Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
10. Pertemuan Malik dan Hanif


Seperti biasanya hari ini aku mulai disibukkan dengan beberapa hal di stase anak. Memang tidak ada yang berbeda, masih seperti sebelumnya. Hanya saja sekarang aku lebih dekat dengan anak-anak.


Aku meringis ketika melihat tubuh mungil mereka yang tertancap berbagai selang penyangga kehidupan. Dari mereka aku belajar, bahwa dalam kehidupan yang sulit pun kita harus tetap bertahan. Demi orang-orang yang kita sayang.


Aku kembali menulis beberapa rekam medis pasien anak-anak saat ini. Begitu banyak kehidupan yang sulit untuk kita jalani. Bahkan beberapa di antaranya membuatku ingin menyerah saja.


"Rhy,"


Aku mendongakkan kepala ke arah suara itu, "Apa?"


"Galak banget, Ya Allah."


Tanpa disuruh Bian langsung duduk di hadapanku. "Gue mau curhat,"


"What the ... Lo nggak liat gue lagi sibuk?"


"Sebentar aja, pliss!!!"


Aku menyimpan pulpen di meja, menghentikan sementara pekerjaanku menulis rekam medis. "Ada apa, Bi?"


Bian terlihat murung sekali. "Gue abis ditolak Ratih."


Aku refleks tertawa mendengar ucapannya, "hahahaha ... Serius? Terus gimana?"


"Jangan ketawa, nggak lucu."


"Ppptttt—" aku menutup mulut agar tawaku tidak kembali pecah. "Serius, sekarang gimana?"


"Ya, Gue galau lah."


"Uluh.. Uluh... Kacian amat, sih? Sabar ya! Kalo jodoh tidak akan kemana."


"Bantuin gue dong, Rhy!"


"Bantu apa?"


"Bilangin Ratih, gue sayang banget sama dia. Rasanya hampa hati gue kalo kayak gini."


"Hmm.. "


"Gue seriusan, Rhyani."


"Iya,"


"Iya, apa?"


"Gue bantu."


Bian tersenyum lebar. Raut wajahnya tampak bahagia sekali. "Makasih ya. Lo memang sahabat gue yang paling baik."


Aku mendengus pelan, "Giliran kaya gini aja ngaku sahabat. Dasar lo .... "


"Hehehe ... Piss. Gue mau cabut dulu ya!"


"Sip."


Setelah kepergian Bian, aku kembali menulis rekam medis yang sempat tertunda tadi. Aku tersenyum, lalu menggeleng pelan. Tidak habis pikir bagaimana mungkin Ratih bisa menolak Bian?


***


Ketika jam istirahat tiba, aku, Ratih dan Bian pergi ke kantin. Menurutku mereka berdua ini sangat hebat sekali. Saat hati sama-sama tersakiti namun mereka tetap profesional ketika di rumah sakit. Sebelum berangkat ke kantin, Ratih sempat bercerita kepadaku. Tentang alasan mengapa dia menolak Bian, dan saat ini seakan tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Mereka tetap enjoy bersama meski hati mereka sedang berperang melawan gengsi.


Kami duduk di tempat biasa, menunggu pesanan diantar ke meja. Saat kami asyik bercerita, tiba-tiba saja kursi di samping Bian ditarik oleh seseorang, dan orang tersebut tanpa permisi bergabung bersama kami.


"Kok berhenti ngobrolnya? Lanjutin dong!" kata Mas Hanif.


Aku hanya mendengus pelan.


"Hai, Dok. Udah lama ya kita nggak ketemu," kata Ratih berbasa-basi.


"Iya nih, Dok. Udah lama juga kita nggak mabar." Bian menimpali.


"Hahaha.. Iya.. Ya.. Ya udah balik lagi aja ke stase bedah syaraf!"


"Dibayar juga saya ogah, Dok." Ratih berdecak pelan.


Sedari tadi Mas Hanif selalu menatapku, namun aku seolah acuh padanya. Aku hanya ingin mengajarkan kepada Mas Hanif tentang sekat yang jika nanti Allah izinkan, bisa jadi aku lebih memilih Malik sebagai pendamping hidup.


Pesanan kami pun diantar oleh pelayan. Kami berempat makan dengan khidmat. Sesekali Bian dan Dokter Hanif mengeluarkan jokes mereka yang receh sekali.


"Emm ... Minggu depan kalian ada acara, nggak?" tanya Mas Hanif ketika semua makanan kami tidak tersisa di piring.


"Nggak ada, Dok. Kita semua free," kata Bian menanggapi.


"Berarti bisa dong, liburan bareng?"


"Serius ini, Dok?" tanya Ratih.


"Ya serius. Enaknya liburan ke mana ya?"


"The Blue Vegetable Park aja. Sekarang udah dibuka kebun buah di sana."


Mendengar nama tempat ini diucap Ratih, sesuatu di dalam sana seperti tersiram air di gersangnya gurun. Rasanya menyegarkan.


"Saya setuju." kataku antusias.


Bian dan Mas Hanif kompak menoleh ke arahku.


"Kebun buah, pasti seru."


"Tempat itu di mana?" kini Mas Hanif yang bertanya.


"Di Bogor, Dok. Nggak akan menyesal deh kalo datang ke sana." ucap Ratih.


Bian mendengus pelan, "Semoga aja, Dok."


"Pokoknya kita harus liburan ke sana lagi. Ok nggak, Guys?"


"Ok. " aku menjawab sendiri.


Bian terlihat tidak senang dengan usulan Ratih. Mungkin tempat itu punya kenangan buruk cerita mereka. Semoga liburan kedua ini menjadi awal baru kisah Bian dan Ratih.


"Ok. Kalo begitu. Deal ya?"


"Deal." kini aku dan Ratih kompak menjawab.


Ada rasa senang di hatiku. Akhirnya bisa bertemu dengan Akang Nasyid yang menyebalkan tapi mampu membuat hatiku selalu kelimpungan tiap kali bayangnya hadir dalam ingatan. Aku tersenyum membayangkan semuanya kembali.


***


Hari yang ditunggu pun tiba. Aku dan Ratih sudah bersiap, sedangkan Bian sedang merenung di teras depan. Sepertinya dia masih galau akan keputusannya kali ini.


"Udah santai aja, Bi. Gue jamin sekarang pasti berhasil." kataku menyemangati.


"Iya deh. Tapi kalo gagal lagi gimana, Rhy?"


"Tenang. Cinta ditolak doa bertindak."


Bian mengerucutkan bibirnya, "Aamiin."


Tin....


Suara klakson mobil terdengar, aku dan Bian menoleh ke arah suara dan mendapati mobil SUV hitam masuk ke halaman kost kami.


"Tuh, udah dateng Arjuna lo, Rhy." Bian melirikku sambil tersenyum tidak jelas.


Di dalam hati aku tertawa sendiri. Sorry, Bi. Arjuna gue baru akan gue temui ketika mobil ini berangkat pergi.


"Semua sudah siap?" tanya Dokter Hanif.


"Sudah, Dok." Ratih menimpali dari dalam.


"Ya sudah, ayo berangkat!"


"Siap."


Mobil SUV hitam milik Mas Hanif mulai berjalan pelan. Aku dan Ratih duduk di kursi belakang, sedangkan Bian duduk di kursi depan menemani Mas Hanif. Jendela mobil kubiarkan terbuka. Menikmati terpaan angin yang selalu menyegarkan pikiranku.


Benar katanya, bahwa bahagia itu sederhana. Sangat sederhana. Jika rindu datanglah, temui dia. Katakan padanya bahwa aku rindu. Sesederhana itu untuk bahagia. Tapi terkadang waktu yang menjadi kendala. Jarak yang menjadi pemisah dan Perasaan yang terkadang tak sama.


Kami tiba di depan gerbang The Blue Vegetable Park tepat pukul 10.00. Mas Hanif langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia. Aku merasa de javu dengan semua ini. Senyumku tak habisnya berhenti ketika kami mulai memasuki area taman.


Ratih benar, sekarang sudah ada kebun buah yang tertata rapi. Kenapa Malik bisa sehebat ini? menata ruang lahan dengan sangat apik. Jika lahan perkebunan saja mampu ditata dengan baik, pasti dia juga bisa menata hatiku yang retak karena sebuah perasaan ini.


Kami terus berjalan menelusuri taman. Hingga di sebuah gajebo utama, ingatanku kembali melayang ke moment awkward itu. Aku tersenyum. Rinduku sudah tidak bisa ditahan lagi. Malik, Sekarang Kamu di mana? Ada aku di sini, menunggumu.


"Rhy, istirahat dulu, yuk!" kata Ratih sambil menarik tanganku ke saung yang berada dekat dengan saung utama. Di Saung utama terlihat banyak orang yang sedang istirahat di sana, sepertinya itu tamu Malik. Terlihat sekali orang-orang tersebut memakai baju formal khas ASN. Padahal ini weekend, mengapa mereka datang ke taman dengan seragam seperti itu? Biarkan saja. Sepertinya itu bukan urusanku.


"Rhy," panggil Ratih.


"Iya, kenapa, Rat?" sahutku pelan.


"Lo lagi cari siapa, sih? Gue liatin dari tadi mata lo itu ke sana ke sini nggak jelas banget."


"Lagi cari buah mangga, kali aja ada."


"Seriously?"


Aku hanya tersenyum lalu duduk di sampingnya.


"Soal Bian gimana?" tanyaku memecah keheningan.


Ratih terdiam.


"Rat, Jangan sia-siakan orang yang tulus sama lo. Kecuali lo memang lagi naksir orang lain. Kayak gue misalnya."


Ratih menoleh ke arahku dengan tatapan menyelidik, "Gue jamin masalah lo pasti lebih berat dari yang gue hadapi saat ini."


Aku mengangguk.


"Terus lo mau sampai kapan menghindar dari gue?"


"Sampai masalah lo dan Bian kelar. Berakhir dengan perasaan yang saling berbalas. Rat, Bian sayang banget sama lo."


"Gue akan menyelesaikan semua ini mengikuti apa kata hati gue," Ratih kembali menatapku. "Tapi pliss.. Berbagilah sedikit masalah lo itu sama gue. Biar gue merasa berguna jadi sahabat lo, Rhy."


"Iya. Kalo waktunya pas, gue akan cerita semuanya."


Aku dan Ratih tersenyum. Rasanya lega jika kita mempunyai seseorang yang selalu ada ketika kita terluka ataupun bahagia. Dua orang laki-laki yang menjadi topik hangat sedang berjalan ke arah kami. "Udah selesai belum istirahatnya. Mau lanjut jalan lagi nggak?" tanya Mas Hanif ketika sampai di depanku.


"Ayo, Rat." aku merangkul bahu Ratih.


Rasanya sudah tidak sabar sekali bertemu sang pemilik hati. Di taman seluas 200 Hektare ini pasti aku bisa menemukannya, karena dia pemiliknya sudah pasti ada ketika banyak pengunjung saat weekend. Hanya saja aku tidak tahu, di sebelah mana sekarang dia berada.


Kami terus berjalan menelusuri lahan kebun yang sepertinya baru saja ditanam. Ratih mengajak kami untuk ke sebelah Utara, tempat kebun buah yang baru dibuka. Kami pun berjalan ke arah sana. Seperti ada sesuatu yang akan kutemukan di sana, jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Senyumku mengembang ketika melihat siluet tubuh seseorang yang sedang memakai kaos hitam berkerah, celana jeans hitam dan sandal gunung. Persis sekali dengan seseorang yang menghiasi layar ponselku.


Kali ini dia tidak memakai topi seperti biasanya. Aku berjalan semakin dekat, dan terlihat sekali rambutnya yang basah. Buliran keringat turun bebas dari dahinya.


Jantungku, apa kabar? Plis jangan mendadak berhenti ketika senyum manisnya mengembang Indah.


Ketika langkah kami semakin dekat, dia menoleh ke arah kami. Aku bisa melihat tatapan matanya yang terkejut saat melihatku. Tapi tatapan mata itu bukan tertuju padaku. Dia menetap lurus ke arah laki-laki yang kini sedang menahan sesuatu di sampingku. Ya, Mas Hanif terlihat begitu aneh ketika melihat Malik berada tidak jauh di depannya.


Aku merasakan atmosfer yang menyesakkan. Pandangan mereka saling menajam. Namun Malik langsung membuang wajahnya ke arah lain seperti yang sering ia lakukan saat berada di dekatku.


Ada apa ini? Waktu seakan berhenti sesaat. Membiarkan kedua orang ini saling tatap, lalu membuang muka ke arah yang berbeda. Mengapa mereka seperti seseorang yang saling mengenal, sudah lama terpisah lalu bertemu kembali.


Kebingunganku semakin bertambah ketika seorang Bapak paruh baya menghampiri kami. "Kamu ngapain di sini?" beliau bertanya ke arah Mas Hanif.


Mas Hanif sendiri tampak enggan menjawab pertanyaan tersebut lalu tanganya menarik tanganku. Dia menggenggam erat jemariku. Aku sangat heran sekali dengan sikapnya kali ini.


"Lagi liburan bareng tunangan saya." kata Mas Hanif penuh penekanan.


Sontak saja ucapannya membuatku terkejut. Aku tidak percaya dengan apa yang Mas Hanif lakukan saat ini.


"Oh, Bagus kalo gitu. Selamat menikmati liburan kalian." kata Bapak tadi sambil menatap ke arahku.


Ada apa ini? Rasanya dadaku sesak ketika melihat tatapan Malik. Tatapan matanya tidak seperti biasanya. Seperti ada benda yang menghantam dirinya. Tatapan sendu melihat tanganku yang sedang digenggam Mas Hanif.


"Lik, maneh teu naon-naon?" Bapak tadi bertanya menggunakan bahasa Sunda yang membuat diriku tidak mengerti akan ucapannya.


[lik, kamu tidak apa-apa?]


"Teu naon-naon, Wa. Geus lah, Wa. Kita Balik ka kebun deui." Malik menjawab dengan bahasa sunda kembali. Ketika tatapan mata kami kembali bertemu, aku hanya menggeleng lemah ke arahnya. Rinduku hancur dengan pertemuan tragis ini.


[Tidak apa-apa, Wa. Sudah lah, Wa. Kita kembali ke kebun lagi.]


"Kita pulang sekarang." tiba-tiba Mas Hanif berucap seperti itu sambil terus menarik tanganku.


"Ada apa sih, Mas? Bian sama Ratih gimana?"


"Mereka sudah dewasa. Bisa pulang sendiri."


Aku tidak menyangka Mas Hanif bisa mengatakan seperti itu. Bukan hanya ucapannya tapi nada tingginya pun membuat diriku merinding saat ini. Oh, Allah. Inikah Dokter Hanif Ijlal Ramdahan yang sebenarnya?


Kami tiba di mobil. Mas Hanif langsung membukakan pintu dan menyuruhku masuk. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya, namun semua itu aku urungkan saat melihat emosi yang masih tertahan di dalam dirinya. Mobil SUV yang dikendarai Mas Hanif melaju dengan kecepatan tinggi. Dia seperti lupa bahwa di mobil ini ada aku yang masih kebingungan akan hari ini.


Aku mengambil ponsel di dalam tas, berniat menghubungi Ratih dan Bian untuk minta maaf karena meninggalkan mereka berdua di sana. Ketika aku membuka kunci layar, tatapan mata Mas Hanif melirik layar ponselku lalu mobil mendadak berhenti di pinggir jalan. Aku berteriak histeris ketika rem dadakan itu terjadi.


"Kamu kenapa, sih?" rasanya aku ingin mencakar wajah tampan itu dengan tanganku sendiri.


Mas Hanif mengambil ponselku, dia menatap sebuah foto yang terpampang jelas di layar dengan kilatan amarah yang begitu besar, "Kamu dapat foto ini darimana?" tanyanya.


"Foto apa?" aku bingung sendiri.


"Jawab aku, Rhyani?" bentaknya keras sambil terus menatapku.


Belum sempat aku menjawab. Mas Hanif langsung ke luar dari mobil. Aku pun langsung mengikutinya. Mataku membulat sempurna ketika dia melempar benda canggih itu ke tengah jalan, lalu sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang. Ponselku berakhir tragis ketika terlidas ban sepeda motor tersebut.


Aku tidak percaya ini. Sungguh. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?


Mas Hanif terlihat mengusap wajahnya kasar, lalu dia menatapku dengan lekat. "Maaf," lirihnya pelan.


Aku hanya terdiam, membayangkan betapa lucunya semua ini. Aku berjalan ke tengah jalan, ketika seorang ojol melintas aku langsung memberhentikannya. "Bang ... Berhenti, Bang!"


Pengemudi ojol itu berhenti di depanku. "Ada yang bisa saya bantu, Neng?"


Tanpa disuruh aku langsung naik ke motornya. "Jalan, Bang!"


"Eh. Kita mau kemana, Neng?" tanyanya lagi yang masih kebingungan.


"Bang, saya mohon, sekarang jalan aja dulu. Tolongin saya!"


Abang pengemudi ojol langsung menancap gasnya tepat ketika Mas Hanif mengejarku.


"Kita mau kemana, Neng?"


"Bisa antar saya ke rumah sakit infra medika. Tapi saya nggak pakai aplikasi. Bisa nggak, Bang?"


"Aduh gimana ya, saya jadi bingung."


"Tolongin saya, Bang. Nanti saya bayar berapa aja deh yang Abang pinta." kataku memohon.


"Yang tadi itu pacarnya bukan?" tanyanya. Abang ojol ini malah mengalihkan pembicaraan.


"Bukan,"


"Terus siapanya atuh, Neng?"


"Dia perampok."


"Ah si Eneng bisa aja. Perampok hatinya, ya?"


Ya Allah dalam situasi seperti ini, Abang ojol malah mengajakku bercanda.


"Perampok kebahagian saya. Abang bisa anter saya nggak?"


"Bisa." jawabnya lantang ketika mendengar ucapanku.


"Ada jalan lain nggak, Bang?" kataku pelan. aku melihat mobil Mas Hanif mengikutiku dari belakang.


"Ada. Jalan tikus namanya,"


"Terserah, Bang. Mau itu jalan tikus, jalan marmut atau jalan komodo sekali pun, yang penting saya nggak bisa dikejar orang tadi."


"Ok."


Sepeda Motor yang aku tumpangi berbelok, memasuki jalan yang lumayan sempit hanya bisa dilalui dua motor sedangkan mobil tidak bisa melintas jalan ini. Aku juga bersyukur sepanjang jalan tadi, keadaan lalu lintas cukup padat yang berhasil membuat Mas Hanif tidak bisa bisa mengikutiku lagi.


"Bang," panggilku lagi.


"Ada apa lagi, Neng?"


"Saya boleh pinjem handphone-nya nggak?"


"Lah, buat apa?"


"Mau nelpon teman saya. Nanti saya ganti pulsanya, Bang."


"Ok, deh."


Abang ojol memberhentikan motornya di sebuah warung. Sepertinya dia juga ingin membeli minuman. Dia menyerahkan ponselnya kepadaku, dan aku pun bergegas menghubungi Ratih.


Nada panggilan sudah tersambung.


[Hallo]


"Hallo, Rat. Ini gue Rhyani."


[What? Rhyani? Lo di mana sekarang?]


"Gue di jalan arah pulang, lo masih di taman?"


[Masih, ini lagi nunggu taksi online]


"Sorry ya. Gue boleh minta tolong nggak, Rat?"


[Santai aja. Lo mau minta tolong apa, Rhy?]


"Di jalan yang nggak jauh dari gapura selamat datang The blue, ada handphone gue. Kalo masih ada, pliss ... Lo bawa pulang, Rat. Nggak peduli keadaan itu handphone kayak gimana, yang penting lo bawa pulang."


[Lo nggak apa-apa kan, Rhy?] Suara Ratih terdengar panik sekali.


"Gue nggak apa-apa. Nanti gue ceritain semunya. Udah dulu ya. Gue mau lanjut jalan lagi."


Sambungan telepon sudah terputus.


Aku tidak masalah dengan hancurnya ponsel itu, tapi yang aku sayangkan hanya sim cardnya saja. Aku menyerahkan ponsel itu kembali kepada Abang ojol. Perjalanan kami pun berlanjut.


Di sepanjang jalah, aku berpikir keras tentang apa yang terjadi hari ini. Aku masih tidak percaya akan semuanya. Sebenarnya ada masalah apa Malik dengan Mas Hanif, mengapa mereka begitu marah sekali ketika bertemu?


Aku masih bisa melihat tatapan luka yang terpancar dari raut wajah Malik, sebelum meninggalkan kami tadi. Apa mereka mempunyai masa lalu yang menyakitkan? Siapa mereka sebenarnya?


Lamunanku buyar ketika sepeda motor yang aku tumpangi sudah terhenti di gerbang rumah sakit infra medika.


"Udah sampai, Neng!"


"Eh ... Iya, Bang."


Aku segera turun dari motor lalu mengeluarkan beberapa lembaran uang seratus ribu dari tas dan menyerahkannya kepada Abang ojol yang sudah berbaik hati mengantarkanku pulang tanpa aplikasi.


"Wah, Neng. Ini mah kebanyakan," katanya sambil menatap takjub.


"Ambil aja, Bang! Ini rezeki dari Allah. Jangan ditolak, ya!"


"Ini beneran, Neng?"


"Iya beneran, Bang. Terimakasih sudah mengantarkan saya. Sudah meminjamkan ponsel juga."


"Waah... Saya yang harusnya bilang makasih, Neng. Makasih ya."


"Sama-sama, Bang."


Motor tersebut sudah melaju kembali. Meninggalkan aku sendiri meratapi semua kejadian hari ini. Aku bergegas berjalan menuju kost-an yang tidak jauh dari rumah sakit.


Sampai di dalam kamar kost aku langsung menangis. Membiarkan sesak dan air mata mengalir.


Allah, apakah ini laki-laki yang dipilihkan orangtua hamba untuk menemani hamba nanti?


Sifatnya jauh dari kata baik. Bagaimana bisa laki-laki sekelas Mas Hanif bisa berlaku kasar kepada wanita? Apalagi dia sampai merusak barang pribadiku.


Air mataku tak berhenti mengalir. Aku menangis tersedu-sedu sendirian di kamar kost ini. Rasanya hatiku hancur mendapati kenyataan ini.


Aku lelah, Allah. Tolong peluk aku sebentar saja.


"Rhy ... Bangun, Rhy."


Terdengar suara Ratih yang terus menepuk bahuku pelan.


"Rat... " panggilku ketika mataku terbuka sempurna.


Allah, sepertinya aku kelelahan karena menangis hingga tertidur seperti saat ini.


"Lo nggak apa-apa kan, Rhy?"


Aku langsung terbangun dan memeluk Ratih dengan erat. Menangis kembali dipelukannya.


"Sssttt ... Udah jangan nangis. Martabat lo sebagai koas pinter langsung anjlok tau."


"Ponsel gue ...," ucapku pelan ketika pelukan kami sudah aku lepaskan.


"Tuh ...," Ratih menunjukkan sebuah ponsel yang sudah tidak jelas lagi bentuknya. "Nggak ngerti deh gue. Kenapa bisa kayak gitu?"


"Rat.. "


"Cerita aja, Rhyani! Sebenarnya ada apa?"


"Lo inget ucapan Dokter Hanif di taman tadi?"


Ratih nampak berpikir, "Yang dia bilang lo tunangannya?"


Aku mengangguk.


"Itu beneran?"


Aku mengangguk lagi.


"OMG ... Kok, bisa sih?"


"Kami dijodohin,"


"Astaga!!! Jadi ini yang bikin lo mendadak jadi pendiem banget. Kenapa? Ada masalah sama perjodohannya?"


"Banyak."


"Jangan bilang lo lagi naksir orang!?"


"Tepat sekali."


"Astaga, Rhyani."


"Gue mau mandi dulu ya, Rat. Udah lengket banget badan gue,"


Ratih menggeleng pelan, "Gue masih nggak percaya. Siapa laki-laki yang bikin sahabat gue nggak mau dijodohin sama Dokter Hanif!?"


"Ada pokoknya mah." kataku sambil berlalu ke arah kamar mandi.


Aku butuh air segar untuk mendinginkan suasana hatiku saat ini.


Setelah selesai mandi, aku langsung mengecek kembali ponselku yang sudah tidak berwujud.


"Tadi ada Dokter Hanif,"


Suara Ratih yang mengagetkanku berhasil membuat ponsel itu jatuh kembali.


"Terus sekarang dia ada di mana?"


"Udah balik lagi ke RS. Ada cito katanya."


Aku bernapas lega mendengar ucapan Ratih.


"Lo mau sampai kapan kayak gini?"


"Sampai Tuhan menunjukkan jalannya. Setelah itu gue bakal membatalkan perjodohan dan pertunangan absurd ini."


"Semangat ya. Perjuangankan Cinta lo itu."


Aku mengangguk.


Allah. Beri aku petunjukmu. Mudahkanlah setiap langkah ini menuju ridho-Mu.