
Hari yang baru telah menyapa, suara burung burung berkicau membangunkan insan yang masih terlelap, sang mentari pun telah menampakkan sinar yang masih malu-malu.
Kamar nuansa girly dan parfum khas cewek-cewek masa kini. Seorang gadis baru saja menunaikan ibadah sholat subuh dan bergegas merapikan mukena dan sajadah, ia taruh di meja riasnya.
Ia bergegas menuju dapur untuk membantu sang bunda menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Pagi bunda.." sapa Lulu pada sang bunda
"Pagi sayang" balasan bunda dengan senyum cantiknya.
Mereka berdua asyik dengan bahan makanan di dapur hingga semua matang, lalu gadis itu menuju kamarnya untuk siap-siap berangkat kerja.
Setelah sarapan bersama keluarganya Lulu pun berpamitan untuk berangkat kerja.
"Bun, yah, adek berangkat kerja dulu ya" pamit Lulu sambil menyalami tangan ayah dan bundanya.
"Iya sayang hati-hati dijalan" jawab ayah dan bunda bersamaan
Saat Lulu hampir mengeluarkan motor metic dari dalam garasi rumahnya tiba-tiba Arka datang dengan senyum gantengnya.
"Hai San-San..." Sapa Arka dengan senyum khas anak kecil
"Selamat pagi Pak Arka,, tumben pagi-pagi sudah kesini, ada apa ya pak?" Lulu berucap demikian sambil memanasi motor matic-nya sebelum digunakan.
Lulu tidak heran kalau Arka mengetahui rumahnya, karena Arka adalah CEO yang pasti tahu tentang alamat rumah para karyawannya dari CV karyawan.
"Sopan banget sih ngomongnya" Arka berujar demikian karena merasa aneh karena ini bukan di area kantor, kenapa Lulu berkata sesopan itu sama Arka?
"Lha kan bapak atasan saya, saya mau kerja ditempat bapak, terus bapak kan juga pakai pakaian formal kan? Bapak mau ke kantor kan?" Lulu bertanya demikian karena merasa memang Lulu benar karena mau berangkat kerja.
"Tapi ini kan belum diarea kantor Lu," sanggah Arka dengan nada menyebalkan
"Lha kan sama saja pak, Bapak pakai pakaian kerja pagi-pagi kerumah saya berarti bapak itu sebagai atasan saya yang harus saya hormati.
Tapi.... Kalau bapak pakai kaos oblong sama celana pendek koloran trz rambut acak-acakan kesini walau itu pagi siang atau sore itu baru teman saya bukan atasan saya" jawaban Lulu seketika membuat Arka melongo.
"Eh bentar bentar, maksud kamu datang kesini pakai kaos oblong, celana pendek koloran rambut acak-acakan?? Itu aku waktu masih kelas 1 SMP kan??" Lulu yang mendengar perkataan Arka langsung menahan tawa.
"Sudahlah pak gak usah diingat lagi, ntar kalau diingat-ingat terus ingus bapak mbeler, hahah sudah lah pak saya mau berangkat takut telat" kata Lulu sambil naik ke atas motor matic
Arka yang terpaku dengan ucapan Lulu seketika sadar karena Lulu menekan klakson agar bisa lewat karena Arka berada didepan motor Lulu,
"Eh,, siapa bilang kamu boleh pergi pakai motor? Aku kesini ya mau jemput kamu, masa kamu malah ninggalin aku, nggak sopan banget sih" gerutu Arka
"Yeee bapak sih nggak ngomong dari tadi ya mana saya tau tujuan bapak kesini" monolog Lulu sambil mematikan motor.
"Ayo lah pak cepetan kalau mau berangkat bareng, lumayan irit bensin" sambung Lulu dengan nyengir.
Arka lalu mengacak rambut Lulu yang udah disisir rapi, "Iiiihh... bapak rese banget sih berantakan kan jadinya" Lulu berucap sambil memajukan bibirnya.
"Jangan panggil aku bapak, panggil nama Ley aja kaya dulu" jawab Arka sambil membukakan pintu mobil dibagikan penumpang depan.
****
Sesampainya di perusahaan Soraya corp banyak pasang mata yang sedang memperhatikan Lulu keluar dari mobil bersama dengan CEO mereka, tatapan sinis dan tajam banyak di antara para karyawan Soraya corp.
Arka yang peka terhadap perubahan raut wajah Lulu dan para karyawannya seolah mereka tidak senang karena Lulu bisa berangkat kerja bareng big boss
Dan para karyawan hanya terdiam dan menundukan kepala.
“Tidak ada pak!” serempak para karyawan menjawab
"Lanjut ke meja masing-masing,dan jangan ada yang berani menggosip di kantor apalagi menggosipkan yang tidak-tidak, dan bila saya mendengar kalian akan tau akibatnya, selamat pagi!" Lanjut Arka lalu berjalan menyusul Lulu yang sudah tiba didepan lift.
"Ngapain sih pak, Bapak main tegur karyawan lain? Saya udah biasa kok pak" ucap Lulu yang sudah memasuki lift bersama Arka.
"Biarin aku nggak suka kamu dilihatin kaya gitu sama pegawai aku" jujur Arka pada Lulu dengan menghembuskan nafas kasar.
"Tapi saya kan juga karyawan bapak, sama seperti mereka" ucap Lulu dengan wajah polosnya.
Arka tidak menjawabnya lagi karena denting lift berbunyi di lantai 4
Ting..
Pintu lift terbuka "Pak saya kerja dulu ya, terima kasih atas tumpangannya tadi pagi" Lulu tersenyum sambil membungkuk hormat kepada Arka yang masih di dalam lift.
Arka yang masih didalam lift mengangkat sudut bibir keatas. Karena merasa ada hal aneh yang ia rasakan sesuatu yang berbeda saat dirinya bersama Lulu
****
Di ruangan direktur utama Arka sibuk dengan laporan akhir bulan perusahaannya, ia fokus terhadap kertas-kertas yang berserakan didepan juga laptop yang menyala.
Tiba-tiba Dika masuk tanpa permisi dan membuat Arka terkejut karena saking fokusnya
"Bro, emang bener Lulu anak marketing itu Lulu sahabat Lo dulu? Si San-San Lo?" Dika yang berujar demikian setelah menutup pintu direktur utama.
"Lo masuk kagak ada sopan-sopannya ya, ketuk pintu dulu kenapa sih Dik?" Arka membalas pertanyaan Dika dengan pertanyaan.
"Hahahaha...... Sorry boss,, karena gue masih blum percaya aja semalam Lo bilang kalau si anak marketing itu adalah San-san Lo dulu, tapi ya Ka, kalau dilihat-lihat dulu kan San-san Lo itu dekil trz rambut keriting, pendek gitu ya kecil mungil, kenapa sekarang jadi bahenol gitu?" Ungakapan penasaran Dika semalaman akhirnya ia ungkapkan didepan Arka,
Tapi Arka juga penasaran sama perjalanan hiup Lulu selama hampir 15tahun berlalu.
"Namanya juga gadis, pasti perawatan lah, dia juga awalnya nggak ngenalin gue kok, gue makin penasaran kalau dia San-san itu pertama karena luka dilengan Lulu itu sama kaya luka dilengan San-san, terus kedua waktu reuni kemarin malam dia berantem sama Gita gara-gara Gita ngebuli Lulu terus menghina Lulu sama temannya gitu....” Arka menjeda ceritanya sambil membayangkan kejadian di pesta reuni kemarin malam.
"Awalnya juga gue gak sadar sih, tapi setelah Lulu balas ucapan Gita waktu itu gue semakin yakin kalau Lulu itu San-san" lanjut cerita Arka yang membuat Dika manggut-manggut mengerti
"Terus Lo langsung percaya aja gitu? Dan dia langsung tau kalau Lo itu si cungkring Ley teman Lulu?" Tanya Dika penasaran
Arka terdiam sambil membereskan berkas berkas didepannya dan melanjutkan ceritanya
"Gue kaget waktu Lulu berantem adu mulut sama Gita, yang intinya tentang seseorang yang berharga buat Lulu sampai-sampai Lulu tidak terima jika laki-laki itu dihina oleh Gita, dan gue ngerasa kalau yang diomongin Lulu ada pada diri gue Dik. Lalu saat Lulu ngobrol sama temannya yang kalau tidak salah itu Putri sama Tari gue makin yakin, dan gue ajak Lulu buat menyendiri ditanam sekolah berdua niatnya sih buat ngepastiin." Ucapan Arka terjeda tatkala melihat raut wajah Dika yang makin serius.
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Dika karena penasaran Arka menjeda ceritanya
"Lalu gue tanya-tanya masalah luka di lengannya dan tanya siapa laki-laki yang dibela Lulu tadi, dia ngeles karena gue bukan siapa-siapa bagi dia, gue ini hanya sebatas atasannya yang gak perlu tahu tentang kehidupan pribadi karyawannya" wajah Arka terlihat sendu.
Tapi Dika malah tertawa "hahahaha ya benar aja lah bro, dia nganggep Lo itu atasannya doank, nggak baik ngusik pribadi karyawan Lo"
"Dan karena itu dia lalu ninggalin gue, dan gue ngerasa kosong gitu ada yang aneh saat dia ninggalin gue, lalu gue reflek panggil dia dengan namanya San-San, dan Lo tau apa rekasi Lulu waktu itu?" Tanya Arka pada Dika dan hanya ditanggapi dengan mengendikan bahu keatas tanda tidak tau,
"Dia jawab panggilan gue dengan panggilan kesayangannya dulu" lanjut Arka
"Iya Ley? Gitu iya? Tebak Dika dengan menahan tawa, Arka hanya mengangguk dan tersenyum kearah Dika. Dika hanya bisa menertawakan sahabat tapi bosnya itu.