
**Ya.. Untuk senyummu yang cantik, yang mengirimkan Cinta, dan mengutus kasih sayang.
Ya.. Untuk kata-katamu yang baik, yang membangun persahabatan dan mengahapuskan rasa benci.
\-Aidh Al Qarni**\-
***
Wahai hati yang pernah terluka, apa kabar? Semoga semakin membaik. Aku sudah berupaya semaksimal mungkin untuk membuatmu sehat kembali. Tetap jaga dirimu, jangan membiarkan orang lain merobek luka yang sedang kau obati sendiri.
Wahai perasaan yang pernah patah, Apa sekarang sudah bisa bergerak kembali? Kuharap sudah, Karena cepat atau lambat kamu akan merasakan euforia yang lebih dahsyat lagi.
Wahai aku, apa sudah bisa merasakan perasaanmu sendiri? Kuharap sudah, karena saat ini, aku bukan hanya butuh vitamin untuk kesehatan tapi juga senyumnya yang selalu menambah semangat hidupku.
Jika belum siap, katakanlah! Aku tidak bisa memaksakan suatu kehendak, bahkan ketika Tuhan pun belum mengizinkan, tapi aku percaya bahwa semua hal yang terjadi dalam hidupku atas kehendak-Nya.
Begitu isi tulisan yang sedang kuketik dalam sebuah file khusus di laptopku. Aku tidak biasa bercerita kepada orang lain, setelah apa yang terjadi di kehidupanku saat dulu. Biarlah semua itu kusimpan rapi dalam bingkai nestapa kesunyian.
Kuambil ponsel yang sedari tadi di atas nakas, membuka kembali galeri foto yang sebenarnya tabu sekali untuk kubuka, Tapi aku merindukannya. Sangat merindukannya.
Kekasih hatiku yang pergi entah kemana, seakan mati tertelan bumi. Aku lelah jika harus terus mencarinya, Sedangkan ia pergi saja tanpa pamit kepadaku.
Kuhirup aroma klasik dari teh panas yang masih mengepulkan asapnya. Teh krisan, teh kenangan antara aku dan dia. Aku benci suasana hati yang sedang rindu ini.
Angin malam, bawa saja semua perasaan ini. Tolong sampaikan pula kepadanya, aku ingin bahagia tanpa jerat kenangan darinya.
Kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Lelah sekali tubuh ini, seharian beraktifitas sampai lupa bahwa hatiku juga butuh istirahat.
Kita tidak pernah tahu akan seperti apa dunia yang sedang kita pijaki. Saat kita lahir, ibu yang dengan tulus menuntun kita untuk menjadi anak kebanggaannya. Setelah dewasa, kita akan menemukan orang baru yang akan menuntun kita, berjalan beriringan menuju Ridho-Nya.
Takdir tak pernah salah, tapi terkadang cara kitalah yang salah ketika menghadapinya.
Aku menutup layar laptop yang masih menyala. Segera kuminum teh krisan yang mulai dingin itu, lalu bergegas tidur. Esok pagi, banyak pekerjaan yang sudah menanti. Ada hati yang harus bertemu tuannya. Ada perasaan yang harus tersampaikan. Malam ini jangan lupa berdoa sebelum tidur.
***
Pagi ini aku sudah rapi dengan setelan kemejaku. Tiada rutinitas yang berarti ketika menjadi anak perantauan, jauh dari orang tua, jauh dari keluarga, tapi entah kenapa malah sangat dekat sekali dengan kenangan yang memilukan.
Pukul 07.05, aku mulai memanaskan mesin mobil, sambil membaca koran pagi yang sudah ada di garasi seperti biasanya.
Mungkin dari kita pernah merasakan 'hidup segan, mati pun tak mau'
Aku sering berada di titik ini. Seperti sedang memakan buah simalakama, aku bingung tiada henti. Jika aku mati, maka sia-sia hidupku selama ini. Jelas aku mengatakan seperti itu, karena hidupku belum bisa menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Katanya, bila anda berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Maka dari itu aku tidak akan menunggu dan mencari Alifha lagi.
Mobil yang aku kemudikan mulai keluar dari komplek perumahan, membelah jalan Raya dengan udara pagi yang masih cukup segar untuk paru-paru. Kaca mobil kubiarkan terbuka, menikmati semilir angin pagi yang mampu menusuk pori.
Aku tiba di rumah sakit, kuparkirkan mobil di tempat biasanya dan segera bergegas ke ruangan khusus Dokter residen.
"Selamat pagi, Dokter Hanif," sapaan itu datang dari dua orang koas bedah syaraf ketika kami bertemu di lift rumah sakit.
"Pagi juga! Kok, tumben cuma berdua? Biasanya kalian bertiga," tanyaku pada kedua koas tersebut. Agak aneh memang, aku hafal betul wajah-wajah koas ini, apalagi dengan temannya yang hari ini tidak ada di samping mereka.
Mereka saling menatap lalu tersenyum aneh ke arahku. "Oh, maksud Dokter Hanif itu Rhyani, ya?"
"Iya. Kemana dia?"
Kali ini mereka tanpa malu tertawa terbahak-bahak di depanku.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
Mereka menghentikan tawanya, "Tidak ada, Dok!"
"Lalu?"
"Rhyani telat, Dok."
"Maksudnya?" tanyaku lagi. Aku benar-benar tidak mengerti dengan dua koas ini.
"Dia terlambat, Dok. Terkena macet di jalan. Kemarin abis pulang ke rumah orang tuanya." jelas koas bernama Ratih itu.
"Oh,"
"Kami duluan ya, Dok!"
Aku hanya mengangguk, lalu mereka berdua pergi dari hadapanku.
Ketika aku sampai ruangan lalu membuka pintunya, Setumpuk rekam medis pasien sudah menungguku di meja. Aku tersenyum, seakan mereka adalah sahabat-sahabatku yang selalu mengerti keadaan. Ketika aku lelah dan putus asa, maka merekalah yang menjadi penyemangatku.
Ya, sang penyemangat itu adalah rekam medis pasien, lalu guru terbesar dalam hidupku ialah para pemilik rekam medis tersebut.
Kubaca satu persatu data rekam itu dengan teliti, ada hampir lima belas pasien yang akan aku tangani hari ini. Mataku tertarik pada sebuah rekam medis dari wanita berumur 55 tahun dengan diagnosa tumor di dekat syaraf mata.
Tumor dekat syaraf mata agak rumit jika kita melakukan operasi. Aku akan mendiskusikan masalah ini dengan Profesor Ali, semoga beliau mau membantuku menangani pasien ini.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, "Masuk!" kataku. Lalu pintu tersebut terbuka oleh seorang Perawat yang biasa menemani visitku.
"Ok. Saya ambil stetoskop dulu!"
Setelah semua telah siap, aku bergegas pergi ke ruangan Kenanga bersama Suster Mona.
Di koridor dekat bangsal melati mataku melihat seorang perempuan yang sedang lari terburu-buru, bahkan ia menguncir rambutnya sambil berlari. Pemandangan baru dalam hidupku. Melihatnya hadir di pagi hari, seperti matahari terbit yang dirindukan bumi.
"Hey, mau kemana kamu?" panggilku.
"Pagi, Dokter Hanif. Saya mau ke bangsal anak!" katanya dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Aku menepuk bahunya pelan. Menyalurkan energi positif dengan semangat baru untuknya. "Semangat. Kerja yang bener!"
Ia tersenyum mengangguk. Iris matanya yang bening itu mampu membuat warna baru dalam hidupku. Semoga Allah membuka hatiku untuk perasaan yang baru.
***
Azan zuhur telah berkumandang 20 menit yang lalu, dan aku baru saja menyelesaikan solat fardu. Kududuk bersandar di tembok masjid, meregangkan otot-otot yang banyak terforsil karena jadwal operasi hari ini.
Hembusan angin menerpa wajahku yang masih basah karena air wudu.
Suara notifikasi dari ponselku berbunyi pelan, aku pun segera mengambilnya dari saku snelli. Sebuah pesan yang mampu membuat lengkungan senyum terbit di bibirku.
[Di kantin, sama Bian dan Ratih]
[Mas Hanif sudah makan belum?]
[Atau mau makan siang bareng kita?]
Pesan beruntun itu mampu menetralkan syaraf otakku hari ini.
Aku pun segera membalasnya,
[Otw, kantin!]
Setelah kukirim pesan tersebut, aku segera bangkit berdiri, dan bergegas pergi ke kantin.
Tidak ada yang istimewa, aku pun baru berusaha memulainya. Meski hatiku masih menyimpan satu nama, semoga nama baru ini mampu menghapus semua luka.
Tiba di kantin, aku menemukan sosok gadis itu. Dia masih sibuk makan dengan kedua temannya. Aku menarik kursi tepat di sampingnya yang membuat kedua temannya memberikan senyuman penuh tanda tanya.
"Kenapa liatin saya kayak gitu?" tanyaku pada mereka.
"Wajah Dokter Hanif ini berseri sekali. Apa sih rahasianya, Dok?" tanya Bian. Koas yang paling aku andalkan untuk menemani bermain game di ruang residen.
"Rajin wudu, salat itu penting!"
"Lalu, Dok?" kini giliran Ratih yang bertanya.
Aku tersenyum, "dapat traktiran gratis dari kalian,"
"Anjirrr!!!!" Bian berteriak histeris.
"Language, Bian!"
"Hehehe.. Sorry, Dok."
"Jadi siapa yang mau traktir saya makan siang hari ini?"
"Rhyani, Dok." jawab mereka kompak banget. Aku melirik gadis yang kini sedang memanyunkan bibirnya.
Gemas sekali!
"Gue belum dapet kiriman dari Ayang," jawabnya pelan. Jantungku agak berlebihan ketika merespon ucapannya.
"Ayang?" tanyaku memastikan, Membuat kedua sahabtanya menahan tawa dalam diam.
"Iya, Ayang Papa."
Tawaku pecah seketika.
Ini anak beneran minta dicubit pipinya kali, ya? Bisa-bisanya membuat saya menahan sesuatu di dalam dada.
"Ya udah, saya bayar sendiri aja!"
"Nah, gitu dong, Dok. Jangan cuma gara-gara traktiran, image Dokter Hanif jadi anjlok di mata Rhyani." kata Bian yang masih sibuk terkikik geli.
Mereka bertiga ini sangat lucu bagiku. Bian si koas pato, yang Alhamdulillah sekarang sudah mendapat petunjuk dari Allah. Sudah tobat dan sudah belajar dengan sungguh-sungguh.
Lalu, koas Ratih yang hobi sekali foto selfi, terkadang membuatku jengah melihatnya.
Dan yang terakhir ada Rhyani, koas favorit para residen dan konsulen. Rhyani gadis cantik bermata bundar, rambutnya hitam panjang sepunggung, yang jika tersenyum mampu membuat pelangi di hidupku.
Katanya, tiga koas ini tergabung dalam komunitas pencinta alam, anak-anak traveler, tapi kenyataanya mereka traveling dari satu stase hingga ke stase lain di rumah sakit untuk mengejar cita-cita mereka sebagai Dokter.
Setiap manusia punya caranya sendiri untuk bisa membahagiakan hidupnya. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa seseorang yang kuat terlahir dari masalah sulit yang mereka hadapi.
Ketika orang terkasih pergi meninggalkan kita, maka Allah akan menggantikan dengan jejak yang baru. Semoga kamu, iya, kamu yang sedang tersenyum di sampingku.