Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
27. Jemputan Hati


Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Satu tahun telah berlalu begitu indahnya. Ada masa tenang, ada masa bahagia, ada rasa lelah, semuanya telah menyatu dalam dada. Dan satu hal pula yang tidak bisa dibohongi oleh hati, rasa rindu.


Hari ini, ketika matahari pagi baru saja memunculkan sinarnya di ufuk timur, kami enam tim dokter yang bertugas di puskesmas Sungai Apit, masih disibukkan dengan beberapa hal sepele untuk kepulangan kami ke kota masing-masing.


Satu tahun bersama mereka, tidak pernah membuatku kehilangan indahnya berkumpul bersama keluarga. Ya, selama ini merekalah keluarga saat aku jauh dari mama dan papa. Mereka yang menemani di setiap lelahku setelah seharian bekerja.


Ada waktu datang dan ada waktu untuk pergi. Beberapa hari yang lalu, kami sudah pamit kepada para pasien yang menjadi guru dalam cita-cita besar kami selama ini. Bahkan ada di antara mereka yang menangisi kepergian kami. Ahk, mereka memang kenangan indah yang tak mungkin bisa kami lupakan, khusunya untuk diriku sendiri.


"Rhy, udah selesai belum?" tanya Ayu ketika melihatku sibuk berdiam diri, memandang kosong ke halaman depan.


"Udah, yang lain gimana, Yu?"


"Nggak tau, tuh. Tadi gue lihat cuma si Hengki aja yang beres-beres. Mungkin dua orang itu mau perpanjangan waktu mereka di sini." ucap Ayu lalu berdiri di sampingku.


"Lo kenapa malah melamun di sini?" tanyanya lagi.


"Lagi mengenang semuanya. Banyak banget pelajaran yang gue dapet dari kota ini. Mereka semua rasanya nggak akan hilang dari ingatan."


"Yup, bener banget. Sayangnya massa kita di sini udah berakhir. Semoga aja masih bisa bertemu mereka di lain waktu."


"Aamiin." jawabku sambil tersenyum ke arah Ayu.


Setelah perbincangan singkat, aku pamit undur diri, lalu memasuki kamar kembali. Melihat layar ponsel yang menyala, aku segera mengambilnya dan membuka layar canggih itu. Ternyata banyak panggilan tak terjawab dari mama dan nama seseorang yang membuatku tersenyum lalu mengetik pesan untuknya.


[Rhyani Mahira. W. ]


Besok aku pulang.


Setelah mengirim pesan singkat itu, aku segera menghubungi mama. Ketika sambungan telepon sudah tersambung, mama langsung mencecarku dengan banyak pertanyaan. Setelah itu mama juga menanyakan kapan aku pulang. Ya, mereka pasti akan sibuk untuk kepulanganku nanti. Jadi tidak sabar untuk bertemu mama dan papa kembali.


Sambungan telepon sudah berakhir, aku pun segera membuka balasan pesan dari seseorang yang jauh di sebrang sana.


[Malik Rabbani Nazzam]


Ok🙂


Hanya sesingkat itu balasan darinya. Dasar, pemalu. Masa sama calon istri saja balasnya seperti itu. Benar-benar menggemaskan.


Tuhan, begitu indah skenario yang telah Engkau berikan untukku. Meski sulit dan terkadang membuatku lemah dan tak berdaya, tetapi aku percaya akan kebesaran-Mu. Mungkin inilah yang aku rasakan ketika melabuhkan cinta kepada seorang hamba yang begitu mencintai-Mu. Terima kasih, Tuhan, semoga kisah ini berakhir dengan keindahan dan keridhaan yang Kau berikan.


***


Bandara Hang Nadim, pukul 08.00 WITA.


Aku menarik koper dengan perasaan campur aduk. Antara senang, sedih dan bahagia bercampur begitu saja. Tadi pagi, bahkan matahari saja belum memancarkan sinarnya, beberapa warga datang ke rumah tempatku dan lima teman sejawat tinggal. Warga tersebut memberikan oleh-oleh, dan kenang-kenangan khas Sungai Apit.


Katanya, semua itu adalah bentuk ucapan terima kasih mereka kepada kami. Aku terharu ketika mendengar penuturan mereka. Rasanya aku sendiri belum pantas untuk mendapatkan itu semua. Memang sudah menjadi tugas kami dalam melayani masyarakat. Dunia medis adalah hidupku. Kami para dokter sudah disumpah akan hal itu.


Panggilan penerbangan menuju Jakarta menggema. Dengan mengucapkan basmalah dalam hati, aku kembali melangkah menuju tempat chek in.


Aku akan kembali. Menyambung cerita yang sempat terhenti. Semoga Allah meridhai semua ini.


Ada rasa bahagia yang menyapa relung hatiku. Ya, sekali lagi aku tidak bisa membohongi hati sendiri. Bahagia akan kembali berkumpul bersama mama dan papa, serta bahagia akan kembali bertemu dengannya. Si pemilik hati yang terkadang egois dan menyebalkan. Aku rindu.


Satu jam lima puluh menit berada di udara, kini pesawat yang aku tumpangi telah mendarat dengan selamat di Jakarta. Aroma ibukota menyeruak di rongga hidung, sudah lama sekali aku tidak menghirup udara di kota metropolitan ini.


"Sampai bertemu kembali, guys. Gue pasti kangen banget sama kalian." ucap Hengki. Dokter asal Bandung ini akan langsung memulai pekerjaan di rumah sakit Fatmawati.


Di antara kami semua, hanya aku yang belum memilih rumah sakit untuk bekerja kembali. Aku masih belum memutuskan, rasanya ada seseorang yang harus membantuku untuk memulai semua ini.


"Iya, congrats buat kalian semua, ya. Jangan sungkan kalo mau main ke rumah gue." kataku sambil tersenyum.


"Siap, Rhi. Mending lo ikut ke rumah sakit yang sama kayak gue aja, Rhy." ajak Ayu.


"Hahaha ... Iya, deh. Jangan lama-lama, banyak pasien yang butuh kamu soalnya." Adit menimpali.


"Siap."


Kami berpisah setelah mengambil barang masing-masing. Aku segera berjalan pelan, di antara sekian ribu orang yang memadati bandara.


Tidak ada pesan apa pun dari mama dan papa. Apa mereka lupa jika hari ini aku akan pulang ke rumah? Biarlah, nanti aku naik taksi saja. Mungkin ada beberapa hal yang membuat mereka tidak bisa menjemputku.


Ketika sampai di luar bandara, netraku menemukan sosok yang tak asing sedang berdiri dan memainkan ponselnya, dan benar saja ponselku berdering menampilkan namanya. Aku tersenyum, lalu segera mengangkat panggilan tersebut.


[Assalamu'alaikum, kamu udah sampai apa belum?] tanyanya.


Aku terdiam sebentar.


[Hallo, bisa mendengar aku tidak? Kamu sudah di bandara, ya? Saya di luar, kamu di mana?]


"Iya." jawabku singkat, lalu segera mematikan sambungan telepon itu.


Dari jauh aku bisa melihat ia mengernyitkan dahinya. Benar-benar menggemaskan. Ia laki-laki tampan yang kini mengenakan kemeja warna abu-abu yang bagian lengannya sudah ia gulung hingga siku.


Aku melangkah pelan menghampiri dirinya, begitu terlihat jelas wajah yang selama ini aku rindukan siang dalam malam.


"Selamat pagi, Pak Malik." ucapku yang berhasil membuat dia terlonjak kaget.


"Walaikumsalam, Bu Dokter. Bagaimana perjalanan anda?"


Aku memukul bahunya pelan. "Nyindir aku, ya?"


"Nyindir apa? Nggak, kok."


Aku tersenyum, lalu Malik mengambil alir koper yang sedang kupegang.


"Mau langsung pulang apa makan dulu?"


"Makan. Aku laper banget. Tadi cuma sarapan roti aja."


"Ok."


Kami jalan beriringan menuju mobilnya yang terparkir. Apa aku boleh bahagia? Tuhan, tolong jangan hilangkan dia dari hidupku lagi.


"Kamu mau ke mana pakai pakaian kayak gini?" tanyaku ketika kami sudah berada di mobilnya.


"Jemput hati saya, lah."


"Eh, masa? Memangnya hati kamu di mana?"


"Nih, sekarang sudah di samping saya. Semoga nggak kabur lagi."


Aku terkekeh, "makanya diikat, biar nggak kabur."


"Udah siap diikat, ya?"


Aku tersenyum ke arahnya, "insya Allah, jika Allah berkehendak, aku nggak akan menolak."


"Aamiin. Semoga segera di semogakan."


Aku pun mengaamini doanya, "aamiin."


Tuhan, begitu banyak cobaan yang Engkau berikan untuk kami. Sebuah pelajaran demi pelajaran yang tak pernah berhenti untuk membuat kami introspeksi diri. Muhasabah di setiap luka yang ditorehkan oleh mereka, yang akan kami jadikan jejak kenangan dalam ingatan.


Jika memang seorang Malik Rabbani Nazzam benar jodohku, maka dekatkanlah hati kami dalam naungan ridha-Mu.