
Semenjak perjodohan dan berakhir dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis membuatku seakan ingin pindah dari di dunia ini. Mungkin ke bulan, atau ke Mars, atau mungkin ke Pluto yang lebih jauh lagi. Aku benar-benar dinaungi rasa bersalah kepada hati sendiri.
Aku dan Dokter Hanif benar-benar tak banyak bicara tentang semua ini. Semua berjalan normal tanpa ada kecurigaan di depan orang lain. Meski semua tampak normal. Namun, Dokter Hanif terlihat lebih posesif dari biasanya. Seolah aku harus tetap berada di zonanya, tidak terlihat sedikit dia langsung mengirim pesan sebanyak orang yang lagi kasmaran karena pasangannya menghilang.
Aku benci situasi seperti ini.
Saat ini aku sedang berdiam diri menatap jalan raya dari atas gedung rooftop rumah sakit. Sesekali aku menarik napas dengan kasar, muak dengan jerat keadaan yang membuat diriku tidak bisa berkutik sedikit pun.
Kupandang kembali wajah seseorang yang kini menghiasi layar ponselku. Ya, setelah mengambil fotonya tanpa permisi aku langsung memutuskan untuk menjadikannya wallpaper di layar ponsel. Tidak peduli siapa pun itu yang melihatnya, aku hanya butuh semangat ketika diriku lelah menghadapi ini semua.
Suara notifikasi terdengar dari ponselku, sebuah pesan masuk yang rasanya tabu sekali untuk kubuka, namun tanganku dengan nakalnya malah membuka pesan tersebut.
Hanif
[Kamu di mana?]
Aku tidak berniat membalas pesan itu. Sungguh ironis sekali hidupku saat ini.
Semua terjadi begitu cepat, bahkan aku tidak mampu untuk menghentikannya. Allah, bisakah saat ini Engkau hapus segala ingatan dalam memori Hamba-Mu. Sungguh aku sangat tersiksa akan semuanya.
Rasanya aku ingin meloncat dari rooftop ini, aku tidak ingin menyiksa hatiku dengan perasaan asing yang terjadi saat ini. Aku benci sekali.
Drtt..drrrt...
Ponselku bergetar, menampilkan sebuah nama yang sedang meneleponku. Aku pun kembali mengabaikan panggilan tersebut.
Aku tidak nyaman setelah perjodohan itu diutarakan. Seperti ada sekat tak kasat mata yang mulai membatasi diriku dengan dunia. Papa dan mama memastikan aku hanya akan menikah dengan Mas Hanif. Begitu pun yang dilakukan Mas Hanif, ia menyakinkan diriku untuk sebuah masa depan yang sedang dia perjuangankan.
Hatiku menangis pilu, jika mengingat sebuah nama yang saat ini tumbuh mekar dengan siraman rindu.
Drtt.. Drrt...
Ponselku kembali bergetar kini menampilkan nama Ratih, aku pun segera menerima panggilan darinya.
"Kenapa, Rat?"
[Lo, di mana?]
"Ada apa?"
[Rhy, Profesor Ali nunggu lo dari tadi]
Aku langsung berlari, menuruni setiap anak tangga jalur evakuasi. Terlalu banyak memikirkan suatu keadaan hingga aku melupakan diskusi hari ini dengan Profesor Ali.
Sambungan telepon sudah kuputuskan ketika mendengar teriakan Ratih menyebut nama beliau.
Sampai di koridor, aku langsung menekan tombol lift lantai 5 tempat ruangan kelas diskusi hari ini. Napasku masih tersengal-sengal ketika sampai di hadapan beliau. Bukan tatapan mata Profesor Ali yang membuatku berdiam diri, tapi tatapan mata dari seseorang yang berada di sampingnya. Aku terdiam, membiarkan oksigen masuk ke paru-paru dengan benar.
"Kamu dari mana, Rhyani?" tanya Profesor Ali.
"Maaf, Prof. Tadi Rhyani bantu pasien saya sebentar."
Aku menoleh ke arah suara seseorang yang kini sedang tersenyum ke arahku.
"Loh, kok bisa Dokter Pras?" Profesor Ali kembali bertanya.
"Iya bisa, Prof. Kebetulan pasien saya itu temannya Rhyani saat SMA dulu."
Profesor menatapku sejenak, aku pun mengangguk mengiyakan alasan konyol itu.
"Baiklah, ayo kita mulai diskusi hari ini!"
Aku dan para koas yang mengikuti diskusi segera masuk ke dalam ruangan. Sebelum benar-benar masuk, aku menoleh ke arah Dokter Pras yang sedang mengedipkan sebelah matanya ke arahku, lalu beliau pergi begitu saja meninggalkan diriku dengan penuh tanda tanya.
Hari ini kami berdiskusi tentang permasalahan pasien yang mendapat diagnosa sebuah penyakit pada syaraf otaknya, biasanya pasien-pasien berusia di atas 30-an yang sering mengidap penyakit ini. Seperti penyakit radang syaraf otak atau yang biasa dikenal dengan meningitis.
Radang selaput otak adalah infeksi yang menyebabkan selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meninges) mengalami radang. Penyakit ini sering disebabkan oleh virus, dalam beberapa kasus dapat disebabkan oleh bakteri dan jamur.
Radang selaput otak akibat jamur termasuk jenis penyakit yang langka, biasanya terjadi pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Gejala umumnya sering sakit kepala, demam, dan leher kaku (kaku kuduk)
Penjelasan demi penjelasan yang diucapkan Profesor Ali hanya masuk telinga kanan, lalu keluar telinga kiri. Tidak ada yang menyangkut di otakku. Saat sesi tanya jawab pun aku hanya terdiam. Barulah ketika diskusi selesai, aku bergegas keluar ruangan. Jika bisa digambarkan mungkin saat ini otakku sedang mengepulkan asap karena terlalu sering berpikir tanpa menemukan solusi yang jelas.
Sampai di depan pintu, Ratih menarik tanganku pelan. "Heh, lo kenapa sih?" tanya Ratih.
"Gue? Kenapa?"
"Lo jadi aneh gini sih, Rhy!"
"Aneh gimana? Perasaan lo aja kali."
"Heh, semenjak lo pulang ke rumah kemarin, jadi banyak diem gini. Kenapa sih? Ada masalah!?"
Banyak, Rat.. Banyak banget..
Tapi kata-kata itu hanya tertahan di tenggorokan. Mulutku masih kelu untuk bercerita kepada siapapun.
"Nggak ada."
"Gue sahabat lo ya, kalo lo lupa."
"Gue inget," kataku lalu memukul bahunya pelan, "Gue duluan ya, mau ke ruang Dokter Pras."
Ratih hanya mendengus melihatku pergi meninggalkan dirinya. Maaf, Rat. Mungkin saat ini gue masih bisa menahan semuanya. Entah sampai kapan. Semoga aja otakku tidak mengeluarkan asap lebih banyak lagi.
Tiba di ruangan Dokter Pras, aku langsung masuk ke dalam ketika suara interupsinya menyuruku masuk. Dokter Pras salah satu Dokter Spesialis bedah di rumah sakit tempatku menuntut ilmu, beliau juga masih sepupuku, Mama beliau masih satu Nenek dengan Mamaku.
"Kenapa, Rhyani?" tanyanya ketika aku duduk dengan lesu.
"Tadi kenapa kasih alasan nggak logis ke Prof. Ali?"
"Masa itu nggak logis, sih? Menurut saya alasan seperti itu sudah yang paling tepat. Daripada saya bilang, koas Rhyani lagi galau di rooftop itu lebih nggak masuk akal."
"Hah, jadi Dokter Pras tau kalo saya lagi di rooftop?" aku terkejut sekali ketika mendengar ucapannya
"Ya tau lah. Memang ada apa sih? Kamu punya masalah?"
"Banyak." kataku lemah.
"Apa? Soal perjodohan dan pertunangan kamu itu?"
Aku mengangguk.
"Jadi bener kamu dijodohin sama Dokter Hanif?"
Aku mengangguk lagi.
Dokter Pras berdecak pelan, "terus sekarang masalahnya di mana?"
"Aku suka sama orang lain. Ini bukan suka biasa, lebih dominan tentang rasa rindu yang menggebu."
"Hah, Serius? Siapa? Paramedis di sini atau teman sejawat kamu?"
Aku menjatuhkan kepala di meja. Sungguh lelah sekali hari ini.
"Petani sayur,"
"Maksud kamu apa?"
"The Blue vegetable park."
"Tunggu.. Tunggu! Maksud kamu, kamu suka sama petani sayur The blue vegetable park? Siapa? Malik ... Malik Rabbani, iya?"
Aku mendongakkan kepala, tidak percaya dengan ucapan Dokter Pras saat ini. Bagaimana mungkin tebakannya langsung tepat sasaran?
"Kamu kenal Malik di mana?" tanyanya lagi.
"Om Pras kenal Malik?"
"Ya tentu kenal. Para petani di kebun sayur itu semunya Bapak-Bapak, tidak ada yang anak muda. Ada juga si Arifin tapi dia masih anak SMA, dan cuma Malik yang jomblo di sana."
"Dan Om juga kenal baik sama si Malik ini, soalnya Tante Naya sering pesen buah dan sayur dari kebunnya."
Aku kembali menjatuhkan kepala di meja. Semua terasa semakin rumit saja.
"Rhy, kamu beneran suka sama Malik?"
Aku mengangguk lemah.
"Kamu udah kenal sama orangnya?"
Aku menggeleng.
"Lalu... "
"Cinta pada pandangan pertama, Om. Rhyani yakin Om juga sama Tante Naya pasti merasakan kayak gini."
Dokter Pras terlihat terdiam. "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Nggak tau. Aku bingung, Om. Aku nggak bisa menerima perjodohan dan pertunangan ini. Tapi untuk menolak juga nggak bisa. Mama sama Papa udah bahagia banget pas tau Dokter Hanif ini senior aku di rumah sakit."
"Rhy, dengarkan Om! Malik ini pemuda yang baik, taat agama, sudah mapan di usia muda, tapi Om yakin sekali papa dan mamamu tidak akan setuju melihat latar belakang Malik yang asli orang Sunda."
Di dalam hati aku mengiyakan semua ucapan Dokter Pras.
"Kenapa Om Pras bisa menikah sama Tante Naya? Padahal Tante Naya itu perempuan Sunda,"
"Laki-laki dan perempuan Jawa itu berbeda, Rhyani. Bagi kami para laki-laki bisa menikah dengan perempuan Sunda karena banyaknya faktor pendukung dari Segi pihak. Sedangkan perempuan Jawa pantang sekali menikah dengan laki-laki Sunda, ya karena memang banyak pantangannya. Apalagi mama dan papamu yang masih memegang prinsip lama, pasti akan semakin sulit."
Aku terdiam, lidah semakin kelu untuk berucap.
"Itu nggak adil," kataku pelan.
"Om tau. Perempuan Jawa yang mengalami hal yang sama seperti kamu pun pasti mengatakan hal yang sama." Om Pras menatap wajahku dengan lekat, "Rhy, tidak ada perjuangan yang sia-sia selagi kita mau mencoba. Om pernah merasakan bagaimana sulitnya menikah dengan seseorang yang mencintai orang lain. Om tidak ingin Hanif merasakan itu, dan Om juga tidak mau melihat kamu terluka.
"Lalu aku harus bagaimana, Om? Dari awal aku memang tidak yakin dengan perasaanku terhadap Dokter Hanif. Setiap aku membayangkan semua tentang Dokter Hanif, malah wajah menyebalkan Malik yang sering muncul."
"Rhy, kamu punya Allah, mintalah petunjuk kepada-Nya, Insya Allah pasti dimudahkan segalanya."
Aku keluar ruangan Dokter Pras dengan sedikit beban yang terangkat dari hatiku. Setidaknya Dokter Pras bisa memahami kegundahan dalam hidupku saat ini. Di sepanjang koridor rumah sakit, aku kembali memikirkan semua ucapan Dokter Pras. Memang tiada tempat yang bisa menenangkan hati saat ini. Hanya kepada Allah lah aku bisa mencurahkan segalanya.
Ketika sampai di depan pintu ruang koas, tatapan mataku bertemu seseorang yang sedang menatapku. Tatapan matanya sulit terbaca. "Dari mana?" tanyanya.
"Dari ruangan Dokter Pras. Ada apa?"
"Aku mau bicara." dia pergi begitu saja, aku pun mengikutinya dari belakang.
Kami tiba di taman rumah sakit, mungkin hanya tempat ini yang bisa membuat kami lebih leluasa untuk berbicara.
"Kamu kenapa, sih?"
"Saya?" aku menunjuk diriku sendiri.
"Iya kamu kenapa? Kayak menghindar gitu dari aku."
"Nggak ada yang menghindar. Mungkin itu cuma perasaan Mas Hanif aja."
"Rhyani ..., " panggilnya penuh penekanan dan aku bisa melihat tatapan matanya tidak selembut dari biasanya. "Aku nggak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi, setidaknya jangan biarkan ada sekat di antara kita. Cerita sama aku, jangan anggap aku nggak ada seperti ini."
Aku terdiam.
"Akhir-akhir ini aku lihat kamu juga jadi banyak diam. Tidak seperti biasanya. Ada apa, Rhy? Kamu punya masalah apa?"
Masalahnya bersumber dari kamu, Mas. Mana mungkin aku bisa cerita. Aku juga bingung harus memulainya dari mana. Ini sulit.
"Nggak ada apa-apa, Mas Hanif. Sudah ya, saya mau ada visit sebentar lagi."
Mas Hanif terlihat membuang napasnya pelan, "baiklah, kalo kamu belum mau cerita. Pliss, Rhy. Anggap aku ada, jangan kayak gini!"
"Iya." jawabku pelan, lalu pergi meninggalkannya.
Hidup itu sulit, memilih tidak semudah yang kita bayangkan. Jika saja pilihan itu hanya satu, aku hanya ingin memilih Malik Rabbani Nazzam sebagai laki-laki satu-satunya di hatiku. Nyatanya semua hanya angan dan masih butuh perjuangan panjang untuk mewujudkannya.
Kita tidak pernah tahu seseorang yang akan dikirim Tuhan sebagai ujian hati kita. Bisa jadi jodohmu adalah orang yang sangat kamu hindari, atau mungkin jika Allah berkehendak bisa jadi kamu akan berjodoh dengan seseorang yang sudah membuat dirimu jatuh cinta kepada-Nya. Sesulit apa pun kita menolak yang berjodoh akan datang pula. Pun sebaliknya sebaik apapun kita mengejar jika bukan jodoh akan pergi jua.
****
Tidak terasa tinggal beberapa bulan lagi masa koasku akan berakhir. Memasuki stase anak menjadi langkah terakhir sebelum bertemu Ukdi. Harapanku hanya satu, semoga masalahku cepat berakhir pula, tidak ada lagi drama untuk saling menyakiti sebuah perasaan yang dititipkan Tuhan.
Malam semakin larut, aku hanya berdiam diri menikmati terpaan angin malam dari kursi rotan yang berada di teras depan kamar kost-ku. Ratih masih sibuk di dalam membuat salad buah yang akan kita nikmati malam ini.
"Jangan melamun, Rhyani!" suara Ratih mengagetkanku.
Aku berdecak pelan, "ganggu aja lo mah, Rat."
Ratih menaruh semangkuk salad buah yang sangat menggiurkan, tidak lupa dua gelas syrup dingin di atas meja. Lihatlah dua orang Koas yang selalu menyerukan makan makanan sehat kepada para pasien, sangat tidak logis. Ketika cuaca dingin seperti malam ini, kami malah sibuk menikmati salad buah dengan syrup yang mampu menyegarkan tenggorokan. Padahal udara sedang tidak bagus untuk menikmati es di malam hari.
"Rat," panggilku pelan.
"Kenapa?"
"Lo pernah ngerasain jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Hahahaha.. Pernah lah. Ditolak juga pernah. Menolak juga pernah, jadi gue udah pernah merasakan semuanya."
"Apa lo udah pernah dijodohin juga?"
Ratih menatapku sejenak, menghentikan suapan salad buah ke mulutnya, "jangan bilang kalo yang bikin lo jadi pendiam kayak gini itu soal perjodohan!?"
"Iya."
"What.. Serius, Rhy? Siapa orangnya yang dijodohin sama lo?"
"Kepo,"
"Eh, gue serius tau."
"Jadi lo udah pernah dijodohin apa belum?"
"Belum, sih. Dan gue juga nggak akan mau kalo sampai orang tua gue ambil langkah mainstream kayak gitu."
Aku mengangguk sambil terus mengaduk potongan buah yang sudah tercampur sempurna.
"So?"
"Gue belum pengin cerita, sih. Tadi cuma nanya lo aja."
Ratih melemparkan tissu ke arah ku. "Jangan bikin radar penasaran gue buat cari sendiri apa yang terjadi sama lo selama ini."
"Silahkan.. Cuma satu pesan gue, jangan kaget!"
"Iihhh.. Apa sih? Lo dijodohin sama siapa, Rhy?"
"Nanti aja, males bahasnya."
Malam semakin larut, obrolan kami mulai tidak jelas ke mana pun arahnya. Aku menikmati malam syahdu penuh rindu ini dengan Ratih. Sebisa mungkin aku tidak mengatakan tentang apa yang terjadi dalam hidupku.
Sungguh aku tidak ingin sebuah cinta segitiga terjadi di antara kami. Aku hanya ingin mencintai dan dicintai oleh orang yang sama, tidak ingin menyakiti sebuah perasaan orang lain. Namun, sayangnya orang lain ini sudah terikat dengan diriku. Meski ikatan itu belum pasti.
Aku tidak tahu skenario apa yang sedang Tuhan rangkai untukku. Hanya satu pintaku, izinkan aku bahagia tanpa adanya luka di hati orang tua.
Pilihanku mungkin bukan pilihan yang diinginkan oleh mama dan papa, tapi aku percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya.
Teruntuk sebuah nama yang selalu kutitip dalam doa. Semoga kamu bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan. Kebimbangan. Jika kita bertemu, semoga aku tahu bahwa perasaanmu sama terhadapku. Agar semua itu menjadi penyemangat untuk perjuangan yang sedang aku lakukan, dan untuk sebuah hati yang tak ingin aku lukai. Semoga kamu mengerti bahwa semua ini sudah takdir ilahi. Aku berdoa semoga kamu pun bisa bahagia meski cerita kita tak serangkai untuk bersama.
-Rhyani Mahira Wijaya-
Calon Dokter muda yang galau karena cinta