
Setelah operasi dilakukan selama kurang lebih 2 jam, kini lulu sudah di bawa ke ruang rawat VIP dan Arka tidak sedikitpun beranjak dari sisi Lulu.
Dika yang masih setia menemani Arka tapi pria itu juga melakukan apa yang ingin Arka lalukan tapi tidak bisa.
Dika yang mengurus semuanya, dari memberi tahu kedua orang tua Arka dan meminta mama Maya untuk memberi tahu keadaan Lulu kepada orang tua Lulu, hingga meminta mama Maya untuk membawakan pakaian ganti untuk Arka, sampai mengurus apapun yang dibutuhkan pihak rumah sakit untuk perawatan Lulu.
Arka seperti mayat hidup, tidak mau bicara, tidak mau makan, pikirannya hanya tertuju pada Lulu, seakan pria itu sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya.
Mungkin sekarang Dika yang menggantikan posisi Arka.
Setelah kedua orang tua Arka datang, Arka pun hanya bisa menangis dalam pelukan sang mama, karena hanya kepada orang-orang tertentu Arka menunjukkan sisi manjanya.
“Sabar ya sayang, Lulu pasti sadar kok, nggak akan terjadi apa-apa sama Lulu” Maya menguatkan hati anaknya sambil mengelus punggung sang anak.
“Tapi Lulu dari tadi belum sadar mah, gimana nanti menjelaskan kepada bunda Rita” Arka yang masih terisak pun akhirnya mau mengeluarkan suara seteah sejak dari kejadian Arka tidak banyak bicara.
“Kamu yang sabar, yang kuat, nanti mama sama papa akan bantu bicara sama orang tuanya Lulu. Kebetulan mbak Yu Rita lagi di Jogja, dan setelah mama telfon tadi katanya mbak Yu Rita langsung perjalanan pulang dari Jogja, mungkin besok pagi Mbak Yu Rita sama mas Toni akan sampai sini, jadi kamu masih bisa jelaskan sama mama apa yang terjadi sebenarnya, kenapa Lulu sampai kecelakaan.” Maya masih mengelus punggung Arka dan membujuk agar Arka mau cerita apa yang terjadi sebenarnya.
Arka akhirnya mengurai pelukan dari sang mama, sambil menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu, termasuk Dika, karna ia juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kecuali pikiran buruk akan kecemburuan Lulu terhadap Stefi manta Arka yang menjadi klien Arka dalam proyek.
Arka menghembuskan nafas panjang dan kasar dan menatap Lulu sambil bercerita dari pertemuan Lulu dan Arka di restoran di salah satu mall sore tadi.
Dika pun mulai paham dan mungkin memang apa yang dilihat Lulu salah paham, meski mereka tidak tau kalau kesalahpahaman itu menguat karena Lulu melihat tangan Arka di genggam oleh wanita dan Arka juga tersenyum manis pada wanita itu.
“Gue udah duga Ka, akhirnya Lulu melihat sendiri” Dika akhirnya buka suara setelah Arka selesai bercerita
“Maksud lo apa Dik?” Arka bertanya dengan alis bertaut
“Beberapa hari ini, tepatnya saat proyek PT ACD Grup itu hampir selesai, Lulu sering tanya ke gue, kenapa lo sulit banget dihubungi, tiap kali janji sama Lulu, lo selalu ngebatalin mendadak, jarang nepatin janji lo, dan setiap kali lo sama dia lo itu selalu bikin dia malah kaya curiga, Lulu merasa lo aneh, makin romantis lah, makin posesif lah, tapi makin sulit dihubungin, terus alasan lo ngebatalin janji itu pasti meeting lah, kunjungan lapangan lah, finishing proyek lah, dan itu semua dengan PT ACD Grup. Lo sadar nggak si Ka?” Dika menceritakan apa yang di keluhkan Lulu saat Dika bertemu Lulu.
Arka yang terkejut akan hal itu seketika mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan menatap Lulu dengan tatapan bersalah, begitupun dengan orang tua Arka.
“Lulu tau kalau proyek itu hampir selesai dan sebenarnya sudah bukan urusan lo lagi, karena ada bagiannya masing-masing, dan yang Lulu tau perwakilan dari PT ACD Grup itu seorang wanita. Apa jangan-jangan lo ngelakuin ini semua semata-mata karena Stefi? Dia yang jadi hendle proyek ini dan kamu juga hendel proyek ini jadi kalian mau bernostalgia iya?” Tuduhan Dika itu membuat orang tua Arka terperanga sedikit kaget dengan nama Stefi.
“Tunggu dulu Dik, maksud kamu apa sih om kok nggak ngerti, memang ada proyek yang harus Arka hendel dengan PT ACD Grup tapi kenapa?” Agung yang merasa heran langsung bertanya pada Dika
“Iya om, dan kebetulan yang menjadi wakil PT ACD Grup untuk proyek ini adalah Stefi Wiratmaja om, matan Arka saat kuliah dulu” Dika menjelaskan
“Benar itu Arka?” Maya menegaskan.
Arka hanya mengangguk membenarkan perkataan Dika. Arka dari tadi diam dan mendengarkan Dika bercerita.
Karena Arka sadar kalau kelakuannya itu salah dan menyakiti hati Lulu.
****
Dan disaat semuanya sedang terlelap di ruang rawat Lulu, Maya dan Agung tengah tertidur di sofa dan Dika ijin untuk pulang karena hari semakin larut.
Arka masih setia menunggui Lulu disamping brankar Lulu duduk sambil memegang tangan Lulu yang tidak terpasang selang infus.
Hingga Arka tertidur sambil duduk dengan kepada ia sandarkan di atas tangan Lulu.
Saat jarum jam menunjukkan angka empat dini hari, tangan Lulu bergerak dan mata Lulu seakan akan ingin terbuka.
Arka yang sadar akan pergerakan tangan Lulu langsung menegakkan kepala.
“Lu, sayang kamu udah bangun sayang.... yang sakit mana?” Arka memindai selurh tubuh Lulu.
Arka lalu memanggil dokter dengan memencet tombol yang ada di samping brankar Lulu.
Dan tak lama kemudian dokter masuk dan memeriksa Lulu.
Setelah dokter memeriksa Lulu dan hasilnya alat vital Lulu semua normal hanya tinggal menunggu pemulihan dokter itu langsung keluar ruangan bersamaan dengan orang tua Arka terbangun.
“Aku dimana ini? Kenapa aku ada disini?” Lulu yang masih belum sepenuhnya sadar bertanya pada Arka.
“Kamu ada di rumah sakit sayang, tadi malam kamu habis kecelakaan, kamu korban tabrak lari.” Arka menjelaskan
Dan setelah beberapa saat ingatan Lulu mulai kembali dan alasan kenapa ada di rumah sakit, seketika Lulu memicingkan mata terhadap Arka dan kini ganti tatapan tajam yang Arka dapat dari Lulu.
“Sayang.....” belum sempat Arka melanjutkan perkataannya Lulu langsung mebalikkan badan membelakangi Arka
Arka hanya bisa menghela nafas panjang. Dan gantian mama Maya yang menghampiri Lulu dan Arka disuruh untuk istirahat
“Lulu, sayang.... kamu nggak apa-apakan?” kini Maya yang memberi perhatian
“Aku nggak apa-apa kok tan, oh ya, bunda sama ayah jangan sampai tau ya tan, kalau Lulu kecelakaan, Lulu nggak mau bunda jadi sedih, bunda kan lagi di Jogja” Lulu meminta Maya untuk tidak memberi tahu keadannya pada bunda Rita.
“Maaf Lu, orang tua kamu sudah tante kasih tahu, tante nggak mungkin nggak ngasih tahu bunda kamu, mereka langsung pulang semalam, paling pagi sampai sini” Maya berkata dengan mengusap kepala Lulu dengan sayang
“Lulu benci Arka tan Lulu mau sendiri dulu” Tiba-tiba Lulu berkata demikian
Dan setelah itu Lulu terisak menahan sakit di bagian kepala dan juga bagian hati