
Sebagai calon dokter muda, aku harus menjungjung tinggi segala hal tentang kesehatan. Meski terkadang aku suka lalai bahkan mendzolimi diri sendiri. Misalnya makan makanan tidak sehat.
Kami paramedis sudah pasti akan selalu menyerukan hidup sehat, makan makanan yang bergizi, hindari pola hidup yang bisa merusak hidup kita sendiri, dan jaga kesehatan, istirahat yang cukup, dan sebagainya.
Tapi aku sering telat makan, atau bahkan tidak makan sama sekali hanya minum segelas susu. Jam tidurku berantakan, apalagi jika pasien UGD padat merayap, sudah dipastikan aku tidak akan bisa tidur hingga pagi menjelang.
Saat ini aku sedang berada di stase bedah syaraf, jika semua berjalan mulus aku akan bertemu stase anak dan akan dilanjut bertemu UKDI setelahnya. Lelah memang, tapi ini mimpi sederhanaku selama ini. Meski di awal masuk fakultas kedokteran aku banyak sekali menemui hambatan, yang bisa membuat masa depanku berakhir ngenes dan tragis di depan Mama dan Papa.
Allah Maha segalanya. Beberapa rangkaian terakhir sekolah kedokteran akan segera aku tuntaskan. Tak apa tertinggal jauh di belakang teman-temanku yang kini telah sukses dengan cita-cita mereka. Selama ini aku selalu menikmati semua proses masa depanku.
Siang ini aku dan kedua sahabatku, Dokter Bian dan Dokter Ratih baru saja selesai makan siang. Kami berjalan beriringan sambil bersenda gurau, melepas lelah karena dari pagi bertemu operasi yang hampir membuat seluruh sendi kami kehilangan fungsinya.
"Rhyani, As Op!" suara interupsi dari Dokter residen itu berhasil membuatku tersedak minuman yang sedari tadi sedang kuminum.
Njiir, Dok. Gue baru aja napas!
"Iya. Siap, Dok."
Dokter Hanif salah satu Dokter residen bedah syaraf, yang hobi banget menyuruhku menjadi As Op-nya. Aku bukannya tidak mau, tapi hari ini aku benar-benar lelah banget.
Setelah memberikan pesan singkat, jelas, padatnya untukku, Dokter Hanif langsung melenggang pergi. Kedua sahabatku sudah terkikik geli melihat raut wajahku saat ini.
"Rasain, lo! Resiko anak pinter mah gitu," ucap Bian dengan tawa yang masih belum reda.
"Sudah sana, Rhy! Dampingi dokter ganteng, siapa tau nanti kalian berjodoh," Ratih menimpali.
Aku semakin dibuat geram dengan ledekan tawa dari mereka.
"Aamiin. Rhy, kalo ada orang yang mendoakan kita, ya diaamiinkan dong! Biar diijabah Allah Swt."
Aku mengepalkan tangan ke arah wajah mereka satu persatu, "Aamiin. Puas lo!"
Bian dan Ratih kembali tertawa. Puas sekali mereka meledekku hari ini.
Rasanya mau marah aja sama Dokter Hanif, tapi Dokter Hanif ini sangat baik sekali. Residen yang tak pernah pelit ilmu pengetahuan. Apapun pasti beliau berikan kepada kami yang minim ilmu.
Dari awal koas aku sudah mengagumi sosok Dokter residen bedah syaraf itu. Tidak ada alasan khusus, aku hanya mengaguminya. Jika saja hari ini tidak begitu melelahkan, maka dengan senang hati aku pasti menemani beliau di ruang operasi.
Setelah sampai di ruang khusus untuk koas, aku segera menganti bajuku dengan scrub (baju khusus operasi) tak lupa kupakai masker dan alat pelindung kepala, lalu bergegas pergi ke ruang operasi.
Tiba di ruang operasi, aku segera mensterilkan tangan dengan cairan khusus. Dokter Hanif pun sedang melakukan hal yang sama denganku. Dia melirikku sebentar, lalu sibuk kembali mencuci tangannya. "Kenapa?" suaranya memecah keheningan di antara kami berdua. Aku diam saja, masih sibuk membersihkan tangan.
"Capek?" tanyanya lagi.
"Kalau dibilang capek, ya capek banget, Dok! Tapi saya ingin pintar dan banyak pengetahuan kan,"
"Good, ini yang saya suka dari kamu. So, jangan bosan kalau jadi As-Op saya!"
Aku tersenyum menanggapi ucapannya. Lalu segera ke ruang operasi meninggalkannya yang masih mengangkat tangan ke atas, cara paramedis mengeringkan tangan mereka ketika selesai membersihkannya tadi.
Pasien yang kini terbaring lemah di meja operasi, seorang laki-laki yang berusia 30-an. Setelah melakukan Ct-scan, lalu MRI dan serangkaian tes lainya, pasien tersebut divonis mengidap tumor otak jinak di kepalanya.
Allah, Maha Baik. Pasien diberi kesempatan untuk mengobati penyakitnya sebelum tambah parah. Suara mesin anestesi berbunyi stabil, tanda alat vital pasien pun stabil. Dokter Hanif sudah memulai operasi, yang sebelumnya kami tim medis berdoa terlebih dahulu, agar Allah melancarkan operasi ini. Dan pasien tersebut segera pulih dari sakitnya.
"Pinset," kata Dokter Hanif. Aku pun segera menyerahkan pinset kepadanya.
Untuk melakukan operasi pada otak, memerlukan kehati-hatian tinggi, karena bila ada syaraf yang tersenggol bisa berakibat fatal. Sebuah gumpalan sebesar buah duku berukuran sedang itu berhasil diangkat oleh Dokter Hanif. Kami di ruangan ini bisa bernapas lega, setelah hampir dua jam menahan napas di dada.
Aku segera memindahkan sumber penyakit yang berada di otak pasien ke wadah yang sudah disediakan. Kulirik Dokter Hanif, yang masih fokus sekali, keningnya penuh dengan bulir keringat, aku pun segera membantu mengelap keringat tersebut, dia menoleh ke arahku, matanya berkedip tanda ia sedang tersenyum kepadaku.
"Gimana, Nif?" tanya Profesor Ali, saat memasuki ruangan operasi. Beliau adalah Dokter spesialis bedah syaraf di rumah sakit ini.
"Lancar, Dok," kata Dokter Hanif, tangannya masih sibuk menjahit bagian luar kepala pasien.
Profesor Ali menepuk bahu Dokter Hanif pelan, "Bagus! Saya percaya sama kamu, Nif." Setelah itu beliau bergegas pergi lagi.
Setelah kurang lebih empat jam berjibaku dengan otak manusia, akhirnya kami benar-benar bisa bernapas lega. Tanda vital pasien tetap stabil, ketika operasi telah selesai. Terima kasih Allah, Engkau telah memperlancar proses operasi ini.
Kemudian pasien segera dibawa ke ruang pemulihan. Aku bergegas keluar ruang operasi, melepas sarung tangan, masker, lalu mencuci tangan kembali. Dokter Hanif berada di sampingku melakukan hal yang sama ketika selesai operasi.
"Terima kasih ya, Rhy," katanya pelan.
"Untuk?"
"Semuanya,"
Aku tersenyum, "Semua saya lakukan untuk kebaikan pasien, Dok. Dan sudah menjadi tanggung jawab saya."
Kali ini Dokter Hanif menampilkan senyumnya. Sebuah lesung pipi timbul ketika senyumnya merekah indah. Dan membuat jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.
Selesai mencuci tangan aku bergegas keluar dari ruang operasi. Sebuah tindakan Dokter Hanif hampir membuatku berteriak histeris karena perlakuannya kali ini. Dia dengan santainya merangkul bahuku. Jika menemaninya saat operasi sudah terbiasa, namun kali ini aku terkejut sekali.
"Saya traktir makan malam," katanya sambil terus berjalan. Tangannya masih bertengger manis di bahuku.
Dok, ini apa?
Irama Jantung gue kenapa jadi kayak gini?
Dia,
Sudah pernah kukatakan aku mengaguminya ketika mulai koas dulu. Hanya sebatas pengagum. Namun, entah apa yang akan terjadi setelah ini. Semoga saja bukan awal dari sebuah perasaan.
Semoga saja!
Dan..
Tangan yang masih setia di bahuku itu, membuat tubuhku kehilangan keseimbangannya. Napas terasa tercekat di tenggorokan. Aku ingin menutup wajah dengan masker lagi, karena pipiku memerah sempurna.
Dia,
Terlalu dini untuk sebuah perasaan.
Dia,
Tidak tahu, bahwa sebuah sentuhan darinya membuatku kelimpungan.
Semoga saja, hanya sampai di sini tingkat bapernya!