
Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Ran, dia menyuntikkan obat penenang pada Ran. setelah memeriksa, dokter mengatakan bahwa Ran pingsan karena terlalu syok, untuk memulihkan kembali kondisi Ran, dokter menganjurkan agar selalu beristirahat dan menenangkan pikiran. Setelah memberikan resep obat, Nina mengantar dokter keluar.
"ini semua kesalahanku, seharusnya aku tidak membiarkannya melihat sisi gelap ku, dia pasti ketakutan karena melihat perbuatan ku. Dia pasti tidak akan menerima ku. Bagaimana aku menghadapi nya nanti." Batin Alfa yang tertunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
Alfa terus menggenggam dan mencium tangan Ran. Alfa terus menunggu sampai Ran sadar, hari pun sudah malam, Ran terbangun setelah tidak sadarkan diri selama berjam-jam. Melihat Alfa ada disampingnya Ran terdiam.
"tangannya sangat hangat dan besar saat dia memegang tanganku seperti ini, bagaimana dia membunuh orang dengan tangan yang hangat dan ekspresi tanpa perasaan. Tapi aku tidak bisa berada disini terus, aku tidak boleh goyah" batin Ran.
Ran langsung melepaskan genggaman tangan Alfa dan tidak menatap Alfa sedikitpun. Dan saat itu Alfa terbangun.
"kau sudah sadar? Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit??" Tanya Alfa khawatir.
Ran tidak menjawab Alfa sedikit pun.
"makanlah, kau belum makan dari pagi tadi kan?"
Alfa menyuapi Ran. jelas sekali Ran akan menolak, karena kejadian tadi.
"apa kau ingin disiapkan makanan lain?" Tanya Alfa.
"aku tidak ingin makan" ucap Ran.
"lalu apa ada yang kau inginkan?" Tanya Alfa lagi. "aku ingin pulang" jawab Ran.
"tidak!" Ucap Alfa sambil menurunkan pandangannya. Alfa sudah mengira bahwa Ran akan bersikap seperti ini pada dirinya.
"tolong keluar dari kamar ini sekarang" suara Ran mengecil dan terdengar lemah.
Ran tidak melirik Alfa sedikitpun.
Alfa memegang wajah Ran dan memaksa Ran untuk menatapnya, Namun tatapan Ran kosong seperti manusia yang sudah kehilangan jiwanya. Melihat sikap Ran seperti itu kepada Alfa. Alfa tidak bisa memaksa Ran lagi dan akan keluar dari kamar. sebelum keluar, Alfa bergumam kecil didepan pintu yang dia hendak keluar, "kau tidak boleh pergi dari sini" itulah yang diucapkan oleh Alfa pada Ran.
Alfa masuk keruangan kerjanya dan mengurung diri. Alfa langsung meminum alkohol dan tidak berhenti mengamuk dan memecahkan banyak barang Paman Qin/kepala pelayan yang menunggu diluar pintu. Berusaha menghentikan alfa. Bunyi Barang barang yang hancur. Prang! Prang! Dugh! Prang!.
"tuan muda tolong tenangkan diri anda" kata paman Qin.
Tapi Alfa mengusir paman Qin keluar.
"Apa ini yang aku inginkan, aku yang membuatnya menjadi seperti ini, Tatapan kosong, tubuh yang semakin kurus, dan menjauhiku. apa ini yang aku inginkan! Dia seperti kehilangan cahayanya, semua adalah kesalahanku, apa yang harus aku lakukan. aku tidak bisa memilikinya sepenuhnya.." batin Alfa dengan seluruh jari-jarinya yang gemetaran.
2 hari pun berlalu, Alfa tidak pernah keluar dari ruangan dan minum alkohol terus menerus, sedangkan Ran hanya beristirahat dikamar dan tidak berbicara sedikitpun. Paman Qin orang tertua di kastil tersebut sangat sedih melihat keadaan mereka berdua. Dan akhirnya pun paman Qin memutuskan untuk meminta nona Ran melihat tuan Alfa.
"bagaimana keadaan nona?" Tanya Paman Qin.
"saya baik-baik saja paman Qin" jawab Ran tersenyum.
"nona, saya punya permintaan" paman Qin.
"permintaan apa paman Qin?" Jawab Ran.
"tolong temui tuan muda nona" paman Qin memohon.
"memangnya ada apa?" Tanya Ran.
"ini tentang tuan muda, nona Ran. tuan muda sudah 3 hari tidak keluar dari ruangannya, dia belum makan apapun selama 3 hari itu, dan dia tidak mengizinkan siapapun untuk masuk, Ruangannya dibuat memakai sistem canggih agar hanya dia yang bisa mengizinkan orang lain masuk." Ucap Paman Qin memohon dan menundukkan kepalanya.