Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
19. Kejutan


Malik Rabbani Nazzam.


Rasanya butuh waktu lama untuk pulih pasca kecelakaan itu. Memang, semua luka sudah tidak terlihat. Saya hanya perlu periksa jika rasa sakit itu kembali menyerang kepala saya.


Kini ketika saya rasa semua keadaan telah membaik. Dua bulan lamanya hanya rebahan di rumah saya pun memutuskan untuk kembali bekerja seperti biasanya. Kembali ke ladang perkebunan, berbaur dengan para petani yang kini sedang memanen sayuran kubis. Saya rindu sekali aktifitas ini.


"Wah, Bang, sudah bekerja aja. Memang sudah sehat?" Arifin yang saat itu melihatku turun ke ladang langsung berseru kegirangan.


"Tangan sama kaki sudah nggak betah diajak diam, Fin." jawabnya saya sambil tersenyum ke arahnya.


"Jangan kecapekan ya, Bang. Nanti tumbang si Malikha bakal marah-marah sama Afin," Gerutunya sambil menyerahkan sebuah alat pemotong khusus untuk memanen kubis.


Saya terkekeh pelan, "iya, tenang aja, Fin."


Lalu kami segera memetik sayuran kubis yang terhampar di depan kami.


"Jang Malik, aya tamu." Terdengar teriakan dari Uwa Husen dari arah belakang saya.


[Jang Malik, ada tamu]


"Siapa, Wa?" tanya saya lalu menyerahkan alat pemotong kubis ke Arifin.


"Eta, Bu Dokter geulis, Jang." seru Uwa Husen.


[Itu, Bu Dokter cantik, Jang]


Saya tersenyum, "di mana dia sekarang, Wa?"


"Di rumah. Sedang ngobrol sama umi-mu."


Saya mengeleng pelan. Di dalam hati membatin sendiri, "dasar wanita."


Tak ingin dia menunggu lama, saya pun bergegas pulang ke rumah. Dan benar saja kedua wanita berbeda usia itu sedang tertawa renyah di teras depan.


"Assalamu'alaikum," Dia tersenyum ke arah saya.


"Walaikumsalam, nah ini orangnya sudah datang Nak, Rhyani," ujar ibu.


"Ada perlu apa Bu Dokter?" tanya saya ketika sudah duduk di hadapannya.


"Eum ... Begini, Bang ..." Dia terlihat gugup sendiri.


"Umi tinggal ya, Lik. Mau masak dulu. Nak, Rhyani ngobrol aja sama Malik, ya!" ucap Umi lalu benar-benar pergi meninggalkan kami berdua.


"Iya, Umi."


"Ada perlu apa?" tanya saya lagi.


"Saya mau pesan buah dan sayur,"


"Buah dan sayur apa?" Dalam hati saya terkikik geli. Bukankah dia pernah mengatakan lebih suka diri saya yang cuek dan dingin? Maka biarlah saat ini saya menikmati kegugupan dari dokter cantik ini.


"Semua yang sedang panen. Ada apa aja?"


"Banyak. Kalau sayuran yang panen saat ini ada kacang panjang, kubis, sawi juga. Kalau buah ada jambu merah, jambu kristal dan belimbing. Jadi, bu dokter mau pesan yang mana?"


"Aku pesan jambu merah, jambu kristal dan ..." Dia menjeda ucapannya. "Kubis juga boleh deh. Masing-masing lima kilo ya, Bang. Bisa dikirim kan, Bang?"


"Bisa. Mau dikirim ke mana?"


"Ke alamat ini," ucapnya sambil menyerahkan sebuah kartu nama kepada saya.


"Oh, ok. Mau dikirim kapan?"


"Besok, Bang. Bisa?" tanyanya sambil tersenyum.


"Bisa. Ditunggu aja,"


Dia tersenyum lagi, "ok."


Lalu kami sama-sama terdiam. Hingga suaranya yang begitu menggemaskan membuat saya tersenyum ke arahnya.


"Bagaimana keadaan kamu?"


"Baik."


"Masih suka sakit?"


"Tidak."


"Obatnya sudah dihabiskan?"


"Sudah."


Lalu dia tertawa, "hahahah ... Sudah lama aku tidak bertanya kepada pasien."


"Loh, kenapa?" tanya saya heran.


"Aku sudah selesai koas. Sekarang sedang menunggu hasil kelulusan aja." jelasnya sambil tersenyum bangga.


"Wah, selamat, ya."


"Aku belum ketahuan lulus tau. Jadi, ucapan selamatnya disimpan dulu, ya."


"Iya," jawab saya singkat.


"Itu diminum dulu. Jus mangga asli. Petik langsung dari pohonnya."


"Iya, terima kasih, Abang."


Ada desiran hangat yang menyapa relung hati saya ketika ia memanggil abang. Ini seperti sebuah melodi cinta yang sering dinyanyikan oleh Zenal.


Ahk, romansa. Jadi seperti ini rasanya. Padahal hatiku telah mati beberapa tahun yang lalu, tapi kini seorang dokter muda berhasil mencairkan hatiku yang telah lama beku.


"Hey, Bang Malik ..."


"Iya, kenapa?"


"Aku mau pulang dulu, ya. Jangan lupa pesanan aku."


"Iya, siap." Dinda. Tapi kata-kata terakhir ini hanya saya ucapkan dalam hati. Rasanya masih aneh saja dengan hati saya saat ini.


Ketika dokter muda itu sudah benar-benar menghilang dari hadapan, saya menekan dada pelan. Ada degup jantung yang berirama tidak seperti biasanya. Ini perasaan apa? Semoga bukan seperti luka yang masih belum terobati sempurna.


***


"Sudah semuanya, Fin?" tanya saya.


"Sudah, Bang. Ini bonusnya juga sudah siap." jawab Arifin


"Kita berangkat sekarang!"


"Siap."


Mobil pick up yang saya kemudikan mulai keluar dari halaman. Suara musik dari lagu DIA yang dinyanyikan Anji mengalun merdu. Menemani perjalanan hingga tiba di kompleks perumahan elit yang cukup terkenal.


"Ini ke mana lagi, Fin?" tanya saya ketika mobil telah memasuki gerbang Vimala hills.


"Jalan Anggrek. Blok B3 no 11, Bang."


"Ok."


Kami tiba di depan gerbang yang cukup tinggi. Seorang satpam membukakan pintu untuk kami.


"Dari The Blue, Mas?" tanya Pak Satpam.


"Iya, Pak."


"Mari silakan masuk!"


Ketika mobil pick up yang kukendarai memasuki halaman rumah yang cukup luas. Saya dan Arifin segera keluar dari mobil untuk menurunkan pesanan dokter muda kemarin.


Ketika saya mengetuk pintu rumah, lalu terbuka menampilkan seorang Bapak yang cukup membuat saya terkejut dan mundur dua langkah ke belakang.


"Maaf, Pak. Apa benar ini rumahnya Dokter Rhyani?" tanya saya.


"Iya. Benar. Ada perlu apa kamu ke rumah saya? Mau main catur?"


Iya, beliau si Bapak catur yang beberapa hari lalu datang ke The Blue.


"Bukan, Pak. Saya mau antar pesanan dokter Rhyani." ujar saya.


"Masuk dulu. Rhyani sedang tidak ada di rumah. Oh, iya. Kita bermain catur aja sambil menunggu Rhyani pulang." jelasnya lalu menarik tangan saya ke dalam rumah.


Arifin hanya mengekor di belakang saya dengan tatapan heran.


"Duduk dulu! Mungkin sebentar lagi dia akan pulang."


Saya dan Arifin duduk di ruang tamu yang cukup elegan.


"Wah, tamu siapa ini, Pah?" tanya seorang wanita yang datang menghampiri ke ruang tamu sambil membawa dua minuman.


"Calon menantu kita, Ma."


Saya tersedak ludah sendiri. Ini maksudnya apa, sih?


"Maaf, Pak, Bu. Saya hanya ingin mengantar pesanan dokter Rhyani."


"Iya, kami tau, kok." jawab Bapak catur santai.


"Maaf, Pak. Saya masih ada urusan yang harus diselesaikan." ujar saya.


"Jangan buru-buru seperti itu. Tidak baik, Nak." istrinya menimpali.


Saya semakin bingung. Sebenarnya apa yang telah mereka rencanakan untuk saya?


"Assalamu'alaikum, Ma, Pa. Aku pulang." terdengar suara salam dari arah depan dan saya refleks menoleh ke arahnya.


Tatapan mata kami bertemu.


"Hey," sapanya. Lalu duduk di sebelah istri Pak catur.


Saya menatap ketiga orang di depan saya dengan heran. Begitu banyak pertanyaan yang ingin saya lontarkan. Namun, selalu saya urungkan.


"Kejutan," ucapnya sambil tersenyum riang.


Saya dan Arifin saling tatap. Ini maksudnya apa, sih? Saya benar-benar tidak mengerti.


"Kenalkan ini Mama dan Papa aku." jelasnya.


Saya mengangguk.


"Pa, Ma. Ini loh yang namanya Malik." sambungnya lagi sambil melirik ke arah saya.


"Maaf. Maksudnya semua ini apa, ya?" Mulut saya sudah gatal sekali ingin bertanya. Dan mengalirlah sebuah pertanyaan yang hanya mendapat senyuman dari mereka bertiga.


"Ini kejutan. Mama sudah masak banyak untuk menyambut kedatangan kamu ke rumah kami."


Saya menggeleng. Di samping saya Arifin sedang menahan tawanya.


"Acara apa, Bu?"


"Acara menyambut calon menantu."


Dan jawaban ini sukses membuat Arifin tertawa cukup kencang. Ketika saya melotot ke arahnya, barulah tawa itu berhenti.


"Sudah ... Sudah. Mari kita makan dulu, Nak Malik." pak catur menengahi.


"Bang, makan-makan," Arifin berbisik pelan ketika pak catur dan istrinya sudah pergi ke ruang makan.


"Ssstt ... Jangan malu-maluin, Fin."


"Makan gratis, Bang."


"Ekhem ..."


Saya menoleh ketika Rhyani menghentikan perdebatan kecil saya dengan Arifin.


Saya menaikkan alis ke arahnya, "maksudnya apa, sih?"


Dia tersenyum, "cuma mau kasih kejutan. Ayo kita ke ruang makan!"


"Saya tidak mengerti."


Dia kembali tersenyum lalu menarik tangan saya dan tangan Arifin ke rumah makan.


Demi Allah saya deg-degan tidak karuan. Ini maksudnya apa, sih? Saya tidak mengerti semua ini.