Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
20. Undangan


Rhyani Mahira Wijaya


Jadi, seperti ini rasanya jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Tersenyum sendiri. Tertawa sendiri atau bahkan ketika rindu mampu membuat diri menangis histeris.


Meski kenyataannya cinta yang sebenarnya masih sangat jauh untuk dilihat. Ini masih soal rasa sendiri. Semoga saja benar adanya. Ketika kamu mengejar sesuatu lalu kamu datangi pemiliknya pasti kamu akan segera mendapatkannya.


Pagi ini aku dan mama duduk di ruang tengah. Sesekali aku menarik napas pelan lalu mama terlihat tegang di sampingku. Ya, saat ini aku sedang menunggu hasil kelulusan.


Suasana begitu terasa mencekam. Bayang-bayang tidak lulus berhasil masuk ke pikiran. Aku takut.


Ting..


Sebuah notifikasi email berbunyi. Mama menggenggam tanganku lalu beliau tersenyum.


"Rhyani, takut, Ma ...." ucapku pelan.


Mama tersenyum, "anak mama pasti lulus."


Bissmilah, doaku dalam hati.


Kubuka email resmi dari fakultas tempatku belajar dan menuntut ilmu. Membaca prakata dengan teliti lalu ....


"Rhyani Mahira Wijaya dinyatakan lulus ... Mama, aku lulus ...." aku berteriak histeris dan segera memeluk erat mama yang berada di sampingku.


"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih telah memudahkan segala hal untuk anak hamba." Mama berdoa sambil mengusap bahuku yang bergetar karena menangis bahagia atas kelulusan ini.


"Kita kasih tahu papa ya, Ma!"


"Iya, sayang,"


Aku terdiam sebentar, "mama aja, deh. Aku mau kasih tahu seseorang dulu."


"Kamu mau kasih tahu Malik?" tanya Mama sambil tersenyum mencurigakan.


"Iya, Ma." jawabku riang.


"Ya, sudah. Mama yang akan kasih kabar bahagia ini ke papa."


Ada rasa syukur dan bahagia yang begitu terasa. Hampir enam tahun bersekolah. Lalu hasil kelulusan telah keluar indah, rasanya bahagia sekali.


Sebelum menghubungi Malik, aku terlebih dahulu menghubungi kedua sahabatku.


[Hallo, Rhy]


Suara Ratih terdengar serak.


"Lo habis nangis, Rat?" tanyaku memastikan.


[Iya, nih. Tangis bahagia]


"Alhamdulillah, Bian gimana?"


[Lulus juga]


Rasa syukurku kian bertambah ketika mengetahui mereka lulus semua. Hingga Ratih memutuskan sambungan teleponnya, senyumku masih mengembang indah. Oh, Allah terima kasih atas kemudahan yang Engkau berikan.


***


"Jadi, sekarang anak Papa sudah menjadi dokter?" tanya Papa ketika kami sedang makan malam bersama.


"Ya, belum lah, Pa. Sumpah dokternya seminggu lagi." jawabku sambil menatap Papa dengan bangga. Karena Papa orang pertama yang melarangku masuk fakultas kedokteran dan hari ini aku mampu memberikan yang terbaik untuknya.


Papa mengangguk, "terus laki-laki yang katanya calonmu itu sudah diberi kabar?"


Aku tersenyum lalu menggeleng ke arah Papa, "belum, Pa."


"Loh, katanya kamu yang mau kasih kabar, Rhy?" Mama menimpali.


"Heheh ... Nanti sajalah, Ma." ucapku sambil terkekeh pelan.


"Ya, sudah. Nasinya dihabiskan, Rhy!"


"Iya, Ma."


Kami pun melanjutkan makan malam yang sempat tertunda dengan obrolan soal kabar kelulusan.


Setelah selesai makan malam, aku langsung ke kamar. Membaringkan tubuh di kasur empuk, mataku menatap langit-langit kamar dengan seulas senyum yang masih belum pudar.


Lulus adalah satu hal yang selalu aku harapkan. Entah seperti apa rasanya jika harus berlama-lama di satu tempat yang sama bersama seseorang yang aku hindari. Jika mengingat ke belakang, aku memang pernah mengagumi sosok Dokter Hanif. Tapi, semua sudah berlalu. Kekaguman itu hanya sebatas semu yang tak pernah aku harapkan akhir dari ceritanya.


Bukankah semua hal yang terjadi dalam hidup itu telah diatur oleh-Nya? Lalu apa yang membuat kita terus berada dalam titik terendah? Aku pernah merasakan kekecewaan yang amat dalam.


Rasanya baru kemarin aku kagum oleh sosoknya lalu dipatahkan ketika melihat dia berpelukan dengan kekasihnya. Ahk, itu memang bukan urusanku. Terlebih aku juga tidak menyukainya.


Di hatiku masih ada satu nama yang melekat kuat. Seperti tak pernah lepas dari ingatan. Dan sosok itulah yang berhasil membuat diriku nyaman akan dunia yang sementara ini. Dia seseorang yang membuat duniaku lebih berwarna. Kini tidak lagi hitam dan abu-abu lagi. Tapi, ada warna baru yang dilukiskan untuk kenangan manis dalam hidup.


Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel yang kusimpan di atas nakas. Aku pun segera mengambilnya lalu membaca pesan tersebut.


[Hanif]


Congrats ya, Rhy. Aku yakin kamu pasti lulus dengan hasil camlude🥰


Seketika aku melempar asal ponsel yang tak bersalah itu. Rona bahagia yang sejak pagi terpancar kini berubah menjadi awan mendung. Bukan pesan darinya yang aku harapkan.


Namun, bagaimana mungkin seseorang itu bisa tahu jika aku sudah lulus, Kalau aku sendiri saja belum memberikan kabar bahagia ini. Sepertinya besok pagi aku harus menemuinya. Ya. Harus.


Biarkan malam ini tubuhku beristirahat. Terkhusus untuk hatiku yang menahan rindu dalam diam, ternyata memang berat.


***


"Aku berangkat ya, Ma." Pamitku kepada mama ketika beliau sedang menyiram bunga di halaman depan.


"Ingat, ya! Jangan lama-lama. Kamu dan dia itu belum resmi pacaran. Papa dan mama juga tidak menyuruh kalian jadian." ujar Mama sambil menatapku lekat.


"Iya. Siap, Ma. Mama tenang aja. Malik bukan laki-laki seperti itu." jelasku lalu memcium tangan mama.


Ah, aku merindukannya.


Dari vimalla hills tempatku tinggal tidak butuh waktu lama untuk tiba di The Blue Vegetabale Park karena jaraknya lumayan dekat. Suasana jalan yang senggang semakin membuatku cepat tiba di gerbang yang kini ditumbuhi bunga bougenville yang sedang bermekaran.


Sepertinya nuansa musim semi begitu terasa, ketika aku keluar dari mobil. Menatap ke segala arah dan menemukan sosok yang kurindukan sedang duduk santai di saung utama.


Rambutnya yang dulu dipangkas pasca kecelakaan kini sudah tumbuh sempurna. Memberikan kesan tampan begitu nyata. Rasanya aku ingin sekali memeluknya. Memainkan bulu matanya yang lentik atau sekedar mengusap lembut dada bidangnya yang terlihat sangat nyaman.


Aku menggeleng pelan. Membuang jauh pikiran abstrak itu dari kepalaku. Perjalanan masih panjang. Proses baru saja dimulai. Aku tidak ingin terburu-buru untuk sebuah perasaan yang selalu bermekaran setiap waktu.


"Selamat pagi," sapaku ketika sudah sampai di hadapannya.


Dia menatapku sejenak lalu mengarahkan pandangannya ke arah lain. Oh, Tuhan inilah Malik-ku yang sebenarnya. Akang nasyid yang menyebalkan tapi sangat aku rindukan.


"Boleh duduk di sini?" tanyaku pelan.


Dia mengangguk.


Aku tersenyum lalu memberikan undangan berwarna putih tulang yang baru saja aku terima sebelum berangkat tadi.


"Apa ini?" suara seraknya kembali terdengar. Aku rindu sekali.


"Undangan."


"Iya. Saya tahu. Tapi, undangan apa?" tanyanya dengan nada dingin. Sudah lama sekali aku tidak melihat dirinya yang seperti ini. Jujur saja. Sikapnya yang sekarang mampu membuat jantungku ingin meloncat dari tempatnya.


"Dibaca dong, Bang!" seruku dengan tersenyum manis ke arahnya.


"Kamu mau bikin kejutan apalagi untuk saya?"


Ada rasa ingin tertawa terbahak-bahak ketika melihat ekspresi wajahnya. Menggemaskan sekali.


Aku menggeleng. "Nggak, kok. Ini bukan kejutan."


Dia membuka undangan tersebut, membacanya sekilas lalu menaikan satu alisnya ke arahku.


"Datang ya, Bang." ucapku masih dengan senyuman manis ke arahnya.


"Kamu sudah lulus?"


Aku mengangguk.


"Selamat."


Hanya satu kata itu saja mampu membuat Kupu-kupu kembali terbang dari dadaku.


"Kayaknya saya tidak bisa datang. Acaranya bentrok dengan jadwal panggung An-Nazzam." ujarnya sambil menatap ladang lumpur di depannya.


Bolehkah saat ini aku berteriak?


"Oh, iya. Gak apa-apa, kok. Aku ke sini juga cuma mau kasih undangan itu buat kamu. Soal kemarin aku minta maaf ya." aku tahu mungkin dia masih marah dengan beberapa ucapan yang terlontar dari mulut papa.


"Soal apa?"


"Soal ucapan mama dan papa."


Dia terkekeh, "Pak catur?"


Untuk pertama kalinya setelah lama tak bertemu aku melihat lesung pipi itu. Seulas senyum yang membuat kadar ketampanannya bertambah pesat.


"Iya. Tapi, jangan panggil Papa -Pak catur- juga kali." aku merajuk gemas.


"Memang kenapa? Kan unik."


"Terus kalau papa -Pak catur- aku ... anak catur, gitu?"


"Saya nggak ngomong kayak gitu, ya."


"Tuh, kan. Mulai deh ... Menyebalkan."


Malik tersenyum, "saya masih heran aja. Padahal baru ketemu tapi sudah bicara soal menantu. Saya malu tahu!"


Oh, Allah. Mengapa hamba-Mu yang satu ini begitu menggemaskan?


"Ya, diaamini dong. Biar langsung di ijabah Allah swt." Aku berseru sendiri.


"Memang kamu mau menikah dengan saya?"


Seketika aku terpana mendengar ucapannya. Apakah ini mimpi?


Mengapa tiba-tiba dadaku sesak oleh bunga-bunga yang semakin bermekaran.


"Hey," tegurnya.


"Eh, iya ... Apa?"


"Saya tidak bisa menghadiri undangan kamu ini. Maaf, ya."


"Iya. Gak apa-apa." Jawabku lesu. Ingin sekali memaksanya namun semua itu aku urungkan. Bukankah tidak baik melakukan hal memalukan seperti itu? Maka biarkanlah semuanya berjalan dengan semestinya.


"Aku mau pamit pulang," ucapku pelan.


"Loh, tumben cepat banget. Padahal di sini lagi panen belimbing."


"Masih banyak urusan yang belum selesai."


Malik mengangguk, "maaf, ya. Semoga acara kamu berjalan lancar."


"Iya." Jawabku singkat, lalu segera pergi dari hadapannya.


Kuhirup udara dengan sangat kasar. Membiarkan segera rasa yang berkecamuk dalam dada keluar begitu saja. Tak apalah, memang belum saatnya. Rinduku pun sudah terbalas ketika melihat senyumnya.


Soal hati dan perasaan biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa.