Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
13. UGD


"Masalah akan hadir seiring adanya sebuah solusi. Masalahku saat ini tentang sebuah perasaan yang belum terbalaskan."


"Minuman, nih!" kata Ratih sambil menyodorkan sebotol minuman ke hadapanku.


Aku yang saat ini sedang berpangku tangan, memikirkan jalan keluar untuk masalah pelik yang sedang aku hadapi. Sulit. Tidak semudah mengedipkan mata.


"Udah nggak usah dipikirin, Rhy."


"Kalo ngomong itu mudah, Rat. Susah banget menghadapinya,"


"Nggak usah lebay, deh. Inget! Lo salah satu koas pinter di sini."


"Apa hubungannya masalah gue sama koas?"


"Ya tentu ada."


"Apa?"


"Ya, pikir aja sendiri,"


"Nggak guna banget sih, Rat."


"Hahaha ...."


"Morning, Cinta," Bian datang menghampiri kami berdua. Mataku mendelik kesal ke arah meraka yang kini sedang bermesraan di depanku.


"Tadi UGD ada korban kecelakaan, kalian tau nggak siapa korbannya?" tanya Bian.


"Ya mana gue tau, nggak pengin tau juga!" jawabku acuh.


Bibir Bian mengerucut.


"Memang siapa, Bi, korbannya?" tanya Ratih.


"Itu, loh ... Kalian masih ingatkan sama Malik Rabbani yang pemilik The Blue itu ..."


Botol minuman yang sedari tadi kupegang terlepas dari genggaman. Napasku tercekat di tenggorokan.


"Sia ... Pa ..., Bi?" suaraku terbata-bata ketika bertanya kembali pada Bian.


"Korban kecelakaan yang di UGD itu Malik Rabbani pemilik The Blue."


Saat itu juga aku langsung berlari meninggalkan mereka berdua.


"Rhyani .... Lo mau ke mana?" teriak Ratih.


Aku sudah tidak peduli dengan teriakkan Ratih. Sungguh, aku hanya ingin secepatnya tiba di UGD.


Napasku masih tersengal-sengal ketika sampai di depan pintu UGD. Di sana sudah ada dua orang wanita berjilbab yang sedang menangis berpelukan. Tangisan Gadis kecil berjilbab maroon begitu lirih terdengar. Satu orang laki-laki sedang berdiri di depan pintu UGD.


Rasa takut menyerang begitu saja. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Aku langsung masuk ke ruangan menepis semua rasa ketakutan itu.


Mataku terpana ketika melihat seseorang yang begitu aku Cinta sedang terbaring tak berdaya. Darah segar masih bercucuran dari keningnya. Beberapa perawat memasangkan selan oksigen dan alat anestesi ke tubuhnya. Tubuhku lunglai seketika. Sendi-sendi tak mampu menopang diri saat ini.


Napasku semakin tercekat di tenggorokan, rasanya menyesakkan.


"Kamu sedang apa di situ?" tanya seorang perawat.


"Pa .. Sien kenapa?"


"Cidera otak. Hasil CT-SCAN juga menunjukkan ada gumpulan darah di kepalanya."


Allah, bisakah Engkau menukar saja posisiku dengannya? Jangan biarkan ia terbaring lemah tak berdaya seperti itu.


Air mataku mengalir begitu saja. Rasanya aku takut... Benar-benar sangat takut. Malik-ku kuat, kumohon jangan menyerah begitu saja.


"Siapa yang akan mengoperasi?" tanyaku.


"Dokter Hanif,"


Seketika tubuhku meremang mendengar ucapan perawat tadi. Tidak, aku tidak ingin yang mengoperasi Malik itu Dokter Hanif. Segala ketakutan muncul begitu saja. Aku tidak sanggup.


Pikiranku begitu panik. Aku bingung harus berbuat apa. Lalu sebuah pemikiran melintas begitu saja, aku harus bertemu Profesor Ali.


Aku keluar dari UGD dengan mata sembab, beberapa orang menatapku aneh, namun tidak aku pedulikan. Aku harus secepatnya bertemu dengan Profesor Ali. Aku tidak ingin Malik dioperasi oleh Dokter Hanif.


"Profesor Ali ...." panggilku pelan, ketika melihat beliau sedang berjalan di koridor yang sepertinya akan menuju UGD.


"Ada apa, Rhyani?"


"Prof, saya ...."


"Kenapa?"


"Maaf Profesor Ali, Dokter Hanif belum menyelsaikan operasinya saat ini," kata seorang perawat yang datang menghampiri aku dan Profesor Ali.


"Ya sudah. Kalau seperti itu biar saya saja yang mengoperasi pasien kecelakaan itu. Siapkan ruang operasi sekarang!"


"Baik, Prof,"


Mendengar pembicaraan mereka, aku bisa sedikit bernapas lega.


"Rhyani ...."


"Iya, Prof?"


"Ada apa?"


"Emm .... Itu, apa boleh saya jadi As-Op untuk operasi pasien kecelakaan itu, Prof?"


"Loh, kenapa?"


"Sa ...." baru saja aku ingin berucap, namun Profesor Ali sudah memotongnya.


"Ya sudah, kamu sudah selesai shif malam kan? Cepat ganti baju kamu. Lima menit lagi harus sudah sampai ruang operasi."


Aku bersyukur. Sangat bersyukur. Setelah mengucapkan terima kasih kepada beliau, aku kembali berlari menuju ruang koas untuk berganti baju dengan scrub baju khusus untuk operasi.


Aku akan datang Malik, kita berjuang bersama-sama. Kumohon bertahanlah.


****


Suara mesin anestesi masih berbunyi tenang, pertanda masih ada kehidupan di sana. Aku baru saja selesai mensterilkan tangan, aku juga sudah memakai perlengkapan lengkap untuk memulai operasi pagi ini. Rasa kantuk karena tidak tidur semalam, hempas begitu saja ketika melihat wajah pucatnya yang damai.


Aku memberanikan diri menggenggam tangannya yang dingin. Menyalurkan rasa yang begitu nyata kepadanya. Air mataku kembali mengalir. Rasanya masih menyesakkan.


Profesor Ali memasuki ruangan operasi. Kami berdoa bersama untuk kelancaran operasi hari ini.


Kamu kuat Malik. Kita berjuang bersama.


"Pinset," titah Profesor Ali.


Aku pun segera memberikan pisau bedah itu kepada beliau.


Setelah melakukan CT-SCAN dan MRI Malik didiagnosa mengalami gegar otak.


Benturan kepala cukup keras yang menyebabkan cedera pada otak. Saat terjadi benturan, otak akan terayun dan membentur dinding tengkorak. Biasanya gangguan fungsi akibat cedera seperti ini hanya sementara.


Namun kondisi Malik saat ini cukup dibilang parah, karena adanya pendarahan di otak. Di dalam hati aku terus berdoa untuk kesembuhannya.


Hampir satu setengah jam aku berada di ruang operasi, mendampingi Profesor Ali membelah kepala seseorang yang begitu berarti dalam hidupku. Aku tidak ingin kehilangan dirinya. Tuhan, tolong jangan pisahkan kami secepat ini.


Wajah Malik terlihat begitu tenang, napasnya teratur dan denyut jantungnya pun stabil. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi ketika mesin anestesi itu berbunyi nyaring. Sungguh aku tidak ingin itu terjadi.


Setelah dua jam operasi telah selesai dan berjalan lancar. Aku baru bisa bernapas lega ketika Malik akan dipindahkan ke ruang pemulihan.


"Dokter, bagiamana keadaan anak saya?" tanya seorang Ibu yang masih Setia berada di depan ruang operasi. Ternyata ini Ibunya Malik.


Aku tersenyum ke arahnya, "operasi lancar, Bu. Kita tinggal menunggu pasien sadar."


"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih Dokter."


Aku mengangguk. Mulutku sudah tidak mampu mengeluarkan suara. Lidah terasa kelu saat berbicara. Aku hanya ingin menangis itu saja. Aku melihat Ibu Malik memeluk kembali gadis kecil yang masih menangis. Mungkin itu adiknya Malik, wajah mereka mirip sekali.


Tidak ingin larut dalam kesedihan mereka, aku pun pamit undur diri. Saat ini aku butuh tempat untuk mencurahkan segala sesak, air mata yang sebentar lagi akan meluncur bebas. Tuhan, jaga dia untukku.


"Heh, dari mana lo?" tanya Ratih ketika kami bertemu di ruang Koas.


"Pakai baju operasi? Lo abis operasi siapa? Ini jadwal lo buat pulang, Rhyani," cecarnya dengan nada intimidasi.


"Rat ...." panggilku pelan.


"Kenapa?"


"Gue boleng nangis, nggak?"


"Hah!?"


Aku langsung memeluk Ratih. Tidak peduli keterkejutannya atas sikapku hari ini.


"Heh, lo kenapa, Rhy?"


Air mataku mengalir begitu saja. Aku tidak sanggup untuk mengeluarkan satu kata pun saat ini. Aku hanya ingin menangis. Ratih mengusap bahuku pelan. Menyalurkan energi positif untukku. Setelah aku yakin, bahwa diriku sudah tenang karena menangis dipelukan Ratih, aku pun melepas pelukannya.


"Kenapa?" tanya Ratih.


"Rat, sebenarnya gue habis operasi Malik," ucapku sambil mengusap sisa air mata di pipi.


"Seriously?"


Aku mengangguk.


"Rhy .... Apa laki-laki itu .... Yang bikin lo uring-uringan terus, Malik ...."


Aku mengangguk kembali dengan air mata yang membasih pipi.


"Oh, God, Rhyani." decak Ratih pelan.


"Gue nggak sanggup lihat dia kayak gitu, Rat,"


"Terus sekarang bagaimana keadaanya?"


"Gegar otak. Operasi lancar, tinggal menunggu dia sadar,"


"Ya udah mending sekarang lo pulang dulu, istirahat. Nanti kalo ada apa-apa sama Malik, gue langsung hubungin lo, Rhy,"


"Tapi, Rat ...."


"Nggak ada tapi-tapian. Lo harus istirahat juga."


Akhirnya aku mengalah, lalu segera mengganti baju untuk pulang ke kost-an.


****


Malam itu, ketika aku mulai berjaga kembali di rumah sakit, aku memutuskan untuk melihat keadaan Malik pasca operasi. Pintu ruangan kuketuk, lalu aku segera masuk.


"Selamat malam, Bu," sapaku kepada Ibu Malik yang sedang berjaga sendiri di ruang rawat inap Malik.


"Malam, Dokter. Alhamdulillah Dokter ke sini, saya mau tanya kenapa anak saya belum sadar juga?" tanyanya dengan penuh nada kekawatiran.


Aku menarik napas sebentar lalu tersenyum di hadapannya, "sabar ya, Bu. Sebentar lagi mungkin pasien akan sadar, mengingat pendarahan cukup hebat terjadi di kepalanya."


Ibu Malik mengangguk lemah. Pandangannya kosong melihat putranya terbaring lemah dengan beberapa alat medis penyangga kehidupan.


"Maaf, Dok, saya ingin ke toilet sebentar. Apa Dokter bisa menjaga anak saya, sebentar saja!"


Aku kembali tersenyum, "tentu. Silakan Ibu ke toilet, biarkan saya yang menjaganya."


"Terima kasih, Dokter."


"Sama-sama, Bu."


Selepas kepergian Ibu Malik, aku kembali menatap wajah pucat yang sedang tertidur dengan damai itu. Aku kembali memberanikan diri menggenggam tangannya. Air mataku kembali menetes tanpa di komando, rasanya .... Masih menyesakkan jika belum melihatnya sadar.


"Bangun, Malik, ada Ibumu dan aku yang menunggu kamu di sini .... " kataku pelan.


"Kumohon, bukalah matamu ...."


Aku terisak pelan, aku takut sekali saat ini. Aku takut mata indahnya tidak terbuka kembali. Aku takut Tuhan memisahkan kami dengan cara seperti ini. Aku semakin menunduk dalam, isak tangisku semakin bergetar. Tidak peduli jika nanti Ibunya Malik kembali dan mendapati keadaanku yang sedang menangisi anaknya. Aku hanya ingin menangis, berharap Malik-ku segera membuka matanya.


Jemari tangan yang sedari tadi kugenggam, merespon lemah. Aku terkejut mendapati hal ini. Matanya pelan-pelan mulai terbuka. Senyum dan tangisku kembali pecah. Allah, Engkau Maha Segalanya.


Mata Indah itu terbuka, lalu terlihat sedang memindai setiap ruangan ini.


"Kamu sudah sadar?" tanyaku pelan.


Malik hanya mengedipkan kedua matanya.


Kuhapus air mata yang masih mengalir di pipiku dengan kasar, lalu segera menghubungi Porfesor Ali secepatnya. Malik-ku sudah sadar. Dia sudah membuka mata indahnya.


Ibu Malik datang menghampiriku yang masih menggenggam jemari tangan Malik. "Dokter ...." panggilnya pelan.


"Anak Ibu sudah sadar ..." aku menarik napas sebentar, "sebentar lagi Profesor Ali akan datang ke sini untuk memeriksa keadaanya."


"Alhamdulilah, ya Allah," beliau menatap Malik lalu mengusap lembut tangan anaknya dengan lembut, "kamu ingat ibu kan, Nak? Mana yang sakit? Ibu takut sekali, Malik... " suaranya bergetar, air mata mulai merembes di kedua pipinya.


Aku yang masih berada di ruangan pun tidak dapat menahan tangis. Aku bersyukur sekali. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mendengar doaku.


Profesor Ali masuk ke dalam ruangan, lalu segera memeriksa keadaan Malik, mulai dari kedua matanya yang disinari senter, lalu jemari motorik tanganya dan yang terakhir denyut jantungnya.


"Bagaimana, Dok?" tanyaku mewakili Ibu Malik yang terlihat masih diam memandang wajah putranya.


"Semuanya stabil." kata Profesor Ali sambil melirikku dan menaikkan satu alisnya.


Aku hanya mengangguk, lalu mengikuti beliau keluar dari ruangan.


"Dia pacar kamu, ya? Tanyanya yang hampir membuatku tersedak ludah sendiri.


"Bu... Kan, Dok,"


"Lalu?"


Aku terdiam. Terlalu bingung untuk mengatakan sesuatu saat ini.


"Hmm.. Ya, Doakan sajalah, Dok."


"Hahahaha ...." beliau tertawa, lalu kembali menatapku yang saat ini sedang menunduk di depannya, "selesaikan dulu masa Koas kamu, baru menikah. Nggak usah pacar-pacaran lah! Semoga calonmu itu cepat pulih. Biar nanti bisa ikut internsif bareng kamu."


"Aamiin, Dok."


"Duh, langsung diAamiinkan,"


"Dokter ...." teriakku pelan.


Profesor Ali hanya tersenyum lalu menggeleng dan pamit undur diri untuk pulang ke rumahnya . Rasanya aku bisa bernapas dengan lega. Mungkin malam ini, aku akan sabar menunggu pagi agar bisa melihat keadaan Malik selanjutnya.


Rabbi, terima kasih atas kasih sayang-Mu kepadaku dan kepada salah satu hamba-Mu yang aku cintai. Semoga Engkau kembali menyembuhkannya seperti sediakala.


Aku mencintainya, tolong jaga dia untukku.