There is Not True Love. Really?

There is Not True Love. Really?
SEMBILAN BELAS


" Iya bi, yuk " ajak Sakura.


****


Suara ayam berkokok pun bersahutan menandakan pagi telah tiba. Sakura yang sudah selesai menunaikan kewajibannya pun segera keluar kamar untuk menemui bibi. Dan ternyata bi Inem sedang menyiapkan sarapan dimeja makan yang terletak di ruangan tengah.Sakura pun segera pamit ke bi Inem untuk pergi ke rumah tetangganya bibi untuk menitipkan surat izin.


" Bi, aku ke rumah Ayu dulu ya " pamit Sakura.


" Mau apa non? " tanya bi Inem.


" Ini bi, aku mau ngasih surat izin dulu " kata Sakura.


" Oh... Ya udah " kata bi Inem.


" Pergi dulu bi " kata Sakura sambil berjalan keluar rumah.


" Iya " jawab Bibi.


" Mbak Sakura mau kemana bi? " tanya Bagas yang baru datang.


" Itu, katanya mau ngasih surat izin ke temennya " jawab bi Inem.


" Oh.... Bapak kemana bi? " tanya Bagas kepada bi Inem.


" Bapak udah pergi ke sawah den " jawab bi Inem.


" Pagi-pagi gini bi " tanya Bagas.


" Iya, nanti kalo kesiangan malah kepanasan den " kata bi Inem.


" Oh... Jadi nggak ada temen ngobrol bi " kata Bagas.


" Kan ada bibi den " ujar bi Inem.


" Bibi bisa aja " kata Bagas.


" Mau kopi den? " tawar bibi.


" Boleh bi " jawab Bagas.


" Bentar tak bikinin dulu di belakang " kata bi Inem.


" Iya bi, aku tunggu di teras ya " kata Bagas.


" Iya den " jawab bibi.


Bagas pun segera berjalan ke teras rumah bibi. Bagas dan bi Inem memang akrab. Karena, saat bi Inem di Jakarta mereka sering bertemu saat Bagas di minta Sakura untuk mengambil berkas di rumahnya ataupun Bagas sedang mengantar berkas ke rumah Sakura bila Sakura malas pergi ke kantor. Saat Bagas baru duduk terlihat Sakura memasuki pekarangan rumah bi Inem.


" Mbak " sapa Bagas.


" Iya Gas " jawab Sakura.


" Darimana mbak? " tanya Bagas basa-basi.


" Oh... Itu saya dari rumah Ayu " jawab Sakura.


" Oh... " jawab Bagas singkat.


" Oh iya, Gas kamu pesan taksi online ya. Kita kan mau pergi melayat ke rumah duka ibu yang kemarin " kata Sakura.


" Baik mbak " jawab Bagas.


" Ini den kopinya " kata bi Inem yang baru datang sambil membawa kopi untuk Bagas.


" Makasih bi " jawab Bagas.


" Kopinya udah ada? " tanya Sakura.


" Udah non " jawab bi Inem.


" Bikinin ya bi, jangan lupa roti tawarnya " pesan Sakura.


" Ini kopi baru bi? " tanya Bagas.


" Iya den, minggu kemarin habis pesen " kata bi Inem.


" Ini kopi arabika? " tanya Bagas mengingat Sakura menyukai kopi arabika yang di impor dari luar negeri.


" Nggak den, itu kopi robusta " jawab bi Inem.


" Ha... Sejak kapan mbak Sakura suka kopi robusta? " tanya Bagas.


" Gue sebenarnya juga suka sama kopi robusta " jawab Sakura.


" Oh... Jadi den Bagas bingung! Non Sakura itu sebenarnya memang penyuka kopi robusta dan arabika. Cuman ya itu, pasti drn Bagas tau sendiri " ujar bi Inem.


" Jadi ini dikirim dari luar negri juga bi? " tanya Bagas lagi.


" Nggak den, itu kopi mah dari flores. Tadi bibi pesen sama saudara bibi yang baru pulang dari flores den " kata bi Inem.


" Oh... Ribet ya ngurusi selera kopinya mbak Sakura " kata Bagas.


" Apa lo bilang " seru Sakura.


" Nggak mbak bercanda doang " kata Bagas.


" Udah-udah, bibi ke belakang dulu " kata bi Inem.


" Iya bi " jawab Bagas.


" Udah lo pesen belum taksinya? " tanya Sakura.


" Hehehe.... Belum mbak " jawab Bagas sambil cengengesan.


" Ya udah cepat pesen gih " suruh Sakura.


"  Tapi lo tau alamat rumah ibu itu kan? " tanya Sakura lagi.


" Tau mbak " jawab Bagas.


****


" Bi, kita pergi dulu ya " pamit Sakura. Hari ini Sakura pergi berdua saja dengan Bagas. Sari tidak ikut karena hari ini dia ada ulangan di sekolahnya.


" Jauh nggak pak? " tanya Sakura.


" Lumanyan sih mbak, soalnya ini kan ada di Boyolali mbak " jawab Sopir tersebut.


" Kota pak? " tanya Sakura.


" Bukan mbak, ini desanya ada di lereng gunung merapi mbak " kata sopir tersebut.


" Oh ya? Kira-kira kalo ke merapi berapa kilo pak? " tanya Sakura.


" Kok bapak tau? " giliran Bagas yang kepo.


" Saya dari Boyolali mas " jawab sopir tersebut.


" Boyolalinya daerah mana pak? " tanya Sakura.


" Saya di batas kota mas " jawab sopir tersebut.


" Oh.... Nggak heran kalo bapak tau ternyata orang Boyolali " kata Bagas.


" Boyolali kota susu ya pak " tanya Sakura.


" Iya mbak " jawab sopir tersebut.


" Berarti banyak yang ternak sapi ya pak? " tanya Sakura.


" Iya mbak banyak " jawab sopir tersebut.


" Oh... " jawab Sakura singkat.


" Mbak sama masnya mau jalan-jalan ke Boyolali ya? " tanya sopir tersebut.


" Bukan pak, kita kesana itu mau melayat " jawab Sakura.


" Oh... Gitu, saudaranya ada yang meninggal? " tanya sopir itu lagi.


" Iya pak " jawab Sakura singkat karena bingung mau jawab apa selain iya.


" Meninggalnya kenapa mbak? " tanyanya lagi.


" Tertabrak mobil pak " jawab Sakura.


" Ya Allah tertabrak dimana mbak? " tanya Sakura.


" Di depan rumah sakit pak " jawab Sakura.


" Ya Allah mbak " kata sopir tersebut.


Tak terasa Sakura dan Bagas banyak sekali bertanya dan mengobrol dengan sopir taksi tersebut. Hingga tak terasa mereka sudah mulai memasuki kediaman ibu yang kemarin ia jumpai. Terdapat banyak pelayat yang datang ke rumah duka. Sakura pun segera membayar ongkos taksi. Setelah selesai membayar, Sakura dan Bagas pun segera memasuki rumah duka. Tak lupa mereka juga bersalaman dengan pihak keluarga, disana juga ada polisi yang mengantar jenazah ke rumah duka.


****


Setelah acara pemakaman selesai, Sakura dan Bagas pun mengobrol dengan keluarga korban. Keluarga korban juga memutuskan untuk tidak melaporkan atau menuntut pelaku mengingat cerita awal korban yang menyebabkannya tertabrak mobil.


"  Pak bu, saya boleh tanya? " tanya Sakura.


" Iya mbak " jawab bapak tersebut yang mana ia merupakan kakak korban.


" Suami ibu tersebut berada dimana? " tanya Sakura.


" Suaminya sudah meninggal mbak 5 bulan yang lalu " jawab kakak ibu tersebut.


" Innalillahi, meninggalnya kenapa pak? " tanya Sakura lagi.


" Korban tabrak lari mbak " jawab kakak ibu tersebut.


" Makanya beliau jadi depresi mbak, apalagi almh kan waktu itu sedang hamil " kata istri dari kakak korban.


" Astagfirullah... Nama almh tadi siapa maaf saya lupa " kata Sakura.


" Namanya Maheswari mbak " jawab kakaknya.


" Ibu Maheswari punya anak berapa pak? " tanya Bagas.


" Dua mas, yang pertama umurnya tujuh tahun terus yang kedua ya masih bayi itu " jawab kakaknya.


" Berarti suami ibu meninggalkan seorang anak dan juga ibu Maheswari yang sedang hamil? " tanya Sakura.


" Iya mbak, waktu itu almh sedang hamil 4 bulan " jawab istri dari bapak tersebut.


" Yang saya syukuri itu, ya alhamdulillah karena janinnya itu kuat didalam kandungan walaupun kondisi ibunya saat itu sedang stress berat" kata bapak tersebut.


" Iya pak Alhamdulillah " syukur Sakura.


" Oh... Gitu, maaf ya pak mungkin pertanyaan kurang berkenan. Tapi,  saya ingin bertanya. Apa yang akan bapak lakukan untuk kedua keponakan bapak tersebut? " imbuh Sakura.


" Terus terang mbak, kami ingin menitipkannya di panti asuhan. Mengingat perekonomian kami ini tidak mencukupi mbak " jawab bapak tersebut dengan menghela napas beratnya. Hati Sakura tersentu mendengarnya, sehingga Sakura ingin mengadopsi kedua anak tersebut daripada dititipkan di panti asuhan.


" Iya mbak, untuk kebutuhan sehari-hari aja masih belum cukup mbak " kata istri bapak tersebut.


" Anak yang pertama cewek apa cowok? " tanya Bagas.


" Dua-duanya cowok mas " jawab bapak tersebut.


" Emmmm.... Ok jadi begini bu, apakah bapak dan ibu berkenan bila saya mengadopsi mereka? " tanya Sakura. Pernyataan Sakura tadi membuat bapak dan istri korban saling pandang.


" Mbak... " lirih Bagas. Sambil menatap wajah Sakura.


" Apa mbak yakin? " tanya istri bapak tersebut.


" Iya bu... Saya yakin " jawab Sakura.


" Tapi mbak kan masih muda " katanya lagi.


" Saya yakin bu " kata Sakura meyakinkan.


" Kami setuju mbak, daripada kami harus menitipkan keponakan kami di panti Asuhan " jawab bapak tersebut dengan berat hati.


" Alhamdulillah " syukur Sakura.


" Karena ada bapak polisi disini. Saya ingin bapak menjadi saksi untuk persidangan hak asuh anak ini nanti " kata Sakura.


" Maaf mbak, tapi menurut persyaratan undang-undang untuk mengadopsi anak. Harus sudah menikah dan jika selama lima tahun pernikahan belum memiliki anak. Baru boleh mengajukan untuk mengadosinya " kata polisi tersebut.


" Tidak apa-apa pak, saya akan berjuang untuk mendapatkan hak asuh secara hukum dan negara. Untuk sementara, mungkin saya akan mengadopsinya secara kekeluargaan " kata Sakura.


" Baik mbak " jawab polisi tersebut.


" Mungkin besok, saya akan kesini untuk meminta secara kekeluargaan dengan disaksikan perangkat desa dan tidak lupa dengan kehadiran bapak " kata Sakura gigih.


" Baik mbak " jawab polisi tersebut.


" Oh iya Bagas, tolong kamu tangani ya untuk besok. Saya ingin bertemu dengan anak ibu Maheswari " kata Sakura.


" Baik mbak " jawab Bagas patuh.


" Pak, bu. Boleh saya bertemu dengan putra ibu Maheswari? " tanya Sakura.


" Boleh mbak. Mari saya antar "....


NEXT....