
"Ada saatnya hati memilih untuk tempatnya pulang. Bukan sekedar berlabuh lalu pergi lagi."
Rhyani Mahira Wijaya
****
"Sakit," decakku, lalu menghempaskan tangan Dokter Hanif di pergelangan tangan.
"Maksud kamu apa sih, Rhy? Jadi selama ini kamu mencuri waktu cuma buat ngurusin Malik?" cecarnya dengan menatap lekat wajahku.
Saat ini aku sedang berada di koridor dekat ruang jenazah. Koridor yang cukup sepi jarang dilintasi oleh pengunjung selain tenaga medis dan petugas ambulans.
"Kenapa? Ada masalah?" tanyaku dengan tatapan sengit ke arahnya.
"Kamu lupa? Kita sudah dijodohkan,"
Aku tertawa sinis, "hahaha ... Kamu lucu, ya! Saya tidak merasa dijodohkan dengan siapa pun saat ini. Berhenti ikut campur kehidupan saya!"
"Rhyani ...,"bentak Dokter Hanif.
"Apa?"
Dia mengusap wajahnya kasar lalu menatapku kembali, "kamu kenapa jadi seperti ini, sih? Apa yang sudah dilakukan Malik sama kamu?"
"Dokter Hanif tau darimana kalau nama laki-laki tadi itu Malik?" aku bertanya balik kepadanya, dan terlihat sekali dia seperti gugup sendiri.
"Itu bukan urusan kamu!"
Kulipat tangan di dada, lalu memandangnya dengan lekat, "sekarang menjadi urusan saya. Laki-laki tadi calon suami saya."
Dokter Hanif tampak terkejut mendengar ucapanku, "jangan gila, Rhyani!"
"Bukankah anda lebih gila? Berpelukan mesra dengan wanita lain. Sekarang malah sibuk memikirkan perjodohan yang nggak jelas. Maaf, dari awal saya tidak pernah setuju dengan perjodohan itu. Jika anda masih ingin tetap melanjutkan, silakan! Itu bukan urusan saya lagi." pungkasku, lalu pergi meninggalkan dirinya.
"Rhyani," baru saja aku hendak melangkah lebih jauh lagi, tangannya sudah menarik tanganku kembali.
"Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja!"
"Terserah, itu bukan urusan saya. Satu hal yang harus anda tahu, saya akan menikah secepatnya!"
Setelah mengatakan kata-kata penuh penekanan itu aku segera pergi. Tidak peduli teriakkannya yang memanggil namaku. Kuingin segera lepas dari masalah perjodohan pelik ini. Rasanya tidak sanggup jika harus berada di dekatnya.
Aku menarik napas kasar. Berulang kali mengatakan pada hati bahwa semua akan baik-baik saja. Hatiku tahu kemana tempatnya akan pulang. Ini soal perasaan bukan sekedar perjodohan yang mempererat tali pertemanan antara Papa dan orang tuanya Mas Hanif.
Hari ini moodku anjlok, beberapa kali melakukan kesalahan ketika visit. Namun, semua perasaan yang berkecamuk di rongga dada sirna ketika sebuah pesan masuk di ponselku.
[Akang Nasyid]
Baru sampai rumah. Selamat bekerja Bu Dokter, jangan lupa segalanya.
Hatiku berdesir ketika membaca pesan tersebut. Seulas senyum terbit di bibirku. Semudah itukah kamu membalikan moodku, Malik?
Aku jadi merindukannya. Wajahnya, senyumnya, segalanya tentang dirinya. Sepertinya nanti sore aku harus menemuinya. Aku ingin dia mengetahui perasaanku yang sebenarnya.
***
Ketika sore telah tiba. Matahari di ufuk barat menyapa lewat warna jingga. Aku sudah selesai mengerjakan semua tugasku di rumah sakit. Beberapa minggu lagi aku akan bertemu ujian komersil yang akan menjadi momok kelulusanku sebagai Dokter.
"Heh, mau kemana, lo?" tanya Ratih ketika melihatku akan bergegas pergi kembali setelah selesai mandi. Tidak ada yang berbeda dengan penampilanku hari ini. Jaket jeans dipadukan dengan rok prisket berwarna peach dan kaos berwarna senada menjadi pilihanku saat ini.
"Ke rumah camer,"
"***** lo, ya!" decak Ratih pelan.
"Kenapa?"
"Gila ... Gue masih nggak percaya, deh!"
Aku terkekeh pelan, "jangan percaya dulu. Soalnya gue baru aja mau ambil tindakan."
"Lo sehat nggak, sih?" tanya Ratih heran.
"Ya sehat. Udah ahk, gue mau cabut dulu. Selamat malam mingguan," kataku, lalu pergi meninggalkannya yang masih melongo tak percaya.
Kulangkahkan kaki menuju halaman depan, di mana mobil honda jazz merah sudah terparkir rapi. Kutekan remot yang terhubung pada kunci dan pintu mobil pun terbuka. Aku akan pergi ke tempat di mana hati bisa pulang. Tempat ternyaman bukan hanya sekedar pelabuhan.
Kulajukan mobil dengan kecepatan sedang. Membelah jalan raya dengan keindahan senja yang begitu merona. Senyumku tak pernah lepas, seperti baru menemukan titik bahagia yang sebenarnya. Semoga Allah merestui perjalanan panjang yang akan menjadi pilihan.
Tiba di The Blue Vegetable Park, sudah pukul lima sore. Langit masih terang dengan warna jingganya. Aku berjalan pelan menelusuri jalan setapak menuju rumah berwarna biru muda yang terlihat sangat asri sekali.
Ketika langkahku terhenti, tepat di depan pintu. Masih seperti mimpi, pintu itu terbuka menampilkan seseorang yang kini sedang tertegun menatapku tanpa kedip.
"Hai," sapaku.
"Cari siapa, Mbak?"
"Calon imam saya."
Dia tertawa terbahak-bahak, "hahahah ... Di sini nggak ada yang namanya imam, Mbak. Ada juga Malik, Zenal, sama Malikha. Ada Umi saya juga."
"Bodo amat," kataku sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Rasanya aku malu sendiri dengan diriku saat ini. Sepertinya ini memang bukan diriku, lalu siapa aku sekarang? Cewek yang sedang kasmaran, kah?
"Tamu siapa, Lik?" terdengar suara Umi dari dalam, lalu wanita cantik dengan balutan gamis syar'i itu keluar menghampiriku.
"Masha Allah, Nak Rhyani!" serunya.
"Iya, Umi."
"Malik kalo ada tamu tuh disuruh masuk dong," omelnya ke arah laki-laki yang kini sedang tersenyum simpul. "Mari sini masuk, Nak!" sambungnya lagi.
Aku pun segera masuk, melewati begitu saja seseorang yang sebenarnya sangat aku rindukan. Hari ini urat malu-ku sudah putus entah kemana. Ternyata benar, Cinta mampu mengubah segalanya.
Aku menatap sekeliling rumah ini dengan tatapan takjub. Rumahnya tidak sebesar rumahku. Tapi begitu sejuk dan asri. Di dinding ruang tamu hanya ada satu figura foto keluarga dan sebuah lukisan ka'bah.
Ruang tamu yang nyaman, dengan sofa lembut menambah kesan ingin tinggal di sini semakin menggebu. Sabar, Rhayni. Plis ... Jangan memalukan!
"Diminum, Nak. Ini wedang jahe, Umi sendiri yang buat," kata Umi ketika menghampiriku dengan membawa wedang jahe dan umbi rebus yang terlihat sangat menggiurkan.
"Wah, makasih, Umi. Kayaknya ini enak," jawabku antusias.
Aku segera meminum wedang jahe yang masih mengepulkan asap. Kehangatan mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Rasanya ... Lebih dari apa pun itu.
"Nak Rhyani kok bisa tau rumah Malik?" tanya Umi.
"Eh, itu .... Rhyani sering berkunjung ke taman sayur, Umi. Sempat bertanya juga sama pekerja di sana. Jadi tau deh," jawabku gugup.
"Oh, gitu. Maaf, ya. Sepertinya Umi tidak bisa menemani Nak Rhyani. Umi mau jemput adiknya Malik yang mondok,"
"Belajar di pondok pesantren." terdengar suara bariton yang khas dari arah ruang tengah. Aku tahu sebenarnya dari awal kehadiranku Malik mendengarkan semua obrolanku dengan Umi. Hanya saja gengsinya sangat tinggi. Egonya tak terpatahkan, jadilah dia bersembunyi di ruang tengah.
"Iya, adiknya Malik belajar di pondok. Cuma pulang seminggu sekali." jelas Umi.
"Oh, iya, Umi. Gak apa-apa."
"Malik, kalo mau ngobrol di depan. Jangan di dalam rumah. Takut timbul fitnah." pungkas Umi sebelum pamit pergi untuk menjemput adiknya Malik. Aku hanya bisa terkikik geli dengan kehangatan keluarga ini.
Sepeninggal Umi, Malik mengajakku berkeliling kebun sayur. Meski hari semakin sore, matahari telah kembali ke tempatnya dengan sempurna. Hanya menyisakan semburat jingga yang masih setia menemani kami berdua.
"Bang," panggilku pelan.
Malik tersenyum, "lucu banget kalo panggil Abang kayak gitu. Berasa apa, ya?"
"Nggak tau," jawabku ketus.
"Kalo lagi ngambek lebih keliatan cantiknya,"
"Sejak kapan, sih jadi suka gombal kayak gini?"
Malik menggeleng, "mungkin sejak kecelakaan itu."
"Tau nggak?"
"Nggak tau. Kan kamu belum cerita."
"Makanya aku mau cerita," sewotku.
"Ya, cerita aja atuh, Bu Dokter!"
"Aku tuh lebih suka sama kamu yang cuek, yang bodo amatan sama sekeliling kamu. Pokonya nggak suka kalo kamu jadi receh kayak gini." tuturku dengan nada sedikit .... Memalukan diri sendiri.
Malik kembali tersenyum, lalu mengarahkan wajahnya ke arah lain. Ini satu moment yang aku rindukan darinya. "Suka?" tanyanya pelan.
Aku terdiam.
"Suka itu apa, sih?"
Terkadang ada rasa tidak mengerti dengan hati sendiri. Bagaimana mungkin laki-laki yang kepalanya masih di perban ini adalah laki-laki yang berhasil meluluh lantakkan hatiku saat ini. Laki-laki yang jika tersenyum saja mampu membuat kupu-kupu terbang dari rongga dada. Mengapa Allah mengirimkan ia padaku?
"Suka itu ... Awal dari sebuah pilihan," jelasku.
Malik kembali tersenyum, "saya tidak bisa berada dipilihan suka itu."
Aku tertegun mendengar ucapannya. Apakah ini sebuah penolakan?
"Saya pernah memiliki masa lalu yang cukup menguras otak ketika mengingatnya. Saya juga tidak ingin terjerat dalam luka yang sama. Saya tidak ingin semua itu terulang kembali." Malik menatap kosong, suaranya terdengar begitu lirih ketika bercerita.
"A--ku tidak berharap menjadi masa lalumu. Aku ingin memulai semua dari awal. Pilihan baru, hati baru dan hidup yang baru. Masa lalu itu milikmu. Aku tidak peduli, seberapa pun rasa sakitnya semoga aku bisa mengobati." kata-kata itu meluncur bebas dari mulutku. Seakan semua begitu ringan dan lancar. Aku tahu Allah pasti memudahkan segalanya saat ini.
"Kamu ngomong apa, sih?" tanyanya dengan nada meledek.
"Heh, asli, ini baru diri kamu yang sebenarnya. Menyebalkan! Kamu tau nggak? Aku butuh keberanian ekstra buat mengatakan itu semua," kataku dengan nada sinis. Sumpah Malik aslinya kamu itu memang menyebalkan. Sangat.
Malik tertawa pelan, seperti biasa dia akan melihat ke arah lain.
"Lagian aneh banget. Memangnya sudah kenal saya? Saya ini tukang pukul, loh."
"Bodo amat. Mau tukang pukul, tukang kuli panggul, atau tukang kebun pun aku tidak peduli."
Malik kembali terkekeh, "masa, sih? Tapi kenyataannya peduli banget sama saya. Sampai nangis-nangis pas saya nggak sadar."
"Bodo amat." tandasku.
"Maaf,"
Aku tidak peduli lagi dengan keadaan absurd saat ini.
"Sebuah pilihan itu harus didasari dengan doa dan restu. Jika orang tua merestui maka Allah akan Ridho."
Ada sesuatu yang menyentuh relung hatiku ketika mendengar ucapan Malik. Ya, ini tentang restu dan pilihan. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa kisah ini, semoga seperti yang selalu aku titipkan kepada Tuhan.
"Sebenernya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," aku tidak ingin Malik selalu dihinggapi rasa sakit ketika melihatku dengan Dokter Hanif. Semua ini harus aku luruskan. Aku benar-benar ingin keluar dari zona di mana aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Soal apa?"
"Soal ... Hanif," ucapku pelan.
Malik terlihat menarik napasnya, lalu menatapku sebentar dan kembali membuang wajah ke arah lain.
"Kenapa dia?" tanyanya dengan suara dingin.
"Aku nggak pernah memiliki hubungan apa pun sama dia. Hanya saja keadaan memaksaku untuk berada di sisinya, meski sebenarnya aku sangat tersiksa."
Malik mengernyit, "saya nggak ngerti."
"Malik, dengarkan aku! Saat ini mungkin cuma aku yang sedang berjuang. Aku mohon, hargai perjuangan aku, sedikit aja ... Ini hatiku juga nggak bisa disiksa terus sama rindu. Jika orang yang dirindukan aja nggak peduli."
Kini Malik terdiam.
"Aku tau ini aneh. Sangat mustahil. Mengingat semua pertemuan kita nggak ada kesan manis sama sekali. Tapi dia--" aku menunjuk dadaku sebentar, "dia-- resek banget kalo udah nahan kangen. Semua menjadi menyebalkan. Aku nggak bisa fokus belajar, padahal ujian komersil itu sebentar lagi."
"Jadi, ini salah siapa?"
Ini pertanyaan apa, Malik? Sumpah kamu itu menyebalkan banget, sih!
"Kamu ... Tuh, ya. Masa gini aja nggak tau!"
"Ya mana saya tau."
"Malik ....," teriakku tepat di depan wajahnya.
Dia tertawa. Tawa yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tawanya begitu lepas seakan semua beban telah hempas dibawa angin sore yang menyejukkan.
"Ini pilihan yang sulit. Saya harus melibatkan Allah di dalamnya. Saya tidak ingin kecewa. Setidaknya tolong bantu saya melepas semua jerat luka lama." tuturnya.
Aku tersenyum, lalu mengangguk. Entah mengapa rasanya air mata ingin mengalir begitu saja. Aku bahagia, meski hanya mendengar kata-kata dari mulutnya.
"Udah mau magrib, pulang sana!" usirnya.
"Bang, coba deh sesekali nonton FTV biar romantis dikit," aku menggerutu sendiri. Lalu Malik hanya terkekeh pelan.
Ketika kami kembali ke rumah, adzan magrib berkumandang merdu. Aku pun meminta izin untuk menunaikan solat magrib di rumah ini. Betapa senang hatiku ketika Umi dan adiknya serta pamannya Malik sudah berada di rumah. Lengkap sudah kebahagiaanku hari ini.
Dear Allah, jangan hilangkan dia dari hidupku. Mudahkanlah aku dalam menggapai ridho-Mu. Restui pilihan ini.