
Langit biru putih telah berganti dengan warna jingga dan gelap, sang surya juga sudah menenggelamkan dirinya dan diganti sang rembulan.
Lulu yang akan pergi ke acara reuni kini sudah di jemput oleh Tari dan Putri siap untuk pergi ke pesta reuni, tapi Tari membawa anak semata wayangnya yang berusia 5 tahun, karena sang suami lagi bertugas keluar kota.
“Aunty cantik sekali boleh nggak Marcel jadi pacar aunty?” itu Marcel anak Tari yang berusia 5 tahun. Lulu pun hanya tersenyum dan mengangguk, karena kalau di tertawakan Marcel pasti marah.
“ Iya boleh kok, nah sekarang kan aunty udah jadi pacar Marcel, sini aunty gendong Marcel?” Lulu menggoda Marcel, karena Lulu tahu kalau Marcel tidak suka digendong, karena merasa dirinya sudah besar.
“Gak mau, Marcel kan udah besar aunty, masa masih mau digendong sih, kan kata aunty Putri kalau pacaran gak boleh minta gendong” jawaban Marcel membuat seisi rumah Lulu menjadi ramai.
“Ya udah kalian berangkat sana entar kemalaman lho” Ibu menjawab seteah keluar dari dapur.
“Kita pamit ya bun, assalamualaikum” Lulu berpamitan sambil mencium punggung tangan sang bunda disusul dengan Tari dan Putri juga Marcel
“Wassalamu'alaikum” balas Bunda
Akhirnya mereka bertiga serta Marcel anak dari Tari berangkat menuju gedung sekolah SMP menggunakan mobil Tari. Lulu berada di kursi penumpang bagian belakang bersama dengan Marcel.
Selama dalam perjalanan Marcel selalu berceloteh dengan mamanya maupun dengan para aunty-nya yaitu Lulu dan Putri.
******
Dalam sebuah acara reuni yang diadakan di aula gedung sekolah SMP Mentari itu, Lulu, Putri dan juga Tari beserta anaknya turun dari mobil Tari, mereka menuju gedung aula yang berada di halaman tengah, seperti yang sudah-sudah Lulu menuju meja buku tamu untuk bisa melihat siapa yang hadir dalam acara tersebut.
"Sari, Leydarka datang nggak?" Tanya Lulu yang sedikit mengagetkan Sari"
"Kayaknya gak ada deh, tapi undangannya nyampai kok, terus katanya dia udah di Indonesia" jawab Sari yang selaku jadi panitia bagian mendata tamu yang datang.
"Oh ya udah, makasih ya infonya" jawab Lulu sambil tersenyum lemas sebelum pergi meninggalkan Sari.
Alunan musik yang mengiringi pesta reuni juga sederet menu prasmanan tersedia disudut ruangan, para tamu undangan juga mulai berdatangan banyak dari mereka yang membawa pasangan dan keluarga masing-masing, ada pula yang masih single seperti Lulu dan Putri.
"Eh... Ada princess kodok yang sedang menunggu pangeran kodoknya lagi, masih setia menanti Lo?" Sindir Gita yang merupakan model terkenal tapi judes, dia datang dengan seorang yang Lulu kenal.
Yah dia adalah Arka CEO ditempat kerja Lulu dan lengan lelaki itu dipeluk Gita dengan erat.
"Eh jaga mulut Lo, gue gak kenal sama Lo, tapi kenapa Lo selalu gangguin gue" Lulu berkata dengan nada datar tapi mata menatap tajam.
"Iihh emang gue gak kenal sama Lo tapi sikap Lo yang sok geganjenan itu sok-sok an nungguin pangeran kodok siapa sih dia, ah ya my lele my lele siapa sih? Pecel lele ya? Hahahah" Gita meledek dengan ketawa keras hingga Lulu dan Gita menjadi pusat perhatian.
"Eh cewek gak tau diri, Lo boleh menghina gue sesuka hati Lo sepuas hati Lo, tapi jangan pernah menjelek jelekan temen gue meski dia gak ada disini tapi Lo gak berhak menjudge dia kaya gitu, namanya Ley, bukan pecel lele ingat itu!" Seru Lulu dengan nada tinggi,dia sudah tidak tahan dengan penghinaan terhadap sang teman.
Deg!!
Jantung Arka tiba-tiba berdetak kencang.
Arka yang disamping Gita kaget setengah mati, dia merasa tidak asing lagi dengan panggilan "Leley", karena hanya sahabat nya San-san yang tau dengan panggilan itu, siapa sebenarnya Lulu itu.
Tak jauh dari tempat Lulu debat dengan Gita, Dika yang mendengar perdebatan mereka juga kaget, darimana Lulu tau tentang Ley, panggilan kesayangan untuk Arka yang diberikan San-san.
Lantas darimana Lulu tau?
Apakah yang maksud Ley oleh Lulu itu Arka?
Ada berapa Leley sih di dunia ini?
Dika mulai bertanya-tanya dalam hati, ia ikut merasa terkejut dengan hal ini?
"Udah Lu, udah biarin aja nenek lampir ini lagi orasi, mending kita menikmati pesta ini siapa tau yang Lo cari ada daripada meladeni cewek ini" Putri menarik tangan Lulu lalu menjauh dari Gita.
Lulu pun mengikuti Putri, ia bersama Tari dan putranya. Mereka duduk di meja yang agak jauh dari keramaian.
Selang beberapa lama Arka menghampiri Lulu dan menarik gadis itu menjauh dari tempat yang ramai.
"Pak, maksud Bapak menarik saya ada apa ya? Kenapa harus di belakang sekolah pak?" Tanya Lulu penasaran karena ia ditarik menuju halaman belakang sekolah yang jarang murid murid dulu sambangi,
"Dan kenapa bapak tau tempat ini? Bapak murid sini juga?" Tambah Lulu dengan tambah penasaran.
Sedangkan Arka hanya diam saja dan terus berjalan dengan menggandeng tangan Lulu.
“Pak lepas Pak, sakit tau tangan saya!” Arka berhenti di lorong dekat gudang sambil melepaskan cengkalan ditangn Lulu.
Dulu Lulu dengan Ley sering ke sini, bisa jadi ini tempat biasa bagi Lulu dan Ley. Tapi sekarang Arka mengajaknya kesini.
Mengapa?
Siapa Arka?
"Pak, Bapak tau tempat ini dari mana?" Lulu mengulangi pertanyaannya tadi yang diabaikan Arka, "Pak, sebenarnya Bapak siapa sih? ? Murid sini bukan? Kalau iya angkatan berapa?" tambah Lulu.
Arka menatap Lulu lekat-lekat mencari sorot mata apakah dia San-San sahabat waktu SMP?
"Lengan kanan kamu luka kaya gini kenapa? Kok bekas jahitannya aneh?" Tanya Arka dengan mengangkat lengan Lulu yang ada bekas jahitannya tapi bekas jahitannya bentuknya aneh.
"Bukan urusan Bapak, dan Bapak nggak perlu tahu!" jawab Lulu sewot
"Saya tanya baik-baik kenapa jawaban kamu sewot gitu?" Arka juga nggak mau kalah sewotnya
"Lha saya dari tadi juga tanya Bapak baik-baik nggak dijawab, Bapak budeg ya?" Jawaban Lulu sambil meringis karena mengatai bosnya itu budeg Lulu takut dipecat, secara dia kan CEO tempat dia bekerja.
"Kalau ngomong bisa yang sopan nggak?"
"Kalau Bapak sopan saya sopan pak, lha ini si Bapak ckck.." Lulu berdecak lidah sambil merotasi bola mata
"Dan siapa yang kamu maksud dengan my Leley tadi?" Tanya Arka dengan alis bertaut dan muka datar.
"Bukan siapa-siapa Pak, kalau saya cerita Bapak juga nggak akan ngerti, saya permisi dulu Pak" Lulu masih menjawab dengan enteng.
Dan Lulu pergi begitu saja dengan santainya meninggalkan Arka yang masih berdiri ditempatnya.