
"Terimakasih." Ucap Kyara lirih sambil wajahnya menunduk kebawah.
"Hapus air matamu dan segera minta di rias ulang. Aku tidak mau orang mengira aku yang membuatmu menangis begini atau bahkan mengira kau terpaksa menikah denganku." Kata Defras kepada Kyara yang masih tertunduk lemas sambil berdiri.
Kyara menanggapi ucapan Defras dengan mengangguk tanpa bersuara sedikitpun. Sambil ia berjalan hendak pergi keruang rias.
"Tunggu." Ucap Defras menahan Kyara.
"Ikuti aku." Defras mengajak Kyara untuk masuk kesalah satu ruangan.
"Duduklah disitu." Perintah Defras kepada Kyara.
Kyara yang kondisinya masih terlihat lemas dan sedikit pucat wajahnya karna kejadian barusan menuruti saja perintah Defras. Padahal bisa dipastikan jika kondisinya normal seperti biasa, ia tidak akan mau disuruh suruh Def seperti ini.
"Minumlah ini, wajahmu terlihat sangat pucat sekali." Defras memerintah sambil menyodorkan segelas air putih kepada Kyara.
Setelah Kyara menerimanya, Defras kemudian duduk disamping Kyara. Ia lalu meraih tangan kiri Kyara dan membersihkan pergelangan tangan kyara dengan menggunakan sapu tangan yang telah ia basahi dengan air di wastafle tadi.
"Tahan sedikit, ini akan sedikit perih." Ucap Defras sembari ia mengeluarkan salep dari kotak P3K yang ia bawah, kemudian ia mengoleskan ke pergelangan tangan Kyara yang terluka akibat di genggam Ardhan terlalu kuat. Sehingga menimbulkan bekas goresan goresan lecet yang bewarna agak kemerahan.
Kyara menggigit bibir bawahnya sambil menahan rasa sakit akibat salep yang di oleskan oleh Defras. Namun bagi Kyara rasa sakit dihatinya masih lebih perih dibandingkan luka di goresan dipergelangan tangannya.
"Def, bolekah aku meminjam bahumu sebentar saja?" Tanya Kyara lirih.
Defras menoleh kearah Kyara, ia melihat tatapan mata Kyara yang sendu. Persis saat pertama kali ia menjumpai Kyara di Vondelpark waktu itu. Defras pun kemudian menggeser duduknya agar persis ada disamping Kyara.
Kyara pun tanpa diminta langsung menyandarkan kepalanya tepat dibahu Defras. Defras pikir Kyara akan meminjam bahunya untuk menangis. Namun Kyara malah memejamkan matanya.
"Sebentar saja Def, aku tidak akan lama. Aku hanya butuh ruang untuk sejenak bernafas lega. Melupakan kejadian yang menyesakkan tadi. Terimakasih untuk yang kesekian kalinya karna telah membantuku disaat yang kubutuhkan." Gumam Kyara dalam hati
"Apa kau masih menyimpan perasaan yang amat dalam padanya?" Tiba tiba Defras melontarkan pertanyaan yang membuat Kyara langsung mendongakkan kepalanya.
Terasa degup jantung Kyara yang sedikit memburu dirasakan oleh Defras. Karna memang jarak mereka saat ini sangatlah dekat.
"Meskipun perasaanku terhadapnya masih sama seperti dulu, Aku tidak akan membuat wanita itu merasakan kekecewaan dan sakit hati sama seperti yang pernah mereka lakukan padaku 2 tahun yang lalu." Kyara melanjutkan kata - katanya. Ada guratan kesedihan yang amat dalam terlihat dari kata kata Kyara saat ia mengatakan penekanan terhadap kata kata 2tahun yang lalu tersebut.
"Ternyata benar, kamu masih mencintai pria brengsek itu. Sedalam itu kamu menyimpan hatimu untuknya. Sekarang aku mengerti, itulah kenapa kamu tidak seperti gadis bodoh diluar sana yang mati matian mengejarku." Ucap Defras dalam hati.
Bip bip.. Bip bib..
Suara handphone Defras tiba tiba berbunyi sambil bergetar. Mengagetkan Kyara dan Defras yang sedang sibuk dengan pikirannya masing masing. Kyara kemudian menarik Kepalanya dari bahu Defras.
Defras kemudian merogoh saku kanannya dan mengambil ponsel tersebut. Terlihat nama ~Ernes dilayar handphonenya. Ia kemudian mengangkat telepon dari sahabatnya tersebut.
"Ada apa?" Defras bertanya dengan datar
"Kau dimana, acara tinggal 1jam lagi. Tapi semua orang mencarimu dan Kyara tidak ada. Handphone Kyara juga tertinggal di ruang rias. Jadi kita tidak bisa menghubunginya." Jawab Ernes sambil nafasnya tidak teratur karna ia habis mondar mandir kesana kemari mencari Defras dan Kyara.
"Sudalah duduk santai sajalah, Kyara bersamaku. Ada sedikit problem, tapi jangan khawatir kami akan segera kesana. Kami baik baik saja. Oke." Defras langsung mengakhiri percakapannya dengan Ernes.
"Kenapa?" Tanya Kyara cemas.
"Tidak ada apa apa. Sudah jangan pikirkan, tidak penting. Ayo cepat kuantar kau ke ruang Rias. Acara kita akan dimulai 1jam lagi." Jawab Defras
"Baiklah." Kyara mengangguk dan berjalan bersama Defras menuju ruang Rias.
"Ky.. Apa kamu yakin akan tetap melanjutkan ini?" Tiba tiba Defras melontarkan pertanyaan dan menghentikan langkahnya.
Kyara pun ikut menghentikan langkahnya. Ia mengangguk pasti. Tidak ada sedikitpun keraguaan yang terbesit dari wajahnya.
"Baiklah kalau begitu, Kita sudah sepakat. Mari kita mulai hari ini." Ucap Defras