There is Not True Love. Really?

There is Not True Love. Really?
TUJUH BELAS


" Nggih mbak " jawab sopir tersebut.


****


Sambil menunggu Sari kembali ke rumah sakit. Sakura agak risih dengan seragamnya yang basah karena air hujan ingin sekali ia berganti pakaian. Namun, ia masih menunggu kabar dari dokter yang memeriksa ibu dan bayi tersebut. Karena mengingat kejadian ini harus dilaporkan ke polisi maka Sakura pun segera menelpon Bagas untuk meminta bantuannya.


" Halo, Bagas kamu kesini sekarang juga " perintah Sakura.


"...."


" Saya butuh bantuan kamu, jadi kamu kesini sekarang juga! Kalo bisa naik pesawat habis itu ke rumah sakit Dr. Moewardi dan ingat jangan cerita ke siapa-siapa mengerti! " kata Sakura sambil menutup sambungan telepon secara sepihak.


1 setengah jam kemudian...


" Mbak, dipanggil dokter " kata perawat tersebut pada Sakura yang terlihat sedang melamun.


" Mbak " panggil suster tersebut Sakura pun terhenyak setelah dipanggil suster tersebut kedua kalinya.


" Eh... Iya sus, ada apa " tanya Sakura.


" Mbak, dipanggil dokter " kata suster tersebut.


" Iya sus, terima kasih " kata Sakura.


" Keluarga pasien? " tanya dokter tersebut.


" Bukan dok, tapi tadi saya nggak sengaja menemukan ibu dan bayi tersebut " kata Sakura.


" Oh... Begitu. Langsung saja ya mbak. Jadi begini, kami memiliki dua kabar kabar yang pertama bayi tersebut dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun " kata dokter tersebut.


" Alhamdulillah " ucap syukur Sakura.


" Tapi, sepertinya bayi tersebut kehujanan dan juga dalam keadaan kedinginan. Jadi kami memutuskan untuk di inkubator terlebih dahulu hingga keadaannya stabil " kata dokter tersebut.


" Lalu kabar yang kedua itu apa ya dok? " tanya Sakura.


" Jadi begini mbak, kabar keduanya. Ketika kami memeriksa ibu dari bayi tersebut. Sepertinya, ibu tersebut mengalami gangguan psikis. Dan juga pandangan matanya pun kosong. Sepertinya, beliau mengalami depresi berat. Tapi, syukurlah bayi tersebut sangat kuat dirahim sang ibu walaupun ibunya mengalami depresi berat " kata Dokter tersebut.


" Lalu apa yang harus kita lakukan dok? " tanya Sakura.


" Untuk saat ini ibu tersebut dalam kondisi stabil. Namun, harus berada dalam pengawasan kami. Karena, yang kami khawatirkan ibu tersebut mengalami kejadiaan yang tidak diinginkan " kata dokter tersebut.


" Baik dok, tolong lakukan yang terbaik " kata Sakura.


" Baik mbak, kalo begitu saya permisi dulu " tutup dokter tersebut.


Dokter tersebut pun segera meninggalkan ruang tindakan. Karena Sakura sudah merasa tidak nyaman dengan pakaiannya. Ia pun meminta perawat untuk menjaga ibu tersebut karena ia akan membeli baju ganti.


" Suster " panggil Sakura.


" Iya mbak " jawab suster tersebut.


" Sus, saya mau minta tolong. Tolong jaga ibu itu sebentar ya. Saya mau beli baju ganti dulu " kata Sakura sambil menunjuk ibu tadi.


" Oh... Iya mbak, silahkan " kata suster tersebut ramah.


" Terima kasih ya sus, kalo begitu saya pergi dulu " kata Sakura.


" Iya mbak " jawab suster tersebut.


Sakura pun segera meninggalkan ruang tindakan tersebut. Ia pun segera keluar dari rumah sakit untuk membeli pakaian ganti. Rasanya sangat tidak nyaman, karena baju seragamnya menjadi lengket dan kulitnya pun menjadi gatal. Kulit Sakura memang sangat sensitif dan mudah gatal.


Saat sampai di toko terdekat, Sakura segera memilih pakaian yang ia beli, Sakura memilih baju yang berwarna navy dan celana jeans panjang. Selain itu, Sakura juga membeli jaket untuk berjaga-jaga jika ia pulang malam. Setelah itu, ia juga membelikan Sari baju ganti, ia memilihkan Sari baju putih lengan panjang dan tak lupa Sakura juga membelikan Sari celana jeans.


Setelah selesai membeli baju, Sakura segera kembali ke rumah sakit. Sebelum ke UGD Sakura mampir ke ATM untuk biaya administrasi ibu tadi. Setelah selesai, Sakura pun segera ke ruang tindakan tempat dimana ibu tadi ditangani oleh dokter. Sesampainya disana, ada telpon masuk dari Bagas bahwa ia sudah sampai di Solo.


" Hallo Bagas " salam Sakura.


"...."


" Saya tunggu kamu secepatnya " tutup Sakura.


****


Tiba-tiba ruang tindakan heboh, Sakura yang baru saja menelpon Bagas pun terlihat kaget dengan kebisingan yang terjadi di ruang tindakan, ia belum tahu apa yang sedang terjadi didalam. Hingga para perawat pun turun tangan membantu mengatasi kehebohan didalam. Dan dokter yang menangani ibu tadi juga berlari menuju ruang tindakan dengan ditemani seorang perawat.


" Sus, ada apa? " tanya Sakura pada perawat yang lewat.


" Itu mbak, ada pasien yang baru melahirkan sedang memberontak " kata suster tersebut.


" Apa ibu itu ya? " batin Sakura.


" Boleh saya masuk sus? " tanya Sakura.


" Jangan mbak biar kami yang menanganinya " kata Suster tersebut.


" Tapi... "


Belum sempat Sakura melanjutkan pembicaraannya, ibu tadi berlari keluar UGD dan dikejar oleh beberapa perawat laki-laki. Dan ibu tersebut berhasil tertangkap. Namun, ibu tersebut memberontak lagi hingga perawat tersebut kualahan menanganinya. Dokter pun segera memberikan suntikan penenang. Saat akan menyuntikkan penenang, ibu tersebut berhasil terlepas dari perawat yang menanganinya dan berlari keluar rumah sakit.


" Bu.... Berhenti " teriak Sakura. Sakura ikut berlari mengejar ibu tersebut dengan perawat, satpam rumah sakit dan tim dokter yang menangani ibu tersebut.


" Mbak ada apa? " tanya Sari yang berhasil mencekal Sakura berlari.


" Kenapa mbak? " tanya Sari lagi.


" Sar, ibu itu mengalami gangguan psikis dan sekarang dia kabur " jelas Sakura.


" Astaga, ayo mbak kita kejar " kata Sari.


" Bu... Berhenti jangan ke jalan raya " teriak Sakura. Namun, ibu tersebut tetap berlari ke jalan raya.


Braakkk...


Ibu tersebut terpental karena tertabrak mobil yang sedang melaju kencang.


" Aaaa... " teriak Sakura. Ketika melihat ibu tersebut tertabrak mobil.


" Astagfirullah " kata Sari sambil menutup mulutnya. Sopir yang menabraknya pun segera berhenti untuk melihat korban.


" Sus, tolong dievakuasi secepatnya " kata Sakura.


" Sebentar mbak, tim kami sedang mengambil brankarnya " jawab suster tersebut.


Setelah brankarnya tiba, ibu tersebut pun segera di evakuasi menuju ruang tindakan untuk memdapatkan pertolongan pertama. Disana Sakura dan Sari pun semakin cemas melihat keadaan ibu tersebut. Melihat kejadian tadi, Sakura yakin ibu tersebut mengalami luka yang cukup parah.


" Mbak, awalnya gimana kok bisa seperti ini? " tanya Sari.


" Aku juga nggak tahu Sar " kata Sakura sambil mengusap wajahnya.


" Tadi, gue mau masuk tapi nggak dibolehin perawat karena ribut banget. Baru mau lanjutin tanya ibu itu udah lari keluar " sambung Sakura.


" Ya ampun... " ucap Sari.


" Mbak maaf, saya tidak bisa berlama lama disini " kata sopir taksi tersebut. Bahkan baik Sakura maupun Sari lupa jika ia belum membayar taksi tadi.


" Astaga... Maaf pak " kata Sakura sambil menepuk jidatnya.


" Ini pak ambil saja " kata Sakura sembari memberikan uangnya.


" Waduh, mbak kebanyakan ini " kata sopir tersebut.


" Nggak papa itu rezeki buat bapak ambil saja " kata Sakura.


" Nggak papa ini mbak " tanya sopir tersebut tak percaya.


" Iya pak ambil saja " kata Sakura.


" Alhamdulillah, terima kasih mbak. Kalo begitu saya pamit ya mbak " kata sopir tersebut.


" Iya pak hati-hati " pesan Sakura. Setelah itu, sopir tadi pun segera pergi dari rumah sakit.


" Mbak belanja " tanya Sari.


" Iya gue abis belanja, gue ganti dulu ya sar. Lo tunggu aja dulu disini " kata Sakura.


" Iya mbak " jawab Sari.


****


Setelah selesai ganti baju, Sakura pun juga meminta Sari untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sambil menunggu informasi dari dokter.


" Cepet banget gantinya " kata Sakura setelah melihat Sai selesai ganti baju.


" Iya mbak, makasih ya udah beliin baju ganti " kata Sari.


" Iya, santai aja " kata Sakura.


" Keluarga pasien " panggil dokter tersebut.


" Iya dok " jawab Sakura.


" Maaf kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu tersebut " kata dokter dengan menundukkan kepalanya. Sakura dan Sari pun menutup mulutnya.


" Innalillahi " kata Sakura dan Sari berbarengan.


" Kami akan segera membersihkan jenazah ibu tersebut " kata dokter.


" Emm... Baik dok. Terima kasih " jawab Sakura. Dokter tersebut pun segera meninggalkan ruang tindakan.


" Gimana nih mbak, kita nggak kenal dengan keluarga ibu itu " kata Sari.


" Bentar Sar, gue nunggu Bagas. Biar dia yang tanganin ini semua " kata Sakura.


" Termasuk mencari data ibu itu " sambung Sakura.


**Next..


Hai... Terima kasih sudah membaca karya aku, dan jika kalian suka jangan lupa di like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya ya...


dan jangan lupa kalian share keteman kalian juga ok


Bye**..