There is Not True Love. Really?

There is Not True Love. Really?
SATU


" Bagas bagaimana, apa anda sudah yakin jika pria tersebut yang akan dijodohkan dengan saya? " tanya Sakura.


******


" Sudah mbak " jawab Bagas.


" Ra ini beneran? " tanya Vita.


" Vit, sekali lagi lo tanya kayak gitu. Gue depak lo " ancam Sakura.


" Iya Ra " jawab Vita.


" Bagas tolong anda jelaskan kepada saya se-detail mungkin " perintah Sakura.


" Baik, pria tersebut bernama Emre Iskander, pria tersebut merupakan putra dari teman papa mbak Sakura saat SMA, dan saat pertemuan acara di Jakarta kemarin mereka bertemu. Dan saat pembicaraan dengan orang tua pria tersebut, mereka saling menceritakan tentang anak mereka dan dari situ mulai ada pembicaraan tentang perjodohan " jelas Bagas panjang lebar.


" Ok, baik lalu apakah mereka tahu tentang keluarga kita? " tanya Sakura.


" Mereka tidak tahu seperti apa keluarga mbak Sakura " Jelas Bagas.


" Mereka tidak tahu? " tanya Sakura.


" Iya mbak, yang mereka ketahui hanyalah orang tua mbak Sakura itu orang yang sukses. Mungkin mereka tahu siapa orang terkaya di Indonesia dan di Asia tapi mereka tidak tahu jika itu keluarga mbak Sakura " jelas Bagas.


" Terus Mereka tahu nama Sakura? " tanya Vita kepada Bagas.


" Yang mereka ketahui itu nama Indonesia mbak Sakura yaitu Adeeva Afsheen Rawnie " Jawab Bagas.


" Ok, Mereka dari golongan apa? " tanya Vita.


" Vita... " peringat Sakura.


" Biarin gue pengen tahu aja " jawab Vita.


" Golongan menengah, kelas menengah atas mbak " jawab Bagas.


" Whaatt... Serius.... " jawab Vita setengah berteriak.


" Biasa aja kali " ujar Sakura.


" Sorry ya Ra, mereka itu beda kelas sama kita Ra " ujar Vita.


" Iya gue tahu, buat gue semua sama derajatnya. Lagian gue aja lebih milih tinggal dikampung, sekolah aja dikampung " seru Sakura.


" Iya ya, tapi lagian gue juga heran deh sama lo. Kok lo mau sih ninggalin kehidupan lo yang serba glamour itu " kata Vita.


" Gue pengen aja, emang masalah. Lagian gue juga lagi mikir nih, gue pengen tahu gimana reaksinya itu orang kalo tahu gue tinggal dirumah itu " kata Sakura.


" Maksud lo? " tanya Vita kebingungan.


" Gue pengen tahu reaksi itu cowok kalo dia tunangan sama gue yang bukan berasal dari kelasnya " kata Sakura.


" Ohh...  Gitu " jawab Vita.


" Tapi mudah-mudahan tuh cowok nggak tua banget yah, dan gak banci " doa Sakura.


" Oh iya, Bagas cowok yang mau dijodohin sama Sakura umurnya berapa? " tanya Vita.


" 28 tahun mbak Vita " jawab Bagas.


" Aaappppaaaaaa...... " teriak Sakura.


" Gue dijodohin sama om-om " ujar Sakura shock.


" Terus pekerjaannya apa? " tanya Sakura.


" Designer baju mbak " Jawab Bagas.


" Whaaatttt, Gas lo jangan bercanda deh " seru Sakura.


" Maaf mbak, tapi info itu memang benar mbak " kata Bagas.


" Ya Allah... Mending gue mati aja deh, daripada nikah sama orang itu " seru Sakura.


Sementara Vita, ia sudah tertawa guling-gulingan di sofa kantor. Sementara yang ditertawai meratapi nasibnya yang tidak beruntung.


" Aduh... Perut gue " kata Vita dengan napas tercekik.


" Viiiittttaaaaaa.... " teriak Sakura melengking.


Teriakan Sakura yang begitu kencang, membuat Bagas sekretarisnya dan Vita sepupunya harus menutup telinganya rapat-rapat takut gendang telinganya rusak.


" Ampun dah, gila ya lo Ra. Teriakan lo itu kenceng banget " seru Vita.


" Biarin " ujar Sakura cuek.


" Minggir gue mau pulang " seru Sakura. Sambil berjalan keluar ruangannya.


" Eh Ra kok malah ngambek sih " kata Vita panik.


" Sakura... " teriak Vita saat memanggil nama Sakura.


Sakura yang sudah tidak menghiraukan panggilan Vita pun segera menuju mobilnya untuk pulang ke rumah. Sedangkan Vita yang sudah tahu kebiasaan Sakura pun panik.


" Bagas, tolong siapkan pengawal untuk mengawasi Sakura selama perjalanan pulang kerumah. Kamu tahu kan kebiasaan Sakura? " tanya Vita pada Bagas.


" Baik Mbak, sebentar saya telepon mereka dulu. Mereka sedang menjaga gerbang depan " kata Bagas.


" Cepat! " perintah Vita dengan tegas.


" Tolong awasi Bu Sakura, pastikan beliau sampai dirumah dengan selamat " perintah Bagas pada pengawal Sakura melalui sambungan telepon.


" Sudah saya perintahkan mbak Vita " kata Bagas pada Vita.


" Ya sudah, saya mau menyusul Sakura " ujar Vita pada Bagas.


Vita keluar dari ruangan Sakura, ia pun berlarian di sepanjang lobby perusahaan Sakura. Saat sampai diparkiran Vita pun segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Vita pun akhirnya dapat menyusul mobil yang dikendarai Sakura, Vita sudah mengklakson mobilnya berkali-kali agar Sakura berhenti. Namun, Sakura tetap tidak mau berhenti.


Aksi kebut-kebutan antara Sakura dan Vita pun masih terus terjadi, Hingga akhirnya mereka berhenti di apartemen elit di Jakarta. Sakura pun segera turun dari mobilnya dan menuju apartemen miliknya.


" Ra... Sakura " panggil Vita sambil berlari mengejar Sakura.


" Ra... Tungguin dong " panggil Vita saat Sakura sudah berhenti didepan pintu apartemennya.


" Ra... Udah dong Ra " kata Vita saat masuk apartemen Sakura dan mengejar Sakura kekamarnya.


" Diam " kata Sakura dingin.


" Ra gue tau perasaan lo gimana, tapi please Ra jangan kayak gini "


" Ra kalo lo kayak gini masalah lo gak bakal selesai Ra. ok ok, sekarang lo maunya gimana? " tanya Vita pada Sakura.


" Gue mau papa batalin perjodohan ini titik " seru Sakura.


" Ra... Lo tau kan papa lo kayak gimana? Lo ngelakuin itu juga percuma Ra! " ujar Vita.


" Ra, iya gue tau dia bukan tipe lo. Tapi apa yang membuat lo marah kayak gini? " tanya Vita.


" Vit, lo tau kan kalo designer cowok itu luwes banget " seru Sakura.


" Ra... Dengerin gue dulu, nggak semua designer cowok itu seperti yang lo pikirin Ra... " kata Vita pada Sakura.


" Mana ada Vit! " sangkal Sakura.


" Ra... Lo harus tahu, Lo pernah ke  EIS boutique? " tanya Vita. Sakura pun menggelengkan kepalanya.


" Ok, kenapa gue ngomong kayak gini. Karena, designer langganan gue nggak seperti itu Ra please Ra percaya sama gue " kata Vita membenarkan pendapatnya.


Sakura pun terdiam dengan setelah Vita berbicara seperti itu, ia membenarkan pendapat Vita bahwa semuanya tidak seperti pikirannya. Ah... Mungkin ia bisa berbicara seperti itu karena ia trauma.


" Lagian kenapa lo bisa berpikiran seperti itu sih Ra " ujar Vita.


" Ra... Lo kenapa sih? Lo ada masalah apa lagi? " tanya Vita.


" Iya... Sorry gue lagi emosi banget tadi jadi... " kata Sakura sambil mulai bercerita.


" Kenapa Ra? " tanya Vita.


" Jadi Sebenernya dulu... Gue pernah ke pasar tradisional, nah disana itu ada pengamen nah gue nggak tau kalo dia itu bencong " kata Sakura.


" Terus masalahnya apa? " tanya Vita.


" Nah, waktu itu dia kan ngamen ditempat belanja gue. Terus gue ngerasa kayak apa ya? " pikir Sakura.


" Kayak apa Ra? " tanya Vita gemas, karena Sakura ceritanya sepotong-potong.


" Kayak gimana gitu! Yah... Kayak gak terbiasa aja sih, entahlah gue juga bingung " ujar Sakura.


" Heemm... Gue kira apa Ra! Yah... Wajar sih kalo lo kurang nyaman secara lo itu pemilih Ra. Jadi yah, gue gak ikut campur " kata Vita.


" Tau Vit gue bingung, kata bokap tunangannya tiga hari lagi, dan bokap bilang kalo bisa secepatnya " kata Sakura.


" Whhaaat... " pekik Vita.


" Iya, gue udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi Vit, mau kabur juga percuma " kata Sakura.


" Serius Ra demi apa? Cepet amat " seru Vita.


" Tau Vit, gue udah bingung, udah stress juga ini. Ya udah gue mau tidur dulu " kata Sakura.


" Iya, gue nginep ya " Kata Vita.


" Kalo mau nginep, tidur dikamar sebelah aja Vit " suruh Sakura sambil nyengir.


" Asem lo Ra " gerutu Vita sambil beranjak dari tempat tidurnya Sakura.


NEXT...