Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
1. Akang Nasyid!!!


 


**Rhyani Mahira Wijaya**


 


"Pertemuanku denganmu yang tak sengaja mampu membuat sebagian hatiku hilang entah kemana."


💙💙💙


Aku masih mematut di depan cermin, melirik sebuah baju di atas tempat tidur yang membuat diriku galau setengah hati.


"Rhyani, kamu kapan selesainya, Nak?"


Teriakan Mama berhasil menghentikan sementara aktivitasku di depan cermin. Bagaimana mungkin di zaman era milenial seperti ini, Mama masih menyuruhku untuk ikut datang ke acara pernikahan sanak saudara dengan memakai kebaya ini, yang membuatku.... Ahk, sumpah ini menyebalkan banget sih! Masa Mama nggak tau selera baju anaknya?


Tuhan, aku ingin pura-pura sakit saja, atau pingsan sekalian agar tidak ikut ke acara Mama dan Papa. Tanpa mengetuk pintu Mama masuk ke dalam kamarku, dengan tatapan takjub saat melihat diriku, "Astagfirullah, Nak," Lalu Mama berteriak histeris memanggil Papa, "Pa.. Papa, coba lihat ini anak Sultan! dari tadi belum rapi juga,"


Aku menatap Mama jengah, "Aku nggak mau ikut, Ma."


"Kenapa? Mama sama Papa udah menunggu kamu dari tadi, tapi jawaban kamu malah kayak gini,"


"Ma," lirihku. Lalu menyodorkan baju yang sudah disiapkan Mama, "Aku nggak suka bajunya! ini modelnya kuno, pasti panas banget, Ma."


"Panas di dunia itu belum ada apa-apanya, Sayang," suara Mama mulai melembut. Dan aku yakin sekali Mama akan mengeluarkan ceramahnya kali ini. "Masih ada panasnya api neraka yang bisa membuat badan kamu lenyap seketika."


Tubuhku langsung luruh ke tempat tidur, "Aku ikut, tapi nggak mau pakai baju ini!"


"Memang bajunya jelek, ya?"


"Bajunya Bagus, tapi aku nggak suka, Ma,"


"Itu namanya sama aja, bajunya jelek buat kamu. Ya sudah, terserah kamu aja, yang penting harus ikut. Jangan lama-lama dandanya, Mama tunggu di bawah!"


Aku tersenyum penuh kemenangan, lalu mengambil baju yang sedari tadi sudah aku siapkan. sebuah kebaya modern berwarna ungu muda yang bagian bawahnya model brokat, lalu kain katun corak batik berwarna senada menjadi teman penampilanku kali ini. Rambut hitam panjangku, sengaja kubiarkan tergerai dan sebagai pemanisnya bagian samping kanan kukepang daun.


Aku kembali bercermin. Perfect!


kuusapkan lipgloss berwarna peace di bibirku, aku tidak suka memakai make up tebal. Untuk urusan wajah pun aku tidak pernah pakai bedak. So, inilah penampilanku.


Setelah semua selesai, aku pun menghampiri Mama dan Papa. "Yuk, Pa. kita berangkat!"


Papa hanya tersenyum mengangguk, lalu segera keluar rumah menuju mobil kami. Aku dan Mama mengikutinya dari belakang.


****


Kami tiba di gedung acara, Nampak keramaian masih terlihat di pintu masuk utama. Memang acara ini dimulai dari pukul 10.00 dan akan selesai jam 16.00 nanti. Kini giliran mobil yang aku tumpangi dipersilahkan masuk ke area parkir.


Di halaman gedung terdapat banyak sekali rangkaian bunga ucapan untuk pengantin, dan ada nama keluargaku juga. Setelah keluar dari mobil, aku terpana dengan interior gedung tersebut. Di depan pintu masuk terdapat sebuah rangkaian bunga sakura yang begitu indah dipandang.


Ketika masuk, aku disuguhkan dengan interior modern yang sangat cantik. Lampu-lampu kristal yang menempel pada atap gedung, seperti bintang kejora yang bersinar terang. Bunga Mawar putih menjadi pemanis setiap sudut gedung. Tempat hidangan dihiasi lilin-lilin yang sangat romantis. Taman pelaminan didekor dengan sangat simple namun tetap elegan. Perpaduan bunga Mawar merah dan Mawar putih, lalu bunga-bunga lainya yang tidak aku ketahui menjadi daya tarik tersendiri saat dipandang. Dan yang menjadi perhatianku saat ini ialah, sebuah panggung kecil di samping kiri taman pelaminan.


Di panggung tersebut terdapat alat-alat musik, yang aku yakini mungkin sebuah band akan tampil di acara ini. Aku, Mama, dan Papa mulai naik ke atas taman pelaminan, setelah tadi kami menunggu antrean panjang untuk bersalaman dengan kedua mempelai.


Setelah bersalaman, aku memutuskan untuk berkeliling melihat keindahan dekorasi gedung ini. Sebagai wanita pasti ada harapan dan mimpi terpendam, ketika menikah nanti punya pernikahan impian sendiri. Sebenarnya aku malu memikirkan ini, karena calonnya saja aku belum punya. Tak apalah, untuk kalian para jomblower mengkhayal sajalah dulu, setelah itu kita cari calonnya! piss..


"Rhyani ...." Teriakan seseorang itu mampu membuyarkan semua khayalanku. Aku menoleh ke arahnya dan mendapati Resa dengan suara khasnya, "Ya ampun, gue sampai kangen banget sama lo, Rhy!"


"Masa sih, Res?" tanyaku.


Resa memelukku erat, membuat aku sulit sekali bernapas.


"Susah memang, kalau punya sepupu calon Dokter. Buat ketemu aja pada sibuk!"


"Res, mending lepasin dulu deh pelukkannya, Sumpah gue nggak bisa napas!"


Resa melepaskan pelukan kami, "Sorry.. Sorry ... Gue terlalu bahagia banget ketemu lo, Rhy,"


"Nggak usah lebay gitu deh, Res. Kayak gue di Antartika aja,"


"Lo, Memang nggak ada di Antartika, tapi pekerjaan lo yang bikin kita sulit bertemu,"


"Gue belum kerja, Res. Gue ingetin kalo lo lupa!"


Resa tertawa, "Hahah..."


Membuat aku bingung tidak mengerti, di mana yang lucunya coba?


Aku dan Resa bercerita banyak tentang kesibukkan kami selama ini. Resa ini sepupuku, anak dari Tanteku, Adiknya Mama. Setelah puas mengobrol banyak, aku izin untuk ke toilet sebentar, Resa menunggu di kursi yang tidak jauh dari taman pengantin.


Bertemu saudara yang menjadi teman terdekat itu sangat menyenangkan. Kami sama-sama sibuk akhir-akhir ini. Jadi, tak heran jika Resa mengatakan rindu padaku, aku pun sangat merindukannya. Setelah selesai dari toilet, aku segera kembali ke tempat Resa. Mataku sibuk melihat layar ponsel yang berisi chat di group teman-teman koasku. Hingga tidak sadar, sebuah bahu seseorang menabrak tubuh mungilku. Ponselku terlepas dari tangan lalu terlempar begitu saja ke lantai.


Shit!!!


Aku mengumpat di dalam hati, lalu mengambil ponsel, yang bersyukur tidak terjadi apapun pada layar canggih itu.


"Maaf," kata seseorang yang tadi menabrakku.


"Masnya, kalo jalan hati-hati dong! Tuhan ciptakan mata itu untuk dipakai melihat,"


"Saya tau, saya minta maaf!" katanya lagi. Lalu dia pergi begitu saja tanpa menghiraukan kata-kataku. Aku masih menatap punggung laki-laki tersebut dengan tatapan tidak percaya.


Sumpah, jadi cowok, kok, menyebalkan banget!


Aku menghampiri Resa dengan sisa amarah yang masih kusimpan.


"Kenapa muka lo ditekuk kaya gitu, Rhy?"


"Abis ditabrak jin iprit,"


"Eh.. Serius? ditabrak di mana?"


"Serius, Rhy?" tanya Resa lagi dengan tatapan mata yang... sulit sekali diartikan.


"Nggak, gue bercanda!"


Resa mendengus pelan, lalu kembali memakan salad buah yang ia ambil dari tempat aneka makanan. Aku duduk di kursi sebelahnya lalu kembali melihat isi chat dari group koasku.


Tes.. 1..2..3..


Terdengar suara mikropon dari panggung kecil tersebut. Aku masih fokus menatap layar ponsel, hingga suara histeris Resa berhasil membuatku mendongak ke arahnya.


"Ada apa sih, Res?"


"Kang Nazzam ... " Resa kembali berteriak memanggil nama seseorang, aku pun mengikuti arah pandangannya. Dan tatapan mataku bertemu dengan laki-laki yang sedang duduk di panggung sambil memegang mikrofon tersebut.


Laki-laki yang menggunakan jas koko berwarna putih, rambutnya disisir rapi menambah kesan maskulin sekali. dari kejauhan aku masih bisa melihat jelas wajahnya yang tampan. Hidungnya mancung, dan suaranya .... Membuat Resa kembali histeris memanggil namanya.


"Omgg!!! Kang Nazzam..."


"Nazzam siapa, sih?" tanyaku bingung.


"Lo nggak kenal?"


"Nggak,"


"Makanya jangan fokus mulu sama anggota tubuh manusia. Cowok se-keren Kang Nazzam aja lo nggak kenal. Payah!"


"Heh," aku mencoba untuk berdebat lagi dengan Resa, namun satu tangannya menyuruhku untuk diam, "Dengerin calon imam gue mau nyanyi!"


Aku menyipitkan mata. Jijik mendengar ucapan Resa.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk kedua mempelai." Cowok itu memulai pembicaraannya.


Resa begitu memperhatikan cowok tersebut dengan tampang gemas, yang membuatku ingin melempar mangkuk salad buah ini ke wajahnya.


"Saya akan mempersembahkan sebuah lagu Nasyid dari HIJJAZ yang berjudul -Selamat pengantin baru-."


Riuh suara tepuk tangan menggema di dalam gedung. Aku sendiri tidak mengerti apa itu lagu Nasyid? Hijjaz? namanya saja aku baru mendengar sekarang.


Bila dua hati dah terjalin...


Selamtlah pengantin kami doakan..


Moga Redha Allah bersinar selalu..


Tanda bermula bahtera hidup..


Suaranya begitu menghipnotis semua para tamu undangan. Dan aku pun merasakannya. Ada desiran aneh di dalam hatiku, aku segera menepisnya jauh-jauh. Pliss hati gue.. Jangan baper nggak jelas kayak gini!


Dalam melayari bahtera rumah tangga..


Ada masa tenang dan masa gelisah...


Jangan nafsu diikut melulu..


Sabar dan kemaafan itu perlu...


Resa kembali bertepuk tangan sambil terus histeris memanggil nama seseorang itu. Aku tidak mengerti ini lagu apa. Mengapa suaranya mampu menenangkan hatiku? kulihat wajah seorang vokalis itu, ingatanku berkelebat pada kejadian bebarapa saat lalu.


Beginilah resam manusia...


Tak lari dari ketentuan Ilahi..


Pada bait lagu ini, tatapan mata kami bertemu, aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Lalu segera membuang muka ke arah lain.


*Suami ketua, istri pembantu...


Menongkah hidup saling berpadu...


Susah dan senang hadapi bersama..


Moga kekal ke anak cucu..


Moga kekal hingga ke Surga..


selamat pengantin baru*...


Lagu ditutup dengan riuh tepuk tangan dari para tamu undangan. Aku masih tidak percaya akan apa yang terjadi hari ini. kutekan dadaku pelan, menepis semua perasaan aneh saat ini.


"Masha Allah, merdu banget suaramu, Kang?"


Resa masih menampilkan wajah yang membuat aku mual saat melihatnya.


"Ini band apa sih, Res?"


"Ini bukan band, Bambang! ini namanya group Nasyid,"


"Nasyid?"


"Iya, dan yang tadi tampil itu Nasyid An-Nazzam. Vocalisnya itu calon suami gue."


Aku berasa ingin muntah mendengar pengakuan Resa saat ini.


Nasyid...


An-Nazzam..


Dan,


Cerita hari ini akan aku kenang, terpatri dalam ingatan bahwa Akang Nasyid itu menyebalkan!