Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
21. Sumpah Dokter


*Saya bersumpah bahwa :


Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.


Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.


Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.


Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.


Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan.


Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian atau Kedudukan Sosial.


Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.


Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung.


Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.


Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.


Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya*.


                        -------------


Kalimat sumpah itu terucap dalam satu tarikan napas. Aku yang masih berdiri di podium menjadi perwakilan sebagai peraih nilai tertinggi tahun ini, melihat ke segala arah. Ada mama dan papa yang duduk sambil menitikan air matanya. Lalu teman-teman sejawat yang dengan bangga memakai toga karena sudah berhasil lulus dengan hasil yang memuaskan.


Kami, khususnya diriku adalah satu dari sekian banyak paramedis yang akan mengabdikan dirinya. Masa-masa indah saat belajar berlanjut masa koas dan alhamdulillah saat ini kami berkumpul kembali untuk sumpah dokter.


Ada hal yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sebisa mungkin aku menahan air mata yang kian merembas di pipi. Wajar saja jika saat ini kami ingin menangis. Mengingat betapa panjangnya jalan yang ditempuh untuk menjadi Ksatria dalam dunia kesehatan.


Sudah tak terhitung berapa banyak materi dan moril yang telah kami korbankan. Suka duka. Tangis bahagia telah kami rasa bersama.


Jika ada yang bertanya apakah setelah sumpah dokter kami sudah dikatakan resmi menjadi dokter. Maka akan kujawab. Belum. Kami belum menjadi dokter yang sesungguhnya karena kami harus menjalani masa internship selama satu tahun.


Biasanya tempat internship berada pada daerah yang cukup sulit untuk di jangkau. Aku belum memikirkan ke mana akan internship. Sebenarnya ingin di sini saja. Namun, ada sebuah panggilan untuk menjelajahi dunia luar yang belum pernah tergapai.


Setelah selesai memberikan pidato singkat, aku segera turun dari atas panggung. Memeluk erat mama dan papa yang masih menitikan air mata bangga dan bahagia.


Ya, untuk saat ini kubirkan seulas senyum itu terbit. Meski kenyataannya ada rasa sedih yang tak bisa kuungkapkan. Seseorang yang kuharap hadir saat ini hanya menjadi kiasan. Bayangan senyumnya yang mengembang indah karena melihatku telah lulus pun hanya angan semata.


Biarlah. Aku tidak ingin merusak momen saat ini. Aku tahu dan sangat sadar bahwa aku bukan siapa-siapa untuknya.


"Selamat, ya." Suara itu mungkin sangat ingin kuhindari saat ini. Masa-masa sulit saat berada di dekatnya berhasil membuat diriku muak saat melihatnya.


"Nak Hanif," Mama menyapa laki-laki yang saat ini mengenakan batik berwarna merah. Ia juga menyodorkan sebucket bunga mawar putih ke hadapanku.


Aku hanya menatap bucket bunga itu tanpa mengambilnya. Bukan dia yang aku tunggu. Seharusnya dia pun sadar akan itu.


"Terima kasih, Nak Hanif." Mama meraih bucket bunga tersebut ketika melihatku hanya bergeming.


"Om, Tante, saya mau minta maaf jika selama ini saya tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kalian. Khususnya untuk Rhyani. Saya sadar bahwa saat itu saya sudah menyakiti hati kalian. Kedatangan saya ke wisuda Rhyani juga ingin memperbaiki hubungan kami."


Bukan hanya aku yang terkejut mendengar ucapannya. Mama dan Papa pun menatap laki-laki tidak waras ini dengan tatapan tidak percaya. Sungguh.


"Maksud kamu apa?" tanya Papa.


Dia tersenyum. Senyum yang sangat menjijikan untukku.


"Saya ingin memperbaiki semuanya, Om. Saya salah. Om juga pasti kecewa sama saya. Maaf, Om." ucapnya sambil menunduk.


"Tante tidak mengerti, Nif." Mama menimpali.


"Saya sangat mencintai Rhyani, Om. Izinkan saya memperbaikinya."


Papa menggeleng. "Om masih belum mengerti."


"Om, kedatangan Alifha saat itu untuk mengakhiri hubungan kami yang memang sudah terpisah cukup lama. Saya minta maaf karena tidak memberitahu sejak awal. Saya tahu om juga pasti marah. Tapi, demi Allah, Om, hubungan kami sudah berakhir."


Aku bukan wanita yang mudah di luluhkan. Apalagi ketika seorang laki-laki membawa nama Tuhan tanpa pembuktian. Buatku itu hanya kebohongan dan sangat fatal jika berbohong atas nama Tuhan.


Mama melirikku yang masih berdiam diri tanpa menanggapi ocehan laki-laki yang ada di hadapanku.


"Rhy," panggil Mama pelan.


"Iya, Ma."


"Kamu gak apa-apa?"


Aku menggeleng. Entah kata apa yang cocok untuk membungkam Dokter Hanif saat ini. Otakku tidak bisa berpikir logis karena terisi oleh Malik yang tidak bisa hadir di sini.


"Saya janji, Om. Tidak akan mengulang kesalahan ini. Mungkin ini memang bukan waktu yang pas untuk mengutarakan maksud dan tujuan saya. Tapi, Om, saya mohon beri saya kesempatan kembali untuk membahagiakan Rhyani." jelasnya dengan penuh penekanan.


Tidak bisakah orang ini sadar? Apa yang telah ia lakukan terhadapku sudah membuatku membencinya. Bahkan sangat benci. Tapi, sepertinya Dokter Hanif ingin membuatku lebih dari membencinya jika terus berkata hal yang tak masuk akal.


Aku tidak menanggapi semua ucapannya. Begitu pun mama dan papa yang terlihat hanya tersenyum tanpa mengeluarkan pendapat. Rasanya aku ingin pergi saja dari hadapannya atau dari acara yang sudah aku dan koas lain persiapkan dari jauh-jauh hari harus terasa ambyar ketika dokter Hanif datang seperti saat ini.


"Rhy,  maafkan aku," suara terdengar begitu lirih. Aku yang sedari menunduk, akhirnya mengangkat wajah. Namun, yang aku lihat adalah seseorang yang berdiri di belakang dan terhalang vas bunga yang cukup besar sedang menatapku tanpa ekspresi.


Mulutku ingin sekali berteriak memanggil namanya tapi, semuanya sia-sia karena dia sudah pergi begitu saja. Tanpa komando air mataku menetes begitu saja. Apa ini?


"Rhyani," panggil papa.


"Pa, Ma. Rhyani izin sebentar!" ucapku lalu pergi meninggalkan mama dan papa.


Aku harus menemuinya. Mataku berkeliling mencari sosoknya. Begitu banyak para tetamu yang hadir saat sumpah dokter yang membuatku kelimpungan mencari dirinya.


Tuhan, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan untukku?


Mengapa harus seperti ini? Bisakah Engkau mempertemukan kami?


Aku lelah. Satu kata itu meluncur begitu saja. Di mana kamu? Mengapa ia cepat sekali pergi? Padahal aku ingin sekali kamu berada di sini.


Air mataku kembali mengalir. Rasanya, memang sulit untuk diungkapkan.


"Rhy, " suara Ratih terdengar dari arah belakang. Aku pun menoleh dan melihatnya sedang berjalan sambil membawa bucket bunga mawar biru.


"Ini buat lo" kata Ratih sambil menyodorkan bucket itu ke arahku.


"Dari si—apa?" tanyaku dengan suara yang diiringi isak tangis.


"Malik."


Air mataku tumpah seketika.


"Lo kenapa nangis? Ini kan udah di kasih bunga." Ratih bertanya heran.


"Orangnya mana, Rat? Gue butuh orangnya. Bukan bunganya."


"Dia cuma titip ini pas ketemu gue sama Bian tadi. Terus langsung pergi begitu aja. Ada apa, sih? Cerita sama gue!"


Bukannya cerita aku malah kembali menangis. Allah apalagi yang akan Engkau berikan untukku?


Belum cukup kah semua rasa pahit yang telah aku rasakan?


sumber lafal sumpah dokter : Deddy Andaka