
Tok .. Tok .. Tok ..
Terdengar samar - samar ketukan dari luar kamar Defras. Defras melirik jam dinding yang berada di kamarnya.
Dengan masih diselimuti rasa malas, ia bergumam lirih, "Siapa sih jam segini mengganggu tidurku? Apa ada hal yang penting sampai ada yang mengetuk pintu kamarku?" Ia pun segera turun dari sofa tempat ia tidur.
Yups.. Memang semenjak ia menikah dengan Kyara, Defras memilih tidur di sofa didalam kamarnya. Karena memang pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan bersama. Jadi Defras tidak ingin membuat Kyara tidak nyaman. Jadi mereka sepakat Kyara tidur di ranjang dan Defras tidur di Sofa.
Defras pun melangkahkan kakinya menuju pintu dengan perlahan sambil mengusir rasa kantuknya. Tak lama kemudian, ia menarik handle pintu dan membukanya.
"Ada apa Bi membangunkan saya jam setengah tiga pagi begini?" Tanya Defras kepada asisten rumah tangganya.
"Maaf Tuan Muda, saya terpaksa. Karena ada telepon dr Nyonya Niken yang katanya beliau adalah Tantenya Nona Kyara. Sepertinya ada yang ingin disampaikan penting, sebab beliau
bilang berulang kali menghubungi ponsel Nona Kyara tapi tidak bisa." begitu penjelasan salah satu Asisten rumah tangga Defras.
"Tante Niken? Apa hal penting yang membuat tante Niken menelepon pagi buta begini?" gumam Defras sambil melirik Istrinya yang masih tertidur pulas, Ia tak tega kalau harus membangunkan Kyara, sebab mereka memang baru saja masuk kamar karena lama mengobrol di taman semalaman.
Asisten yang mendengar Defras bergumam pun menjawab, "Saya juga tidak tahu pasti Tuan, Alangkah baiknya jika Nona Kyara atau Tuan Muda segera menjawab telepon Tantenya Nona Kyara, sebab beliau masih menunggu."
"Baiklah Bi, biar saya saja yang akan menjawabnya. Jangan bangunkan Kyara, biar dia beristirahat" pesan Defras kepada Asistennya sambil ia berjalan menuju meja telepon yang terletak di ruang keluarga tersebut.
Defras pun segera duduk di sofa dan mengambil gagang telepon yang sudah menunggunya. "Good Morning, Aunty. Maaf Defras baru bangun, sepertinya Tante Niken menunggu lama. Apa ada hal penting yang akan tante sampaikan?"
Dari seberang terdengar samar - samar suara isak tangis, tak lama Tante Niken menjawab sambil terbata. "Ma,, Ma,, Maaf Defras. Tante mengganggu. Aa,, Apa Tante bisa bicara dengan Kyara?"
Defras yang mendengar suara isak tangis dan suara Tante Kyara yang terbata - bata membuatnya sedikit bingung dan penasaran. "Maaf tante, Kyara masih tidur. Defras tadi tak tega mau membangunkannya. Mungkin tante mau menyampaikan ke Defras, nanti biar Defras sampaikan ke Kyara tante."
"Begini Defras, Tante juga bingung mau memulai dari mana. Tapi Kyara harus tau bahwa papanya........." Hening sesaat hanya Isak tangis yang Defras Dengar dari seberang.
"Papanya Kyara kenapa Tante?" Tiba tiba perasaan Defras mendadak menjadi buruk.
"Papanya Kyara....... Meninggal Defras." Tante Niken pun menyampaikan dengan suara masih sambil terisak samar samar.
Deg..
lama terjeda, Defras masih membisu sambil tetap memegang gagang telepon. Ia bingung mau berkata apa. saat ini yang ada dipikirannya, bagaimana ia akan menyampaikan kabar buruk ini kepada Kyara?
"Hallo,, Hallo,, Defras apa kamu masih mendengar Tante?" Pertanyaan Tante Niken membuyarkan lamunan Defras.
"Iya Tante, Maaf tante Defras sangat terkejut. Defras turut berduka cita. Defras akan segera membangun Kyara dan mengajak Kyara untuk ke Indonesia tante." Tutur Defras dengan ragu ragu, sebab ia masih berpikir bagaimana cara yang tepat untuk memberitahu kabar duka tersebut kepada Istrinya.
"Baik Defras, tante juga akan bersiap untuk ke bandara. Apa Defras dan Kyara juga akan pergi bersama tante? Jika iya, tante akan belikan tiket sekalian, tante tunggu kalian di bandara ya?"
"Baik Defras, terimakasih banyak. Tante akan siap - siap sekarang." Tante Niken berpamitan kepada Defras, Namun saat akan menutup telepon, Defras kemudian menahannya.
"Maaf tante sebentar, Tante nanti tolong jangan beritahu Kyara dulu ya bahwa papanya meninggal. Defras takut Kyara syok disini, lebih baik nanti kita beritahu saat sudah tiba di Indonesia saja." Defras memohon pada tante Niken.
"Baiklah Def, Kita akan beritahu saat tiba di Indonesia." Tante Kyara menyanggupi
"Terimakasih tante, sampai ketemu di bandara." Defras berpamitan.
Sesaat setelah ia menutup telepon dari tante Niken, hatinya masih gundah. Ia harus memulai dari mana menyampaikan kabar duka ini kepada Istrinya tersebut.
Defras kemudian berjalan menuju kamarnya, saat ia membuka pintu, Ia melihat Kyara masih tertidur pulas sambil memeluk guling.
Rambutnya yang panjang sebagian menutupi wajahnya. Defras pun duduk dipinggir ranjang Kyara, Ia menyingkap rambut Kyara yang menutupi wajah teduhnya itu.
Tanpa sadar sebenarnya Defras menyukai wanita di depannya itu. Hatinya seakan tenang saat ia bersama Kyara, sakit hatinya seakan mulai terobati. Ada perasaan yang nyaman saat ia bersamanya. Namun hati Defras terlalu dingin untuk mengakuinya.
"Kak Defras." Kyara tiba tiba terbangun karena merasa ada yang menyentuh wajahnya.
Defras sontak terkejut melihat Kyara yang tiba tiba terbangun di depannya. Defras pun langsung menarik tangannya dan segera berdiri, Ia takut jika Kyara mengira ia kurang ajar terhadapnya.
"Itu, Maaf, aku hanya ingin membangunkanmu." Defras tiba tiba salah tingkah.
"Kak Defras ada apa membangunkan Kyara?" Kyara pun terkejut karena Defras tiba2 ada d samping ranjangnya.
"Ehhmmm,, kamu harus segera bangun dan bersiap. Kita akan terbang ke Indonesia pagi ini." Defras berkata dengan lirih dan ragu ragu.
Kyara yang baru bangun dari tidurnya merasa bingung, kenapa Suaminya tiba tiba mengajaknya ke Indonesia. padahal ia yakin Defras sama sekali pasti belum pernah ke Indonesia.
"Indonesia? Kenapa Kak Defras ingin mengajak Kyara ke Indonesia?" Tanya Kyara dengan kebingungan.
Defras masih bingung menjelaskannya. Cara menjelaskan agar Kyara tak terluka.
"Iya ke Indonesia, Papa Kecelakaan dan sekarang sedang di rawat. Tante Niken tadi menelepon. Kita harus segera ke Indonesia bersama." Jelas Defras
"Papa Kyara kecelakaan? Kak Defras tidak sedang bercanda kan?" Wajah Kyara seketika memucat, rona merah yang biasanya menghiasi kedua pipinya pun tak nampak sama sekali. Defras yakin Istrinya pasti akaan sangat terpukul, apalagi jika ia tau bahwa papanya sudah meninggal.
"Kyara, segeralah bersiap kita tak cukup banyak waktu. Tante Niken sudah menunggu di bandara." jelas Defras.
Kyara pun yang melihat ekspresi Defras nampaknya tak mungkin jika suaminya itu hanya bercanda.
Kyara tertunduk lemas. Seluruh tulang ditubuhnya terasa seperti lepas satu persatu dari tubuhnya, yang tersisa hanyalah kulit yang menempel. Ia merasa lunglai. pikirannya kacau tak tahu entah kemana.