Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
4. Pertemuan


Biarkanlah saja dulu


Kita jalan berdua


Mereka pun pernah muda


Saatnya kau dan aku sekarang


Biarkanlah saja dulu…


Aku mengikuti Sepenggal lirik dari lagu 'pernah muda' yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari, dari earphone yang bertengger manis di telingaku. Saat ini aku sedang bersiap diri untuk pulang ke rumah. Istirahat, tidur, dan yang pasti marathon nonton drama Korea favoritku.


Aku senang sekali di hari minggu pagi ini. Meski mataku tinggal lima watt tapi kurasa cukup untuk dipakai pulang. Aku tidak mau tidur di kost-an hari ini. Aku ingin pulang, rindu Mama, Papa.


"Heh, mau kemana, lo?" tanya Ratih saat melihatku sudah membawa tas.


"Mudik,"


"Yakin banget bisa pulang hari ini?"


Aku menatap Ratih dengan tatapan menyelidik, "Jangan kasih pekerjaan ke gue!"


"Hahaha. Percaya, deh, yang lagi banyak kupu-kupunya."


Soal semalam aku sudah menceritakan semunya kepada Ratih. Tentang Dokter Hanif yang membuat mataku terjaga padahal UGD sepi tanpa penghuni. Jadi, tak heran jika saat ini, Ratih sedang meledekku.


"Diem deh lo, Rat!"


"Ok. Ini diem. Jadi lo mau pulang sekarang?"


"Iya. Gue udah ngantuk banget soalnya!"


Ratih tersenyum mencurigakan, "Iya. Iyalah ngantuk, Semalam lo kan kebanyakan mengkhayal."


"Rattiiihhhh ...." aku gemas sekali dengan sahabatku ini.


"Udah sanah pulang, Rhy!" usirnya.


"Siap. Selamat weekend kawan!"


Aku berpisah dengan Ratih ketika seorang perawat datang ke arah kami, membawa jadwal visit pasien yang akan dilakukan Ratih hari ini. Kulanglahkan kaki menuju kost-an khusus Putri, tempat tinggal sementara aku dan Ratih yang tidak jauh dari rumah sakit dan fakultas kami.


Sampai di Kost-an aku langsung membuka pintu, merapihkan barang-barang yang akan kubawa pulang ke rumah. Setelah selesai aku pun menyalakan mesin mobil, dan siap meluncur pulang, aku rindu rumah.


Aku pernah membaca sebuah buku, dalam tulisnya beliau mengatakan 'Kedamaian jasmani ada dalam sedikitnya makan. Kedamaian jiwa ada dalam sedikitnya berbuat dosa, kedamaian hati ada dengan sedikitnya keinginan, dan kedamaian lidah ada di dalam sedikitnya bicara'


Jadi untuk saat ini aku hanya ingin mendamaikan semua organ tubuhku yang sensitif sekali. Apalagi, si gumpalan darah yang sering menyimpan sesuatu dalam bentuknya yang lemah. Namun syarat sekali akan sebuah kekuatan.


Aku tidak ingin mencoba sesuatu, yang diriku saja masih enggan untuk memulainya. Ini masih tahap awal sekali untuk sebuah perasaan apalagi sampai berakhir dengan cinta. Membayangkannya saja aku ingin tertawa.


Kita tidak pernah tau, tentang rencana Tuhan untuk kita. Mungkin jika saat ini aku masih terlalu naif soal perasaan, entah akan seperti apa di kemudian hari. Ketika Allah membolak balikan hati manusia, saat itulah aku akan mengerti arti cinta yang sesungguhnya.


Brrakk


Aku menginjak pedal rem mobilku, hingga suara nyaring hasil gesekan ban mobil dan aspal pun berbunyi kencang sekali.


"Astaga!" pekikku.


Aku segera membuka sabuk pengaman yang sedang kukenakan, membuka pintu mobil, lalu keluar. Tatapan mataku tidak percaya dengan apa yang terjadi di depanku.


"Mbak, bisa bawa mobil nggak, sih?" kata seseorang yang sedang mencoba membangunkan sepeda motornya yang... Tidak sengaja.. Aku tabrak. Perasaan mobilku sudah berada di jalan yang benar. Lalu mengapa ini bisa terjadi? Kulirik mobilku yang tepat berada di sampingku saat ini.


Tuhan... Ternyata aku jalan terlalu pinggir. Dan motor yang sedang terparkir di bahu jalan itu, harus terjatuh mengenaskan seperti sekarang.


"Maaf," kataku pelan. Aku tidak berani menatapnya.


"Kenapa motornya, Kang?" tanya seorang Bapak yang datang menghampiri kami. Suasana jalan saat ini cukup sepi, jadi aku tidak terlalu cemas dengan kejadian ini.


"Kena tornado, Pak." jawab laki-laki yang masih memakai helmnya. Lalu setelah dibantu Bapak tadi mendirikan motornya, ia melepaskan helm di kepalanya. Rambutnya yang berantakan ia rapikan dengan tangan kanannya. Lalu tatapan kami bertemu.


"Akang Nasyid..." lirihku pelan.


Ini serius?


Si pengendara motor ini, Akang Nasyid yang menyebalkan itu!


Oh, Tuhan. Perasaan semalam aku tidak tidur, kenapa harus mimpi buruk di siang hari seperti ini?


"Motornya lecet nih, Kang!" kata Bapak tadi yang masih setia melihat keadaan motor. Sedangkan aku hanya diam membisu, tidak tau harus berbuat apa. Aku bingung..


"Syukurlah, Pak,"


Aku terkejut saat mendengar ia hanya berucap syukur seperti itu.


"Mbak, tanggung jawab dong!" suara ini bukan berasal dari Akang Nasyid tapi dari si Bapak yang membantunya.


"Iya, Pak."


"Saya tidak apa-apa, Pak! Terima kasih sudah membantu saya,"


"Loh, Akang ini bagaimana sih? Jelas-jelas si Mbak ini udah bersalah, Kang,"


Setelah Bapak tadi pamit undur diri, kini hanya tinggal kami berdua di pinggir jalan. Aku bingung harus mengatakan apa kepadanya. Permintaan maafku pun belum dijawab olehnya.


"Kamu ngapain masih berdiri di situ?" tanyanya.


"Motornya rusak, Mas. Saya minta maaf!"


"Sudah saya maafkan,"


"Terus bagaimana dengan—" belum sempat aku berbicara dia sudah memotong ucapanku. "Saya tidak apa-apa! Tidak usah pikirkan motor saya."


Aku kembali terdiam. Kulihat dia sedang menelpon seseorang dari ponselnya.


"Jalan Dadali. Bawa pick up aja!" serunya, yang terdengar olehku.


"Kenapa ngeliatin saya kayak gitu?"


Aku terlonjak kaget mendengar ucapannya.


"Liatin apa? Saya nggak liat apa-apa, tuh." jawabku gugup.


Dia tersenyum samar.


Kalian pernah melihat seorang laki-laki yang sedang berhadapan dengan perempuan, tapi pandangannya tidak melihat ke arah kita sama sekali?


Akan kujelaskan seorang Akang Nasyid yang saat ini tepat berada di depanku. Namun, pandangan matanya terkadang ke arah mobilku, ke motornya, bahkan ke arah sepatunya. Sepertinya aku hanya dianggap makhluk tak kasat mata olehnya.


Apa memang pandangan matanya sudah di setting seperti itu?


Aku tidak mengerti momen awkward kedua kalinya seperti ini. Tentu momen pertama itu saat dia menabrakku, dan kini aku yang menabraknya.


Skenario apa ini Tuhan?


Aku mencoba menarik napas pelan. Menambah pasokan oksigen agar aku bisa bernapas dengan aman. Rencana nonton marathon gagal, kantukku tidak tertahan lagi. Aku menguap beberapa kali.


"Kenapa masih di sini? Udah sana pergi!"


"Hah,"


"Sana pergi! Nggak usah menunggu saya."


"Kamu ini nyebelin banget, sih!"


"Loh. Kenapa jadi saya yang nyebelin?"


"Ya, setidaknya kamu menghargai saya dong! Saya tau ini tuh salah saya. Makanya saya menunggu kamu, sampai siapapun itu menjemput kamu di sini!" aku menaikan satu oktaf suaraku. Ngantuk, lelah, lapar, marah, kesal sudah menyatu dalam diri.


"Ya udah, sana pergi! Sebentar lagi teman saya datang. Terima kasih sudah membuat hari saya jadi anjlok kayak gini. Hati-hati kalo sedang berkendara!"


Perkataannya cukup menohokku.


Sungguh ini makhluk spesies apa, sih?


"Saya kan sudah minta maaf sama kamu,"


Aku tidak kehabisan cara agar bisa menunggu dirinya yang katanya temannya akan segera datang menjemput. Aku bukan tipikal orang yang suka lari dari kesalahan.


"Sudah saya maafkan."


Tahukan kalian, kemana arah pandangan matanya ketika ia bilang memaafkan? Ke arah tukang bubur ayam yang sedang melintas mendorong gerobaknya.


Apa susahnya, sih, melihat lawan bicaranya?


Apa aku harus mengajarkan attitude kepadanya?


Menyebalkan!


Sebuah mobil pick up berhenti tepat di belakang motornya yang rusak itu.


Seorang Bapak paruh baya dan seorang pemuda turun dari mobil. Mereka menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ini kenapa, Lik?" tanya Bapak paruh baya itu.


"Nggak kenapa-kenapa, Wa," jawabnya lalu dia menyuruh anak muda tadi untuk mengangkut sayuran yang rusak karena tertimpa badan motor. "Pin, ini diangkut aja! biar motornya bisa langsung saya bawa ke bengkel."


"Siap, Bang!"


Setelah semua sayuran dipindahkan ke mobil, dan Bapak paruh baya serta anak muda tadi pamit undur diri, kini menyisakan kami berdua kembali.


"Kamu mau sampai kapan di situ? Saya mau pulang!"


Dan benar saja, tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menancap gas motornya lalu melesat pergi.


Dasar...


Cowok nyebelin...


Aku doakan kamu nanti jatuh cinta sama aku dan akan kupastikan menolak cinta kamu itu kayak film di FTV yang sering ditonton Ratin dan Bian.


Astagfirullah, Rhy.. Sadar....