
Hari ini aku akan menghadapi UKDI. Ujian yang menjadi momok calon Dokter. Waktu belajar kurang lebih dua tahun akan dibayar dalam satu hari.
Lembar soal ujian dalam bahasa Inggris telah dibagikan. Sebelum memulai, aku berdoa terlebih dahulu untuk kelancaran masa depanku saat ini.
Waktu 60 menit itu, aku lewati dengan tegang dan rasa syukur yang bersamaan. Tentu aku tegang, meski sudah belajar maksimal masih saja ada beberapa pertanyaan yang membuatku ingin berteriak saja. Namun, berkat doa tulus dari Mama dan Papa, serta semangat seseorang yang masih belum terlihat, aku bisa melewati ujian dengan mudah. Semoga Allah mendengar doa-doaku selama ini.
"OMG ... Rhyani, gue laper banget," ucap Ratih dengan nada lemas. UKDI benar-benar membuat tenaga kami terkuras habis.
"Kantin, yuk!"
"Tunggu Bian dulu, ya." pinta Ratih.
"Ya."
Beberapa saat menunggu akhirnya Bian muncul dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kenapa muka lo, Bi?" tanyaku heran.
"Bersyukur banget gue bisa lulus juga. Ujiannya susah banget asli," ujarnya.
"Ya, lo harus lulus lah. Jangan malu-maluin gue kalo harus mengulang ujian lagi," Ratih menimpali.
"Iya, sayang. Aku udah berusaha yang terbaik, kok."
Mendengar ucapan Bian membuatku mual seketika, "pengin muntah gue dengernya, Bi."
"Hahahaha ... Syirik aja lu mah, Rhy. Cari pacar sana!"
"Heh, tenang aja. Hasil ujian keluar, gue bakal bagikan undangan."
Bian dan Ratih saling menatap.
"Nggak usah mikir yang terlalu jauh. Ayo, ke kantin!" kata Ratih sambil menggandeng tanganku.
Kami pun tiba di kantin dan segera duduk di tempat biasa. Makan siang hari ini benar-benar terasa Khidmat. Ujian kali ini benar-benar membuat kami bertiga kelaparan. Meski kenyataannya aku dan Ratih sudah sarapan banyak tadi pagi.
"Rencana lo selanjutnya apa, Rhy?" tanya Bian setelah menandaskan makanannya.
"Gue mau pulang. Menunggu hasil kelulusan di rumah aja." ucapku.
"Tapi kayaknya belum bisa pulang dulu deh, Rhy. Kita harus rapat untuk acara sumpah dokter." Ratih menimpali.
"Iya. Nanti pulangnya kalo sudah selesai rapat."
Ketika kami sibuk berbincang tentang acara sumpah dokter, Tiba-tiba kursi di samping ditarik oleh seseorang yang saat ini selalu aku hindari. Mataku menatap dengan malas, saat ia duduk di sampingku.
Sumpah ganggu aja.
"Selamat siang Dokter Hanif," Bian berbasa basi.
Dokter Hanif tersenyum ramah yang membuat mataku mendelik tidak suka.
"Gimana ujiannya?" tanya Dokter Hanif.
"Lancar, Dok." jawab Ratih.
Dokter Hanif mengangguk lalu matanya menatap ke arahku, "kita perlu bicara, Rhyani." pintanya.
"Bicara aja!" titahku.
Dokter Hanif terdiam, lalu dia bersuara, "tidak di sini. Ada hal penting yang harus saya bicarakan sama kamu. Saya tunggu di ruangan saya!"
Setelah mengucapkan perintah itu Dokter Hanif pergi begitu saja. Ratih dan Bian kembali saling menatap.
"Lo punya masalah apa sama dokter Hanif?" tanya Bian.
"Kepo lo, Bi. Rat, gue ke ruangan dia dulu, ya. Bilangan sama ilma tungguin gue kalo mau rapat." ujarku lalu bangkit berdiri meninggalkan dua sejoli itu.
Ada rasa malas yang datang menghampiri. Aku lelah sekali jika harus berhadapan dengan dokter Hanif. Otaku masih berasap setelah ujian. Lalu dia menyuruhku untuk datang menemuinya. Rasanya ... Ingin kumaki saja dirinya itu.
Aku mengetuk pintu ruang residen, lalu segera masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanyaku tanpa berbagai basi.
"Kamu pasti sudah tahu bahwa orang tua kita membatalkan perjodohan ini?"
Aku terdiam. Ada rasa ingin berjingkrak girang setelah mengetahui fakta ini.
"Tapi saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja, Rhyani. Apalagi untuk laki-laki seperti Malik." ujarnya dengan nada penuh kebencian.
Aku tersenyum sinis, "terserah. Saya tidak peduli dengan semua itu. Tapi, satu hal yang harus anda tahu, saya akan tetap memilih Malik."
"Rhyani," panggilnya dengan sedikit bentakan.
"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Saya permisi."
Aku pergi begitu saja meninggalkan ia dengan tatapan sengitnya.
Biarlah. Bukankah ini yang terbaik? Hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakui semua itu.
Kulangkahkan kaki menuju gedung serba guna yang kini sudah disulap untuk acara rapat sumpah dokter yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Tidak banyak yang kupinta semoga aku lulus dan bisa memberikan yang terbaik untuk Mama dan papa.
"Pakai kebaya pink aja, ya." kata Naura saat kami benar-benar pusing memutuskan warna baju kebaya yang akan kami kenakan.
"Jangan pink! Norak banget tau nggak?" Felin menyela. Karena dia sendiri tidak suka warna pink.
"Ya udah kita ambil netral aja. Pakai kebaya putih. Titik nggak ada koma lagi." kataku menengahi. Aku sudah ingin pulang, tapi terhambat dengan acara perebut warna kebaya.
"Udah kayak orang mau menikah, Rhy." ujar Ratih.
"Kalian gimana, sih? Pink nggak mau. Biru nggak mau. Sekarang adilnya putih. Gue mau pulang, nih. Jangan banyak drama untuk soal warna baju." jelasku kepada mereka semua.
"Ya udah, putih aja." Akhirnya mereka pun setuju dengan usulku.
Setelah selesai rapat aku dan Ratih bergegas kembali ke kost-n. Aku akan mengemasi beberapa barang kembali untuk pulang ke rumah. Tak banyak barang yang kubawa hanya satu koper kecil saja.
"Gue pulang duluan ya, Rat. Sampai bertemu di sumpah dokter nanti." ucapku kepada Ratih yang masih sibuk menyemprotkan parfum ke bajunya.
"Iya, siap. Hati-hati di jalan. Gue nunggu Bian dulu."
"Ok, bye!" aku langsung melenggang pergi menarik koper ke halaman depan, di mana honda jazz sudah terparkir.
Kulajukan mobil dengan kecepatan sedang. Siap membelah kembali jalan raya untuk pulang ke rumah.
Tidak butuh waktu lama, aku sudah tiba di rumah. Perjalanan yang cukup lenggang membuat aku terbebas dari kemacetan.
"Assalamu'alaikum, Ma. Rhyani pulang," ucapku ketika masuk ke rumah yang cukup sepi.
"Ma ... Rhyani pulang," aku cukup berteriak memanggil Mama yang tak kunjung datang.
Kuperiksa seluruh ruangan rumah ternyata kosong. Ke mana Mama dan Papa sebenarnya? Mengapa mereka pergi tanpa mengunci pintu? Semua pertanyaan itu terjawab ketika suara Mama dan Papa terdengar dari ruang tengah.
"Surprise, selamat datang di rumah kembali anak Papa," Papa mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku tersenyum, "ada acara apa sih, Pa?"
"Ya, acara penyambutan kamu pulang, Nak." Mama datang menghampiri.
"Masa, sih? Terakhir aku pulang diberi penyambutan perjodohan absurd. Sekarang apa lagi?" tanyaku menyelidik.
Papa dan Mama saling pandang.
"Tuh, kan pasti ada yang tidak beres, nih!" ujarku.
"Sudah istirahat dulu sana!" titah Mama.
"Mama dan Papa tidak berniat menjodohkan Rhyani lagi, 'kan?"
"Bukannya kamu sudah punya calon?" tanya Papa sambil menatapku lekat.
"Iya, tapi ...,"
"Sudah sana ganti baju dulu! Baru temui Mama dan Papa di ruang keluarga."
Ok, fix sepertinya akan ada hal baru yang akan diberikan oleh Mama dan Papa.
Aku pun segera ke kamar untuk berganti baju. Meninggalkan Mama dan Papa yang masih tersenyum mencurigakan.
***
"Duduk, Rhy!" titah Papa.
"Ada apa sih, Pa?" aku sudah gemas sekali dengan kedua orang tuaku saat ini.
"Papa sudah bertemu dengan calonmu itu. Jadi, sekarang anak Papa lebih suka laki-laki yang berkulit sawo matang sambil panas-panasan di bawah sinar matahari," ujar Papa.
Ada desiran hangat yang hadir di hatiku saat ini.
"Kamu benaran sudah tidak tertarik sama laki-laki yang berjas putih, Rhy?" Mama menimpali.
"Nggak, Ma." jawabku lantang.
"Ya ampun, sampai segitunya, ya!" Papa melakonis.
"Papa," panggilku pelan.
"Nak, Papa sudah memutuskan untuk merestui pilihan kamu. Papa ingin yang terbaik untuk kamu."
"Iya, Nak. Mama dan Papa insya Allah ridha dengan laki-laki pilihanmu,"
Air mataku menetes begitu saja ketika mendengar ucapan Papa dan mama.
"Mama sudah bertemu dengan Malik?"
"Sudah. Tapi, kayaknya gantengan Papa ya, Ma?" jawaban Papa berhasil membuatku terkekeh pelan di sela isak tangis.
"Dia bisa main catur kan, Rhy?" tanya Papa lagi.
"Mana aku tahu, Pa. Memangnya kami sedekat itu apa? Bertemu saja jarang," jelasku.
"Ya sudah. Besok aja dia ke sini. Biar bisa main catur bareng."
Aku tersenyum lalu memeluk mama, "makasih ya, Ma. Terima kasih atas restu yang sudah Mama dan Papa berikan untuk Rhyani."
"Sama-sama sayang."
Allah. Terima kasih atas restu yang Engkau berikan kepada orang tuaku hingga mereka merestui pilihanku. Semoga Engkau memudahkan segalanya.
Untuk sebuah nama yang selalu kutitip dalam doa, semoga Allah membuka pintu hatimu dan membalas segala perasaan yang telah tercurahkan hanya untukmu.