
Lulu yang masih betah merangkul pinggang Arka dengan posisi miring sambil menangis. Arka pun membalasnya dengan mengusap kepala Lulu sambil terus berguman meminta maaf.
Hingga akhirnya Arka melepaskan pelukan itu dan membenarkan posisi Lulu untuk berbaring.
Arka kembali duduk di kursi dan menatap Lulu, gadis itu sadar jika Arka menatapnya intens pun menjadi malu dan wajahnya semakin memerah.
“Sayang... kamu mau kan maafin aku? Aku jnji nggak akan sembunyiin apa-apa lagi sama kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, sudah cukup penderitaan kita selama belasan tahun ini, kini saatnya kita bahagia, yo kita sama-sama hadapi badai yang akan menerjang hubungan ini. Kalau kita saling percaya dan saling bebagi maka insya Allah pasti bisa kita lewati semua ini” Suara Arka yang kembali melirih dan tanpa terasa air mata ikut membasahi wajahnya.
Lulu yang melihat Arka menangis lalu seketika membelai wajah Arka dan menyeka air mata dengan ibu jari Lulu bertujuan agar air mata Arka tidak turun lagi
“Masa CEO yang di segani orang-orang di kantor nagis kaya gini sih, nggak malu sama karyawannya?” ledek Lulu
“Biarin aja habis kamu sih, lagian disini juga nggak ada karyawan aku kok?” balas Arka yang belum mengerti siapa yang dimaksud karyawan Arka.
“Aku kan karyawan Bapak Leydarka Alvaro Soraya” Lulu masih meledek
“Bukan, kamu bukan karyawan aku, tapi kamu calon istri aku” Arka masih belum mau menyerah
“Tapi ingat, aku belum sepenuhnya maafin kamu, kamu harus buktikan sama aku semua ucapan kamu tadi” Lulu masih merasa kesal sama Arka, tapi juga sangat mencintainya.
Lulu hanya ingin mengetes Arka seberapa besar cintanya pada Lulu, setelah kejadian kedatangan orang ketiga yaitu Srefi sang mantan semasa kuliah di London
Hingga tanpa terasa hari sudah siang dan sudah memasuki waktu makan siang. Tak lama setelah mereka selsai mengobrol yang didominasi oleh Arka yang bercerita, suster masuk membawakan makan siang sekalgus obat untuk Lulu.
Arka menerima nampan berisi makanan dan obat itu dan menaruh diatas nakas samping brankar. Arka menaikkan ranjang hidrolik itu agar Lulu bisa setengah duduk. Dan pria itu lalu menyuapi Lulu makan siang.
Lulu tidak menolak, ia menerima suapan Arka tapi tiba-tiba
Krubuk .... krubuk....
Saking sunyinya ruangan Lulu karena hanya ada mereka berdua Lulu mendengar suara dari perut Arka. Lulu menahan tawa takut Arka marah.
“Ka, kamu laper? Makan gih bubur aku, aku udah makannya, rasanya udah mau muntah” Lulu yang merasa perutnya sudah mulai penuh meminta Arka memakan bubur Lulu
“Hehee iya aku baru ingat dari kemarin sore belum makan” Arka meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
“lha kok bisa? Kamu harusnya itu jaga kesehatan bukannya malah kaya gini ini udah siang lho, berarti terakhir kamu makan kemarin siang dong pas jam makan siang?” Lulu yang mulai cerewet atas kesetahan Arka
Lulu yang mendengar hal itu seketika merasa bersalah karena gara-gara dia Arka tidak bisa makan dengan benar, apalagi waktu nungguin Lulu operasi, tidak terbayangkan bagaimana hancurnya Arka.
Ia pun menangis lagi dalam diam sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Lho kamu kenapa kok nangis lagi, udah dong sayang jangan nangis lagi” Arka langsung meletakkan bubur diatas nampan dan mendekati Lulu sambil membuka tangan Lulu dari wajahnya
“Maaf, maaf Leley ups Arka maksudnya, gara-gara aku kamu jadi tidak makan dari kemarin.. hiks..... maaf” Lulu meminta maaf sambil terisak
“Hei hei cantik.... kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah kok, gara-gara aku sama Stefi kamu jadi marah dan malah kaya gini berada diruangan ini” Arka menenangkan Lulu dengan mengusap kepala serta menghapus air mata yang mengalir dipipi mulus itu.
****
Hingga jam makan siang yang terlewat jauh kedua sejoli itu masih asyik berdebat tidak jelas
Keduanya masih saling menyalahkan setelah Lulu minum obat karena dipaksa Arka dan Arka tidak mau makan bubur jatah makan siang lulu, hingga akhirnya mama Maya datang membawa pakaian dan makanan untruk Arka
“Saling nyalahin aja terus, padahal kalian sama-sama salah tapi masih saling menyalahkan” Mama Maya yang masuk sambil meletakkan papper bag isi pakaian Arka dan makan siang untuk Arka
“Arka kamu makan siang dulu gih, ini mama bawain makanan kesukaan kamu, mama tahu kamu dari semalam belum makan lho, tidur juga baru beberpa menit aja langsung kebangun karena Lulu sadar” Maya mengatakan hal itu agar Lulu tahu betapa frustasinya Arka semalam.
Itu ia lakukan agar Lulu tidak meninggalkan anaknya. Karena Maya berharap Lulu akan menjadi menantunya
“Arka mandi dulu aja mah, gerah dan lengket” Arka langsung berdiri mengambil papper bag yang berisi pakaian dan langsung menuju kamar mandi
Lulu yang baru menyadari ada noda darah di pakaian Arka seketika langsung menutup mulut karena terkejut
“Ka, itu darah siapa di baju kamu?” Lulu bertanya sambil menahan air mata yang hendak keluar
Arka yang hendak menuju kamar mandi langsug membelokkan kalikanya menuju ranjang Lulu dan menenangkannya
“Sssttt...... kamu nggak ush panik, nggak apa-apa kok, ini darah kamu semalam waktu kamu kecelakaan, aku emang belum sempat ganti baju, karena fokusku hanya sama kamu cantik...” Arka berujar demikian sambil mencium tangan Lulu yang ia genggam dan kemudian mencium kening Lulu lama hingga Lulu memejamkan mata.
Dan setelahnya Arka melanjutkan niatnya untuk mandi. Dan setelah selesai mandi Arka langsung menuju sofa yang berada di ruangan itu untuk menikmati makan siang. Dan saat Arka melirik ke arah brangkar ternyata Lulu sudah tertidur, mungkin efek dari obat yang tadi ia makan, dan mama Maya terlihat disamping Lulu dan menatap Lulu dengan sayang.
Arka pun tersenyum karena merasa sangat bahagia, mamanya begitu menyayangi Lulu dengan tulus dan pria itu melanjutkan makan siangnya dengan senyum yang masih terpatri di bibir indahnya