
Lantunan surah yasin begitu merdu didengarkan. isak tangis masih Setia mengiringi kepergian seseorang kembali kehadirat ilahi. Bendera kuning telah dikibarkan, sebagai tanda duka Cinta yang mendalam. Para pelayat mulai bekerja berdatangan, mereka dengan ikhlas mendoakan seseorang yang kini telah terbujur kaku di hadapanku.
aku masih ingat betul, ketika subuh tadi ia pamit pergi ke masjid untuk solat subuh berjama'ah, namun aku tidak menyangka jika pamitnya akan meninggalkanku dan buah hatinya untuk selamanya.
"Yang kuat ya Rhy, Insya Allah husnul khotimah. "
Dengan berderai air mata aku mengangguk, mengamini setiap doa yang diberikan untukku dan juga untuk Almarhum. Suara tangis Arbani Azkarillah, putra semata wayang kami yang kini berusia lima tahun berhasil membuat pertahanan yang aku bangun runtuh seketika. kupeluk erat bani dengan bisikan doa ditelinganya.
"Bani, anak Umi dan Abi, yang kuat ya sayang! bani sudah hafal doa untuk kedua orang tua kan? ayo kita baca sama-sama! Robbigfirli waali walidaya warhamhumma kaama rabbayanni shogiro." tangis kami kembali pecah.
selesai pemakaman, Bani sudah tertidur pulas. Aku memandang wajahnya yang teduh ,sisa air mata masih mengalir lembut di pipi chubbinya. Allah, bantu aku menjadi seorang ibu sekaligus seorang Ayah yang baik untuk Bani, putra semata wayangnya.
Cepat pulih otakku, hatiku, logikaku, perasaanku. aku menunggumu di tempat biasa kita bertemu. SAJADAH RINDU.
1 APRIL 2020