
Disinilah mereka sekarang disebuah taman yang tak jauh dari sekolah tempat reuni, disinilah Arka dan Lulu berada duduk disebuah bangku tapi mereka hanya diam dengan pemikiran masing-masing.
"Pak sebenarnya kita mau ngapain sih disini? Terus kenapa Bapak diam saja dari tadi?" Lulu memulai pembicaraan karena merasa bosan.
"Saya mau tanya serius sama kamu, tapi tolong kamu jawab jujur" ucap Arka dengan raut wajah menuntut
"Tergantung pertanyaannya juga sih Pak" balas Lulu dengan santai sambil memaju mundurkan kaki yang menggantung
"Itu luka kamu kenapa? Kenapa jahitannya aneh gitu. Maaf saya lancang menanyakan sesuatu yang bukan urusan saya, karena saya juga punya teman yang memiliki luka sepertimu, tapi saya juga tidak tau dia sekarang dimana, gimana wajahnya, karena sudah lama gak pernah ketemu dia dan saya tidak tau kabarnya" cerita Arka mengalir begitu saja dengan tatapan lurus ke depan.
Lulu yang mendengarkan ikut merasakan apa yang dirasa Arka. Karena Lulu pun sama punya seorang teman yang punya luka di lengannya.
"Luka ini juga terjadi saat saya masih kecil Pak, ketika menolong sahabat saya yang hampir tertimpa ranting pohon. Bunda dan ayah sudah nyuruh saya buat luka ini dioplas biar nggak kelihatan benjol gini, tapi saya menolak karena dengan luka ini saya bisa dengan mudah mencari sahabat saya yang juga lama tidak saya ketahui keberadaannya. Saya juga sama Pak ditinggal sahabat saya udah belasan tahun, ah tepatnya 14tahun 9 bulan pak" Lulu juga tanpa sadar bercerita kepada Arka tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.
"Hahahha saya lebay ya Pak, bener kata Gita tadi kalau saya nungguin orang yang nggak jelas" ujar Lulu sambil mengusap jejak air mata lalu ia ketawa kering.
Deg...
Arka merasa bila Lulu yang ada disebelahnya adalah Lulu sahabat kecilnya yang sering dipanggil San-san tapi Arka harus buktikan lagi.
"Em... Pak Gita gimana? Pasti dia marah sama saya dikira saya sengaja berduaan sama Bapak disini" tiba-tiba Lulu ingat dengan Gita karna dia datang bersama Arka.
"Tenang saja dia buka siapa-siapa saya, saya cuma kenal dia saja nggak lebih"jawab Arka menjelaskan
“Ya tapi tadi Bapak tahu sendiri dia ngejele-jelekin teman saya Pak, saya juga gak kenal-kenal banget sama Gita, yang saya tahu dia hanya teman seangkatan saya yang sekarang jadi model” Lulu mengatakan hal tersebut dengan nada kesal.
Dan Arka hanya tersenyum samar menanggapi perkataan Lulu
"Tapi tunggu dulu Pak, Bapak murid sini juga? Dari tadi ditanya nggak dijawab!" sambung Lulu sambil memajukan bibirnya.
"Iya saya alumni SMP sini dan saya satu angkatan dengan kamu, makanya saya ada disini bareng kamu" jawab Arka cuek.
“Masa sih Pak? Kok saya nggak pernah Lihat Bapak ya dulu pas sekolah?” Lulu terkejut ternyata bos besarnya satu sekolahan sama Lulu.
"Saya nggak tau pak, kemungkinan itu sulit untuk ketemu, orangnya saja saya lupa pak hahaha" Lulu menertawai dirinya sendiri.
"Sudahlah Pak lupakan saja, saya mau pulang dulu Pak sudah malam saya mau cari taksi didepan saja semoga masih ada" kata Lulu sambil beranjak dari duduknya.
Baru beberapa langkah Lulu berjalan Arka ikut berdiri dan menatap punggung Lulu.
"San-San...." Teriak Arka. Karena pikiran Arka sekarang, kalau dia memang San-san nya, pasti Lulu akan balik badan dan menjawab sapaan itu, Dan tanpa terduga oleh Arka. Lulu berhenti dan membalikkan badan.
"Iya Ley...." Karena sedang melamun memikirkan tetang sahabatnya tanpa sadar Lulu menjawab panggilan Arka.
Setelah seper sekian detik Lulu tersadar dan Lulu menutup mulutnya dengan mata sudah berkaca-kaca, dan melihat Arka berjalan mendekati Lulu dan setelah berada tepat didepan Lulu Arka menatap netra pekat milik Lulu yang berkaca-kaca, dan detik berikutnya Arka memeluk tubuh gadis yang sangat ia rindukan selama ini.
Lulu yang masih belum sepenuhnya sadar akan panggilan tadi hanya berdiri mematung dipeluk Arka. Setelah Lulu sadar dari lamunannya reflek ia melepaskan pelukan Arka
"Pak lepaskan pak, saya bukan San-San Pak, saya Lulu karyawan Bapak" Lulu berusaha melepaskan pelukan itu tapi sia-sia saja karena Arka memeluk dengan eratnya.
"Kamu nggak usah bohong, saya tau kamu itu San-San. Cuma San-san yang kalau aku panggil selalu jawab dengan sebut nama aku Ley, San-San aku telah kembali, your Leley is back" bisik Arka sambil meneteskan air mata.
Lulu pun masih belum percaya begitu saja dengan Arka, tapi kata-kata Arka dan air mata pria itu, masa Arka bohong?.
Tiba-tiba saja Lulu membalas pelukan Arka dan terisak di dada Arka, karena memang benar cuma Lulu dan sahabatnya di SMP yang tau tentang hal ini, juga termasuk Dika sahabat Arka.
Setelah puas berpelukan dan Arka sudah menghapus air matanya, kini mereka sedang saling menatap, seakan Lulu mencari kebohongan di matanya Arka juga mata Lulu memancarkan beribu pertanyaan yang seolah dimengerti oleh Arka, lalu Arka membuka lengan kemeja dan menunjukkan bekas luka yang dijahit sama seperti luka Lulu.
"Kamu ingat ini kan? Ini luka yg nggak terlalu dalam tapi dijahit, karena menemanimu yang sedang dijahit lukanya tapi berontak" goda Arka pada Lulu yang seketika Arka mendapat pukulan di lengan Arka.
Seketika Lulu terbengong serasa jantung berhenti beretak mendengar perkataan Arka mengenai luka itu.
Lulu pun yakin kalau Arka adalah Ley yang selama ini ia tunggu, karena Cuma Ley yang tau tentang asal usul luka di lengan mereka.