
Setelah berkemas Kyara dan Defras pun segera berangkat menuju Bandara Internasional Sciphol. Mereka berdua diantarkan oleh pak Chris, sopir pribadi keluarga Defras.
Sementara di mobil, Kyara terlihat tak tenang. Ia sedari tadi meremas jari jari tangannya. pandangannya menerawang melihat kearah langit langit mobil yang ia tumpangi.
Defras yang sedang mengetik pesan yang akan ia kirim ke Mama dan Papanya untuk mengabari bahwa ia mendadak pergi ke Indonesia, tak sengaja melirik Kyara yang ada disampingnya. Ia pun segera mengirimkan pesan tersebut dan memasukkan ponselnya kedalam sakunya.
"Kau sedang memikirkan apa?" Suara Defras tiba tiba mengagetkan Kyara.
"Apa Papa baik baik saja kak Def? Kenapa papa bisa kecelakaan?"
"Jangan terlalu cemas, Kita juga belum tahu kondisinya karena mama mungkin sibuk mengurus papa sehingga ponselnya tidak bisa kita hubungi. Sabarlah, kita akan segera berangkat ke Indonesia Ky." Defras berusaha menenangkan Kyara meskipun ia terpaksa berbohong. Namun ia rasa saat ini, inilah yang terbaik untuk Kyara.
"Iya Kak Def, semoga Papa baik baik saja." Tapi Kyara masih tak tenang, masih terlihat dari raut wajahnya yg masih pucat.
Tak beberapa lama perjalanan, mereka akhirnya tiba di bandara internasional Sciphol. Mereka berdua turun dari mobil dan segera menuju ke First Class Lounge. Untuk menghampiri Tante Niken yang sudah menunggu di sana.
"Aunty Niken." Kyara segera berlari menuju ke Tante Niken yang sudah menunggu sekitar 30menit yang lalu.
"Aunty, apa papa baik baik saja?" Kyara langsung bertanya tentang keadaan papanya tanpa basa basi. Ada guratan kecemasan diwajahnya yang tak bisa ia tutupi dari siapapun.
Sesaat kemudian terlihat pelayan membawakan kue dan minuman sambil mereka menunggu waktu keberangkatan pesawat. Hal itu wajar saja, sebab Defras memang memesan layanan First Class untuk penerbangan mereka ke Indonesia. Jadi bisa dipastikan fasilitas yang diberikan pihak maskapai pun akan sangat special.
Setelah pelayan mempersilahkan mereka untuk mencicipi hidangan tersebut, pelayanan tersebut pun berpamitan kepada Defras. Defras pun kemudian menghampiri Istri dan tantenya. Karena dari tadi Defras hanya memperhatikan mereka dari meja seberang, membiarkan mereka bercakap cakap berdua.
"Ky, minumlah dulu, aku khawatir kamu akan dehidrasi. Karena kamu sedari tadi tidak minum sedikitpun." Sambil Defras memberikan sebotol Jasmine tea kearah Kyara.
"Tidak, aku tidak haus." Jawab Kyara singkat.
"Iya Ky, minumlah meski sedikit. Setidaknya barangkali bisa mengurangi kecemasan kamu. Itu juga Snack dimakan, biar perut kamu tidak kosong." Tambah Tante Niken
"Kyara tidak mau apa apa. Kyara khawatir dengan papa. Perasaan Kyara sama sekali tidak tenang, firasat Kyara tiba tiba kenapa mendadak buruk begini Kak Defras?" Tak terasa sambil Kyara berucap, butiran kristal jatuh membasahi kedua pipinya.
Defras yang melihat gadis polos di depannya itu merasa iba, sungguh jalan hidupnya penuh dengan air mata. Tanpa berpikir panjang, Defras pun duduk di samping Kyara. Ia kemudian menarik tubuh Kyara kedalam pelukannya.
"*Aku tidak tau apakah pelukanku ini akan membuat sedikit beban di hatimu berkurang. Tapi setidaknya biarkan aku memelukmu untuk memberikan ketenangan. Ketenangan yang bukan hanya untuk hatimu, tapi juga untuk hatiku. Entah kenapa, hatiku pun merasakan rasa sakit dan perih. Meskipun aku tak tau itu semua karena apa."
(suara hati Defras*)