
Lulu yang masih terdiam di brankar sambil masih bertahan memunggungi Arka terus mengeluarkan air mata dalam diam hingga akhirnya tertidur.
Mama Maya pun masih setia mendampingi dan membujuk Lulu agar gadis itu mau berbicara dengannya.
Hati Lulu terasa seperti di remat oleh tangan tak kasat mata, dan mungkin parahnya lagi seperti di tusuk oleh pedang tajam dan setelah itu lukanya disiram air garam, perih sekali.
Maya tahu bagaimana perasaan Lulu sekarang pasti sedih meski ini hanya salah paham, tapi Arka juga salah, sepatutnya Arka tidak meladeni Stefi.
Arka yang jenius dan seorang CEO tentu bisa menilai proyek yang masih harus ditangani langsung atau yang harus sudah di jalankan oleh bawahannya. Mungkinkah Arka masih ada bayang-bayang Stefi di hatinya?
Hingga matahari mulai menampakkan sinarnya mulai perlahan dan suara kicau burung di sekitar taman Rumah sakit mulai bersahutan, gadis yang terlelap di ruang VIP tidak sadar jika kedua orang tuanya sudah datang ke rumah sakit dan sekarang sedang ngobrol dengan kedua orang tua Arka.
Benar, setelah lelah menangis dalam diam akhirnya Lulu tertidur, tidak ada yang berani mengganggu dia, karena semua yang ada di ruangan itu pun mengerti dengan keadaan Lulu.
Arka yang sudah frustasi dengan keadaan ini ingin sekali segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Stefi itu, tapi masih ditahan oleh sang Papa.
Setelah orang tua Lulu datang dan Maya juga Arka sudah menjelaskan semuanya pada orang tua Lulu, akhirnya orang tua Lulu mengerti keadaan yang sebenarnya, Arka masih merengek untuk segera menjelaskan tapi tetap saja hingga pagi menjelang siang belum diijinkan oleh keempat orang tua tadi.
“Mbak Yu, mas Toni, kami pulang dulu ya, nanti sore kita kesini lagi buat gantian jagain Lulu, masih ada sesuatu yang harus kami selesaikan dulu.” Kata papa Agung seraya menarik bahu sang istri
“Iya nggak apa-apa kok, kalau capek nanti nggak usah kesini masih ada kami yang menjaga Lulu. Dan terima kasih sudah membantu menjaga Lulu sampai kami datang” Itu bunda Rita dengan menampilkan senyum malaikatnya.
“Arka kamu nggak ke kantor nak?” Maya mencoba membujuk anaknya agar mau pulang untuk istirahat sebentar, karena ia tau semalaman ia menjaga Lulu, dan baru tertidur ia kebangun karena Lulu sadar.
“Nggak mau mah, Arka mau disini temenin Lulu, sampai Lulu mau mendengarkan penjelasan Arka, dan sampai Lulu sembuh, Arka mau terus disini, biar nanti Arka minta Dika buat ngirim kerjaan Arka kesini” Arka dengan tegas ingin menemani Lulu dan kerja dari ruangan Lulu.
Dan tanpa disadari Lulu sudah terjaga dari sejak papa Agung berpamitan hingga akhirnya ia mendengar kata-kata Arka yang ingin disini menemaninya” setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk mata, ia tersentuh dengan kesungguhan Arka, tapi ia juga belum bsa dengan mudahnya memaafkan Arka
Tak berselang lama dokter pun melakukan visit, Lulu juga masih diam saja. Ketika dokter masuk ke ruang rawat dan berbicara sebentar dengan orang tua Lulu dan Arka sebelum menghampiri Lulu, gadis itu membalikkan tubuhnya dan sudah menghapus jejak air mata.
“Selamat pagi, apa yang kamu rasakan pagi ini?” Tanya dokter Boby, selaku dokter yang bertanggung jawab ada pasien Lulu semenjak masuk IGD semalam.
“Rasanya sakit semua dok, kepala saya juga pusing banget, apalagi waktu awal saya membuka mata” jawab Lulu
“Itu hal biasa, tapi kamu nggak lupa sama mereka yang ada disini kan?” tambah dokter Boby lagi
Andai saja tidak ada orang di ruangan ini, Arka pasti akan mendaratkan c****n panjang dan panas, beserta k*****n yang menggairahkan.
Tapi itu hanya di angan-angan saja, dan Arka juga harus menunggu beberapa bulan lagi agar ia bisa memiliki gadis itu seutuhnya luar dalam.
“Termasuk tunangan kamu dan calon mertua kamu?” lanjut dokter Boby. Lulu hanya menjawab dengan senyuman di wajah ketika dokter mengatakan hal demikian.
“Syukurlah tidak terjadi hal serius terjadi sama Lulu, dia ingat semuanya, kalaupun ada sedikit memori yang hilang, itu biasa terjadi karena ada penggumpalan darah di kepala yang mengakibatkan fungsi kerja otak sedikit terganggu....." dokter Boby menjeda penjelasannya untuk mengetahui reaksi pasien
"Sekarang mungkin belum kelihatan karena masih ingat dengan nama orang-orang di sekitarnya, tapi seandainya terjadi hal buruk tersebut tenang saja perlahan semua akan kembali seperti semula dengan terapi dan obat. Dan kalau seandainya Lulu lupa sama sesuatu hal, jangan takut, kita bisa mengingatkan perlahan.” Dokter Boby melanjutkan penjelasan efek dari gumpalan darah yang berada di kepala Lulu dan Arka yang mendengarkan juga meresapi penjelasan dokter seketika mengusap kasar wajahnya, ia merasa gagal melindungi Lulu.
Setelah dokter keluar ruangan Arka mencoba untuk membujuk Lulu agar mau berbicara sama dirinya. Ayah dan bunda mengerti dengan keadaan ini memilih untuk meninggalkan Lulu.
“Lu, bunda sama ayah mau pulang dulu sebentar, kami mau ambil baju, soalnya semalam kami belum sempat pulang” kata bunda sambil mengelus kepala Lulu dengan sayang.
“Terus aku sama siapa bun kalau bunda pergi?” Lulu seperti masih enggan berduaan dengan Arka
“Kan masih ada nak Arka, Selesaikan masalah kalian, jangan seperti anak kecil ini, keputusan memang ada ada di kamu nak, tapi bicaralah baik-baik, kami semua akan berusaha menerima apa yang akan menjadi keputusan kalian.”bunda menasehati sebelum keluar ruangan
Arka yang masih berdiri di dekat ayah Toni seketika menatap ayah Toni, beliau pun tersenyum sambil menepuk pundak Arka
“Yang sabar ya, selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin, kamu pasti bisa. Benar kata bunda, apapun keputusan kalian nanti kami akan mencoba mengerti” tutur ayah Toni bijak
“Baik om, Arka akan berusaha menyakinkan Lulu, Arka nggak bisa kehilangan Lulu om, Arka sangat mencintai Lulu” ucap Arka lirih
Kemudian kedua orang tua Lulu pun keluar ruangan diantar Arka sampai depan ruangan.
Dan saat Arka masuk ke ruangan Lulu, tiba-tiba mata mereka bertemu. Lulu pun segera melepaskan tatapan itu, sedangkan Arka masih terus berjalan menghampiri Lulu yang kemudian gadis itu membalikkan tubuh hingga membelakangi Arka.
Arka yang melihat hal itu pun menghembuskan nafas kasar, tapi tak urung Arka mendudukkan bokongnya di kursi samping brankar Lulu.
Dan sebelum memulai berbicara Arka telah menata hati agar apapun keputusannya Arka bisa menerima dengan lapang dada.