelar Dokter. Suatu hal yang dulu ditolak Wijaya, tapi putrinya mampu membuktikan semuanya.


"Kita harus secepatnya mengklarifikasi semua ini, Ma." sambung Wijaya.


"Apa pun keputusan papa untuk Rhyani, Mama akan tetap mendukung. Sebagai orang tua, Mama juga ingin yang terbaik untuk anak kita satu-satunya, Pa."


Wijaya mengangguk, "pasti. Papa juga ingin yang terbaik untuk Rhyani. Sekarang kita tidur ya, Ma!"


Ketika malam semakin larut, Wijaya mematikan lampu kamarnya lalu segera beristirahat. Semoga esok masalah yang sedang dihadapi keluarganya segera menemukan solusinya.


***


Matahari pagi mulai menyapa. Cahaya terang dan hangatnya begitu terasa, ketika Wijaya keluar dari rumahnya. Hari ini dia akan kembali bekerja, dan siang nanti jika tidak halangan dia sudah membuat janji untuk bertemu Ridwan calon besan yang sepertinya tak tersampaikan.


Setelah pamit dengan Marlina istrinya, Wijaya segera melajukan mobil keluar dari halaman rumahnya.


Hari ini dia harus bisa memberikan masa depan yang terbaik untuk putrinya, meski kenyataannya mungkin keputusan itu akan menyakiti Ridwan, sahabatnya.


Wijaya tiba di gedung 30 lantai itu. Lalu segera masuk ke dalam ruangannya. Beberapa file sudah menumpuk di meja. Pekerjaan yang akan membuat ia sedikit lupa tentang pergulatan batin dalam dirinya.


***


Ketika sore telah tiba. Matahari mulai munculkan cahaya terang keemasan, Wijaya baru saja tiba di rumahnya. Marlina sudah menyambut seperti biasanya.


"Kita berangkat sekarang! Papa sudah menghubungi Ridwan agar bertemu di family resto," kata Wijaya sambil menyerahkan tas kantornya Marlina.


Marlina mengangguk, lalu menerima jas dan dasi yang dilepas Wijaya.


Setelah mandi dan berganti baju, Wijaya dan Marlina segera bergegas menuju family resto. Di mana Ridwan dan istrinya sudah menunggu di sana.


Family resto merupakan restoran privat untuk keluarga yang terletak di kawasan Rindu alam. Nuansa alam pegunungan begitu sejuk dirasakan. Apa lagi di cuaca terang seperti saat ini. Matahari dengan warna keemasan mampu membuat pemandangan layaknya di negri dongeng dan yang pasti sangat indah dipandang oleh mata.


"Maaf menunggu lama," ucap Wijaya setelah sampai di kursi yang sudah dipesan olehnya untuk Ridwan hari ini.


Ridwan terkekeh, "santai saja, Bro! Kita tidak membicarakan bisnis di sini. Jangan formal seperti itu lah."


Wijaya tersenyum lalu duduk di samping Ridwan. Marlina pun segera duduk di samping istrinya Ridwan.


"Sebenarnya ada acara apa, sih?" tanya Ridwan memecah keheningan.


"Saya mau bahas tentang perjodohan anak-anak kita," jawab Wijaya pelan.


"Ada apa? Apa kamu ingin mempercepat pernikahan mereka, Wij?"


Wijaya tersenyum, "maaf sebelumnya, Wan. Sepertinya saya tidak bisa melanjutkan itu semua."


Ridwan dan istrinya terkejut mendengar penuturan Wijaya saat ini.


"Iya, jeng. Saya mau minta maaf jika keputusan ini membuat Jeng Maria dan Mas Ridwan sedikit terkejut." Marlina menimpali.


"Alasannya kenapa, Jeng Lina?" tanya Maria dengan sorot mata yang sendu. Pasalnya dia sudah jatuh hati pada anak dari sahabat suaminya itu.


Wijaya menyodorkan ponselnya ke meja. Lalu dia membuka video yang kemarin sempat ia pinta dari putrinya.


Kini tatapan Ridwan berubah nanar. Maria menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat dari ponsel Wijaya.


"Wan, awalnya saya tidak peduli dengan video ini. Tapi saya berpikir kembali. Bagaimana nanti keadaan anak saya jika harus menerima perjodohan ini? Setiap orang pasti punya masa lalunya, Wan. Saya tahu Hanif juga seperti itu. Tapi ini—" Wijaya menjeda ucapannya.


"Saya mengerti, Wij." ucap Ridwan lirih.


"Sebenarnya siapa wanita itu, Wan?" tanya Wijaya. Dia sangat penasaran sekali. Meski Rhyani sudah menjelaskannya namun hatinya belum tenang jika tidak mendengar penjelasan langsung dari Hanif atau Ridwan.


"Dia mantan pacarnya Hanif, Wij. Perempuan itu sudah kabur lama sekali. Dan sekarang malah kembali membuat keadaan kacau seperti saat ini." jelas Ridwan sambil menatap kosong gelas minuman yang baru saja diantar oleh pelayan.


"Apa hubungan mereka masih lanjut seperti sekarang, Wan?"


Ridwan menggeleng, "yang saya tahu mereka memang pacaran cukup lama. Saya dan Maria sudah kenal baik dengan anak itu. Tapi Tiba-tiba dia pergi dan mengatakan akan menikah dengan pria lain, karena sudah dijodohkan oleh Bapaknya."


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Para orang tua itu sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Saya tidak akan menuntut jika memang kamu ingin membatalkan semua ini, Wij." ucap Ridwan pelan.


Wijaya terdiam.


"Iya, Mas Wijaya. Saya tidak akan memaksa Rhyani untuk melanjutkan pernikahan dengan Hanif. Saya bisa merasakan kekecewaannya saat ini." Maria menimpali. Di sampingnya Marlina mengusap pelan tangan sahabatnya itu. Dia sendiri masih bingung dengan masalah ini.


"Sekali lagi saya minta maaf, Wan. Anak saya mungkin hanya berdiam saja ketika tahu Hanif mempunyai kekasih, bahkan saat mengetahui fakta itu pun Rhyani tidak marah. Tapi saya Bapaknya, Wan. Saya tahu apa yang sedang dirasakan anak saya saat itu."


Ridwan mengangguk, "menang lebih baik tak perlu dilanjutkan, Wij. Saya paham, kok."


Ada rasa lega di hati Marlina dan Wijaya. Semua ketakutan akan masalah pelik ini akhirnya terjawab seperti apa yang mereka pinta kepada Tuhan.


Perbincangan mereka selesai. Ketika mereka sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan anak-anak mereka. Ridwan dan Wijaya sama-sama ingin yang terbaik untuk anak mereka. Setelah selesai makan bersama, mereka berpisah kembali untuk pulang ke rumah masing-masing.


Di sepanjang perjalanan baik Wijaya maupun Marlina sama-sama bersyukur sekali atas selesainya masalah yang mereka hadapi.


"Sekarang apa yang akan Papa lakukan?" tanya Marlina.


"Kita harus temui calon suami yang di maksud Rhyani, Ma." jawab Wijaya santai.


"Papa yakin?"


Wijaya mengangguk, "tentu. Papa penasaran sekali dengan laki-laki itu."


"Kalau sudah bertemu, Papa mau apa?"


"Mau ngajakin dia main catur bareng, Ma."


Marlina terkekeh pelan, "dasar Papa!"


"Coba kamu tanya anakmu, Ma. Di mana kita bisa bertemu si calon menantu itu?" Seru Wijaya.


"Ok." Marlina bergegas mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan kepada sang anak.


Ting


Satu pesan balasan masuk ke ponselnya.


[Anak Mama]


Malik Rabbani Nazzam. The blue Vegetable park.


"Nih, Pa!" kata Marlina sambil memperlihatkan pesan balasan dari anaknya.


"Di mana itu, Ma? tanya Wijaya. Dia tidak tahu tempat itu dan bisa-bisanya anaknya bertemu dengan laki-laki di tempat seperti itu.


"Sebentar, Pa! Mama searching Google dulu," kata Marlina. Kini tangannya berselancar di media paling mutakhir di dunia.


"Lokasinya di bogor, Pa. Wisata kekinian yang lagi hits banget nih, Pa." jelas Marlina.


"Seriusan itu tempat wisata, Ma?" tanya Wijaya memastikan.


"Iya Papa. Ini kebun sayur yang lumayan keren."


Wijaya mengangguk, "besok kita harus ke sana, Ma!"


"Papa beneran mau ajak si Malik itu main catur?"


Marlina tersenyum, "semoga laki-laki yang bernama Malik itu adalah laki-laki yang baik untuk anak kita ya, Pa."


"Aamiin." jawab Wijaya dengan iringan senyuman.


Cepat atau lambat sebuah pertemuan pasti akan Allah rencanakan untuk hambanya yang tak pernah lelah berdoa. Meminta yang terbaik kepada-Nya. Wijaya percaya itu, mungkin memang benar, ketika cinta tak direstui maka doa yang akan menjadi pengendali.


Rhyani, putrinya pasti tak pernah lelah berdoa untuk sebuah restu untuk laki-laki yang kini masuk ke relung hati anaknya. Wijaya hanya bisa pasrah. Semoga memang ini yang terbaik untuknya.


***


Seperti apa yang sudah ia ucapkan. Pagi ini Wijaya dan Marlina akan datang ke tempat yang membuat anaknya jatuh cinta. Lokasi the blue itu tidak jauh dari rumahnya.


Wijaya mulai melajukan mobilnya pelan, keluar dari halaman rumah dan mulai membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Tak perlu waktu lama, kini Wijaya dan Marlina sudah tiba di gerbang The Blue Vegetable park.


Wijaya segera memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan. Matanya terpukau ketika melihat keindahan alam yang begitu indah Allah ciptakan lewat tangan manusia ini.


"Ini keren, Ma." kata Wijaya ketika matanya disuguhkan pemandangan sayur-sayuran yang baru tumbuh. Begitu indah.


Tidak ingin berlama-lama, Wijaya dan Marlina segera menelusuri jalan setapak di pematang sawah. Saung yang berada di sana ramai diisi oleh pengunjung. Wijaya dan Marlina terus berjalan hingga tiba di sebuah ladang sayur kubis yang sedang dipanen.


"Anakmu, Pa. Bisa aja cari calon petani kayak begini," Marlina berdecak sambil tersenyum.


"Iya, ya, Ma. Mungkin dia bosen melihat pria berjas putih yang sering dia temui di rumah sakit."


Marlina kembali tersenyum membayangkan anaknya yang sedang dimabuk cinta oleh petani sayur itu.


"Yang mana si Malik itu, Ma?" tanya Wijaya.


"Lah, Mama juga tidak tahu, Pa. Kita tanya aja sama Bapak yang di sana itu, pa!" Marlina menunjukan seorang Bapak yang berdiri di bawah pohon akasia.


"Ayo, Ma!"


Wijaya dan Marlina pun berjalan pelan untuk menghampiri Bapak tersebut.


"Permisi, Pak," ucap Wijaya sopan.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau tanya yang namanya Malik itu yang mana ya, Pa?"


Bapak di hadapannya menatap Wijaya sebentar lalu tersenyum, "Bapak cari Malik?"


"Iya, Pak."


"Itu, Pak," kata si Bapak yang ada di hadapan Wijaya. Tangan Bapak itu menunjuk seorang laki-laki yang memakai baju warna coklat sedang membantu para petani yang sedang memanen sayur kubis.


"Dia petani, Pak?" tanya Wijaya dengan tatapan tidak percaya.


"Bukan, Pak. Jang Malik itu pemilik lahan ini. Saya yang petani di sini."


Hati Wijaya berdesir ketika mendengar ucapan Bapak yang berada di depannya. Dilihat kembali laki-laki muda yang terus memanen sayuran dengan penuh senyuman. Seperti inikah laki-laki yang berhasil mencuri hati putrinya?


"Sebentar ya, Pak. Biar saya panggilkan Malik ke sini!" Kata si Bapak itu. Wijaya hanya mengangguk. Otaknya masih mencerna semua hal yang baru ia ketahui saat ini.


"Ma, serius anakmu jatuh cinta sama petani muda itu?" tanya Wijaya kepada Marlina.


"Dia bukan petani, Pak. Tapi pemilik." ucap Marlina sambil terkekeh pelan.


Seorang laki-laki muda sedang berjalan pelan ke arah mereka. Wijaya dan Marlina sama-sama menatap laki-laki itu dengan intens. Benar dia berbeda jauh sekali dengan Hanif. Kulitnya sedikit kecoklatan karena mungkin sering terpapar sinar matahari tapi yang membuat Wijaya dan Marlina kagum adalah aura yang terpancar dari laki-laki muda yang kini sudah berada di depannya.


Wajahnya sangat menyejukkan bagi siapa pun yang melihatnya. Seulas senyum terbit begitu saja di bibirnya dan mampu memunculkan lesung pipi di kedua pipi laki-laki itu.


Wijaya menggeleng pelan. Ternyata anaknya benar-benar pintar sekali mencari laki-laki yang ketampanannya akan bersaing dengan dirinya.


"Permisi, Pak. Bapak cari saya?" tanya pemuda itu dengan sopan.


"Iya, saya mencari Malik Rabbani," ucap Wijaya pelan.


Laki-laki itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke arah Wijaya, "saya Malik, Pak."


Wijaya menerima uluran tangan itu, "Wijaya. Ini istrinya saya Marlina." ucap Wijaya sambil memperkenalkan istri yang berada di sampingnya.


Anak muda itu kembali tersenyum lalu menyimpan tangannya di dada ketika Marlina mengulurkan tangan.


Nilai plus diberikan Wijaya begitu saja kepada anak muda yang ada di depannya saat ini. Zaman sekarang laki-laki dan perempuan sudah lupa dengan batasan-batasan islam yang sering dijelaskan, namun tidak dengan laki-laki muda yang saat ini sedang berada di depannya.


"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, Mas Malik," kata Wijaya pelan.


"Oh, mari ikut saya ke saung utama, Pak. Kita bisa ngobrol di sana." pinta anak muda itu.


Wijaya dan Marlina hanya mengangguk. Lalu mereka mengikuti langkah Malik menuju saung utama yang dimaksud.


Sampai di saung utama Wijaya dan Marlina begitu kagum dengan cara penyambutan anak muda itu saat menerima tamu. Wajahnya begitu berseri. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.


"Bapak mau bicara apa?" tanya Malik.


"Apa kamu bisa bermain catur?"


Marlina tersenyum tipis ketika melihat Malik mengerutkan keningnya.


"Maksudnya, Pak?"


"Rumah saya di vimalla hills. Jika kamu tidak sibuk, kamu bisa berkunjung ke sana. Kita main catur bareng."


Malik mengernyit, "saya tidak mengerti apa yang Bapak maksud."


Wijaya terkekeh pelan, "saya juga bingung, Mas. Saya cuma penasaran sama yang namanya Malik. Setelah bertemu, saya benar-benar ingin mengajak Mas Malik bermain catur."


Malik menggeleng, "main catur yang Bapak maksud itu apa?"


"Hemm ... Maaf ya, Mas Malik. Sebenarnya ada seseorang yang menyuruh kami untuk bertemu Mas Malik di sini." Marlina menimpali. Dia sudah dibuat gemas dengan kelakuan suaminya saat ini.


"Siapa, Bu? Apa dia kolega bisnis ibu?" tanya Malik yang terlihat masih bingung dengan kedua tamunya saat ini.


"Bukan, Mas. Dia—"


Ucapan Marlina terputus ketika seorang wanita paruh baya datang ke saung sambil membawa makanan dan minuman.


"Silahkan diminum, Pak, Bu!" titah wanita itu lalu pergi meninggalkan saung kembali.


Wijaya dan Marlina kembali memberikan nilai plus pada laki-laki muda ini.


"Mas Malik," Panggil Wijaya pelan.


"Iya, Pak."


"Kalo punya waktu silakan datang ke rumah saya. Banyak sekali yang ingin saya bicarakan. Mungkin sambil bermain catur agar tidak tegang."


Lagi-lagi Malik hanya mengernyit dengan ucapan tamunya saat ini.


"Saya tunggu di rumah ya, Mas Malik."


"Maaf, Pak. Saya masih tidak mengerti apa yang bapak maksud."


"Nanti aja mikirnya ya, Mas. Kami mau pamit pulang. Terima kasih atas waktunya." ucap Marlina sambil menahan tawa. Lalu ia menarik sang suami untuk segera pergi dari hadapan laki-laki muda yang dicintai putrinya.


Wijaya dan Marlina benar-benar pamit undur diri meninggalkan Malik dengan segala kebingungannya.


"Papa merasa jahat nggak, sih?" tanya Marlina ketika mobil yang dikemudikan suaminya keluar dari gerbang kebun sayur itu.


"Nggak. Papa biasa aja."


Marlina berdecak, "ish, Papa. Mama jadi Kasian banget liat wajah polosnya si Malik tadi."


"Biarkan aja, Ma. Sekarang Papa sudah tau jawaban yang membuat Rhyani jatuh cinta sama petani tadi. Dia benar-benar beda sekali dengan Hanif."


"Mama setuju soal itu, Pa. Lalu rencana papa selajutnya apa?"


"Banyak. Tapi saat ini papa hanya ingin melihat Rhyani fokus dulu sama ujiannya nanti."


Marlina mengangguk.


Manusia tidak pernah tahu mereka akan berjodoh dengan siapa. Sebagai orang tua, Marlina sadar bahwa saat ini hanya doa tulusnya lah yang mampu menjadi penopang untuk putrinya. Ridho Allah ada padanya, jika ini yang terbaik maka Wijaya dan Marlina akan ridho dengan laki-laki pilihan putrinya.