
Lulu yang masih nyaman dengan berbaring membelakangi Arka itu semakin terisak, ia menangis dalam diam padahal Arka belum mulai berbicara sepatah katapun.
Arka masih duduk manis duduk di kursi samping brankar dengan salah satu tangannya mengusap kepala Lulu dengan sayang
“Lu.... sayang....” Arka mulai berbicara pada Lulu. Tapi gadis itu tidak bergeming sama sekali
“Aku tau kamu nggak tidur, dan aku tau kamu juga lagi menangis, tapi aku akan tetap meluruskan permasalahan ini, aku akan mencoba terima apapun keputusan kamu, asal kamu mau mendengarkan aku." Arka menarik nafas dalam sebelum melanjutkan perkataannya
"Dengan kamu mendengarkan penjelasan ini, aku terima kalau kamu mau marah, mau pukulin aku sampai babak belur, atau putusin aku sekalipun aku akan coba menerima Lu, tapi please.... dengarkan aku” Arka melanjutkan penjelasannya dengan suara lirih
Hal yang membuat Lulu malah semakin terisak mendengar perkataan terakhir Arka, Lulu sangat mencintai Arka, gadis itu tidak ingin kehilangan Arka untuk yang ke dua kalinya, setelah hampir lima belas tahun berpisah.
Lulu lalu membalikkan tubuhnya menghadap Arka dengan mata sembab dan air mata masih sesekali mengalir dari pelupuk mata gadis cantik itu.
Arka yang mengetahui hal itu langsung mengusap jejak air mata di wajah Lulu sambil tersenyum.
Tapi tangan Lulu menghempaskan tangan Arka yang berada di pipi mulus Lulu.
“Kamu nggak perlu ngomong apa-apa dulu, cukup dengarkan aku dulu, setelah itu kamu bebas mau protes aku kaya gimana terserah kamu, tapi ijinkan aku ngomong dulu” Arka masih dengan suara lirih menahan sedih dan sorot mata sendu yang seketika membuat hati Lulu sakit melihat Arka seperti itu.
Dipandangnya wajah Arka, ia teliti wajah sahabat kecil yang sekarang berstatus jadi calon suaminya itu.
"Pertama-tama aku minta maaf sama kamu, kalau aku terlalu sibuk, aku udah bohongin kamu, tapi sumpah, awalnya aku juga nggak tahu kalau Stefi itu yang akan menghendel proyek ini dari PT ACD. Dan aku mau jujur sama kamu kalau Stefi itu mantan aku saat aku kuliah di London.” Arka menjeda ucapannya karena Lulu kaget hingga bola matanya melebar sempurna mengetahui Stefi itu mantan Arka.
"Pantas saja betah banget ngurusin projek, ternyata bareng mantannya sekalian kerja sekalian kencan ya." protes Lulu tapi hanya dalam hati dan ketika Lulu yang ingin protes lalu telunjuk Arka berada di bibir Lulu tanda gadis itu harus diam dulu.
“Aku pacaran dengan Stefi itu karena dia selalu melihat aku sendirian, sering melamun, dia berusaha banget buat aku ceria gitu, awalnya aku juga nggak suka digangguin terus tapi lama-lama aku nyaman juga tapi jujur Lu, perasan aku sama Stefi dengan perasaan aku ke kamu itu beda, hati aku bergetar banget, ada rasa yang nggak bisa di jelaskan, sedangkan dengan Stefi dulu, aku nggak ngerasain apa-apa, aku terima cintanya juga karena aku punya tujuan. Aku ingin bangkit dari kesendirian aku, aku mau bangkit dari keterpurukan aku setelah meninggalkan kamu, dan setelah aku sukses aku akan pulang ke Indonesia dan mencari kamu Lu, ....” Arka menjeda ceritanya untuk melihat reaksi Lulu.
Merasa tidak ada penolakan atau bantahan Arka melanjutkan ceritanya
“Dan untuk masalah proyek itu ternyata itu akal-akalan Stefi saja, aku sebenarnya sudah mulai curiga dengan sikap Stefi akhir-akhir ini tapi tiap kali menolak, aku langsung di telfon sama CEO dia, ya aku kan jadi nggak enak sama CEOnya, proyek ini udah berjalan, dan kita sudah saling kerja sama sejak lama.Sekarang terserah apa mau kamu, gimana keputusan kamu tapi kasih aku alasan” Akhirnya Arka selesai menjelaskan dan meminta jawaban apapun dari Lulu.
Lulu pun setelah mendengar semua penjelasan Arka malah menangis, tapi saat disentuh Arka malah menolak
“Kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau Stefi mantan kamu?” Lulu meninggikan nada bicara satu oktaf dengan nafas tersengal sebab menahan sakit hati dan isak tangis akibat ulah calon suaminya.
Wajah tampan yang biasanya selalu segar, selalu rapi, juga ganteng, kini alam semalam berubah seperti bukan Arka yang Lulu kenal, seperti bukan kekasihnya dan bukan seperti sahabat waktu ia kecil dulu.
“Karena aku nggak tau kalau dia ada di Indonesia, dan jadi bagian humas di PT ACD. Dan kenapa aku gak cerita karena awalnya dia profesional banget, aku kira dia nggak bakalan nyita waktu kita, padahal aku udah bilang sama dia kalau aku udah punya tunangan, dan dia tau aku tunangan sama teman masa kecil aku” jawaban Arka itu membuat Arka ketar ketir akan keputusan Lulu nantinya.
Lulu masih diam saja sambil mengedarkan pandangan lalu menatap Arka dalam, mencoba mencari kebohongan dalam bola matanya, tapi nihil yang Lulu lihat adalah pancaran kejujuran Arka.
“Terus mau kamu kita gimana?” tanya Lulu pada Arka
Kalau kamu tanya mau aku gimana kita, aku mau kita lanjut seperti kemarin kita lanjutkan rencana pernikan kita, karena jujur Lu, aku sangat mencintaimu, aku nggak mau kehilangan kamu, kamu ingat kan waktu SD aku pernah ngomong sama kamu kalau aku akan melindungi kamu dari apapun, aku akan berada paling depan saat kamu ada masalah, kaya waktu itu kamu habis nangis karena digangguin kakak kelas yang nakal. Dan sejak saat itu aku juga aku mempunyai keinginan kuat untuk melindungi kamu dan mebahagiakan kamu, aku semat gagal melindungi kamu selama hampir lima belas tahun, itu waktu nggak sebentar Lu, aku di London sekarat rasanya.” Jawab Arka sambil memgang taga Lulu, entah kenapa Lulu malah tersentuh hatinya, ia juga merasa sekarat ditinggal Arka tanpa kabar selama belasan tahun.
“Jadi aku mohon sama kamu, jangan putusin aku, jangan tinggalin aku Lu, aku janji aku bersumpah dengan nyawa aku sebagai taruhannya Lu.” Arka mengatakan hal itu sambil menunduk dan tanpa terasa air matanya mulai mengalir dan jatuh mengenai tangan Lulu.
Lulu yang kaget karena seorang Leydarka menangis karena masalah wanita. Lulu yang tak kuasa menahan perasaan lega juga sedih lihat Leley kesayangannya itu menangis akhirnya membalikkan badan memunggungi Arka dan berkata “Tau ah Ley, buktikan saja nanti jangan janji doang” Lulu berkata dengan nada yang menggemaskan dan setelah itu terisak kembali
“San-San.... sayang....kok nangis lagi sih” Arka yang tau kalau gadisnya itu sudah menerima penjelasan Arka.
Dan sepertinya Luu mulai sedikit melunak dengan sikap Lulu yang sekarang menghadap Arka
Ya benar, Lulu menarik Arka yang sudah berdiri dan hendak berjalan tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Arka sambil terisak.
Arka pun tersenyum sambil menciumi puncak kepala Lulu berkali-kali sambil menghapus jejak air mata di wajah tampannya.