
Ada beberapa hal yang tak pernah hilang dalam ingatanku. Pertama ketika aku dinyatakan lulus fakultas kedokteran, lalu lulus dengan hasil yang memuaskan. Kedua ketika aku merasakan jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya, lalu kini cinta itu terbalas. Dan yang terakhir ketika cinta itu kini bersemi, dan kalimat akad telah keluar tanpa kendala. Aku bahagia. Sangat.
Kulirik laki-laki yang kini mengenakan kemeja putih yang berbalut jas hitam begitu pas menutup tubuh tegapnya. Ia sangat tampan. Lalu ketika kata 'Sah' menggema, kami berdua langsung mengadahkan tangan meminta ridha Allah atas pernikahan kami ini.
Selesai berdoa, Malik tersenyum ke arahku. Senyum bahagia yang begitu terpancar jelas dari wajahnya. Lalu ia mengulurkan tangan, aku pun segera meraihnya. Kini baktiku telah berpindah kepadanya. Bakti seorang istri kepada suami. Allah ridhailah pernikahan kami.
Aku tersenyum ketika tatapan mata kami bertemu. Lalu hal yang selalu aku impikan ialah, ketika Malik menarik tubuhku pelan, dan mendaratkan kecupan mesra di keningku. Tuhan, jadi seperti ini rasanya. Sungguh aku bahagia sekali.
"Terima kasih, sudah mau menerima laki-laki seperti saya," bisiknya pelan.
"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada kamu. Terima kasih sudah mengakhiri penantian ini."
Lalu kami tertawa pelan.
Begitu banyak cobaan dalam hidup ini. Setiap langkah kehidupan begitu nyata untuk dijalani. Ada saatnya hati merasakan sakit yang amat dalam. Kecewa dalam diam, lalu cinta menyembuhkan semuanya. Tuhan Maha Segalanya. Dan aku percaya bahwa setiap embusan napas, pasti tercipta kebahagiaan untuk kita. Tinggal bagaimana cara kita untuk meraihnya.
"Ayo, ditandatangani buku nikahnya." Suara bapak penghulu berhasil menyadarkan lamunanku, Malik yang masih berada di sampingku langsung menyentuh lenganku yang dibalut baju kebaya berwana putih. Kebaya sederhana yang ia pilih saat fitting baju ketika menyiapkan pernikahan.
"Tanda tangan dulu," ucapnya. Aku mengangguk lalu mengambil pulpen dan segera menandatangani buku nikah. Tuhan, semoga ini bukan mimpi.
"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah Sah menjadi suami istri. Semoga Allah meridhai pernikahan kalian. Diberi keturunan yang saleh dan salehah. Berjodoh panjang hingga maut yang memisahkan."
"Aamiin, ya Allah," ucapku dan Malik kompak bersamaan.
Papa dan Mama tak henti-hentinya meneteskan air mata. Begitu pun umi dan Malikha. Rasanya memang masih sulit dipercaya. Namun, semua ini nyata. Allah telah memberi jalan terhadap kisah cinta kami yang begitu terjal.
Setelah selesai akad nikah aku langsung diarahkan untuk melakukan sungkem kepada orang tua. Salah satu adat Jawa yang tidak bisa ditinggalkan.
Dua minggu sebelum pernikahan kami, lebih tepatnya aku sendiri melakukan acara siraman di rumah. Lalu dilanjut pengajian untuk mendoakan kelancaran pernikahan ini. Calon mempelai wanita harus melalui fase -dipingit- di mana aku tidak bisa bertemu dengan siapa pun kecuali orang tuaku.
Ketika satu hari menjelang hari H, keluarga besarku mengadakan acara midodareni. Di mana Malik dan keluarganya datang melamar secara resmi dengan adat Jawa. Midodareni disebut sebagai pengarif-arif yang berarti malam menjelang pernikahan bagi kedua mempelai.
Midodareni berasal dari kata widodari atau bidadari yang turun dari langit. Masyarakat Jawa yang memegang tradisi ini percaya, ini adalah malam saat bidadari mempercantik pengantin wanita agar lebih elok.
Saat ini, ketika aku duduk bersimpuh di hadapan papa, air mataku tak sanggup lagi kutahan. Rasanya begitu menyesakkan, sekaligus membahagiakan.
"Pa, maafin, Rhyani," ucapku disela isak tangis.
"Doakan, a-ku, Pa."
Papa mengelus rambutku yang disanggul, lalu tambahan hiasan kepala yang beratnya hampir menyiksa.
"Papa selalu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, Nak. Bahagialah bersama suamimu."
Lalu aku berjalan menggunakan lutut, dan bersimpuh di hadapan mama. Ketika aku baru saja ingin mengucapkan kata-kata, suara tangis papa pecah ketika memeluk Malik. Tuhan, begitu menyentuh sekali pemandangan yang kulihat di hari bahagia ini.
Mama langsung memelukku, lalu kami menangis bersama.
"Sstt ... Udah jangan nangis, nanti bedaknya luntur," ucap Mama sambil menangis.
Allah, Terima kasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan untukku.
Lalu aku kembali berjalan menuju umi, ibu kedua yang kumiliki.
Umi langsung memelukku, mengucapkan kata-kata yang begitu menyentuh hati. "Semoga Allah meridhai pernikahan kalian."
Tidak ada hal yang begitu indah untuk dilupakan. Meski terkadang rasa sakit datang menyapa, semoga Allah menyembuhkannya.
Aku segera bangkit berdiri, dibantu Ratih dan Resa yang menjadi pengiring pengantin wanita saat ini. Lalu tibalah Malik yang duduk bersimpuh di hadapan Uminya. Tangis mereka pecah saat berpelukan bersama. Begitu erat, bahkan Malikha yang berada di sampingnya pun ikut memeluk Kakak dan uminya.
Skenario Allah yang begitu indah. Wujud nyata dari kesabaran hamba di dunia. Kini berakhir sudah perjalanan cintaku. Seorang Malik Rabbani Nazzam, menjadi pelabuhan terakhir tempatku berlabuh. Semoga kami bisa bergandengan tangan menuju mahligai rumah tangga yang sakina, mawaddah, dan warahmah di atas ridha Allah.
Setelah selesai acara sungkuman, kami langsung diarahkan ke acara adat selanjutnya, yaitu acara panggih disebut juga dhaup temu. Puncak acara pernikahan adat Jawa. Setelah dua pengantin resmi menikah secara agama, orang tua dari kedua belah pihak bertemu secara adat Jawa.
Lalu dilanjut acara melempar gantal. Sirih yang diikat dengan benang putih. Lalu aku sebagai mempelai wanita melempar bantal ke arah lutut Malik sebagai tanda bahwa aku akan berbakti kepada suami. Setelah itu dilanjut kembali dengan prosesi ngidak endok. Prosesi injak telur ini mengartikan kesopanan istri kepada suami.
Malik segera membantuku bangkit berdiri, ini merupakan makna penghargaan terhadap istri. Begitu banyak rangkaian prosesi adat yang telah kami selesaikan. Rasanya begitu melelahkan dan sangat menguras tenaga.
"Capek?" tanya Malik setelah kami berganti pakaian dan sudah dipersilahkan duduk di pelaminan.
"Banget. Ini, nih yang bikin aku nggak respek banget menikah pakai acara adat," sungutku.
"Ini adat kamu, loh. Harusnya bangga. Aku yang orang Sunda aja berasa tersanjung sama rangkaian adatnya. Banyak makna yang tersimpan."
"Ih, kamu, tuh ... Aku malah punya cita-cita nikahnya di KUA, aja. Nggak pakai acara ribet kayak gini."
"Masa? Kok, nggak cerita dari awal?"
Aku menatap Malik sejenak. "Tapi, semua itu cuma bercanda."
"Hahahaha ... Lucu banget, sih istri aku."
"Cie ... Udah panggil istri kayak gitu."
"Iya, dong. Karena sekarang Bu Dokter cantik itu udah sah aku apa-apain."
"Maksudnya apa?"
Malik tersenyum genit, "nggak tau."
Aku refleks mencubit pinggangnya pelan. Laki-laki yang baru beberapa jam tadi telah sah menjadi suamiku nampak gagah memakai baju adat khas Jawa untuk pengantin pria. Rasanya cintaku semakin bertambah untukya. Tidak ada hal lain yang kupinta kepada Tuhan. Cukup bahagiakan aku dan suami dalam mengarungi bahtera hidup bersama anak-anak kita nanti.