Sajadah Rindu

Sajadah Rindu
26. Pertemuan ketiga


Rhyani Mahira Wijaya


Aku menutup pintu, lalu terisak pelan. Bagaimana bisa dia berada di tempat ini?


"Rhy, lo kenapa?" tanya Hengki yang melihat diriku sedang memeluk lutut sambil menangis.


"Heh, lo kenapa? Kok, nangis gitu?" ulangnya lagi. Aku hanya terdiam, tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.


"Awas dulu! Gue mau keluar." Aku langsung menggeser tubuhku. Membiarkan Hengki membuka pintu.


"Mas cari siapa?" Aku masih mendengar suara yang begitu aku rindukan ketika Hengki bertanya.


"Saya mau cari Rhyani."


"Tuh, orangnya lagi nangis di belakang pintu."


Setelah itu hening. Aku tidak mendengar apa pun lagi. Hingga suara baritonnya yang khas, kembali memanggil namaku dari luar.


"Rhy, ini saya jauh-jauh datang ke sini, masa diacuhkan, sih?"


"Bodo amat. Nggak ada yang menyuruh kamu ke sini." sahutku sewot. Sumpah, kenapa bisa dia ke sini tanpa pemberitahuan sama sekali.


Aku mendengar dia terkekeh pelan. "Masih marah? Dalam islam itu nggak boleh marah selama tiga hari, loh. Ini sudah hampir tujuh bulan."


"Bodo."


"Ya udah, nanti siang saya ke sini lagi. Kamu mau berangkat kerja, kan?"


Aku terdiam.


"Saya permisi dulu, ya. Assalamu'alaikum." pamitnya. Lalu aku memberanikan diri membuka pintu dan benar saja dia memang sudah pergi dari tempat tinggalku ini.


Masih pertanyaan yang sama, kenapa dia bisa berasa di sini?


Mungkin aku akan mendapatkan jawabannya nanti. Biarlah. Sekarang aku harus ke puskesmas, pasti sudah banyak pasien yang menunggu di sana.


Derap langkahku terasa berat. Pikiran entah terbang ke mana. Rasanya masih seperti mimpi, dia bisa hadir di sini. Tempat yang sangat jauh dari Bogor. Untuk apa dia ke sini? Tuhan, jangan biarkan aku galau hari ini.


Puskesmas Sungai Apit sudah terlihat, aku segera mempercepat langkah, hingga bertemu seorang dokter yang akan menjadi fhatner kerjaku hari ini.


"Ayu, izin ya?" tanyanya ketika kami jalan beriringan.


"Iya. Dia mau jemput ibunya."


Dokter laki-laki itu mengangguk. Lalu kami tiba di ruangan kerja dan segera memulai pekerjaan. Aku menerima pasien pertama, seorang wanita paruh baya yang mengeluh pada bagian perutnya.


"Sudah berapa hari sakit di perutnya, Bu?" tanyaku sambil menekan tubuh si ibu.


"Sudah hampir tiga bulan, Dok. Aww ... Itu, Dok, yang sakit." rintihnya ketika aku menekan perut bagian bawah.


Aku mengangguk, lalu membantu si ibu bangun dari brankar.


"Apa menstruasi ibu lancar?" tanyaku memastikan.


"Tidak. terkadang hampir lima bulan saya tidak menstruasi. Jika, halangan pun paling hanya sehari." sahutnya lalu duduk di hadapanku.


"Bu, saya akan memberikan rujukan ke rumah sakit kota. Di sana ibu akan di rontgen untuk memastikan penyakit yang ibu rasakan saat ini." jelasku pelan.


"Saya sakit apa, Dok?"


"Ini baru diagnosa awal, Bu. Semoga saja tidak separah yang saya bayangkan."


"Dok, saya sakit apa?" Si ibu mengulang pertanyaannya.


"Ibu mengalami gejala kanker serviks." ucapku dengan hati-hati takut melukai perasaanya.


Si ibu terdiam cukup lama, lalu tersenyum ke arahku. "Sebenarnya saya sudah tau penyakit ini, Dok. Tapi saya tidak ingin dirujuk ke rumah sakit kota."


Aku tertegun mendengar penuturannya.


"Biarlah penyakit ini menjadi teman saya. Menjadi ladang amal untuk saya."


"Bu," panggilku pelan.


"Saya tidak apa-apa, Dok. Sebelumnya saya juga sudah mengidap tumor kelenjar getah bening." sahutnya diiringi senyuman.


Aku terdiam. Entah kata apa lagi yang harus kuucapkan, melihat seorang wanita kuat di hadapanku saat ini. Aku yang baru diuji soal perasaan saja, rasa marah dan menyalahkan takdir tak pernah bisa kuhentikan, lalu bagaimana cara si ibu bertahan di atas semua ini, membuatku mengagumi sosoknya.


"Jangan lelah ikhtiar dan berdoa ya, Bu. Saya yakin Allah pasti memberikan kesembuhan untuk ibu."


Si ibu mengangguk. "Iya, Dok. Aamiin."


"Ini saya kasih resep pereda nyeri ya, Bu. Saya yakin ibu kuat. Tapi ada baiknya ibu mau dirujuk ke rumah sakit kota." pesanku kepada si ibu, sebelum dia meninggalkan ruanganku.


Setelah kepergiannya, aku merasakan sesak yang sulit aku jabarkan. Aku tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan si ibu untuk melawan penyakitnya selama ini. Lalu ingatanku berputar pada sosok yang tadi pagi datang ke tempatku.


Aku harus menemuinya.


****


Pukul empat sore, semua pekerjaan telah selesai. Aku pamit pulang lebih dulu. Di sepanjang jalan pikiranku terus berkelana jauh. Memikirkan segala cara untuk menemuinya.


Aku rindu. Ya, aku akui itu, tapi gengsiku tinggi sekali saat ini. Bukankah dia yang menyuruhku pergi? Lalu untuk apa dia datang menemuiku saat ini?


Aku menggelengkan kepala, tidak mengerti jalan pikiran laki-laki itu. Aku terperanjat ketika melihat seseorang sedang berdiri di ambang pintu yang masih tertutup.


"Kamu ngapain di situ?" tanyaku geram. Sudah dua kali dia berhasil membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Nunggu bu dokter pulang."


"Ada apa, sih?"


"Banyak sesuatu yang ingin saya katakan. Bu dokter mau mandi dulu apa langsung berangkat, aja?"


"Aku mau mandi." jawabku ketus.


"Ya, sudah. Kalo udah selesai, hubungi saya ya. Itu—saya tinggal di situ." Ia menunjuk tempat penginapan yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku.


"Iya."


Setelah itu dia pamit lagi. Aku memijit kening, rasanya frustasi sekali. Ini aneh banget, sumpah. Dia mau apa, sih?


Hampir setengah jam aku berhias diri. Sebenarnya tidak perlu melakukan hal seperti ini. Memang rasanya sudah berbeda, tapi dirinya masih bermakna sama. Setelah semua selesai, aku mematut diri di depan cermin. Dress di bawah lutut berwarna krem ini berhasil membuatku terlihat asing. Biarlah. Aku ingin ia tahu, bahwa keadaanku baik-baik saja ketika ia mengusir secara halus dari hatinya.


"Sudah siap?" tanya laki-laki yang kini mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang bagian lengannya ia gulung sampai siku. Lalu celana jeans hitam dan sepatu sneakers hitam berhasil mencuri perhatianku. Rambutnya masih basah, entah dia mandi lagi atau bagaimana? Rasanya aku ingin memeluk makhluk Tuhan yang tercipta begitu sempurna di hadapanku saat ini.


"Sudah." sahutku pelan. Beberapa menit yang lalu aku mengirimnya pesan, lalu secepat itu dia sudah berada di sini.


"Mau jalan apa naik motor?" tanyanya ketika kami sudah jalan beriringan.


"Memang kamu mau ke mana, sih?"


"Nggak tau. Saya juga nggak hapal rute di pelosok ini. Kemarin aja sempat nyasar." tuturnya sambil terkekeh pelan.


Senja di ufuk barat menemani perjalanan kami saat ini. Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Aku tidak mau naik motor bersamanya. Saat ini aku masih mempertahankan gengsiku di hadapannya.


"Gimana kabar kamu?" tanyanya ketika kami sudah sampai di sebuah danau yang cukup terkenal di Sungai Apit. Danau yang sering dikunjungi ketika weekend tiba.


"Sehat. Kamu bisa lihat sendiri, 'kan?"


Dia mengangguk.


"Terus kamu mau ngapain ke sini?"


"Mau jemput hati saya."


Aku tersedak minuman yang sedari tadi menemaniku untuk menutupi rasa gugup.


"Nggak lucu." ketusku.


"Memang tidak ada yang bercanda. Saya serius."


Kutatap lekat wajahnya yang sedikit berbeda dari terakhir aku temui. Dia terlihat lebih dewasa, bulu-bulu halus dibiarkan tumbuh di sekitar dagunya yang membuatku gemas untuk bermain-main di sana.


"Terakhir kamu bicara serius, aku disuruh pergi. Sekarang mau apa?" ucapku dengan nada sedikit bergetar.


"Saya mau minta maaf. Terus bawa kamu pulang."


"Apa hakmu bawa aku pulang?"


"Ada. Ayahmu sudah memberikan hak itu. Makanya saya datang jauh-jauh ke sini untuk menjemput kamu."


Cukup lama aku terdiam, hingga lambaian tangannya di depan wajahku berhasil membuat diriku kembali.


"Kamu lucu ya! Kemarin menyuruh aku pergi. Sekarang datang lagi. Kamu kira hati aku ini mainan apa?" decaku. Ada rasa gugup yang kini datang lebih melanda hati. Aku tidak percaya ucapannya. Sungguh.


"Rhyani Mahira Wijaya. Saya tidak tau sejak kapan perasaan itu muncul. Hanya saja saya masih terlalu naif untuk mengakui semuanya. Apalagi saat saya tau kamu dekat dengan Hanif, maka semua itu saya tepis jauh-jauh. Saya minta maaf sudah membuat kamu terluka." tuturnya sambil menatap lekat mataku yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa harus dulu bikin aku jauh kayak gini buat sadarin kamu?"


"Mungkin memang ini jalan yang sudah Allah berikan. Kita sama-sama disuruh belajar dan introspeksi diri. Jika Allah berkehendak, pasti akan dipertemukan kembali."


Air mataku sukses mengalir di pipi. Dari dulu orang ini selalu berhasil membuat dadaku sesak dan berbunga bersamaan.


"Terus kamu mau apa?"


"Mau ajak kamu menikah."


Tuhan, jika saja menampar seseorang itu tidak dilarang, sudah aku pastikan tangan ini akan menyentuh pipinya yang selalu memberikan efek sengatan ketika lesung pipi itu muncul saat ia tersenyum.


"Nggak lucu."


"Loh, kamu ini gimana, sih? Saya serius, mau ajak kamu menikah. Maaf, ya. Seharusnya saya bilang ini dari awal. Sebelum kamu pergi ke pelosok kayak gini."


"Bodo amat, ahk. Kamu nyuruh aku pergi. Ya, jangan salahin aku, lah."


"Iya, maaf ya. Jadi, kamu mau nggak nikah sama aku? Kalo nggak dijawab, aku mau pulang sekarang. Jangan minta aku untuk menunggu jawaban dari kamu itu. Menunggu itu lelah, kamu juga sudah merasakannya."


"Pemaksa." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku, lalu dibalas kekehan tawa olehnya.


"Masa internship aku masih lima bulan lagi."


"Aku cuma mau kamu jawab 'mau atau tidak' itu aja."


"Aku nggak mau."


Malik terdiam.


"Kurang jelas, ya. Aku nggak mau ... Nggak mau nolak." ucapku lantang tepat di telinganya. Dia tertawa lalu mengacak rambutku yang tertiup angin.


"Terima kasih, ya. Saya akan pulang besok pagi."


"Kok, cepet banget?"


"Kalo lama-lama di sini takut khilaf. Kasian hati saya."


Aku memukul bahunya pelan. "Nggak lucu."


Dia kembali terkekeh. "Terima kasih, ya. Saya akan menunggu kamu kembali. Belajar yang benar. Semangat kerjanya. Jangan mikirin yang negatif tentang saya di sana. Saya sudah terlatih untuk menjaga hati dan komitmen saya terhadap kamu."


Air mataku kembali menetes lalu tangan kekar itu untuk pertama kalinya menghapus kristal bening yang selalu menjadi teman ketika aku merindukannya.


"Nggak usah nangis."


Tuhan, terima kasih atas hadiah yang Engkau berikan untukku. Semoga kisah ini berakhir dengan ridha-Mu.