Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
14. Senyum Yang Dirindukan


Hari-hariku masih sama. Rumah sakit, rekam medis, pasien, ruang operasi, shif malam, dan masih banyak lagi rangkaian yang aku habiskan hampir empat tahun ini. Tiga minggu lagi, jika Allah mengizinkan aku akan melaksanakan UKDI semacam ujian setelah empat tahun belajar.


Tidak ada yang berubah. Hanya saja saat ini, ada seorang pasien yang aku rawat dengan khusus. Meski aku bukan Dokternya. Tapi setiap pagi sebelum memulai pekerjaan, aku menyempatkan diri menjenguknya di kamar rawat. Saat mengetahui dia sudah sadar, ada rasa ingin memeluknya, mengucapkan terima kasih karena sudah bertahan dan sadar kembali. Aku bahagia.


Seperti biasa, aku datang lebih pagi ke rumah sakit. Tidak peduli dengan suara histeris dari Ratih yang melihatku sudah berangkat pergi padahal jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Rasa syukur di hatiku semakin bertambah, ketika aku sampai di ruang Kenanga tempat dia dirawat saat ini.


Kuketuk pintu pelan, lalu membukanya. Aku tertegun ketika ranjang pasien itu kosong. Tidak berpenghuni. Ke mana dia? Aku masuk ke dalam kamar pasien ini, kubiarkan pintu terbuka lalu aku mencarinya. Nihil. Dia tidak ada di kamar.


"Cari siapa, Bu Dokter?"


Aku terlonjak kaget ketika mendengar suara bariton miliknya.


"Ka ... Mu, dari mana?" tanyaku pelan, sambil terus menetralkan detak jantungku.


"Dari luar. Bosen di kamar." jawabnya lalu masuk ke dalam, mendorong botol infus yang menggantung pada tempat khusus itu.


"Kenapa ke luar? Seharusnya kalo mau ke luar itu bisa panggil perawat, biar ada yang bantu." cecarku, lalu membantunya duduk di ranjang pasien.


Dia tersenyum tipis, "nggak mau merepotkan orang lain."


"Heh, aku bukan orang lain ya. Tapi seorang Dokter. Sudah tugas kami merawat pasien hingga sembuh."


Dia kembali tersenyum, kini lebih mengambang Indah. Aku terpesona tiap kali melihat seulas senyum yang terbit di bibirnya. Lesung pipinya menjadi pemandangan yang selalu menakjubkan di mataku.


"Iya, maaf Bu Dokter."


"Masih ada yang sakit?" tanyaku sambil menatap lekat wajahnya. Merekam setiap inci makhluk Tuhan yang tercipta penuh keindahan.


"Jangan liatin kayak gitu! Saya jadi malu tau." rengeknya persis seperti anak kecil.


Aku terkekeh pelan, "kamu bisa bersifat kayak gini juga, ya?"


"Ya bisa, lah. Namanya juga manusia. Gimana sih, Bu Dokter ini?"


"Jadi, masih ada yang sakit?" aku mengulang pertanyaan yang sama.


"Nggak ada. Cuma kepala masih suka nyeri sedikit."


Aku mengangguk, "nanti CT-SCAN lagi, agar jelas semuanya."


"Saya kapan diizinkan pulang?"


"Nanti kalo sudah pulih semuanya. Makanya jangan malas makan dan minum obat!" titahku


Dia mengangguk, "ok. Siap, Bu Dokter."


"Sudah sarapan? Ini aku bawain bubur ayam."


"Apa tidak ada yang lain Selain bubur, Dok? Saya mulai bosan makan makanan kayak gitu."


"Cobain dulu, nih .... " aku menyodorkan satu sendok bubur ayam ke arah mulutnya, "ini bikin sendiri tau. Jelas beda rasanya sama bubur rumah sakit."


Dia menerima suapan itu lagi-lagi persis seperti anak kecil.


"Enak?" tanyaku.


"Enak." jawabnya, lalu meraih kotak makan yang sedang kupegang.


"Bu Dokter jualan bubur juga ya?" tanyanya sambil memasukan suapan bubur ke mulutnya.


"Sembarangan kalo ngomong! Ini bubur spesial, dibuatnya dengan penuh rasa sayang."


Malik tersedak kunyahan bubur di mulutnya. Matanya sampai berair, aku pun segera memberinya segelas air putih.


"Kalo makan itu pelan-pelan!" decakku pelan.


Dia hanya menatapku. Sepertinya sudah tidak berniat lagi menyuapkan bubur ke mulutnya.


"Rasa sayang itu kayak gimana?" tanyanya dengan tatapan ... Yang sulit aku jabarkan.


"Seperti seorang Dokter kepada pasiennya."


Dia tersenyum, "saya boleh bertanya?"


"Ya, tanya aja. Selagi tanya itu gratis tidak ada larangan dalam undang-undang."


"Kata Umi saya, saat saya masih kritis ada seorang Dokter yang menangis. Bu Dokter tau nggak, dia itu siapa?"


"Eh, " aku terkejut mendengar pertanyaannya, "Memangnya mau ngapain?" tanyaku.


"Pengin tau aja. Soalnya saya baru ditangisin anak orang. Kata Umi, sampai terisak banget nangisnya."


Aku mengarahkan wajah ke arah jendela yang memancarkan sinar matahari pagi. Rasanya malu karena ketahuan menangis di depan Ibunya Malik, dan sekarang malah mendapat pertanyaan konyol dari anaknya.


"Bu Dokter ...." panggilnya pelan.


"Eh, iya, apa?" jawabku gugup.


"Kenapa jadi gugup gitu, sih?"


"Kamu nih, pagi-pagi jangan menyuruh saya untuk mikir. Males jawabnya."


Malik tertawa pelan, "hahaha ... Ya sudah. Nggak usah dipikirin!"


Malik mengambil sesuatu dari bawah bantal, sebuah bungkusan berwarna biru dengan amplop putih yang menempel di bagian depan. Lalu menyodorkannya ke arahku.


"Apa ini?"


"Hadiah."


"Buat siapa?" tanyaku heran.


Aku menatapnya tidak percaya. Apa ini, Tuhan? Skenario apa yang sedang Engkau tulis untukku?


"Aku nggak ngerti,"


"Makanya dibuka kadonya. Nanti juga mengerti."


Lalu aku mencoba membuka bungkusan kado tersebut. Sebuah sajadah berwarna biru dengan ukiran emas yang begitu indah, berhasil membuatku takjub. Ini apa? Mengapa sebuah sajadah?


"Ini ...." aku mengangkat sajadah itu ke hadapannya, "maksudnya apa?"


"Itu sajadah, Bu Dokter. Hadiah dari Umi untuk kamu. Umi bilang sajadah itu spesial ia beli waktu umrah dua tahun lalu. Untuk calon menantunya."


Aku tersedak air ludahku sendiri. Malik terlihat sedang tersenyum manis. Senyum yang aku rindukan selama ia tak sadar pasca operasi. Masih senyum yang selalu membuat jantungku berdebar tak karuan. Rasanya udara pagi yang sejuk pun terasa menyesakkan ketika mendengar ucapannya.


"Ngawur kamu!" ucapku pelan, menyembunyikan rona bahagia darinya.


"Saya serius, Bu Dokter." jawabnya penuh keyakinan.


Aku hanya menggeleng, lalu melebarkan sajadah itu di tangan. Ukiran emas begitu Indah, tertulis kaligrafi lafaz sebuah doa yang sering aku dengar ketika ada acara akad pernikahan. Sajadah berbahan lembut, nyaman sekali jika dipakai bersujud panjang di sepertiga malam.


"R ... Itu apa?" tanyaku ketika melihat lambang huruf 'R' di bawah ukiran kaligrafi itu.


"Dulu 'R' itu Rahmat, Bapak saya. Sekarang kata Umi jadi Rhyani calon menantunya."


"Hah!? Kamu tau dari mana nama aku?"


"Tuh ...." Malik menunjuk ID CARD yang menempel di sneliiku.


"Rhyani Mahira Wijaya. Salam kenal, ya. Saya Malik Rabbani Nazzam."


Aku mengulurkan tangan ke arahnya, lalu Malik pun meraih tanganku sebentar.


"Salam kenal, Bang Malik."


Kami terkekeh pelan. Aku tidak menyangka seorang Malik bisa sehangat ini, semoga tidak ada yang salah dengan otaknya pasca kecelakaan itu. Semoga apa yang ia ucapkan didengar Malaikat dan segera dikabulkan Tuhan.


Malik-ku masih menjadi seseorang yang paling berarti dalam hidup setelah Mama dan Papa.


"Lik, abdi mawa sarapan,"


[Lik, saya bawa sarapan]


Terdengar suara seseorang yang datang ke ruangan. Aku pun menoleh ke belakang dan mendapati seorang laki-laki yang berpostur tinggi, kulitnya sawo matang, potongan rambutnya cepak ala TNI sedang menatapku heran.


"Selamat pagi," sapaku.


"Pagi, Dok. Sepagi ini sudah melakukan pemeriksaan?" tanyanya sambil berjalan pelan ke arah brankar, lalu menyimpan bungkusan yang ia bawa di meja.


"Iya," jawab saya pelan.


"Dokter ini khusus merawat Malik aja, ya?"


Aku terkejut lalu tersenyum tipis, "hmm ...."


"Nggak usah kepo deh, Nal!" Malik memotong ucapanku.


Tatapan mata laki-laki itu mengintimidasi Malik dengan lekat, "calon?"


Tawaku hampir pecah seketika. Apalagi ini, Tuhan? Mengapa semua menjadi seperti ini? Memang ini doaku setiap waktu. Aku tidak menyangka Engkau mengabulkannya secepat ini.


Aku dan Malik saling tatap. "Doakan aja," jawab Malik santai.


Aku tersipu malu mendengar ucapannya. Allah, tolong peluk hamba.


Laki-laki itu mengeleng pelan, "abdi laporkeun yeuh, udah berani cinta-cintaan ayeuna mah."


[saya laporkan nih, sudah berani cinta-cintaan sekarang mah.]


"Sok, lah laporkeun! Biar geura dibawa ke KUA."


[Silakan aja laporkan! Biar cepat dibawa ke KUA]


Aku tidak mengerti mereka berdua sedang berbicara apa. Hanya KUA saja yang aku mengerti dan kata itu langsung membuat darahku seakan berhenti sesaat. Oksigen sulit sekali kuhirup. Kepalaku mulai pening karena mendengar ucapan Malik. Plis, Malik jangan menggombal di pagi hari.


Aku menggeleng pelan, ketika mereka asyik tertawa di atas rasa pusingku yang berbunga-bunga.


"Bu Dokter mau tetap di sini? Saya mau mandi, nih. Udah lengket banget kayaknya badan saya ini."


Aku refleks melotot ke arahnya, yang membuat laki-laki di samping Malik tertawa puas sekali.


"Kamu, ya ..." aku geram sendiri. Sejak kapan Malik jadi seperti ini? Aku harus menghubungi Profesor Ali untuk segera melakukan CT-SCAN dan MRI pada Malik. Aku takut jika terjadi sesuatu pada otaknya.


"Bercanda, Bu Dokter. Eh, tapi saya beneran sudah boleh mandi, kan?"


"Tidak boleh." jawabku penuh penekanan.


Malik hanya mengangguk, "baiklah jika seperti itu."


"Ya sudah, buburnya jangan lupa dihabiskan. Saya permisi dulu!"


"Nanti siang jangan lupa ke sini lagi ya, Dok. Soalnya saya mau pulang. Ini pasien berkebutuhan khusus tidak ada yang jaga. Uminya lagi mengurus daftar sekolah adiknya." ucap laki-laki yang masih terkekeh melihat rajukanku.


"Berkebutuhan khusus apa?"


"Dia berkebutuhan khusus Cinta dan kasih sayang seorang wanita setelah Uminya. Kasian banget ini keponakan saya, Dok!" katanya dengan nada memelas.


Aku hanya menggeleng, lalu pergi dari ruangan. Sebelum benar-benar pergi aku masih bisa mendengar tawa Malik yang selalu aku rindukan. Malik terlalu cuek saat pertama kali bertemu dulu dan saat ini aku seperti bahagia mendengar tawanya.


Aku berikrar di dalam hati, bahwa semuanya baru saja dimulai. Perasaanku mendapat rambu hijau darinya. Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja, hingga Allah meridhoi semuanya.