Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
3. Rayuan receh Dokter Hanif


"Melihatmu tersenyum, seperti menemukan air di gersangnya gurun. Maka tersenyumlah agar semua terasa Indah."


                               💙💙💙


Aidh Al Qarny dalam bukunya pernah mengatakan 'Wanita memang memiliki banyak kelebihan dalam berbagai sisi kehidupannya. Di antara sisi yang unik dari kelebihannya itu adalah kebahagian wanita sangat berpengaruh terhadap orang terdekat yang ada di sekitarnya. Dengan kebahagiaan, hidup seorang wanita menjadi lebih berarti di mata siapapun. Apakah itu di mata suaminya, keluarganya, sahabtnya atau orang lain.'


Seperti yang terjadi padaku saat ini, ingin membuat bahagia orang asing yang kini mampu membuat getar di dadaku.


Malam ini aku dan Dokter Hanif memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari rumah sakit. Sebenarnya Dia ingin mengajakku ke tempat favoritnya. Namun, semua itu kutolak halus, dengan alasan aku jaga malam.


Kalian pernah merasakan, menikmati malam cerah, penuh bintang berduaan dengan seseorang yang ... Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku sendiri. Terlalu naif untuk sebuah perasaan saat ini.


Meski dengan tampilan biasanya, entah mengapa malam ini dia sangat berbeda di mataku. Apa ini tentang sebuah tangan kekar yang tadi siang merangkulku? Mungkin...


Aku membcoba menepis semua bayangan itu. Kalem Rhy, biasa aja, jangan salting!


Pesanan kami telah diatar oleh pelayan. Kulihat Dokter Hanif sangat lahap sekali ketika makan. Satu hal yang baru kulihat saat ini, dia begitu menggemaskan. Aku tidak melewatkan sedetik pun pemandangan yang jarang sekali terlihat di rumah sakit. Para Dokter pasti menjaga image mereka jika sedang berada di lingkungan kerjanya.


"Lapar banget ya, Dok?" tanyaku pelan.


"Iya, saya belum makan dari siang," jawabnya setelah meneguk air putih di hadapan.


"Makan yang banyak, Dok! Terkadang Dalam menghadapi kenyataan hidup membutuhkan tenaga yang banyak,"


Dia tersenyum, "pastinya itu mah. Apalagi meluluhkan hati wanita, butuh banyak banget asupan makanan bergizi, biar nanti pas ditolak nggak kerasa sakit-sakit amat!"


Senyum manis itu menular ke bibirku. Receh banget, Dok.


"Memang sudah pernah ditolak, ya?"


"Belum sih. Belum pernah nyoba juga.. Hahaha.. " dia tertawa diakhir ucapannya.


"Kenapa nggak mencoba aja?"


"Memangnya mau?"


Sejenak aku memikirkan kata-kata yang baru saja aku lontarkan kepadanya. Memangnya mau?  Maksud Dokter Hanif ini apa?


Apa ada yang salah dengan pertanyaanku tadi?


"Rhy," panggilnya pelan. "Malah melamun!"


"Eh, maaf, Dok."


"Kalo lagi empat mata kayak gini, jangan panggil saya 'Dok.. Dok.." takutnya kamu lagi kesel sama saya terus nambahin kata 'Ko' di depannya. Kan saya yang ambyar jadinya."


Sebentar.. Sebentar.. Maksudnya 'Dok' ditambahin 'Ko' di depannya.. Jadi, Kodok gitu?


Tak bisa kutahan lagi, tawaku pecah seketika.


"Apa sih, Dok. Garing banget tau nggak?"


"Iya tau. Makanya jangan panggil 'Dok.. Dok..' kita lagi nggak pakai snelli, Rhyani."


Aku mengangguk, tawaku sudah mulai reda saat ini. "Terus saya harus panggil apa, dong?"


"Apa, ya?" Dia terlihat sedang berpikir, "Kakak? Tapi saya nggak pengin punya adik kayak kamu,"


"Loh, kenapa?"


"Terlalu sayang, mending jadi istri aja!"


Oksigen mana? 


"Itu juga kalau kamu mau jadi istri saya."


Siapa pun itu, pelayan restoran, Bapak security di luar! Tolong tahan diriku, aku takut terbang.


"Tapi tidak sekarang. Saya paham, kok. Menikah saat koas pasti sulit."


"Dok, sebenernya lagi ngomong apa, sih?" tanyaku pelan.


Dia tersenyum lagi, ya ampun senyumnya itu seperti oase di tengah gurun, menyegarkan. "Saya nggak ngomong apa-apa. Cuma curhat sedikit," dia meneguk kembali air putih yang tersisa tinggal setengah itu, "Nggak usah dipikirin, Rhy. Nanti aja pikirinnya kalo kamu udah siap."


Ini Dokter Hanif lagi kenapa sih? Perasaan dia tidak salah makan, tapi kenapa ucapannya mampu membuat otak halu-ku membayangkan semuanya. Pliss, no stupid, Rhyani.


Aku kembali menyuapkan makanan ke mulut. Hatiku masih saja tersenyum mendengar ucapannya tadi. Biarin aja, senyumnya di dalam hati kan. Jadi, tidak perlu takut ketahuan sama laki-laki yang memiliki mata sipit itu.


Setelah selesai makan, kami bergegas pulang. Malam ini akan terasa sangat panjang untukku. Jalan raya masih ramai. Aku melupakan sesuatu, ini malam minggu pantas saja masih banyak pengunjung di taman yang berada tidak jauh dari restoran.


"Saya antar, ya!" pintanya, ketika kita akan berpisah arah.


"Iya, tapi saya belum tenang kalo tidak mengantar kamu. Ini malam minggu, saya takut kamu digodaiin cowok-cowok labil yang nggak pernah mandi. Cuma menyemprotkan parfum buat ketemu pacarnya,"


"Geli saya dengernya, Dok."


Dia terkekeh pelan, sambil terus berjalan di sampingku. "Coba deh belajar, kalo lagi berdua kayak gini jangan panggil 'Dok'!"


"Terus mau dipanggil apa?"


"Ya nggak tau. Terserah kamu aja! Saya belum menemukan panggilan yang cocok. Hahha.. " dia tertawa sendiri dengan ucapannya. Aku pun ikut tertawa karenanya.


"Kamu asli orang mana, Rhy?"


"Jawa. Tepatnya Yogyakarta,"


"Pantesan aja!"


"Kenapa, Dok?"


"Wajah kamu manis banget, kayak gula aren."


Ok. Sampai di sini, aku rasa ingin muntah karena rayuan recehnya.


Wajahku bersemu merah. Dan rasanya malu sekali, jika digombalin sama senior sendiri.


"Rhy," panggilnya pelan.


"Ya,"


"Panggil 'Mas' aja! Hitung-hitung latihan buat kamu. Tapi jangan pake embel-embel 'Masay'!"


"Masay apa?"


"Mas-sayang."


Aku... Ingin.. Lari aja.. Jika terus berjalan berduan hingga sampai rumah sakit, aku yakin sekali jantungku akan loncat dari tempatnya.


Suasana malam yang semakin ramai, deru suara kendaraan saling bersahutan. Dalam dinginannya angin malam, aku bisa merasakan suatu kehangatan pada hatiku. Apa ini?  Doaku tetap sama, semoga ini bukan perasaan.


Kami tiba di depan gerbang rumah sakit. Dia masih berjalan beriringan di sampingku.


"Dokter mau kemana?" tanyaku.


"Ya mau pulang, tapi nggak bisa,"


"Nggak bisa kenapa?"


"Gimana bisa pulang, kalo sebagian hati saya masih di sini. Malam minggu malah dapat jadwal jaga malam."


Aku dehidrasi. Ingin pingsan. Tapi malu. Sumpah, Dok. Receh banget!


Aku menundukkan wajah. Menyembunyikan pipiku dari semu merah.


"Kerja yang benar ya! Jangan suka ganggu Mas-mas cleaning yang jaga malam juga. Inget, Mas-mu sudah pulang!"


Aku memberanikan diri memukul lengannya pelan. Gemes banget dari tadi, pengen tabok aja wajahnya yang oriental mirip Oppa Korea Jo jung sok


"Bercanda! Udah sana masuk, aku mau ke parkiran,"


What? 'Aku' ..


Sepertinya setelah ini aku ingin periksa telingaku ke THT.


Aku mengangguk, lalu pamit undur diri.


"Rhy," panggilnya lagi, aku menoleh ke arahnya. "Terima kasih, ya. Jangan marah! Saya bercanda. Tapi—" dia menunjuk dada bidangnya yang terbalut kemeja yang selalu pas di tubuhnya. "Dia, nggak pernah bercanda."


Tanpa menunggu responku yang pasti cukup bingung melihatnya. Dokter Hanif bergegas pergi ke parkiran.


'Dia' yang di maksud Dokter Hanif itu siapa?


Hatinya?


Perasaannya?


Atau apa?


Aku jadi bingung.


Plis jangan baper, Rhy!